
Sandra yang terbangun dari pingsannya akibat kelelahan baik fisik maupun psikis, menatap nyalang ke langit langit apartemen, dan dia mengingat satu per satu kejadian pada malam itu mulai dari acara itu dimulai hingga sampai saat dia sudah ada di apartemennya lagi
Air matanya menetes di pipinya yang putih mulus, dia merasa tidak terima semua orang termasuk ayahnya sendiri memperlakukan dia seperti itu di dalam acara yang ditonton banyak para tamu undangan, dan tidak ada yang berpihak pada dirinya sendiri
Dia menoleh ke arah mamahnya yang tertidur lelap disebelahnya sambil memeluk Sandra, terlihat ada goresan kelelahan di wajah mamahnya Nyonya Hartawan, dia sangat heran sekali melihat mamahnya yang sangat berbeda sekali dari dirinya tidak ada sifat ambisi yang sering diperlihatkan dirinya kepada mamahnya, dia juga tidak seperti papahnya yang selalu ingin menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau, tidak ada keserakahan di dalam diri mamahnya
Mamahnya selalu mengajarkan kepadanya arti dari sebuah kebaikan, arti dari sebuah keikhlasan dan arti dari sebuah kejujuran, namun sayangnya Sandra tidak pernah menggubris nasihat dari mamahnya, hanya dia anggap seperti angin lalu saja, bahkan tak jarang juga Sandra jika kesal selalu membentak mamahnya sendiri jika keinginannya tidak dituruti, namun mamahnya tetap sabar menghadapi dirinya, terutama menghadapi papahnya sendiri
Sandra kembali melihat mamahnya yang masih tertidur pulas, dia menghela nafas panjang, dia merasa ini semua tidak adil buat dia, dia hanya ingin cintanya Alfian tapi mengapa itu sangat terasa sulit, dia merasa untuk apa bersusah payah untuk bisa mendapatkan Alfian selama ini, semua harapan agar bisa mendapatkan hati dan cintanya Alfian kini harus terkubur jauh disana
Tidak, dia tidak boleh menyerah mau bagaimanapun juga dialah pemilik hati Alfian tidak boleh ada yang lain, begitu pikirnya Sandra, dia harus mencari cara bagaimana caranya agar dia bisa menyingkirkan Diandra yang telah menjadi musuhnya selama ini
"Gw harus mencari cara bagaimana cara menyingkirkan Diandra, yang sudah merebut Alfian dari gw" gumam Sandra pelan, dia mulai kembali berpikir dan tersenyum sinis
"Rasakan saja pembalasan dari gw Diandra, Lo bakalan kena balasan dari gw" kata Sandra menggumam pelan, tanpa sadar jemarinya mengepal erat, dia tidak sabar menunggu waktunya tiba
Sandra bangun dari tidurnya di lanta, badannya terasa sangat sakit sekali karena semalaman pingsan di lantai, dia langsung berdiri untuk menjalankan misinya, dia melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dia mencari benda tajam yang semalam disembunyikan oleh mamahnya
Sementara dia sedang mencari benda tajam tersebut, mamahnya terbangun mendengar suara suara berisik di ruangan dapur, matanya langsung menoleh ke arah samping dan melihat Sandra tidak ada di sebelahnya, sambil menghela nafas panjang dia bangkit dari tidurnya, lalu langsung berjalan menuju ke tempat dimana Sandra berada
"Kamu sedang mencari apa nak?" tanya Nyonya Hartawan kepada Sandra anaknya dengan tatapan tajam
"Man pisau itu mah?" tanya Sandra kepada Nyonya Hartawan dengan tatapan datar
