Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 34


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Sandra sedang mengamuk, segala sumpah serapah dia keluarkan untuk seorang gadis yang bernama Diandra


"Sand udah donk, emang loe ga capek apa ngamuk ngamuk Mulu" kata Amel merasa lelah melihat Sandra tidak henti hentinya mengamuk dan mencaci maki "Denger ya, gw ga terima kalau gw diginiin, dia harus gw kasih pelajaran" kata Sandra masih dengan emosi tingkat tinggi "Iya tapi ini kan udah malam Sandra, loe istirahat ya " bujuk Amel, saat ini mereka berdua berada di apartemennya Sandra, dan setelah acara selesai Amel terpaksa ikut hanya untuk bisa memenangkan Sandra yang sedang marah marah


"Gini deh Sand, elo sekarang istirahat dulu mendingan, besok kita pikirkan lagi" kata Amel masih membujuk Sandra yang masih mengamuk "Kenapa sih si culun itu ga mati aja " kata Sandra masih dengan emosi tingkat tingginya, Amel menuju dapur menuangkan air dingin ke gelas bertangkai dari botol yang ada di dalam kulkas untuk diberikan kepada Sandra untuk dia minum, dan dia membawa gelas itu dan memberikannya kepada Sandra "Minum dulu, biar reda emosi elo" kata Amel


Sandra mengambil gelas dari tangan Amel dengan kasar lalu dia meminumnya dengan cepat, melihat ulah sahabat SMA nya itu Amel hanya bisa menggelengkan kepalanya "Hati hati nanti tersedak" kata Amel memperingatkan Sandra, namun Sandra tidak menggubrisnya, lalu dia meletakkan gelas itu diatas meja dengan kasar "Loe istirahat dulu ya..ganti baju terus istirahat dulu, kalau elo udah tenang kita pikirkan lagi" kata Amel masih berusaha membujuk Sandra, membawakan Sandra menuju ke kamarnya lalu dia berjalan ke lemari pakaiannya Sandra memilihkan baju tidur untuknya


Amel membawakan baju tidur berupa daster tipis dan diberikannya kepada Sandra "Nih gantilah dulu pakaianmu, dan bersihkan make up mu itu" kata Amel menyuruh Sandra untuk mengganti pakaiannya dengan daster, Sandra menatap Amel dan kemudian dia mengambil daster yang ada di tangan Amel, pergi menuju ke kamar mandi yang terhubung di dalam kamarnya


Begitu Sandra masuk ke dalam kamar mandi, Amel menghela nafas panjang "Loe masih belum berubah juga Sand" gumam Amel, dia duduk di tepi tempat tidur, Sandra sudah keluar dengan menggunakan daster yang diberikan oleh Amel "Sekarang loe istirahat dulu ya" kata Amel membawa Sandra ke tempat tidur "Loe tidurlah disini, gw masih ada daster di lemari, sana ganti" kata Sandra sambil menyuruh Amel untuk mengambil daster yang ada di lemari pakaiannya "Iya, ntr gw ambil loe tidurlah dulu" kata Amel sambil tersenyum


Amel menuju ke lemari pakaian Sandra mengambil salah satu daster yang ada di dalam lemari itu dan langsung pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan tubuh dan wajahnya, setelah dirasa cukup bersih Amel menghampiri tempat tidur Sandra dan tidur berdampingan dengan Sandra


"Gw benci dia " kata Sandra kali ini dia sudah mau menangis "Kenapa Alfian jahat sama gw, gw kurang apa coba " kata Sandra lagi, suaranya sudah terdengar parau, Amel langsung membalikkan tubuhnya menatap wajah Sandra yang terlihat sendu, dia tersenyum lembut kepada Sandra "Loe ga salah, dan ga ada yang salah, sekarang loe tidur yah sudah malam juga" kata Amel membujuknya lagi untuk tidur

__ADS_1


Seperti anak yang patuh Sandra akhirnya menganggukkan kepalanya, dia berusaha memejamkan matanya meski terasa sulit


"Tidurlah Sandra, ga usah dipikirin, dia juga kan ga mikirin kamu" kata Amel sambil memejamkan matanya dia tahu kalau sahabatnya masih belum tidur, akhirnya karena merasa benar benar lelah mereka berdua pun jatuh tertidur


Keesokan harinya di apartemen Alfian, Alfian sudah sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur berupa nasi goreng, Diandra sendiri baru bangun begitu mencium aroma nasi goreng dari luar, dia langsung beringsut dari tempat tidurnya masih dengan muka bantalnya dia keluar dari kamar


"Morning" sapa Alfian begitu melihat Diandra keluar dari kamar tidurnya, Diandra hanya tersenyum menanggapinya


"Elo masak?" tanya Diandra heran, karena dia heran seorang Alfian mau masak di dapur "Dulu gw di luar negeri harus bisa mandiri, jadi gw salah satunya ya harus bisa memasak, gw suami idaman kan" kata Alfian sambil mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum


Diandra menggunakan bathrobe yang ada di dalam kamar mandi itu, begitu dia keluar dari kamar mandi, Alfian memberikan sebuah paper bag untuknya, Diandra menatapnya dengan pandangan heran "Apa itu?" tanya Diandra dengan heran "Pakaian ganti buat elo, semoga muat" kata Alfian menyuruh Diandra untuk segera mengambil nya "Oh terima kasih" jawab Diandra sambil menerima paper bag itu


Masuk ke dalam kamar kembali, Diandra melihat didalam paper bag nya terdapat sebuah dress sederhana tanpa lengan berwarna putih bercorak kupu kupu dan sepasang pakaian dalam, Diandra yang melihat ada sepasang pakaian dalam tiba tiba mukanya langsung memerah seketika "Dia darimana tahu ukuran gw?" tanya Diandra dalam hati, namun dia sudah tidak sempat lagi memikirkannya, karena dari luar Alfian sudah memanggil dirinya untuk sarapan


Setelah selesai bertukar pakaian dan merapikan rambutnya, Diandra langsung keluar dari kamar, Alfian yang melihat sesosok Diandra yang terbuat dress langsung tersenyum "Cantik" kata Alfian menatap wajah Diandra yang berjalan ke arahnya, seperti seorang Dewi yang turun dari atas langit itulah yang tengah digambarkan oleh Alfian, Alfian masih menatap wajah Diandra, meski Diandra sudah duduk di hadapannya sehingga Diandra harus melambaikan tangannya ke depan wajah Alfian

__ADS_1


"Alfian loe kenapa?" tanya Diandra heran masih melambai lambaikan tangannya, Alfian langsung terkejut namun segera menyembunyikan rasa terkejutnya itu "Gw ga kenapa kenapa, ayok dimakan sarapannya" kata Alfian sambil menyodorkan nasi goreng ke hadapan Diandra "Thanks" jawab Diandra


Diandra langsung mencicipi nasi goreng buatan Alfian "Nasi goreng elo enak" puji Diandra tulus "Benarkah?" tanya Alfian setengah tidak percaya, Diandra mengangguk sambil tersenyum "Gw pikir ga enak, dan ga sesuai sama selera elo" kata Alfian sambil menghela nafas lega "Enak kok, beneran enak" kata Diandra sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya


Mereka berdua pun melanjutkan kembali sarapan tanpa bicara menikmati sarapan paginya, setelah selesai sarapan Diandra langsung membawa dua piring kotornya ke dalam tempat cucian piring "Taruh disitu saja, biar nanti gw yang cuci" kata Alfian menyuruh Diandra untuk menaruh piring piring kotor di tempat cucian piring "Ga usah, biar gw yang cuci piring, gantian" tolak Diandra ,dia langsung membuka keran air dan kemudian mulai mencuci piring


Sementara itu Alfian sibuk menyeduh kopi untuk dirinya " Elo mau teh apa kopi?" tanya Alfian sambil mengaduk kopi untuknya "Teh aja" jawab Diandra sambil menaruh piring piring yang habis di cuci ke rak piring yang ada di sebelah tempat cucian piring, Alfian langsung membuatkan teh untuk Diandra


"Ini tehnya" kata Alfian sambil menyodorkan cangkir teh ke arahnya "Oh iya Makasih banyak" jawab Diandra sambil mengambil cangkir teh itu dari tangan Alfian


Mereka berdua menuju ke ruang keluarga, dan Diandra duduk di atas bean bag yang sudah disediakan disana, sambil menyesap secangkir teh di pagi hari, Diandra benar benar menikmatinya dia lupa kalau dia sekarang berada di tempat yang harusnya dia hindari itu "Gimana enak ga tehnya?" tanya Alfian menatap Diandra, dia juga sama duduk diatas Bean bag berhadapan dengan Diandra "Teh nya lumayan enak" kata Diandra sambil menyesapnya


"Apa kabar loe?" tanya Alfian menatap Diandra dengan pandangan yang benar benar merindukan dirinya, namun buru buru dia sembunyikan pandangan seperti itu, dan untungnya Diandra tidak menyadarinya "Gw baik" jawab Diandra masih dengan secangkir tehnya, Alfian langsung tersenyum menatap Diandra dengan pandangan lembut "Gw seneng elo hidup dengan baik baik saja, terima kasih ya" kata Alfian dengan suara lembutnya


Diandra langsung merasa heran menatap Alfian dengan pandangan bertanya karena tidak biasanya Alfian seperti itu "Terima kasih untuk apa?" tanya Diandra masih menatap Alfian "Untuk segalanya" jawab Alfian dengan misterius, Diandra langsung mengangguk tidak mengerti maksud dari Alfian, hanya dia diam saja tidak berkata apapun, ruangan itu menjadi hening seketika tidak ada yang berbicara sama sekali, hingga bunyi deringan bel pintu depan berdering membuat mereka berdua terkejut

__ADS_1


__ADS_2