Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 98


__ADS_3

"Kenapa kalian menatap aku seperti itu?" tanya Diandra heran


"Gag, elo udah berubah ternyata Di, elo ga seperti dulu lagi, berani menghadapi Sandra seorang diri" ujar Hera dengan nada kagum dan tulus


"Dan gw ga nyangka elo benar benar berubah" ucap Hera lagi


"Biasa saja " jawab Diandra tenang dengan wajah datar


"Tapi rasa trauma itu yang masih belum hilang" ucap Diandra dengan nada sedih


dan sedikit murung


Hera langsung memeluk Diandra dengan erat


"Tenang aja, gw ada disini buat elo, elo ga sendiri" kata Hera sambil menepuk bahu Diandra dengan rasa sayang


"Kayaknya elo udah lama meluknya, gantian gw" kata Alfian cemburu melihat Diandra dipeluk oleh Hera


"Lucu elo, gitu aja cemburu gw kan cewek" kata Hera sewot, tahu raut wajah Alfian yang sedang cemburu kepada dirinya


"Siapa bilang elo banci " jawab Alfian tenang tidak mau kalah


Ketika Hera ingin membalas ucapan Alfian, tiba tiba pintu ruangan Diandra terbuka, muncul Donny disitu sambil geleng-geleng kepala


"Dicari malah disini" ujar Donny kesal, sambil melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tidak lupa dia menutup pintu ruangan Diandra, sehingga ruangan Diandra agak sedikit penuh dengan kehadiran mereka bertiga


"Kenapa cari cari gw?" tanya Alfian masih dongkol dengan Donny gara gara tadi pagi


"Gitu aja ambegan" ledek Donny


"Memangnya dia kenapa?" tanya Diandra penuh rasa ingin tahu menatap ke arah Donny


"Dia marah sama Sandra ingin membalas dengan kasar ke Sandra tapi buru buru aku tahan" kata Donny santai


"Masalah Sandra dipanggil ibu sama sekretarisnya dia?" tanya Diandra kepada Donny


"Sudah cerita dia?" tanya Donny balik


" Iya " jawab Diandra singkat


Donny langsung tertawa terbahak-bahak, di sela sela tawanya dia melihat ada Hera disitu yang sedang menatapnya, dan dia pun langsung berhenti tertawa kemudian kembali dengan muka datarnya, Hera sendiri bingung melihat perubahan Donny yang tiba tiba langsung berubah yang kalau kata orang dibilang menjaga image, namun Hera kembali bersikap acuh tak acuh


"Tau gak kamu seperti anak kecil, sebenarnya aku jadi berpikir kalau kamu suka sama Irma" cibir Diandra


"Sayang kamu jangan berkata seperti itu kenapa, dia kan pegawai aku dan aku berhak lindungi karyawan aku dari amukan si nenek sihir itu" ucap Alfian membela diri


"Iya iya aku minta maaf" kata Diandra mengalah


"Denger ya sayang aku ini tipe orang yang setia dan menepati janji, kamu jangan meragukan cintanya aku loh" ujar Alfian berusaha meyakinkan Diandra


"Aku ga bilang kalau kamu tidak setia kok" jawab Diandra


"Tapi dari cara kamu bicara, kalau kamu menuduh aku menyukai wanita lain selain kamu" balas Alfian tidak mau kalah

__ADS_1


"Terserah kamu lah Alfian, aku ga nuduh kamu kok" jawab Diandra sedikit kesal dengan Alfian


Hari sudah menjelang siang, saatnya waktu makan siang telah tiba


"Gw lapar, makan yuk" ajak Hera terus terang


"Iya gw juga lapar " jawab Donny


"Memang kalian mau makan siang dimana?" tanya Diandra ingin tahu


"Di kantin kantor aja gimana, gw belom nyobain makanan di kantin kantor kalian" usul Hera antusias


"Iya gw juga setuju" kata Donny lagi


"Apaan sih..ikut ikutan saja" dengus Hera


"Loh emang kenapa kalau gw juga mau makan bareng, gag boleh?" tanya Donny menatap Hera lekat lekat


Hera hanya diam, membuang wajahnya kearah jendela luar


"Sudah ah ribut muluk, pusing tau yang denger" ujar Diandra mencoba untuk menengahi keduanya


"Tau ini nih yang disebut pura pura ga suka, padahal hatinya deg degan" ledek Alfian kepada Donny dan Hera


"Diam !" teriak Donny dan Hera dengan kompak


"Bener kan Di, bilangnya udah move on terus yang satunya bilangnya pikir pikir tapi mereka diam diam malah jatuh cinta" ledek Alfian sambil mencibir ke arah mereka berdua


"Dan kamu juga Al bisa ga kamu ga meledek Donny dan Hera, kasihan mereka berdua" ujar Diandra menatap Alfian


"Sayang kok kamu malah belain mereka sih" Alfian kembali merajuk


"Bukannya membela tapi biarkan saja mereka dengan kisah cinta mereka, kita ga usah julid" ucap Diandra mencoba memberikan pengertian kepada Alfian


Entah kenapa Alfian kalau sudah berada di dekat Diandra langsung berubah seratus delapan puluh derajat, dari seorang pimpinan yang tegas, berkarisma, disegani oleh banyak pihak termasuk kolega kolega bisnisnya, dan juga para bawahannya berubah seperti seorang anak kecil yang selalu minta diperhatikan, dimanja bahkan tidak ada age seorang atasan kepada bawahannya


Donny aja sampai menggelengkan kepalanya dan terkadang mengelus dadanya jika melihat tingkah Alfian yang suka absurd dan random jika didepan Diandra, dan untungnya Diandra cukup bersabar menghadapi seorang Alfian yang terkadang seperti anak kecil jika didepannya Diandra