"Untuk apa?" tanya Nyonya Hartawan masih memandang anaknya, kali ini dia harus tegas, dia tidak boleh lemah lagi karena ini menyangkut anaknya, Nyonya Hartawan tidak ingin anaknya salah melangka, meski Sandra punya sifat dan karakter buruk, Nyonya Hartawan tetap akan mencegah apa yang akan dilakukan Sandra anaknya itu, Nyonya Hartawan tahu anaknya ini sangat nekat jika dia sudah menginginkan apa apa harus dituruti, dan Nyonya Hartawan tidak mau Sandra merugikan dirinya sendiri, dia tidak mau Sandra salah langkah hingga harus menyesali perbuatannya
Nyonya Hartawan tahu benar apa yang ada di pikiran anaknya saat ini, dan dia yang akan turun tangan mengawasi anaknya mulai detik ini agar Sandra tidak bertindak bodoh
"Apa yang akan kamu lakukan dengan pisau itu?" tanya Nyonya Hartawan mencoba memancing anaknya agar dia bisa mencegahnya dari sekarang untuk menyakiti orang yang tidak bersalah
"Jawab mamah, apa yang ingin kamu lakukan sama pisau itu?" tanya Nyonya Hartawan sekali lagi
"Itu bukan urusan mamah, mending mamah pergi dari apartemen Sandra, Sandra tidak membutuhkan mamah di apartemen" usir Sandra yang merasa sangat kesal terhadap mamahnya Nyonya Hartawan, dan Nyonya Hartawan juga tidak kaget mendengar ucapan Sandra yang mengusirnya tadi
"Mamah tidak akan pergi, mamah akan tetap bersama kamu, mamah yang akan mengawasi kamu dari sekarang untuk tidak menyakiti orang" ucap Nyonya Hartawan dengan suara tegas
"Coba saja kalau berani, Sandra tidak takut" jawab Sandra sambil tertawa sinis menantang mamahnya sendiri
"Mungkin memang tidak sekarang tapi lain waktu Sandra bisa berbuat apa yang Sandra mau untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuan Sandra mah" ucap Sandra dengan suara dingin
__ADS_1
Tiba tiba pintu apartemen diketuk orang dari luar, dan tidak berapa lama pintu itu langsung dibuka, mereka berdua sama sama menoleh ke arah pintu yang sudah dibuka, Sandra menatap bingung karena pasalnya tidak ada yang tahu kunci password pintu apartemen kecuali orang tuanya sendiri, terlihat disana ada wajah papahnya yang terlihat sangat marah kepada Sandra
Papahnya Tuan Hartawan langsung menghampiri anaknya Sandra dengan matanya menatap lurus ke depan
"SANDRA !" teriak papahnya di hadapan anaknya sendiri
"Kamu memang anak yang tidak tahu malu, berani beraninya kamu mengacaukan acara pesta itu, hingga papah yang harus menanggung malu seperti ini, kamu tahu apa akibat yang kamu lakukan malam itu Sandra?" Tanya Tuan Hartawan menatap anaknya Sandra dengan pandangan dingin dan kejam
"Kamu sudah merugikan usaha dan bisnis papah, mulai sekarang kamu jangan berani berani lagi mendekati Alfian dan keluarganya, jangan kamu usik mereka lagi, dan mulai sekarang juga papah yang akan mencarikan calon suami untuk kamu, dan papah sudah menemukan siapa orang yang akan menjadi calon suami kamu" kata Tuan Hartawan bicara dengan tegas
"Dan mulai sekarang juga, apartemen yang kamu miliki ini akan papa ambil, berikut dengan semua fasilitas yang ada, kamu pindah ke rumah mamah dan papah, sampai acara pernikahan kamu tiba, tidak ada protes nanti papa akan suruh orang suruhan papah untuk datang mengambil barang barang kamu" ucap Tuan Hartawan lagi
Mendengar Tuan Hartawan berkata seperti itu, Sandra langsung terkejut kaget, matanya membelalak dengan sempurna, dia merasa tidak terima mendengar keputusan dari papahnya Tuan Hartawan
"Tidak mau !" teriak Sandra dengan keras
