
Alex kecil perlahan lahan matanya terbuka melihat di sekelilingnya banyak berpakaian putih putih yang sedang sibuk merawat pasien, dia melihat ke arah kanan ada ibunya yang sedang terbaring disana, belum nampak sadar karena hasil dari obat tidur, ibunya masih tertidur pulas disana, dia menghela nafas panjang, kejadian kemaren terasa sangat sungguh berat bahkan dia berharap kalau ini semua hanya mimpi dan terbangun tiba tiba semuanya menjadi normal
Ayahnya kini sudah tiada, dia tidak habis mengerti mengapa ayahnya sampai begitu nekat meminum racun dan harus mengakhiri hidupnya seperti itu, beban berat apa yang menimpa ayahnya hingga ayahnya mudah menyerah dengan hidup, Alex kecil sungguh tidak paham dan tidak mengerti
Alex juga bertanya dalam hati mengapa harus dia yang menanggung beban itu, tidak mengapa dia harus hidup susah, tidak mengapa jika dia harus hidup sulit tapi asal dia bisa bersama dengan ayah dan ibunya, baginya itu sudah cukup untuknya, karena menurutnya bersama dengan kedua orangtuanya merupakan harta yang paling istimewa, dan kini salah satu harta itu sudah pergi meninggalkan mereka berdua, Alex kecil berpikir apakah ayahnya sudah tidak sayang padanya dan pada ibunya bukankah ayahnya sendiri selalu mengatakan kepada dirinya dan ibunya kalau dia sangat menyayangi keluarganya sangat mencinta ibunya dan dirinya sendiri
Tiba tiba di pelupuk matanya keluarlah cairan bening yang menetes, sungguh diabtidak ingin menangis, dia harus tegar, dia harus kuat karena kini hanya dialah yang bisa menjaga ibunya dan merawat ibunya, hanya dialah yang harus membuat dan melihat ibunya bahagia, di bahunya beban itu diserahkan
"Kamu sudah bangun nak?" tanya pak RT kepada Alex yang sedang terdiam dan termangu, Alex menatap wajah Pak RT dengan pandangan hampa
"Kamu sudah bangun?" tanya pak RT itu sekali lagi
Alex hanya menganggukkan kepalanya dalam diam
"Bapak bawakan sarapan buat kamu, ayok dimakan" ucap Pak RT itu sambil memberikan sepotong roti kepada Alex
"Terima kasih pak, tapi maaf saya tidak bernafsu makan pagi ini" ucap Alex dengan suara datar, tanpa ada senyuman di wajahnya yang selalu menghiasi di bibirnya
Alex adalah anak yang tampan, dan juga pintar, dia selalu ramah kepada setiap orang termasuk teman temannya banyak yang menyayangi dia dan menyukainya, apalagi dia termasuk anak kecil yang sangat senang membantu jika ada yang membutuhkannya, dia selalu tersenyum jika ada orang yang menyapanya, namun kali ini untuk tersenyum Sepertinya dia enggan dan tidak mau, raut wajahnya kini sedang dalam berada kesedihan yang teramat besar
"Nak kamu harus makan biar sedikit, perutmu kosong dari semalam" ucap pak RT itu sambil membujuk Alex untuk sarapan rotinya, namun Alex diam tidak bergeming
Pak RT itu tidak henti hentinya membujuk Alex untuk sarapan pagi, namun akhirnya Alex luluh juga, dia mengambil secuil roti dan mengunyahnya secara pelan pelan, roti itu terasa hambar didalam mulutnya namun dia paksa untuk dia telan juga
"Aku sudah kenyang pak, terima kasih" ucap Alex sopan sambil mendorong tangan pak RT dari hadapannya, akhirnya dengan mengalah pak RT itu menaruh rotinya disamping meja
"Bapak taruh disini dulu ya, nanti kalau kamu lapar kamu bisa makan lagi roti ini" ujar Pak RT
"Iya pak, terima kasih banyak, maaf untuk saat ini saya belum lapar" jawab Alex dengan suara datar