"Mau makan tidak?" tanya Donny kepada mereka bertiga


"Iya mau, ayok Hera" ajak Diandra menggandeng tangannya Hera, dan lagi lagi Alfian merasa cemburu begitu melihat Diandra menggandeng tangan Hera


"Sayang kok tangan Hera yang digandeng kenapa bukan aku?" tanya Alfian tidak terima


"Kamu gandeng tangannya Donny aja" jawab Diandra santai


Alfian langsung melirik geli ke arah Donny, Donny yang melihat Alfian melirik ke arahnya, seakan dia tahu apa yang ada di pikiran Alfian


"Gw juga geli kali digandeng sama elo emang elo pikir Eike cowok apaan" kata Donny sambil mencibir ke arah Alfian yang tengah melirik dirinya


"Siapa juga yang mau gandengan sama elo, mending gw gandengan sama calon isteri gw" jawab Alfian langsung melangkahkan kakinya keluar menyusul Diandra dan Hera yang sudah terlebih dahulu ke luar ruangan menuju ke lift


Sembari mereka menunggu lift, banyak karyawan yang tengah memandang mereka, terutama ke arah Hera, karena mereka belum pernah melihat Hera sebelumnya terutama para pria yang menunjukkan ketertarikannya hingga ada seorang karyawan mencoba mendekati Hera, saat Hera berada di samping Diandra dan Donny dibelakang mereka berdua bersama dengan Alfian

__ADS_1


"Hai, anak baru ya?" tanya pria yang menggunakan kemeja biru l, dia tersenyum ke arah Hera, pria itu lumayan cukup tampan, Hera langsung menatap pria tersebut sambil tersenyum manis "Saya bukan karyawan sini, maaf" kata Hera dengan ramahnya


"Dia teman saya" tukas Diandra kepada pria tersebut


"Oh temannya ibu Diandra ya" ucap pria muda itu


"Iya teman saya, dan kebetulan dia masih single, oh iya kamu kan anak finance yah" tebal Diandra kepada pria itu


"Hehehehe, kok ibu tahu iya saya anak finance nama saya Anjas" jawab pria yang bernama Anjas


Diandra langsung tersenyum begitu saja lalu dia berkata lagi


"Dia namanya Hera, kamu kalau mau kenalan boleh kok" ucap Diandra kepada Anjas


"Boleh kan Hera?" tanya Diandra kepada Hera


"Apaan sih kamu Di" jawab Hera malu malu


"Kenalkan nama saya Anjas" kata pria itu sambil mengulurkan tangannya


"Hera " jawab Hera membalas uluran tangan pria itu


Mereka bertiga tidak ada yang menyadari kalau ada dua pria yang hatinya langsung terbakar emosi siapa lagi kalau bukan Alfian dan Donny, mereka berdua sudah mengepalkan kedua tangannya karena cemburu melihat kedua wanitanya sedang berakrab ria dengan seorang pria, apalagi Hera yang tampak sumringah ketika dipuji cantik oleh pria yang bernama Anjas


"Jadi mbak Hera dan Bu Diandra sudah berteman sejak lama?" tanya Anjas ingin tahu


"Kamu berdua memang sahabat sejak SMA, makanya kita berdua bisa dibilang bestie gitu" kata Diandra sambil tertawa


"Wah mbak Hera beruntung ya bisa bersahabat dengan ibu Diandra, Bu Diandra ini atasan yang paling baik kalau saya bilang" ujar Anjas sambil memuji Diandra menatap kagum ke arah Diandra


"Oh ya, bagus dong kalau begitu, berarti Diandra wanita yang hebat" puji Hera tulus


"Dan satu lagi sebelum kamu lupa, Ibu Diandra ini adalah calon isteri saya" kata Alfian dengan suara dinginnya dan mata yang mengancam, Anjas yang mendengar itu langsung melihat Alfian dengan pandangan yang penuh rasa takut


Sikap Alfian yang seperti itu langsung membuat yang ada disana menjadi kikus, Anjas langsung terdiam sementara Diandra menatap Alfian dengan pandangan protes, sementara itu Donny menunjukkan sikap terang terangan kalau dia tidak suka dengan keberadaan Anjas, akhirnya mereka langsung terdiam menunggu pintu lift terbuka


Begitu pintu lift terbuka, mereka berempat masuk kecuali dengan Anjas


"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Hera kepada Anjas


"Duluan saja, nanti saya nunggu lift yang lain saja" jawab Anjas yang tiba tiba berubah menjadi sopan, karena bukannya apa apa sebelum dia mau masuk lift tiba tiba Alfian yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam lift langsung mengancam Anjas lewat matanya dan itu membuat Anjas menjadi tidak berani naik lift bersama dengan mereka dan memilih untuk memilih lift yang satunya lagi


"Ya sudah kalau begitu, kami duluan ya" kata Hera ramah, Donny langsung menutup tombol pintu lift dan pintu lift langsung segera menutup, Anjas yang ingin mengatakan sesuatu akhirnya hanya tersimpan dalam hati saja


"Lain kali jangan usah keganjenan sama laki" kata Donny sewot


"Lah kenapa dan apa urusan elo?" kata Hera balik bertanya dengan nada sewot


"Ada urusan kalau itu menyangkut laki laki, paham?" tanya Donny sinis


"Gag jelas dan ga paham" balas Hera ga mau kalah


Sebelum Donnya membalasnya, pintu lift sudah terbuka dan mereka langsung keluar lift dan menuju ke kantin khusus untuk para petinggi disana

__ADS_1


__ADS_2