
Sementara itu gadis misterius yang kini sedang dicari oleh Tonny dan kawan kawan, kini berada di ruang istirahat karyawan, hari ini tugasnya adalah menggantikan salah satu temannya yang sedang cuti melahirkan dan kebetulan dia juga memerlukan pekerjaan untuk biaya kuliahnya dia yang sudah meninggal tiga bulan, jika dalam waktu dekat ini dia masih belum bisa membayar uang kuliahnya, maka dia harus siap siap untuk di dikeluarkan dari universitas tempat dimana dia menimba ilmu selama ini
Gadis itu menarik nafas panjang, pekerjaannya kali ini memang benar benar menguras tenaganya namun apa boleh buat demi masa depan dan cita cita yang dia impikan dia harus berkorban
Dia bersandar di loker pakaian yang tertutup, sambil memejamkan matanya mencoba melepaskan penatnya, badannya terasa sangat lelah sekali dan kini dia diberikan waktu satu jam untuk dia berusaha kemudian dia harus memulai melayani para tamu untuk makan siang nantinya
"Hai, gimana pekerjaan kamu kali ini?" tanya seorang gadis yang mungkin seusia dirinya, gadis itu menatap wajah cantik tapi lelah yang ada di hadapannya
"Lumayan melelahkan tapi aku menikmatinya" jawab sang gadis itu lagi sambil menatap temannya dengan pandangan bersahabat
"Nama gw Lyla " kata gadis yang baru datang itu sambil mengulurkan tangannya ke arah gadis yang sedang duduk bersandar di loker pakaian
"Nama gw Aruna" jawab Aruna sambil membalas uluran tangan dari Lyla
"Salam kenal" jawab Lyla sambil tersenyum ke arah Aruna, Aruna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Lo sudah lama kerja disini?" tanya Aruna kepada Lyla dengan pandangan ingin tahu
"Sebenarnya dibilang lama juga belum sih, masih tiga bulan itupun gw masih kontrak" jawab Lyla sambil duduk di sebelahnya Aruna
"Betah?" tanya Aruna lagi menatap Lyla dengan pandangan ingin tahunya
"Namanya kerja ya betah ga betah, tapi di paksa untuk betah, demi menyambung hidup" jawab Lyla santai
Aruna langsung terdiam mendengar ucapan dari Lyla, teman yang baru dikenalnya
"Hari ini sibuk sekali ya" ucap Lyla kepada Aruna, Aruna hanya menganggukkan kepalanya
"Kadang gw itu iri sekali dengan mereka, yang terbiasa dengan fasilitas fasilitas mewah, dan bahkan kadang gw ingin bisa menjadi seperti mereka tapi gw ya itu sadar diri, siapa gw" kata Lyla lagi sambil tertawa
__ADS_1
"Gw dengar ceweknya juga dari kalangan orang yang biasa saja" kata Aruna
"Seperti dongeng Cinderella dengan pangeran tampan ya" kata Lyla tertawa
"Masing masing orang punya takdirnya masing masing, yaah siapa tahu aja kita juga bisa menemukan sang pangeran juga, pangeran kodok tapi nya" ujar Lyla lagi
Mendengar itu Aruna langsung tertawa terkekeh kekeh
"Tapi kan kita ga tahu siapa tahu aja pangeran kodok bisa berubah menjadi pangeran yang tampan " ucap Aruna tertawa
"Bisa jadi tapi sepertinya itu ga mungkin" jawab Lyla sambil setengah berpikir
"Loh kenapa gag mungkin?" tanya Aruna mengernyitkan matanya heran
"Yah ga mungkin lah Aruna, mana ada di dunia nyata ini ada pangeran kodok, dan kalaupun ada memangnya lo mau nikah sama dia, klo gw sih ga secara takutnya itu kodok jadi jadian, ngeri tauk" jawab Lyla bergidik sendiri membayangkan jika memang benar benar ada pangeran kodok
"Sudah sudah kerja, alih alih membahas pangeran kodok yang ga jelas mending cari duit dan biar kita yang meratukan diri kita sendiri, agar kita tidak bergantung pada yang lain" ucap Lyla sambil bangkit berdiri, merapihkan pakaian kerjanya yang berwarna putih, seragam yang sama yang dipakai oleh Aruna
"Sepertinya kita satu divisi, tapi kenapa gw ga lihat Lo ga?" tanya Lyla kepada Aruna sambil menatap seragam Aruna yang sama dengannya
"Gw disini hanya pelayan sementara yang menggantikan temen gw yang lagi cuti melahirkan, gw baru kerja tadi pagi dan sudah disuruh melayani sarapan pagi keluarga yang Lo ceritain itu" jawab Aruna sambil ikut berdiri