"Oh iya mungkin nanti pihak kepolisian akan datang untuk menanyai kalian, kalian jangan khawatir nanti bapak yang akan mendampingi kalian berdua" ucap pak RT sambil memberi informasi kepada Alex' Alex hanya diam saja
"Aku ingin bertemu ayah" ucap Alex dengan suara lirih, pak RT langsung terdiam mendengar Alex berkata seperti itu, entah kenapa hatinya terasa begitu sedih dan miris melihat seorang anak kecil yang tidak tahu apa apa kini harus menanggung beban di pundaknya, Pak RT itu hanya bisa menghela nafas panjang masih menatap wajah anak tampan itu
"Aku ingin melihat ayah apakah boleh?" tanya Alex sambil memandang wajah tua pak RT iu dengan tatapan mengiba
"Kamu sabar dulu ya, nanti saya coba meminta ijin kepada pak polisi untuk kamu bisa melihat wajah ayahmu untuk yang terakhir kalinya" jawab pak RT sambil membelai rambut anak itu
Alex kecil hanya bis mengangguk pasrah, tak lama kemudian Alex kecil didatangi oleh dokter jaga dan didampingi oleh polisi
"Selamat pagi nak, gimana kabar kamu pagi ini?" tanya polisi itu sambil tersenyum ramah ke arah Alex, namun Alex hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan polisi itu
"Saya periksa kamu dulu yah, ibumu belum terbangun dari tidurnya" ucap seorang dokter jaga yang sedari tadi sudah berdiri di samping polisi
"Mohon maaf mungkin bapak bapak bisa minggir terlebih dahulu, karena kami mau melakukan pemeriksaan terlebih dahulu" ujar dokter tersebut kepada polisi dan pak RT, dan mereka berdua langsung mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang buat dokter jaga dan susternya itu memeriksa Alex
Dokter itupun langsung mengambil tindakan, dia dibantu dengan seorang suster memeriksa tubuh Alex
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya dokter jaga itu kepada Alex dengan pandangan ingin tahu
Alex hanya diam sambil terpekur
"Takut" jawab anak itu, kemudian Alex kembali diam, lalu tiba tiba Alex menengadahkan kepalanya menatap dokter itu dengan pandangan memohon
"Apa boleh saya melihat wajah ayah saya?" tanya Alex dengan pandangan memohon sambil mengiba kepada dokter tersebut
"Nanti kamu dan ibu mu akan diijinkan unuk meihat jenazah ayahmu" jawab dokter terebut dengan suara lembut dan tegas
"Tolonglah dok, ijinkan saya untuk melihatnya, saya ingin mengatakan sesuatu kepada ayah saya" ucap Alex dengan tatapan memohon kepda dokter tersebut
"Dokter Anita sebaiknya diijinkan saja anak ini untuk melihat jenazah ayahnya, tapi sebelumnya minta ijin dulu dengan polisi yang ada di sebelahnya bapak tua itu" bisik suster itu kepada dokter Anita
Tampak dokter Anita sedang berpikir dan mempertimbangkan permohonan Alex
__ADS_1
"Sebentar kalau begitu, saya harus meminta ijin kepada polisi itu terlebih dahulu, karena sepengetahuan saya, jenazah ayahmu sedang di autopsi dulu" kata Dokter Anita kepada Alex dan Alex hanya menganggukan kepalanya
Dokter Anita langsung pergi ke arah polisi tersebut yang sedang sibuk berbincang bincang bincang dengan pak RT
"Mohon maaf menganggu waktunya sebentar" kata dokter Anita dengan sopan kepada polisi tersebut
"Iya ada apa ya dok?" tanya polisi tadi sambi menatap wajah dokter Anita
"Anak itu meminta ijin untuk melihat jasad ayahnya apakah diperbolehkan?" tanya dokter Anita kepada polisi yang bernama Rian
Polisi yang bernama Rian itu langsung terdiam seakan ingin menimbang sesuatu