"Aku tidak mau, pah, tolong jangan cabut semua fasilitas aku dan biarkan aku tinggal di apartemen ini" ucap Sandra sambil memohon kepada papahnya sendiri Tuan Hartawan
Tapi sayangnya Tuan Hartawan tidak menggubris permohonan anaknya, dia setelah mengucapkan apa yang sudah menjadi keputusannya, langsung pergi meninggalkan Sandra dan tidak memperdulikan istrinya yang berada disana
Tuan Hartawan langsung berangkat keluar karena dia harus mengurus sesuatu, kepalanya dibuat pusing oleh ulah anaknya semalam itu, dan dia juga tidak menyangka semua sepak terjangnya diawasi oleh Tuan Wijaya, harusnya semuanya bisa rapih rencananya namun digagalkan akibat ulah anaknya yang tiba tiba merengsek maju ke depan hingga dimana Tuan Wijaya harus turun tangan sendiri
"Tolong urus permintaan maaf aku di koran koran baik offline dan online, pastikan semuanya beres dan Tian Wijaya sudah membaca dan mendengarnya dan pastikan anak itu keluar dari apartemennya dan jika tidak mau seret saja dia, anak pembawa sial memang dia" perintah Tuan Hartawan kepada seseorang dari seberang telpon
"Baik Tuan, akan segera saya urus semuanya" jawab suara dari arah seberang, Tuan Hartawan langsung menutup panggilan telponnya lalu dia menyalakan kendaraan mobilnya dan pergi dari apartemen Sandra
Sementara itu Sandra di dalam apartemennya langsung histeris, dia kembali marah dan emosi, mengamuk sejadi jadinya membuat Nyonya Hartawan kewalahan dalam menghadapi anaknya Sandra, hatinya sangat terluka melihat anaknya seperti itu, dia hanya bisa berdoa semoga suatu saat Sandra mau menerima apa yang sudah menjadi jalan takdirnya sendiri
"Sandra sudahlah, apa tidak capek kau seperti itu, istirahatlah dulu semalaman kamu tidak istirahat" bujuk Nyonya Hartawan
"Tidak mau mah, Sandra tidak mau keluar dari apartemen Sandra tolong bujuk papah mah, biar papah berubah pikiran" kata Sandra sambil memohon histeris kepada mamahnya
Nyonya Hartawan hanya bisa menghela nafas panjang, dia hanya bisa diam melihat anaknya memohon kepadanya
"Maafkan mamah nak, kamu tahu kan papahnya seperti apa, mamah tidak bisa membujuk papah kamu kecuali papah kamu sendiri yang berubah pikiran, dan lagian tinggal bersama kami tidak ada salahnya kan?" kata Nyonya Hartawan sambil bertanya balik kepada Sandra anaknya
Sandra langsung kembali berontak "Tidak mau, Sandra masih ingin tinggal di apartemen ini jangan usir Sandra mah, tolong bilang sama papah agar jangan usir Sandra dari apartemen ini" kata Sandra sambil memohon mohon kepada mamahnya untuk mengubah pendirian papahnya
"Kenapa kalian jahat sama Sandra, kenapa kalian tidak mau menuruti apa yang menjadi keinginan Sandra, kenapa kalian tidak pernah perduli sama Sandra" rintih Sandra kepada mamahnya
__ADS_1
"Siapa bilang kami tidak perduli sama kamu nak, apa yang kamu mau kami ikutin semuanya, dan karena itu kamu menjadi begini" jawab Nyonya Hartawan memandang sedih anaknya
"Sekarang mamah menyalahkan aku, mamah ini berpihak pada siapa aku atau papah, kalau berpihak pada papah, sebaiknya mamah pergi dari sini, Sandra tidak Sudi punya mamah kaya kamu yang selalu lemah di hadapan papah!" teriak Sandra sambil menunjukkan tangannya untuk menyuruh mamahnya keluar dari apartemennya
"SANDRA JAGA UCAPAN KAMU ITU !" Teriak Nyonya Hartawan yang sudah mulai hilang kesabarannya menghadapi anaknya yang keras kepala itu
