Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 189


__ADS_3

"Jangan berbohong kalian, bagaimana mungkin Diandra bisa diculik?" tanya Nyonya Francie kepada Donny dan yang lainnya, menatap mereka satu per satu dengan tatapan tidak percaya


"Itu benar Tante, Diandra diculik, kami baru tahu ketika saya yang masuk ke dalam kamar kami, tiba tiba Diandra sudah tidak ada di dalam kamarnya" kata Hera kepada Nyonya Francie yang duduk di sebelahnya


"Ini Tante kalau tidak percaya, dan kamu juga sudah melaporkan ke kepolisian terdekat" ucap Donny sambil memberikan handphonenya yang sudah ada rekaman CCTV nya


Tuan Wijaya langsung mengambil handphone milik Donny, dia dan isterinya langsung melihat gambar yang ada di layar handphonenya, Tuan Wijaya memperhatikan dengan seksama begitu juga dengan Nyonya Francie, berkali kali Nyonya Francie membuka mulutnya dan kemudian menutupnya kembali, seakan akan dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu


Tuan Wijaya langsung mengembalikan handphone milik Donny, Tuan Wijaya tampak berpikir sebentar


"Kami bingung bagaimana mengabarkan ini kepada kedua orang tuanya Diandra Om Tante, kamu tidak ingin membuat mereka cemas dan khawatir" ucap Hera kepada kedua suami isteri tersebut, berharap ada saran dari mereka berdua


"Masalah itu biar tante saja yang urus, biar besok pagi pagi Tante yang akan mendatangi kedua orang tuanya Diandra, semoga mereka bisa tabah " jawab Nyonya Francie kepada Hera


"Don, saya minta kamu untuk tetap menjaga Alfian, masalah ini biar saya yang urus, saya akan mengerahkan orang orang saya untuk mencaritahu siapa laki laki itu, dan mencaritahu keberadaan Diandra" kata Tuan Wijaya pada akhirnya kepada Donny


"Baik Om, saya pasti akan menjaga Alfian dengan baik, dan saya berharap semoga Diandra bisa diketemukan, saya juga sudah menyuruh teman saya untuk meretas semua rekaman CCTV yang ada di jalan yang mereka lalui, semoga besok kita sudah bisa mendapatkan hasilnya" jawab Donny dengan nada tegas


"Apa kalian ada yang menduga siapa dalang penculikan ini?" tanya Nyonya Francie kepada Hera dan yang lainnya


"Kamu menduga Sandra Tante, karena waktu di cafe tadi sore dia bilang kalau sebentar lagi Alfian akan menjadi miliknya, dan tidak ada satupun yang berani menguasai Alfian" jawab Amel kepada Nyonya Francie


Nyonya Francie langsung menatap Amel dengan pandangan bertanya


"Maaf kamu siapanya Sandra?" tanya Nyonya Francie menatap Amel dengan pandangan curiga


Sebelum Amel menjawab Hera langsung menyela

__ADS_1


"Dia sahabat sekaligus temannya Sandra hanya saja dia sekarang sudah berubah Tante, dia tidak seperti dulu lagi yang suka membully Diandra"


Amel hanya diam dan tertunduk membisu, Nyonya Francie masih saja menatap Amel dengan tatapan menyelidik


"Kamu bukan mata matanya Sandra kan?" tanya Nyonya Francie lagi masih menatap Amel


"Tidak Tante, justeru saya ingin menolong Diandra, karena saya tahu benar siapa Sandra, dan Sandra hanya punya sahabat yang bisa dia percaya yaitu saya, dan saya janji saya yang akan membuka mulut Sandra mengenai kasus penculikan ini" jawab Amel dengan suara yang tegas


"Saya tunggu janji kamu itu" ucap Nyonya Francie kepada Amel


"Dan ingat jika kamu menyalahi janji kamu sendiri, akan ada konsekuensi yang harus kamu terima, ingat itu" ucap Nyonya Francie memberikan nada mengancam kepada Amel, Amel hanya menganggukkan kepalanya


"Lalu sekarang bagaimana dengan kondisi Alfian sendiri?" tanya Nyonya Francie kepada Donny


