Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 22


__ADS_3

Alfian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, memandang ke langit langit kamarnya "Apa itu benar benar dia" tanyanya dalam hati, mengingat dia melihat seorang wanita yang dia kenal pada masa lalunya, yang menghilang secara tiba tiba tanpa ada pemberitahuan sama sekali "Kalau benar itu adalah dia, berarti kemana dia menghilang selama ini?" masih dengan pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya


Alfian mendesah kasar, matanya tidak ingin terpejam sama sekali "Tapi setidaknya gw akan bertemu dengan elo lagi" kata Alfian dalam hati,samar samar bibirnya tersenyum


dan tak lama kemudian matanya terpejam dan Alfian jatuh tertidur


Malam semakin larut, di tempat lain seorang gadis cantik tampak sangat gusar menunggu kabar dari seorang pria yang dia klaim sebagai kekasihnya, berkali kali dia memperhatikan handphonenya untuk memeriksa pesan atau telpon yang dia harap akan dibalas "Heran kemana sih dia, telpon tidak diangkat, pesan tidak dibalas " katanya dengan nada gusar, mondar mandir dalam kamarnya yang luas,lalu duduk diatas tempat tidur dan kemudian berdiri, dan akhirnya dia menyerah dengan dirinya sendiri "Sudahlah, besok saja gw ke apartemennya dia " gumamnya sambil merebahkan dirinya di tempat tidur memijat pelipisnya


Gadis itu bernama Sandra, yang kini menjelma menjadi seorang gadis cantik, yang manja dengan semua keinginan yang harus diikuti, gadis yang menyukai Alfian semenjak mereka duduk di bangku sekolah, yang selalu mengikuti Alfian kemanapun Alfian pergi, ditambah dengan keluarganya sangat mengenal dekat dengan keluarga Alfian, sehingga semakin memuluskan jalan Sandra untuk semakin dekat dengan Alfian, namun Alfian seakan tidak peduli dengan keberadaan Sandra, bagi Alfian sekarang ini adalah bagaimana memajukan bisnisnya dan bisnis keluarganya untuk bisa lebih maju ke depannya lagi


Keesokan harinya, Diandra bangun agak sedikit siang, maklum hari ini adalah hari weekend dimana Hera akan berjanji akan datang ke rumah, kemudian gadis cantik masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan mulutnya, netranya menatap ruang keluarga dan dirinya tidak menemukan siapa siapa disana "Mungkin ayah dan bunda masih tidur" gumam Diandra seorang diri, dia berjalan menuju dapur membuka isi kulkas, sambil melihat apa yang bisa dia makan untuk sarapan paginya, dia pun memutuskan untuk mengambil buah apel dan botol air dingin yang kemudian dia tuang ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas


Sambil mengigit apelnya, Diandra menaruh botol airnya ke dalam kulkas tidak lupa dia mengisi air sebelumnya terlebih dahulu, Diandra kembali menutup pintu kulkas dan berjalan menuju ke ruang keluarga, dia duduk di atas karpet sambil menyalakan televisi, namun matanya malah sibuk berselancar di media sosial, tiba tiba handphonenya berdering nyaring, melihat sahabatnya Hera yang menelepon Diandra langsung mengangkat telponnya

__ADS_1


"Sudah bangun?" tanya Hera dari arah seberang


"Baru bangun, jam berapa jadi ke rumah?" tanya Diandra balik


"Jam sepuluhan ya...lagian gw masih rebahan" jawab Hera santai


"Ya udah kalau begitu, gw tunggu di rumah" kata Diandra, setelah itu Diandra memutuskan sambungan telponnya


"Anak semata wayangnya ayah sudah bangun ternyata" kata ayahnya sambil duduk disebelah Diandra diatas karpet bulu "Eh ayah, selamat pagi" kata Diandra menyapa ayahnya sambil tersenyum "Sudah sarapan nak?" tanya bundanya sambil menuju ke ruang dapur "Tadi makan apel bunda" jawab Diandra menatap ke arah Bundanya "Oh iya bunda Hera mau datang kemari" kata Diandra memberitahukan kepada bundanya bahwa sahabatnya akan datang ke rumah Diandra


" Oh gitu, ya sudah bunda siapin dulu makanannya jadi pas Hera datang, bisa langsung makan"


"Aku bantuin Bu" kata Hera sambil berdiri dari atas karpetnya menuju ke ruang dapur untuk membantu bundanya menyiapkan bahan masakan

__ADS_1


Diandra membantu bundanya menyiapkan bahan makanan, sementara bundanya sendiri menyiangi sayur sayuran dan menyiapkan bumbu bumbu yang akan dimasak "Bunda memangnya kita mau ada rencana bikin apa?" tanya Diandra ingin tahu sambil mencuci sayur mayur yang sudah di siangi oleh bundanya "Sayur asam, tempe tahu,sambal dan ayam goreng" jawab Bundanya "Waah...pasti enak banget deh bund" jawab Diandra sangat antusias,karena itu adalah makanan kesukaannya Diandra, bundanya hanya tersenyum simpul mendengar Diandra sangat antusias


