
Dokter itu langsung duduk di kursi dan Alfian duduk diseberang meja dokter tersebut
"Bagaimana keadaan calon isteri saya dok?" tanya Alfian dengan nada lirih
"Pasien saat ini masih mengalami pingsan, tapi tidak apa apa, dia hanya butuh istirahat" jawab dokter tersebut
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter itu dengan nada serius
Alfian langsung menceritakan kronologis yang sebenarnya, dokter itu hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu dokter menuliskan resep untuk Diandra
"Apa dia tidak apa apa dok?" tanya Alfian khawatir
"Menurut cerita saudara, pasien mungkin pernah mengalami trauma tapi itu bisa dikonsultasikan lagi ke ahli psikologi, untuk saat ini saya hanya bisa meresepkan vitamin dan jika obat penenang dan diminum jika pasien mengalami kondisi yang tidak tenang atau histeris" jawab Dokter tersebut sambil memberikan resep itu kepada Alfian
"Ini bisa kamu tebus di apotik" kata dokter itu lagi
"Apa saya bisa melihat dia dok?" tanya Alfian penuh harap, berharap Diandra bisa dilihat oleh nya
"Bisa, tentu saja,semoga dia sadar dari pingsannya " jawab dokter itu dengan suara tegas
"Amien dok, terima kasih banyak" kata Alfian
Alfian langsung segera bergegas menuju tempat dimana Diandra berada, gadis itu tampak tenang dengan mata yang terpejam hanya wajahnya yang tampak terlihat pucat
"Diandra..maafkan aku, sayang,maaf sekali lagi maaf " lirih Alfian sambil memegang tangannya Diandra,saat ini hatinya sangat menyesal mengapa dirinya melakukan hal yang sebodoh itu, apalagi rasa bersalah itu semakin meningkat ketika Hera memberitahukan jika Diandra mempunyai rasa trauma yang cukup dalam
"Di..bangun ya buka matamu, aku janji ga akan melakukan hal yang sebodoh itu, asal kamu mau membuka mata kamu" bujuk Alfian di telinga Diandra
Hera dan Donny langsung masuk ketika mereka berdua meminta ijin kepada penjaga disitu, dan mereka berdua diijinkan untuk masuk
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Donny dengan rasa ingin tahu
"Dia tidak apa apa, kita hanya menunggu Diandra membuka matanya" jawab Alfian dengan suara pelan, sambil membelai rambutnya yang panjang
"Kamu sudah mengabarkan sama kedua orangtuanya Diandra?" tanya Alfian tiba tiba
"Belum, apa harus ya?" tanya Hera meminta pendapat kepada mereka berdua
"Sebaiknya tidak usah, kita bagi tugas saja, kamu sama Donny belanja kebutuhan pasar, biar aku yang menunggui Diandra disini,bagaimana?" tanya Alfian meminta persetujuan ke duanya
"Iya sebaiknya begitu, khawatir nanti mamanya Diandra menunggu kita" jawab Donny
"Lalu kalau kita ditanya mengenai Diandra gimana?" tanya Hera menatap mereka berdua secara silih berganti
"Bilang saja kita berdua dipanggil sama orang tua aku tiba tiba karena ada urusan" jawab Alfian sekenanya
"Atau berikan saja alasan yang masuk di akal, asal jangan bilang kalau Diandra sedang ada di rumah sakit khawatir mereka akan kepikiran" kata Alfian lagi sambil memperhatikan wajah Diandra yang masih terpejam
Tidak berapa lama mata Diandra terbuka, kedua netranya memandang ke sekelilingnya, dia hanya melihat semuanya serba putih
"Aku dimana?" gumamnya pelan
Dia berusaha untuk bangkit berdiri, namun terasa tubuhnya masih terasa lemas, hampir dua jam Diandra pingsan tidak sadarkan diri, Alfian baru habis dari kamar mandi begitu melihat Diandra membuka matanya, buru buru dia bergegas menuju ke tempat Diandra
" Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Alfian dengan suara lembut