"Sementara ini dia masih tertidur, tadi diberikan suntikan penenang sama dokternya, biar dia bisa beristirahat" jawab Donny sambil menatap ke ruang IGD


"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu, ada yang mau ikut sama Tante dan om ?" kata Nyonya Francie sambil bertanya balik


Nyonya Francie langsung berdiri dia menuju ke ruang IGD, menghampiri petugas jaga yang ada disana, dia sangat ingin melihat keadaan kondisi putranya yang sedang terbaring


"Selamat malam pak" sapa Nyonya Francie dengan nada sopan kepada petugas satpam yang sedang berjaga di depan ruang IGD


"Malam, apa ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya petugas satpam yang tidak kalah sopannya


"Saya ingin melihat keadaan kondisi anak saya, apa boleh?" tanya Nyonya Francie kepada petugas yang berjaga


"Mohon maaf sebesar-besarnya, kami masih tidak bisa mengijinkan, besok pagi Nyonya baru bisa menjenguk pasien, demi kenyamanan para pasien" kata petugas jaga itu dengan pandangan menyesal

__ADS_1


Nyonya Francie menghela nafas panjang, lalu kemudian dia menganggukkan kepalanya seraya berkata kepada petugas jaga yang ada disana


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak mohon maaf juga sebelumnya"


Petugas jaga tersebut menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Besok pagi Nyonya bisa datang kembali untuk menjenguk pasien" kata petugas jaga itu dengan suara ramah


"Baik terima kasih banyak pak" ucap Nyonya Francie, dia langsung meninggalkan ruangan tersebut dan kembali menuju ke tempat suami dan sahabat sahabatnya Alfian berada


"Lebih baik kita pulang sekarang, biar besok pagi kita kesini lagi, mamah juga harus menemui orang tuanya Diandra besok" ucap Nyonya Francie kepada suaminya Tuan Wijaya, Tuan Wijaya menganggukkan kepalanya tanda setuju, mereka berdua pun berpamitan kepada kelima orang sahabatnya Alfian


"Tolong jaga Alfian, kalah ada kabar perkembangan selanjutnya kasih tahu kita berdua" kata Nyonya Francie kepada Donny sebelum mereka berpisah


"Baik Tante akan saya kabari jika ada perkembangan selanjutnya" ucap Donny dengan nada serius


Sepeninggalnya orang tua Alfian, kini Donny dan yang lainnya tetap bertahan di depan ruang IGD, menunggu perkembangan Alfian selanjutnya


"Apa yang sekarang harus kita lakukan?" tanya Hera dengan suara yang lirih, menatap ke langit langit lorong rumah sakit, berharap disana ada jawaban


Sebagai seorang sahabat, dia benar benar merasa sangat bersedih,cemas dan khawatir, tapi menangis bukanlah jalan pilihan, hanya saja air matanya masih saja terus menetes di pipinya yang putih, dia benar benar merasa bersalah, harusnya dia yang menjaga Diandra saat itu, harusnya dia bisa mencegah Diandra, harusnya harusnya, kata kata harusnya membuat dia semakin merasa bersalah dan butiran butiran air mata itu kembali menetes deras di pipinya


Donny yang melihat itu Hera menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya langsung memeluk Hera dengan sangat erat, berusaha untuk menghibur dan menenangkan Hera yang sudah sesenggukan di pelukan Donny


"Aku takut Don" ucap Hera di sela sela tangisnya


"Aku merasa bersalah, harusnya aku ada disana dan mencegah Diandra dengan niatnya" kata Hera lagi masih didalam pelukan Donny

__ADS_1


"Tidak Hera, tidak ada yang salah, semuanya sudah jalannya dan kita hanya bisa berdoa semoga semuanya akan baik baik saja, Diandra bisa kembali dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan suatu apapun" hibur Donny kepada Hera


Sementara Amel hanya bisa terdiam, dia berpikir bagaimana bisa Sandra bisa berbuat sekonyol itu hanya untuk bisa mendapatkan hati seorang Alfian, tiba tiba dia menemukan suatu ide cemerlang dan terbersit sebuah senyuman di sudut bibirnya, kini dia punya suatu rencana untuk Sandra dan ini adalah misinya


__ADS_2