Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 131


__ADS_3

Didalam mobil Alfian, tampak Diandra sedang sibuk fokus dengan pikirannya dia sendiri, dia tidak mendengar apa yang Alfian katakan pada dirinya hingga tangannya Diandra disentuh oleh Alfian hingga membuat Diandra langsung menoleh dengan tatapan bertanya kepada Alfian


"Kamu kenapa?" tanya Alfian menatap sesaat dengan penuh rasa ingin tahu kepada Diandra, kala itu lampu merah tengah menyala, sehingga membuat mobil mereka berhenti


Diandra yang ditanya itu menghela nafas panjang


"Kamu kenapa, sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Alfian lagi kali ini menatap Diandra dengan lembut


"Ga tau hanya saja aku merasa aneh dan sangat aneh" jawab Diandra pelan sembari matanya fokus menatap ke arah depan


"Aneh kenapa?" tanya Alfian penuh selidik dan penuh dengan rasa ingin tahu, mobil melaju pelan lampu merah berubah menjadi lampu hijau sekarang


"Kamu lihat tidak Poto di pigura itu, yang ada seorang gadis kecil di tengah tengahnya?" tanya Diandra menatap Alfian


"Iya kenapa, ga ada yang aneh?" jawab Alfian sambil bertanya balik, bertanya dengan nada bingung


"Gadis itu mempunyai tahi lalat kecil di dagu sebelah kanannya, sementara Hera tidak punya itu" jawab Diandra dengan nada serius, matanya masih fokus memandang ke depan


Alfian terdiam mendengar apa yang Diandra katakan, dia mencerna kata kata Diandra sambil berpikir


"Kamu tahu itu darimana?" tanya Alfian kepada Diandra


"Kamu ini kan sudah aku bilang kalau aku melihat itu dari pigura besar yang terpampang di dinding sana" jawab Diandra kesal kepada Alfian, karena Diandra merasa Alfian tidak mendengar penjelasannya


"Ya maaf Di, cuman heran aja kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu, bisa saja itu hanya setitik noda bisa jadi kan" kata Alfian mencoba mengandai andai


"Entahlah mungkin penglihatan aku salah" jawab Diandra sambil berkata pelan, mungkin apa yang dikatakan Alfian ada benarnya, mungkin dia yang salah menafsirkannya


"Sudah jangan dipikirkan, nanti juga akan ketahuan sendiri kok, nanti juga ada jawabannya sendiri" hibur Alfian kepada Diandra, mencoba untuk mengusir kegalauan hatinya Diandra


"Kamu benar Alfian, nanti juga akan ketemu sendiri jawabannya" jawab Diandra tersenyum kepada Alfian


"Nah gitu dong, itu baru namanya Diandra" kata Alfian sambil memuji Diandra


Mereka semua sudah sampai di rumahnya Diandra, tampak bunda menyambut kedatangan mereka didepan pintu rumahnya, bunda tersenyum melihat kedatangan mereka ke rumah bunda


Sebelum mereka datang kemari, Diandra sudah memberitahu bunda lewat handphonenya jika mereka akan kemari dan Hera akan menginap di rumah bunda dan bunda sangat setuju sekali mendengar Diandra berkata seperti itu, bahkan bunda sudah menyiapkan makan siang untuk mereka


"Ayo masuk, masuk" kata bunda sambil tersenyum lebar begitu mereka berempat menghampiri dirinya, bunda menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah


"Siang bunda" sapa Diandra sambil mencium tangan bunda dan diikuti oleh yang lain


Begitu melihat Hera, bunda langsung memeluk Hera seperti pelukan rasa sayang seorang bunda terhadap anaknya


"Kamu sudah sembuh nak?" tanya Bunda kepada Hera sambil menatap Hera dengan tatapan yang penuh dengan kasih sayang


"Sudah membaik Tante" jawab Hera sambil tersenyum


"Syukurlah kalau begitu" jawab bunda kepada Hera


"Bunda kita ga diajak masuk nih?" tanya Diandra kepada bundanya


"Oh iya, ayok masuk masuk" jawab bunda sambil tersenyum, lalu kemudian mengajak mereka masuk ke dalam rumah


Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah, setibanya di ruang tamu bunda mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi tamu, sementara bunda dan Diandra masuk ke dalam menuju dapur untuk membuatkan teh dan beberapa cemilan


Tidak lama kemudian teh dan cemilan datang


"Ayo diminum dan dimakan, maaf cuman bisa menyediakan ala kadarnya" jawab bunda sambil menaruh teh diatas meja tamu dan disusul dengan Diandra yang menaruh cemilannya


"Jadi ini dari rumah sakit langsung kemari?" tanya bunda kepada Hera


"Ke rumah dulu Tante ambil pakaian baru ke sini" jawab Hera dengan sopan


"Lalu apa kata dokter Hera?" tanya bunda lagi penuh dengan rasa ingin tahu


"Dokter bilang jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingatnya dan satu lagi saya disuruh melakukan pemeriksaan rutin mengenai amnesia saya" jawab Hera lagi kepada bunda


Bunda yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya dengan puas


"Ya sudah nanti kalian makan siang disini ya, bunda sudah menyiapkan makan siang untuk kalian sebelum kalian datang, yaa cuman makan siang sederhana aja kok" kata bunda sambil menawarkan makan siang kepada mereka bertiga


"Tante merepotkan saja, kita bisa kok makan di luar" kata Donny dengan suara sopan


"Tidak merepotkan sama sekali" jawab bunda


"Yuk kita langsung ke meja makan saja" kata bunda sambil mengajak mereka ke ruang makan, bunda yang berjalan duluan sementara yang lain mengikutinya dari belakang

__ADS_1


Tampak di meja makan sudah terdapat lauk pauk yang menggugah selera


"Oh iya tante, Hera lupa mau ucapin terima kasih sama Bubur ayamnya, buatan tante ga pernah kalah sama bubur ayam yang laen yang dijual sama penjual kaki lima" kata Hera sambil memuji masakan bundanya Diandra


"Kamu ini bisa saja memujinya, lagian itu kan Tante persiapkan untuk kamu" kata bunda sambil tertawa lebar


"Tante, aku dong sekali sekali dimasakin bubur ayam juga" kata Alfian juga tidak mau kalah


"Kamu ini, kan setiap pagi juga makan masakan Tante" kata Bunda sambil tertawa, menatap Alfian yang sedang duduk di meja makan, Alfian yang mendengar itu langsung nyengir memperlihatkan giginya yang putih


"Pantesan dia sudah tidak mau makan di rumah apalagi di apartment ternyata lebih senang makan disini rupanya, gw bilangin sama Tante Francie Lo " sindir Donny kepada Alfian


"Sirik aja loe" tukas Alfian sewot kepada Donny


"Sudah sudah jangan berantem, ayok dimakan makanannya" kata bunda sambil melerai mereka berdua


"Hera ayok makanannya diambil yang banyakan" kata bunda kepada Hera,menyuruh Hera untuk mengambil makanan


"Baik Tante, tenang aja Hera tidak akan sungkan" kata Hera sambil tertawa lebar


Mereka pun makan dalam diam sambil menikmati santapan makan siang dengan lahap dan nikmat


Setelah selesai makan, mereka tampak bersantai di teras depan sambil berbincang bincang, tiba tiba terdengar suara dering telpon dari handphonenya Alfian, Alfian langsung menatap layar handphone untuk melihat siapa yang menelponnya


Cukup lama dia memperhatikan layar handphonenya itu namun dia tidak kunjung bahkan mungkin tidak ada niatan untuk mengangkat telponnya itu, dan kemudian dia meletakkan kembali di atas meja, semua mata memandang ke arahnya


"Dari siapa?" tanya Diandra ingin tahu sambil menatap Alfian dengan pandangan penuh tanya


"Sandra" jawab Alfian dengan nada malas


"Kenapa tidak kamu angkat?" tanya Donny


" Lagi males " jawab Alfian santai


"Angkat kalau dia telpon, gw udah bawain alat rekamnya" kata Donny sambil mengambil alat rekam berupa kotak kecil berwarna hitam yang berbentuk rekaman