Diandra menatap Alfian dengan pandangan herannya
"Aku dimana?" tanya Diandra pelan
__ADS_1
"Kamu lagi di rumah sakit, kamu tadi pingsan di pasar sayang " kata Alfian mencoba menjelaskan kepada Diandra
"Sayang sebentar ya, aku panggilkan dokter dulu" kata Alfian, dia langsung berlari menemui dokter jaga dan memberitahukan kalau Diandra sudah siuman, dia bersama dokternya jaga langsung segera menuju ke bilik tempat dimana Diandra dirawat
Diandra sendiri mengingat ingat apa yang terjadi dan kenapa dia bisa sampai masuk ke rumah sakit, dan dia baru menyadari kalau dia baru habis bertengkar dengan Alfian tiba tiba air mata Diandra meleleh dan langsung menangis terisak Isak, untungnya tidak lama kemudian Alfian bersama dengan dokter jaga langsung datang menghampiri
Begitu melihat Diandra menangis terisak Isak, hati Alfian terasa sangat sakit sekali dia merasa dia bukan orang yang terbaik yang mendampingi Diandra, karena kesalahannya yang sudah dia perbuat membuat Diandra menjadi seperti ini, Alfian langsung memeluk Diandra sambil berkata maaf berkali-kali,namun respons yang dia dapatkan adalah penolakan dari Diandra
"Pergi kamu ! aku benci kamu BENCI !!" teriak Diandra yang menolak dipeluk Alfian
"Sayang maaf..maaf, sekali lagi maaf " kata Alfian dengan suara lembut untuk menenangkan Diandra dan Alfian masih memeluk Diandra dengan erat
"Lepaskan Aku, aku ga mau disentuh sama kamu, kamu jahat sama aku !!" teriak Diandra, dia semakin histeris, terus berontak dalam pelukannya Alfian ya, hingga Diandra merasa kelelehan karena Alfian tetap saja tidak mau melepaskan pelukannya
"Aku minta kamu lepaskan aku Alfian, aku benci sama kamu Alfian " kata Diandra dengan suara lemah dan sambil menangis terisak Isak
"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu Diandra sampai kapanpun, kamu boleh membenci aku tapi aku yang akan melenyapkan rasa benci kamu itu, hingga kamu mau memaafkan aku kembali" kata Alfian dengan suara lirih
Hati Alfian sangat terkoyak, dia sudah membuat Diandra teringat kembali dengan traumanya, Diandra akhirnya hanya bisa menangis didalam pelukannya Alfian, dia tidak lagi memberontak
Dokter langsung memeriksa kondisi Diandra, melihat Diandra masih menangis tanpa berhenti, dokter meminta perawat untuk memberikannya suntikan penenang, agar Diandra bisa istirahat
"Saya perlu bicara dengan anda " kata dokter itu kepada Alfian dengan wajah seriusnya
"Silahkan dok,ada apa ya?" tanya Alfian menatap was was, sembari menatap Diandra yang sudah tampak lebih tenang sekarang, bahkan matanya kembali terpejam
"Sepertinya pasien mengalami kondisi kejiwaan yang dimana dia mempunyai rasa trauma seperti yang disampaikan oleh anda tadi, saran saya sebaiknya pergilah berkonsultasi dengan dokter kejiwaan agar rasa traumanya tidak terlalu terganggu" kata dokter tersebut menatap Alfian dengan tatapan serius
"Saya berharap saat nanti pasien tersadar dia bisa jauh lebih baik, yang penting dia harus tenang terlebih dahulu" kata sang dokter kepada Alfian
__ADS_1
"Dan satu lagi tolong jauhkan apa apa yang membuat dia bisa histeris "kata dokter itu lalu dia berlalu pergi meninggalkan Alfian seorang diri, Alfian duduk di kursi di sebelah tempat tidurnya Diandra, memegang jemari tangannya Diandra lalu menciumnya satu per satu jarinya
"Di maafkan aku yang bodoh ini" kata Alfian dengan suara lirih menatap wajah Diandra yang sedang tertidur akibat diberikan suntikan obat penenang dari perawat rumah sakit