"Dengar Sandra suka atau tidak suka, mau atau tidak mau kamu harus ikut kami ke rumah dan jangan berharap kamu bisa keluar bebas dari rumah itu, paham kamu" kata Nyonya Hartawan kali ini dengan suara tegas, karena dia sudah kehilangan akal bagaimana caranya untuk bisa meluluhkan hati anaknya, untuk bisa membuat anaknya berubah
Sandra yang mendengar itu langsung menatap nyalang ke mamahnya tapi dia kembali terdiam, dia tahu jika mamahnya sudah emosi mamahnya pasti akan memberikan tambahan hukuman lagi kepadanya jadi lebih baik dia yang mengalah sesaat
Setelah sekian lama diam tiba tiba ada pintu diketuk lagi dari luar, Nyonya Hartawan langsung menuju ke pintu karena dia tahu orang suruhan suaminya sudah datang untuk mengambil barang barangnya Sandra
Nyonya Hartawan langsung membuka pintu apartemen dan terlihat empat orang berseragam hitam, mereka tinggi kekar dengan pandangan dingin dan wajah datarnya, Nyonya Hartawan tahu kalau mereka disuruh sama suaminya untuk mengambil semua barang milik Sandra sekaligus membawa keluar dari apartemen
"Permisi Nyonya saya diperintahkan oleh Tuan Hartawan untuk mengambil barang barang milik Nona Sandra dan membawa Nona Sandra kembali ke rumah" kata salah satu orang suruhan dari Tuan Hartawan kepada Nyonya Hartawan
Sebelum Nyonya Hartawan menjawabnya, tiba tiba Sandra mendatangi mereka sambil berteriak mengusir mereka
"Siapa Lo, pergi kalian dari apartemen gw, ini apartemen gw, jangan macam macam Lo sama gw !" teriak Sandra kepada keempat orang tadi, namun keempat orang tadi hanya diam saja dan sedang menunggu persetujuan dari Nyonya Hartawan
Sandra yang melihat itu langsung menoleh ke mamahnya lalu kembali lagi dia memohon kepada mamahnya
"Mah tolong usir mereka ini mah, Sandra mohon sama mamah, tolong mah, Sandra tidak mau pergi dari apartemen Sandra mah"
Nyonya Hartawan diam, lalu sambil menghela nafas panjang dia berkata kepada salah satu orang suruhan dari suaminya
"Silahkan kalian masuk" jawab Nyonya Hartawan tegas dan datar
"MAMAH KENAPA MAMAH SEPERTI PAPAH !" teriak Sandra dengan suara yang menggelegar
Nyonya Hartawan langsung berbalik ke arah Sandra, dia menatap lembut anaknya
"Mungkin ini yang terbaik buat kamu" jawab Nyonya Hartawan dengan suara tegas
"Mamah jahat sama Sandra, Sandra benci sama mamah" kata Sandra sambil menangis, lalu dia kembali ke dalam, menemui orang orang suruhan dari papahnya
"Eh kacung, jongos para penjilat pergi kalian dari sini, jangan sentuh semua barang barang saya!" bentak Sandra kepada mereka sambil berusaha menahan mereka untuk tidak menyentuh barang barangnya,namun apa daya kekuatan Sandra berbeda dengan kekuatan empat orang yang berbadan tegap dan kekar, akhirnya agar tidak ada yang menganggu pekerjaan mereka lagi, salah satu bodyguard itu memohon ijin kepada Nyonya Hartawan untuk membawa Sandra ke luar agar waktu mereka lebih cepat lagi
Nyonya Hartawan langsung menyetujuinya, salah satu orang suruhan dari tuan Hartawan langsung mengangkat tubuh Sandra, dimana Sandra langsung kaget tiba tiba dia sudah dibopong oleh salah satu orang suruhan itu menuju ke luar apartemen
__ADS_1
"Lepaskan gw !" teriak Sandra sambil memukul-mukul punggung salah satu orang suruhan itu, namun pria itu tidak perduli dia terus membawa Sandra menuju ke mobil yang sudah disiapkan di luar apartemen diikuti oleh Nyonya Hartawan dari belakang