Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 170


__ADS_3

"Tapi kan aku udah menyetujui permintaan kamu, kenapa kamu harus bertemu dengan atasan aku?" tanya Aruna dengan bingung


"Sudah kamu diam saja, nanti kamu juga tahu kok, ayok" ucap Tonny sambil menarik tangan Aruna untuk menemui atasannya, Aruna dengan pasrah akhirnya mengikuti kemauan Tonny


"Dimana ruang kerjanya, kamu tahu kan?" tanya Tonny lagi sambil menatap Aruna dengan pandangan bertanya


"Ayolah Aruna, aku ga ada waktu buat main tebak tebakan" ucap Tonny dengan nada tidak sabar, karena sepertinya Aruna sangat enggan memberitahukan dimana letak ruang kerja atasannya


"Aruna kalau kamu tidak mau memberi tahukan kepada aku dimana letaknya aku akan cari sendiri dan kamu terima apa akibatnya" ancam Tonny kepada Aruna, akhirnya sambil menghela nafas panjang Aruna pun langsung menunjukkan letak ruang kerja atasannya itu


"Tidak jauh dari sini, ikuti saja lorong itu ruangannya ada di sebelah kanan" jawab Aruna dengan nada malas, Tonny langsung menganggukkan kepalanya


Aruna kembali digandeng oleh Tonny, gandengannya dia kali ini berasa sangat erat seperti seakan tidak ingin melepaskannya lagi, sementara Aruna sendiri hanya bisa diam pasrah ketika tangannya digandeng oleh Tonny


Sesampainya mereka berdua di ruangan tempat dimana atasannya Aruna bekerja, Tonny segera mendekati sekretaris yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu


"Selamat siang, saya hendak bertemu dengan..." Tonny langsung menoleh ke arah Aruna untuk memberi tahukan siapa nama atasannya


"Ibu Dian" jawab Aruna kepada Tonny


"Ya dengan ibu Dian, apa dia ada di tempat?" tanya Tonny kembali menoleh ke arah sekretaris yang sibuk dengan pekerjaannya


Sekretarisnya adalah seorang wanita yang setengah baya, namun terlihat sangat efisien dan kali ini dia menatap Tonny dengan pandangan menyelidik


"Apa anda sudah membuat janji dengan ibu Dian?" tanya sekretaris itu kepada Tonny dengan pandangan menyelidik


"Belum ada, tapi saya punya urusan dengan atasan anda dan itu sangat penting, bilang saja Tonny ingin menemui ibu Dian" ucap Tonny dengan tegas


Sekretaris Bu Dian langsung mengangkat telpon dan memencet nomor telpon, ketika sudah terhubung sekretaris Bu Dian langsung segera memberitahu ada yang ingin bertemu dengan Bu Dian selaku sebagai seorang atasan yang membawahi karyawan karyawan restoran

__ADS_1


"Anda dipersilakan masuk ke dalam" ucap sekretaris tersebut setelah sambil mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam, Tonny masih menggandeng tangannya Aruna, mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan atasan dari Aruna


Ruangan itu tidak begitu luas dan tidak begitu sempit, namun terlihat rapih, begitu Tonny dan Aruna masuk ke dalam ruangan tersebut, tampak Bu Dian sedang mengerjakan sesuatu, melihat ada yang datang, Bu Dian langsung menengadahkan kepalanya, lalu kemudian berdiri menyambut Tonny


Bu Dian juga menoleh kepada Aruna namun Aruna hanya menganggukkan kepalanya dengan takut takut


"Silahkan duduk" kata Bu Dian dengan suara tegasnya, melihat Tonny dan Aruna dengan pandangan bertanya nya


" Bukankah kamu Aruna, ada apa dengan pegawai saya apa dia membuat masalah?" tanya Bu Dian kepada Tonny dengan nada tegasnya


"Tidak Bu, oh iya sebelumnya saya mau memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, saya adalah Tonny Alexander Angkasa" ucap Tonny dengan sengaja menyebut nama lengkapnya, Tonny langsung mengulurkan tangannya dan dibalas dengan Bu Dian


"Saya Dian Herawati, jadi tuan Tonny apa yang bisa saya bantu?" tanya Bu Dian setelah selesai berjabat tangan dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi


"Aruna dan saya akan menikah, jadi Aruna akan mengundurkan diri dari sekarang" ucap Tonny lugas, membuat Aruna langsung membelalakkan matanya lebar lebar, dia tidak menyangka sama sekali Tonny akan bicara seperti itu padahal mereka baru mengenal hari ini


Bu Dian langsung menatap keduanya dengan pandangan tajamnya, terutama dia memandang Aruna, seakan akan dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tonny


"Itu.."


