
Selepas mereka makan malam bersama, Diandra dan para perempuan lainnya membantu bunda untuk membereskan semua piring piring kotor yang ada di dapur dan para laki lakinya berbincang bincang di ruang tamu
"Kalian akan menginap disini kan?" tanya Bunda kepada Hera dan Novia disela sela kesibukannya membereskan peralatan dapur yang dibalas iya oleh mereka berdua
"Syukurlah kalau begitu, bunda merasa sangat senang sekali mendengarnya, rumah terasa jadi ramai kembali" kata bunda lagi sambil tertawa
"Tapi nanti bunda akan sedih jika Diandra sudah pergi meninggalkan rumah ini ikut bersama dengan Alfian" ucap bunda yang tiba tiba mulai sendu, wajahnya terlihat sangat sedih sekali begitu menyadari bahwa anaknya sebentar akan pergi meninggalkan rumah ini
Diandra yang mendengar bundanya berkata seperti itu, langsung bergegas menghampiri sang bunda lalu kemudian memeluk bundanya dengan sangat erat
"Bunda jangan berkata seperti itu,toh nanti aku akan sering datang kemari untuk menjenguk bunda dan percayalah bunda, Diandra tidak akan pernah meninggalkan ayah dan bunda " ucap Diandra sembari memeluk bunda dengan sangat erat lalu kemudian melepaskan pelukannya
Bunda menatap Diandra sembari mengusap rambut anak kesayangan
"Kamu tahu nak, setiap anak satu satunya jika dia hendak melangkahkan kakinya pertama kali keluar dari rumah, disitulah hati seorang ibu akan sedikit bersedih namun dia akan mengikhlaskannya karena sang ibu tahu, anaknya harus mencari tujuan hidupnya sendiri, sang ibu akan selalu mendoakan anaknya hingga sampai menutup matanya" kata Bunda dengan nada bijak
"Dan bunda sadar, anak bunda sekarang sudah dewasa sudah menemukan calon pilihan hidupnya, dan akan segera melanjutkan kembali hidupnya maka bunda juga akan mendoakan semoga kamu selalu diberikan banyak kebahagiaan" ucap bunda lagi
Diandra, Hera dan Novia yang mendengar bunda berkata seperti itu langsung merasa sangat terharu sekali, dan akhirnya mereka bertiga langsung berpelukan di dapur dengan rasa yang sangat mengharu biru
Setelah mereka selesai berpelukan, pekerjaan mereka kembali lanjutkan hingga semuanya sudah terasa rapih dan bersih, setelah puas dengan pekerjaan mereka, mereka langsung menuju ke ruang tengah untuk bergabung dengan para pria yang sedang berbincang bincang seru
Alfian menatap jam di dinding, yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, meski merasa sangat enggan untuk kembali pulang, Alfian mau tidak mau ijin pamit untuk pulang diikuti oleh Donny yang juga sangat enggan untuk pulang, melihat gelagat mereka berdua yang sangat enggan untuk pulang, tiba tiba ayah Diandra mengusulkan suatu ide yang muncul di dalam kepalanya
"Gimana kalau kita berkemah?" tanya ayah Diandra menatap Alfian dan Donny secara bergantian, Alfian yang mendengar itu langsung mengernyitkan matanya memandang ayah Diandra dengan pandangan tidak mengerti
__ADS_1
"Maksud om bagaimana?" tanya Alfian kepada Ayah Diandra yang masih tersenyum itu
"Iya berkemah, kita akan berkemah apakah kalian para lelaki ini tidak pernah berkemah?" tanya Ayah Diandra sambil setengah meledek ke arah mereka berdua
"Kalau saya sih pernah om, ga tau lagi deh kalau Alfian" ucap Donny yang akhirnya membuka suaranya, Ayah Diandra langsung tersenyum mendengar ucapan Donny, Alfian yang mendengar jawaban Donny seakan ingin meledeknya langsung menjawab dengan nada kesal
"Saya juga sudah pernah melakukan acara kemah"
Ayah Diandra yang mendengar jawaban Alfian seperti anak kecil yang kesal karena permennya diambil, langsung tertawa terbahak-bahak, dan itu pun membuat Alfian semakin sedikit kesal, memang Alfian pernah melakukan acara perkemahan itu pun pas dirinya masih bersekolah dasar, dan masih mengikuti acara Pramuka yang diselenggarakan oleh sekolah, dan setelah itu dia tidak pernah melakukannya lagi karena dia berpikir untuk apa berkemah kalau masih ada hotel yang bagus yang bisa dia tiduri dengan fasilitas dan pelayan yang lumayan banyak untuk melayani dirinya