"Baiklah kalau anak itu ingin melihat jasad ayahnya, mari kita antarkan" jawab polisi yang bernama Rian, dokter Anita langsung mengangguk puas
Dokter Anita kembali menghampiri Alex yang saat itu sedang ditemani oleh suster yang jaga, mereka berdua langsung melihat dokter Anita yang sedang tersenyum kepada anak itu
"Keinginan kamu berhasil, ayok kita lihat jasad ayah kamu terlebih dahulu" kata Dokter Anita kepada Alex
Alex langsung turun dari kasur tempat tidur rumah sakit, dia memakai sandalnya
"Saya sudah siap" ucapnya kepada dokter Anita
"Ayok ikuti kami, dan sus saya minta tolong untuk memantau kondisi dari ibunya" kata Dokter Anita yang lalu memberikan perintah kepada susternya
"Baik dok" jawab suster tersebut dengan sigap
Alex menoleh ke arah ibunya yang masih belum bangun dari kondisi tidurnya, sambil menghela nafas panjang dia langsung menghampiri dokter Anita
"Saya sudah siap" ujarnya kepada dokter Anita
"Baik ayok ikut kita" ajak Dokter Anita sambil menggandeng tangan Alex
"Pak Rian ayok " ucap Dokter Anita kepada polisi yang bernama Rian
"Saya ingin pamit dulu nanti saya akan kembali lagi, karena saya masih ada sendikjt urusan" jawab pak RT tersebut
"Baik kalau begitu, saya tinggal dulu sebentar" jawab polisi itu dengan suara tegas yang dibalas anggukan kepala oleh pak RT tersebut
Setelah rombongan Alex pergi menuju ke tempat jenazah ayahnya disemayamkan, pak RT itu pun segera berlalu pergi meninggalkan ruangan gawat darurat dan tinggallah Nyonya Laksmi sendirian disana dengan mata yang masih terpejam
Alex beserta dokter Anita dan polisi Ryan menuju ke tempat di mana jasad ayahnya berada, mereka melewati lorong lorong rumah sakit, yang suasananya suram dan agak sedikit gelap
Sesampainya mereka di kamar mayat, tampak seorang dokter dan seorang dari kepolisian melakukan otopsi pada tubuh ayahnya, Alex yang melihat itu berusaha untuk tegar dia berusaha untuk tidak menangis mesti hatinya terasa sangat terpukul melihat jasad ayah ya yang sedang dilakukan pemeriksaan
"Kamu tunggu sebentar disini, saya akan meminta ijin terlebih dahulu kepada petugas saya yang ada disana" kata polisi yang bernama Ryan itu dengan suara tegas, Alex pun menganggukkan kepala, setelah itu petugas yang bernama Ryan itu langsung menemui rekan kerjanya, setelah berdiskusi sebentar bersama dengan dokter autopsi, Alex diijinkan untuk mendekat
Dia didampingi dengan dokter Anita mendekati jenazah ayahnya yang terbujur kaku di tempat tidur, Alex menatap wajah ayahnya yang tanpa ada senyuman, Alex berharap mata ayahnya segera terbuka dan mengatakan kalau itu semua hanya mimpi dan ayahnya kembali mengajak pulang bersama dengan ibu mereka
Alex mendekati jenazah ayahnya dengan pelan pelan dia menghampiri ayahnya, lalu dia memegang tangan ayahnya yang terasa dingin di tangan kecilnya dia, kembali lagi dia meneteskan air matanya tanpa ada suara tangisan disitu, dia terus menggenggam tangan ayahnya tanpa ada suara dan kata kata, dia hanya ingin bertanya tapi kenapa lidahnya terasa sangat begitu kelu
Bolehlah dia berkata kepada ayahnya, kalau ayahnya sangat jahat dan egois telah meninggalkan dia dan ibunya sendirian, bolehkan dia mengatakan kalau hari ini dia sangat membencinya