"Ingat selama pelaku masih belum tertangkap kita harus tetap waspada" kata Donny berusaha memperingatkan Alfian dengan nada serius


"Gw ga tahu kenapa Sandra bisa melakukan itu ke gw " kata Alfian dengan nada lelah


"Elo benar, terlalu dini buat kita menyimpulkan tanpa bukti bukti yang akurat dan jelas, kita butuh bukti yang cukup valid untuk itu" kata Alfian dengan nada serius


"Dan gw yakin ada seseorang dalang di balik semuanya ini" ucap Donny sambil berpikir


"Diandra gw pengen istirahat dulu" kata Hera tiba tiba


Diandra langsung menoleh kepada Hera


"Elo udah minum obat?" tanya Diandra menatap Hera


"Sudah, mungkin efek obatnya yang bikin gw pengen tidur padahal gw masih pengen ngobrol bareng kalian" ucap Hera dengan nada sedih


"Kamu masih sakit, sebaiknya kamu istirahat nanti kan kita bisa ngumpul lagi kaya gini" kata Donny menunjukkan perhatiannya kepada Hera


"Iya makasih, gw masuk kamar dulu ya" ucap Hera yang langsung berdiri dari kursi tempat dia duduk untuk masuk ke dalam kamarnya Diandra, matanya kini semakin terasa berat hingga sampai di kamar Diandra, Hera langsung tertidur dan terlelap disana


Sementara itu di tempat lain yang jauh dari kediaman Diandra, tampak Sandra berusaha menghubungi seseorang, namun masih tidak kunjung diangkat


"Sial kemana itu orang, dari kemarin dia tidak ada mengangkat handphone gw" gerutu Sandra dengan suara kesal


"Brengsek !" teriak Sandra sambil membanting handphonenya ke atas sofa apartemen


Tiba tiba handphonenya berdering, Sandra langsung mengangkat telponnya tanpa melihat siapa yang menelpon dirinya


"Brengsek, susah banget gw hubungi elo, kemana loe selama ini, lihat akibat perbuatan elo akhirnya gw yang kena!" teriak Sandra kepada yang menelpon dirinya


"Bisa elo jelasin apa maksud elo Sandra?" tanya Alfian dengan suara dingin


Sandra langsung terdiam begitu mendengar suara Alfian dari arah seberang, dia langsung melihat nama yang ada di layar handphonenya


"Elo.." kata Sandra dengan nada pelan kali ini


"Iya ini gw Alfian, elo telpon telpon gw ada apa?" tanya Alfian dengan nada suara yang ketus


"Gw pengen ngajakin elo ketemuan, kapan elo bisa?" tanya Sandra meragu


Alfian yang dari seberang sana langsung tersenyum sinis

__ADS_1


"Gw mau aja, tapi dengan satu syarat" kata Alfian dengan suara dingin


Sandra yang awalnya langsung bahagia mendengar Alfian ingin bertemu dengannya, langsung tiba tiba kembali cemas mendengar Alfian meminta satu syarat darinya


"Apa itu?" tanya Sandra dengan suara hati hati


"Jelaskan apa yang elo bicarakan tadi, gw pengen tahu" ucap Alfian dengan suara enteng


"Bagaimana?" tanya Alfian kepada Sandra


Sandra langsung terdiam sambil berpikir


"Gimana Sandra?" tanya Alfian lagi dengan suara santainya dan dengan nada menantangnya


"Ya sudah gw mau kita ketemuan" jawab Sandra pada akhirnya


"Oke waktu dan tempat gw yang akan tentukan, dan satu lagi elo jangan coba coba melakukan tindakan yang seperti kemarin, sebelum elo menyesal" kata Alfian kali ini dengan nada suara serius yang sedikit berisikan ancaman


Sebelum Sandra menjawab ucapan dari Alfian, Alfian langsung mematikan handphonenya secara sepihak


"Dasar gw bego, bisa bisanya gw ga liat siapa yang telpon gw tadi, Alfian jadi curiga gitu sama gw" gerutu Sandra dengan suara kesal


Dia kembali mencoba melakukan nada sambung lagi namun kali ini masih tidak ada jawaban dari seberang sana, dan dengan nada menggerutu dia memutuskan untuk keluar dari apartemen mencari udara luar biar hati dan pikirannya tidak sumpek