Kini tinggi mereka sudah sejajar, sama sama cantik dan sama sama bertubuh mungil, Lyla hanya menganggukkan kepalanya saja
"Ya sudah kita keluar yuk, nanti dicariin sama boss bisa bisa kita tidak gajian nanti awal bulan" ajak Lyla sambil berjalan lebih dahulu dan diikuti oleh Aruna dari belakang
Sesampainya mereka di ruang makan hotel, Aruna dan Lyla sudah tampak sibuk dengan pekerjaan mereka hingga mereka tidak menyadari ada sepasang mata sedang memperhatikan Aruna yang sedang sibuk membersihkan meja restoran, sambil mengangkat gelas dan piring sisa para tamu hotel
Tonny langsung sumringah begitu melihat gadis cantik yang dia maksud, gadis cantik yang sudah mengalihkan perhatiannya dari apapun sampai dia rela rela menginap lebih lama dan menyewa kamar untuk teman temannya, Tonny langsung mendatangi tempat gadis itu sedang sibuk bekerja dengan serius
__ADS_1
Andrew yang merasa ditinggal oleh Tonny langsung menggerutu kesal namun akhirnya dia juga ikut menyusul Tonny yang sudah ada dihadapannya gadis itu
"Hai " sapa Tonny sambil tersenyum manis ke arah gadis yang sibuk membereskan meja
Sayangnya gadis itu tidak menggubris sapaan Tonny, dia masih terus sibuk bekerja, baginya tidak ada waktu melayani pria hidung belang begitu pikir Aruna
"Gw boleh kenalan ga sama Lo?" tanya Tonny lagi masih mencoba menarik perhatian gadis itu,gadis itu langsung berhenti bekerja dan menatap Tonny dengan tatapan dinginnya
"Maaf saya tidak berminat dan tidak ada waktu" jawab Aruna dengan nada suara yang dingin
"Aduh dingin banget udah kayak kulkas dua pintu" jawab Tonny sambil mengajak Aruna bercanda namun sekali lagi Aruna tidak mengindahkan ucapannya Tonny
Karena merasa risih dan jengkel diganggu oleh Tonny, Aruna lebih memilih untuk pergi dari hadapannya Tonny sambil membawa piring piring kotor yang sudah penuh di tangannya, melihat gelagat Aruna ingin pergi dari hadapannya buru buru Tonny mengambil piring dan gelas kotor dari tangan Aruna, Aruna yang melihat itu langsung merasa jengkel sendiri
"Tuan apa maunya anda?" tanya Aruna menatap Tonny dengan pandangan jengkel dan tidak bersahabat
"Membantu gadis yang ada di hadapan saya untuk membawa piring piring kotor ini" jawab Tonny dengan enteng sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan dalamnya, membuat Aruna langsung menjadi salah tingkah
"Mohon maaf ini pekerjaan saya, saya khawatir ditegur oleh atasan saya jika seperti ini" jawab Aruna dengan nada suara yang khawatir, dia tahu karena manajer restoran di hotel ini cukup tegas dan galak, dia tidak segan segan menghukum bawahannya jika tidak mengikuti peraturan yang sudah di buat oleh pihak hotel, dan Aruna sangat tidak ingin hal itu terjadi apalagi dia termasuk karyawan baru di tempatnya dia bekerja, Aruna berharap syukur syukur dari karyawan pengganti menjadi karyawan tetap di hotel ini, mengingat dia membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup dan kuliahnya
Semua karyawan restoran hotel sangat segan terhadap manajer restorant hotel tersebut, bahkan hampir hampir tidak berani menentangnya, menentangnya itu artinya akan berhubungan dengan pemecatan, dia tidak segan segan menghukum terutama karyawan pembangkang
"Kamu jangan khawatir, beritahu gw dimana letak dapurnya" kata Tonny kepada Aruna
Aruna hanya diam saja, dan Tonny menatap Aruna dengan tidak sabar
"Lo lebih baik ditegur sama atasan Lo karena melihat seorang tamu membawa piring dan gelas kotor atau Lo mending tunjukkin jalannya?" tanya Tonny memberikan pilihan kepada gadis itu
Aruna dengan jengkel langsung menunjukkan tempat dimana janitor itu berada, tanpa banyak cakap Tonny langsung menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Aruna tadi dan tidak memperdulikan larangan di atas pintu jika yang tidak berkepentingan dilarang masuk, Aruna mengikuti dari belakang dengan perasaan takut dan khawatir
__ADS_1