Alex masih terdiam, dia masih menatap wajah ayahnya yang pucat, dia ingin meyakinkan hatinya kalau ayahnya benar benar tidak mau bangun lagi, tidak mau membuka matanya lagi hanya untuk melihatnya, dengan rasa gamang dan rasa sedih dia melepaskan tangan ayahnya lalu berbalik badan menghadap ke arah dokter Anita
Kini hatinya yang parah harus dipaksa untuk kembali tegar, untuk kembali luar dan dia berharap ini hal terakhir yang bisa membuat dirinya hancur dan selanjutnya sudah tidak akan ada lagi yang bisa mematahkan hatinya karena hati itu telah dipatahkan oleh kenyataan yang benar benar pahit
" Terima kasih telah mengijinkan saya untuk bisa melihat ayah saya yang terakhir kalinya" ucapnya dengan suara pelan kepada Dokter Anita
Dokter Anita merasa iba dan sedih melihat anak seusianya harus menerima sebuah kenyataan pahit, dokter Anita tidak bisa berkata apa apa dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ingin rasanya dia memeluk anak itu tapi Dokter Anita yakin anak itu tidak akan menyukainya sama sekali
Sementara itu polisi Ryan yang sedang berbincang bincang dengan rekannya sesama kepolisian langsung mendekati Alex dan Dokter Anita, melihat Alex sudah tampak siap untuk kembali ke ruangannya
"Apa kamu sudah selesai?" tanya polisi Ryan dengan suara simpatik kepada Alex
__ADS_1
Alex hanya menganggukkan kepalanya
"Saya sudah siap" ucapnya dengan suara tegas dan sedikit dingin
"Baik kita kembali ke ruangan rawat sekarang, dan biarkan mereka bekerja " ujar polisi Ryan mencoba untuk tersenyum namun tidak ditanggapi oleh Alex, Alex langsung berjalan mendahului polisi tersebut diiringi oleh dokter Anita disebelahnya sambil memegang pundak anak itu
Setibanya mereka kembali dari ruangan autopsi mayat, Nyonya Laksmi sudah terbangun dari tempat tidurnya dia melihat anaknya yang berjalan menuju ke tempat tidur tepat berada di sebelahnya
"Kamu dari mana nak, tadi ibu mencari cari kamu kamunya tidak ada?" tanya Nyonya Laksmi dengan suara lirihnya, Alex langsung mendekati ibunya dan menggenggam tangan ibunya kini hanya ibunyalah yang dia punya
"Tadi ibu belum bangun, saya ke tempat ayah Bu" jawab Alex dengan jujur sambil menatap ibunya dengan penuh rasa sayang
Ibunya langsung terdiam mendengar jawaban anaknya itu, ibunya menatap langit langit rumah sakit dengan pandangan kosong dan nanar
"Mengapa ayahmu tega nak, meninggalkan kita?" tanya Nyonya Laksmi masih memandangi langit langit ruaang rumah sakit itu, yang tanpa sadar air matanya langsung meleleh di pipinya
Alex kecil menggenggam tangan ibunya mencoba untuk menguatkan ibunya lewat tangannya yang mungil, dia yang mendapatkan pertanyaan seperti itu oleh ibunya juga sama, dia tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti
"Bu, tenanglah aku yang akan menjaga ibu, dan aku juga yang akan membuat ibu tertawa" ucap Alex sambil berusaha meyakinkan hati ibunya agar ibunya tidak boleh risau, meski hatinya terasa tidak yakin apakah dia bisa membuat ibunya tertawa atau menjaga ibunya, agar ibunya tidak lagi bersedih
Nyonya Laksmi menilehnke arahnya lalu memeluk anaknya dengan erat dan penuh dengan kasih sayang
Dokter Anita yang mengetahui Nyonya Laksmi sudah bangun dari tidurnya mendatangi mereka berdua
"Selamat pagi menjelang siang Bu, bagaimana tidurnya kali ini?" tanya Dokter Anita kepada Nyonya Laksmi dengan ramah
"Baik Bu tapi tidak sebaik biasanya" jawab Nyonya Laksmi sambil melepaskan pelukannya ke Alex