Belum sempat Aruna melanjutkan omongannya, tiba tiba Tonny langsung menyela


"Aruna sayang, masa kamu seperti itu sih, kamu kan tahu dia itu bukan siapa siapanya aku, lagian orang tua kita loh sudah saling menyetujui pernikahan ini, kamu jangan marah lagi ya sayang"


Tonny berkata seperti itu sambil tersenyum manis kepada Aruna, namun matanya menyiratkan ancaman agar Aruna harus mengikuti sandiwaranya, Aruna hanya terdiam bingung entah harus berkata apa


"Aruna sayang kok kamu diam saja, jawab dong apa yang ditanyakan sama Bu Dian atasan kamu itu" ucap Tonny membujuk Aruna untuk menjawab pertanyaan dari Bu Dian, Tonny langsung menggenggam tangan Aruna dengan sangat erat, hingga Aruna meringis kesakitan


"Aruna sayang lihat atasan kamu sedang menunggu jawaban kamu loh" kata Tonny lagi sambil menggenggam tangan Aruna dengan sangat kuat

__ADS_1


"Iya iya itu betul Bu" jawab Aruna dengan sangat cepat


Tonny langsung tersenyum penuh dengan kemenangan, genggaman tangan Tonny yang tadinya sangat erat kini kembali seperti biasanya, sementara Aruna hanya bisa mendesah pasrah, namun dalam hatinya dia benar benar mengutuk pria tampan di sebelahnya ini


"Baiklah kalau begitu, permohonan pengunduran diri kamu saya terima, kamu besok sudah tidak lagi bekerja di tempat ini" jawab Bu Dian pada akhirnya dengan nada suara tegas


Tonny yang mendengar itu langsung tersenyum dengan senang, akhirnya tujuannya dia sudah tercapai dan kini tinggal bagaimana menaklukkan hati Aruna karena dia tahu Aruna adalah tipe gadis yang sulit untuk ditaklukkan


Setelah meninggalkan ruangan Bu Dian, Aruna langsung melangkah mendahului Tonny, dia menghentakkan kakinya wajahnya yang putih langsung berubah menjadi merah padam, dan cemberut, dia benar benar sangat marah tapi dia sendiri tidak bisa bicara karena emosinya yang membuncah di dadanya, hanya Tonny yang masih bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apa apa


Hingga mereka tiba di lobby hotel, Aruna masih saja berjalan keluar untuk menenangkan emosinya, Aruna berpikir kalau hari ini adalah hari yang paling sial dalam hidupnya, dan yang tidak habis pikir adalah bisa bisanya pria yang tidak tahu asal usulnya mengatakan kalau mereka akan menikah, bagiamana kalau dia adalah seorang pembunuh bayaran atau seorang mafia yang sedang menyamar, tiba tiba Aruna langsung bergidik ngeri sendiri


"Sekarang gw harus berbuat apa, salah satunya adalah menghilang dari dia" gumamnya pelan sambil menatap ke langit langit luar


"Jangan pernah berpikir untuk kabur Aruna" kata Tonny tiba tiba, dan kini sudah ada di sebelahnya Aruna


Aruna langsung menoleh dan menatap Tonny dengan pandangan sengitnya, dia sangat marah kepada Tonny karena telah mengacak acak hidup dan tujuannya


"Diam kamu!" teriak Aruna menatap wajah Tonny dengan pandangan yang penuh dengan amarah


"Lo pikir Lo bisa seenaknya melakukan itu sama gw, Lo pikir Lo itu siapa, dan ada dendam apa Lo sama gw, cepat ngaku Lo itu orang suruhannya siapa ayok ngaku!" bentak Aruna kepada Tonny dengan suara yang berapi api


"Kenapa sih loe harus ganggu gw, padahal gw ga tau siapa loe, dan menikah jangan mimpi gw mau menikahi Lo, jangan sok cakep paham Lo !" bentak Aruna kepada Tonny, wajahnya merah padam hingga tanpa sadar Aruna mengeluarkan air matanya, dia merasa sangat menyedihkan hari ini


Aruna bingung harus mencari pekerjaan kemana lagi, sementara dia harus melunasi uang kuliahnya yang sudah telat beberapa bulan yang belum dibayarkan sama sekali, dia mengusap air matanya di wajahnya dengan kasar


Tonny mencoba menghampiri dirinya, namun Aruna malah memundurkan langkah kakinya


"Berhenti gw bilang !" teriak Aruna

__ADS_1


Tonny mencoba mengalihkan perhatiannya Aruna dengan langsung menoleh ke arah kiri dan Aruna pun langsung terkecoh, dia mengikuti gerakan Tonny menoleh ke sebelah kiri dan saat itu juga Tonny langsung memeluk Aruna dengan erat


__ADS_2