Ketika Diandra sedang sibuk di dapur membantu ibunya, terdengar pintu diketuk dari luar " Mungkin itu Hera" kata Diandra, meletakkan pisau dapur, dia berjalan menuju ke ruang tamu dan membukakan pintunya "Morning..." sapa Hera sambil tersenyum lebar, memperlihatkan sederet gigi putihnya yang terlihat rapi "Morning too.." balas Diandra sambil membalas tersenyum "Masuk Hera " kata Diandra lagi sambil mempersilahkan sahabatnya masuk ke dalam, tercium aroma masakan dari arah dapur Hera langsung bertanya kepada Diandra "Bundamu pasti lagi masak" tebak Hera sambil nyengir "Iya, entar kita makan dulu sebelum jalan ya..." jawab Diandra berjalan melewati Hera "Okey...gw ga nolak kok, apalagi makanan bundamu itu sangat enak sekali" kata Hera sambil memuji dengan nada tulus, Diandra yang mendengar itu membalasnya dengan tersenyum


Hera mengikuti Diandra ke ruang keluarga, disitu dia mendapati ayahnya Diandra sedang asyik membaca koran sambil menonton acara televisi dan di samping ruang keluarga ada ruang dapur yang dimana bundanya Diandra sedang sibuk memasak, begitu melihat ayah dan bundanya Diandra ,Hera langsung segera menyapa mereka berdua sambil mencium tangan ayah dan bundanya Diandra "Pagi Om Tante"sapa Hera "Pagi...apa kabar kamu nak?" tanya ayahnya Diandra begitu Hera melepaskan tangan ayahnya Diandra "Baik om.." jawab Hera sambil nyengir , lalu Hera menuju ke dapur mengikuti Diandra yang menuju dapur untuk kembali membantu bundanya


"Kamu makin cantik aja nak Hera, apa sudah ada yang punya?" tanya bunda sambil menggoda Hera "Bunda bisa saja, cariin kenapa bund" kata Hera sambil tertawa, begitu dia masuk ke ruang dapur, Diandra dan bunda langsung tertawa " Apa yang bisa Hera bantu nih?" tanya Hera sambil melihat kesibukan bunda dan Diandra di dapur "Loe duduk aja, ga usah bantu lagian juga Bentar lagi sudah selesai" jawab Diandra, sambil menaruh sayur asamnya diatas mangkok yang besar "Sini gw yang bawa aja ke meja makan" kata Hera menghampiri Diandra untuk mengambil mangkok sayur asamnya untuk ditaruh di meja makan


Hera selalu menganggap rumah Diandra sebagai rumah kedua baginya, karena disana dia menemukan apa yang dicari oleh Hera yaitu kehangatan keluarga, dimana setiap libur Sabtu Minggu, keluarga Diandra berkumpul bersama hanya untuk sekedar mengobrol, bercanda atau bertukar pikiran, apalagi di belakang rumah Diandra bundanya suka berkebun, meski kebunnya tidak begitu besar, namun rumah itu terlihat sangat asri dan nyaman, berbeda dengan keluarga Hera yang selalu tidak punya waktu untuk berkumpul bersama disebabkan karena orang tuanya sibuk mengurusi bisnis dan bekerja, dan Hera yang terkadang sering ditinggal oleh orang tuanya merasa sangat kesepian tinggal di rumah yang cukup besar, namun meskipun begitu kasih sayang dari orangtuanya Hera masih dia dapatkan


Setiap kali keluarga Hera berkumpul bersama, pasti mereka melakukan family time, dan terkadang bundanya Hera suka menelpon anaknya menanyakan kondisi dan keadaan anaknya, bahkan orang tuanya Hera sendiri berusaha untuk menyempatkan hadir jika ada acara yang melibatkan orang tua dan murid, itu dulu waktu Hera masih bersekolah di Indonesia, dan Hera sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, dan Hera menjadikan orang tuanya Diandra menjadi orang tua kedua buat Hera, Diandra juga tidak mempermasalahkannya, karena buat Diandra, Hera adalah sahabat sejatinya, dimana ketika dulu waktu di sekolah dia dibully dia siap pasang badan untuk Diandra hingga pada akhirnya Diandra terpaksa keluar dari sekolah itu dan menghilang


Hera yang saat itu sempat mencari cari dirinya, karena keluarganya menutup rapat tentang hal tersebut, itu juga Hera tetap datang menyambangi keluarga Diandra, itu karena Diandra sendiri yang meminta kepada ayah bundanya untuk tidak memberitahukan kepada Hera tentang kondisi psikis dia saat itu, karena Diandra tidak ingin membuat Hera kepikiran dan menjadi beban buat Hera, hingga pada akhirnya Hera sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi menyambangi keluarga Diandra, hanya untuk sekedar mencari info dari sahabatnya Diandra, hingga pada akhirnya mereka berdua bertemu di universitas yang sama namun dengan jurusan yang berbeda

__ADS_1


__ADS_2