Bagi Alfian acara berkemah adalah acara yang sangat membuang waktu, belum lagi harus mendirikan tenda kemah, atau belum lagi harus mencari kayu bakar di sekeliling hutan hanya untuk bisa membuat api unggun atau memasak dengan menggunakan kayu kayu yang dibakar diatas api, belum lagi harus digigit nyamuk karena nyamuk di luar sangat sangat ganas dan buas menurut Alfian
"Ya sudah bagaimana, apa kalian mau berkemah apa tidak?" tanya Ayah Diandra sekali lagi sambil melihat kedua pemuda itu secara bergantian meminta jawaban dari mereka
Alfian yang mendengar itu langsung mendecakkan lidahnya, karena tidak ingin terlihat lemah dihadapan para pria yang kini sedang menatanya akhirnya dengan sangat sangat terpaksa mengiyakan kalau dia juga akan ikut berkemah
Ayah Diandra langsung memukul kedua tangannya, dia sangat puas dan gembira kali ini karena idenya disambut baik oleh kedua pria muda yang kini ada di hadapannya
"Oke karena tidak perlu berlama lama lag, saya akan mengambil perlengkapan kemahnya terlebih dahulu, bunda ikut ayah untuk mengambil alat berkemah ayah" kata ayah Diandra mengajak isterinya untuk ikut membantu suaminya, isterinya langsung bangkit dari duduknya mengikuti suaminya dari belakang, meninggalkan Diandra bersama dengan yang lainnya yang ada di ruang tamu
"Memangnya ayah kamu biasa berkemah dimana?" tanya Donny penasaran, menatap ke arah Diandra dengan tatapan ingin tahu mendengar Donny bertanya seperti itu kepada dirinya Diandra langsung tersenyum simpul menatap Donny
"Nanti juga kamu akan tahu" Jawa Diandra misterius
"Aku serius Diandra" desak Donny
__ADS_1
"Udah tenang aja, nyaman kok nyaman" ucap Diandra menenangkan Donny
Tidak lama kemudian ayah Diandra datang menghampiri mereka di ruang tamu dan kemudian mengajak Donny dan Alfian untuk mengikuti dirinya
"Om mana tendanya, memang kita akan berkemah dimana?" tanya Donny kepada ayah Diandra, begitu melihat ayah Diandra tidak membawa tenda sama sekali, seperti orang orang yang akan melakukan kemping
"Sudah ikut aja, ayok" kata Ayah Diandra untuk menyuruh mengikuti dirinya, Alfian dan Donny akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan dengan rasa penuh penasaran mereka berdua mengikuti ayah Diandra masuk ke dalam rumah
"Memangnya mereka akan berkemah dimana sih?" tanya Hera penasaran
"Kamu mau tahu?" tanya Diandra yang dijawab anggukan kepala Hera dan Novia, sambil tersenyum simpul akhirnya Diandra juga ikut berdiri
"Ikutin aku" kata Diandra kepada kedua temannya itu, mereka berdua menuruti apa kata Diandra berjalan masuk ke dalam rumah, menuju ke arah belakang rumah
Di belakang rumah, Diandra membuka pintu belakang, suasana di belakang rumah tampak gelap hanya diterangi pencahayaan lampu yang tidak begitu terang dan banyak pohon pohon buah disana, ayah dan bunda sangat suka bertanam pohon pohon buah di belakang rumah mereka
Diandra menyusuri jalan setapak yang dibelakangnya Hera dan Novia mengikuti Diandra, dan Diandra membuka sebuah pintu kecil lalu dibukanya secara perlahan, dan kemudian dia keluar dari pintu tersebut, disana terdapat lapangan rumput yang cukup luas, dan terlihat ayah serta Alfian dan Donny tampak sibuk membantu ayah Diandra untuk memasangkan tendanya disana
"Ini kan..." kata Novia tidak melanjutkan kalimatnya, Diandra langsung mengangguk sambil tersenyum
"Ini lapangan samping rumah yang dimana ayah sering melakukan kampung disitu" jawab Diandra kepada yang lainnya
"Pantas saja aku pernah melihat ada pintu kecil, ternyata ini menghubungkan antara rumah kamu dengan lapangan ini" jawab Novia masih memandangi tiga sosok disana yang masih sibuk membangun tendanya
Tidak lama kemudian Diandra mengajak mereka pulang dan membiarkan tiga pria itu berkerja membangun tenda mereka, kembali Diandra menyusuri jalan setapak yang hanya diterangi temaramnya lampu, jika itu adalah pagi mungkin akan indah dipandang mata tapi ini sudah malam, dimana banyak pohon pohon buah yang menjulang tinggi dan cuaca malam yang cukup lumayan dingin
__ADS_1