Sementara di tempat lain sana, ada seseorang yang sedang tersenyum dingin menatap layar handphone


"Elo akan merasakan sama seperti apa yang keluarga gw rasakan Sandra" kata orang itu dengan nada dan suara dingin


Sandra melajukan kendaraannya, memutuskan untuk pergi menuju ke rumah Amel tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sesampainya Sandra di rumah Amel, dia memarkirkan mobilnya didepan rumah Amel dan kemudian dia langsung menelpon Amel sahabatnya


"Loe keluar gw ada di luar " perintah sandra kepada Amel yang saat itu sedang asyik menonton televisi


"Hadeeh elo aja yang masuk ke dalam, nanti gw suruh pelayan gw buat bukain gerbang buat elo" kata Amel dengan nada malas


"Ya sudah buruan" kata Sandra dengan nada tidak sabar


"Iye sebentar" jawab Amel sambil berdecak kesal, dan langsung dimatikan sepihak oleh Amel


Amel langsung menyuruh salah satu pelayannya untuk membukakan pintu gerbang untuk Sandra, sebenarnya Amel sendiri sudah malas bertemu dengan sandra, namun dia merasa heran dengan tiba tiba mendatangi rumahnya, dia berpikir pasti ada sesuatu yang membuat Sandra mendatangi dirinya dengan tiba tiba


Pintu dibuka lebar lebar, tampak pelayan Amel sedang mendampingi Sandra, Sandra langsung mendorong pelayan Amel begitu Sandra melihat Amel yang sedang duduk menonton televisi, pelayan tersebut langsung tersebut langsung terpekik kaget begitu dirinya didorong oleh Sandra, hampir saja dia jatuh untung dia langsung berpegangan kepada kursi yang ada di sampingnya


"Manja loe" kata Sandra dengan kasar, sambil mendelik tajam ke arah pelayan itu


Pelayan itu hanya diam menghela nafas panjang, tanpa memberanikan diri buat membantah


Amel yang melihat tingkah laku Sandra kepada Pelayan rumahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya


"Makanya kalau jalan jangan lama" hardik Sandra lagi kepada pelayan itu


"Maafkan saya nona" jawab pelayan itu dengan suara pelannya


Amel yang melihat itu langsung beranjak berdiri, menghampiri mereka berdua, dan sambil memberikan isyarat untuk pergi, pelayan itu langsung pergi berlalu cepat meninggalkan mereka berdua


"Loe kenapa datang datang tiba tiba ngomel dan ngamuk di rumah orang?" tanya Amel sambil menatap Sandra dengan pandangan ingin tahu


Amel sebenarnya sudah sangat kesal dengan sikap Sandra yang kekanak Kanakan namun dia lebih menahan dirinya sendiri, tidak ingin ada keributan diantara mereka berdua


Sandra langsung menghempaskan dirinya di atas sofa sebelum Amel menyuruhnya untuk duduk


"Gw minta minum donk" kata Sandra memerintahkan Amel untuk mengambilkan minuman buat dirinya


Amel sambil menghela nafas panjang, memanggil salah satu pelayannya lagi untuk menyediakan minuman untuk mereka berdua dan Amel langsung duduk di sofa berhadapan dengan Sandra yang sedang memijat keningnya


"Elo kebiasaan kalau ada masalah menumpahkan sama orang yang ga tau apa apa" kata Amel dengan suara serius


"Loe bisa diem ga?" kata Sandra ketus


Amel hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap Sandra dengan kesal


"Gw lagi suntuk" kata Sandra pada akhirnya


Amel menatap wajah Sandra dengan pandangan datar, dia tidak mencoba bertanya tapi dia sedang menunggu cerita dari Sandra yang tiba tiba datang langsung mengamuk tidak jelas, memarahi pelayan yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia


Melihat Amel diam dengan pandangan datar, Sandra tidak peduli dengan sikap Amel yang sudah berubah datar seperti itu


dan sedang menunggu cerita darinya, tapi Sandra masih memijit keningnya yang pusing

__ADS_1


__ADS_2