"Sudah sarapan hari ini?" tanya Dokter Anita kepada Nyonya Laksmi dengan suara lembutnya
"Belum dok" jawab Nyonya Laksmi melirik sarapan yang ada di samping meja yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit
Dokter Anita terdiam seketika melihat Nyonya Laksmi tidak memakan makanan yang sudah disediakan oleh pihak Rumah sakit, bukan karena Nyonya Laksmi tidak bernafsu makan namun siapa yang bisa makan ketika orang yang disayanginya tiba tiba tidak ada dan pergi begitu saja tanpa ada kata maupun pesan terakhir, hati siapa yang tidak kaget dan terkejut ketika orang yang dicintainya menghilang tiba tiba dan tanpa pernah kembali lagi, dia pernah merasakan hal seperti itu
Dokter Anita menghela nafas panjang
"Sebaiknya ibu makan, bulan untuk siapa siapa tapi demi kesehatan ibu sendiri, makanlah meski itu tidak enak di lidah ibu sendiri" nasihat Dokter Anita dengan bijak
"Terima kasih dokter atas nasihatnya, tapi bagaimana saya bisa bernafsu makan jika saya harus melihat tragedi yang ada di hadapan saya tiba tiba, bagaimana saya bisa bernafsu makan jika saya harus menerima kenyataan pahit dimana suami tercinta saya pergi menghilang tanpa ada pesan" Jawab Nyonya Laksmi dengan nada suara sedih dan terasa sangat menyayat hati
Dokter Anita terdiam mendengar jawaban Nyonya Laksmi
"Tapi setidaknya pikirkan mereka yang menyayangi ibu, ada anak ibu yang selalu ada di samping ibu, yang berharap i ubuntuk kembali sehat dan ceria" jawab Dokter Anita dengan suara tegas
Nyonya Laksmi menatap dokter Anita dengan pandangan kosong dan hampa, sementara Alex yang mendengar dokter Anita berkata seperti itu dia benar benar merasa terharu, Dokter Anita benar ibunya butuh asupan makanan setelah semalaman dia tidak mendapatkan asupan makanan dari apapun, kini saatnya dia harus membujuk ibunya untuk makan meski hanya sesuap
Alex mengambil makanan ibunya lalu mendekati ibunya sambil tersenyum kepada ibunya yang sedang duduk di tempat tidur
"Bu makanlah meski hanya sesuap saja" ucap Alex sambil menyendokkan bubur yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit
Ibunya terdiam menatap Alex dengan pandangan sedih, dia sedih melihat ayahnya yang kini terlantar tanpa seorang ayah sementara dia terlantar tanpa seorang suami
"Makanlah Bu, Alex ingin melihat ibu sehat dan ceria, Alex ingin lihat ibu kuat seperti biasanya" ucap Alex sambil menyuapkan satu sendok bubur ke arah mulut sang ibu
Melihat anaknya yang berharap ibunya untuk mau makan lewat matanya, hingga dia merasa iba, hingga akhirnya Nyonya Laksmi mengalah kepada anaknya Alex untuk mau makan bubur yang sudah dia sendokkan kepada mulut ibunya dan dengan pelan pelan Alex menyiapkan sesendok demi sesendok bubur ke mulut ibunya hingga bubur itu sudah hampir habis
Alex tersenyum puas ke arah ibunya Nyonya Laksmi
"Kamu sendiri apa sudah makan?" tanya Nyonya Laksmi kepada Alex
"Sudah tadi makan roti yang diberikan pak RT" jawab Alex agak sedikit berbohong kepada ibunya
"Alex maafkan ayah dan ibumu yah yang tidak mampu memberikan kebahagiaan buat kamu" lirih Nyonya Laksmi kepada Alex
__ADS_1
"Bu tau tidak, kebahagiaan Alex ada bersama dengan Kalian berdua, dan kalian adalah harta berharga untuk Alex, dan jika ibu bahagia Alex akan ikut bahagia juga" jawab Alex sambil memeluk ibunya sambil tersenyum ikhlas