
Diandra yang membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal langsung merasa heran, tapi karena matanya sudah mengantuk dia tidak memperdulikan itu, dia kembali taruh handphonenya di atas meja dan kemudian dia tertidur hingga pagi menjelang
Diandra tidak tahu kalau Alfian sudah ada di ruang makan bersama keluarganya Diandra, dan sedang menunggu Diandra untuk sarapan bersama, Diandra keluar dari kamarnya dan masih tidak menyadari jika Alfian sedang memperhatikan dirinya ,dia sibuk memeriksa isi tas kerjanya khawatir jika ada yang tertinggal
Diandra tidak berpikir jika Alfian akan menjemput dirinya pagi itu, hingga akhirnya ketika dia sudah berada di ruang makan, mata mereka bertemu, Diandra sudah tidak terkejut lagi karena Alfian sudah terbiasa menjemput dirinya di rumahnya pagi pagi sekali
"Pagi Diandra " sapa Alfian terlebih dahulu
"Oh iya Selamat pagi Alfian " balas Diandra
"Pagi bunda, pagi ayah " sapa Diandra menoleh kepada kedua orang tuanya
"Pagi juga Diandra " balas kedua orang tuanya serempak
"Duduklah kamu disebelah Alfian " kata bundanya menyuruhnya untuk duduk disebelah Alfian
Diandra menuruti kata bundanya untuk duduk disebelah Alfian, hati Alfian sangat senang ketika Diandra mau duduk di sebelah dirinya
"Memangnya kamu jam berapa sampai disini?" tanya Diandra menyendokkan nasi ke piringnya
Alfian juga ikut mengulurkan piringnya ke arah Diandra, mau tidak mau daripada mendapatkan pelototan dari bundanya atau mendapatkan omelan dari bundanya, dia lebih memilih aman, Diandra langsung menyendokkan nasi ke atas piring Alfian
"Terima kasih Diandra " ucap Alfian
"Sama sama " balas Diandra
"Aku tadi sampai ke rumah kamu jam enam lewat, kamu masih ada di dalam kamar" jawab Alfian
"Kenapa ga kayak kemaren aja, atau tengah malam kamu datang ?" tanya Diandra dengan nada menyindir
"Maunya begitu, tapi aku takut menganggu seisi rumah, kalau satu rumah terbangun gara gara aku kan kasihan Di " jawab Alfian sambil menyendokkan nasi ke mulut nya
"Itu tahu " balas Diandra datar
Alfian tidak menjawab dia malah sibuk ke makanan, setelah selesai makan mereka langsung berpamitan ke ayah dan bundanya Diandra untuk berangkat ke kantor
Seperti biasa Alfian yang menyetir kendaraan
"Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Diandra ingin tahu
"Jam dua belas malam, kamu kan tau kalau kita sudah nongkrong nongkrong pulang kadang menjelang subuh" kata Alfian menjelaskan kepada Diandra
Diandra tidak memberikan reaksi apapun, cuman yang Diandra pikirkan apa mereka tidak lelah pagi bekerja malam begadang sampai larut, kalau Diandra mungkin dia bakalan jatuh sakit
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Alfian waktu menoleh ke arah Diandra, Diandra tampak berpikir
"Tidak...cuman apa kalian tidak lelah, malam kalian begadang sementara besok pagi kalian harus bekerja, kalau aku mungkin akan jatuh sakit kalau ikutin cara kalian " ujar Diandra sambil berpikir
Alfian yang mendengar Diandra berkata seperti itu, langsung tertawa "Kamu lucu banget sih, gag lah Di..kan sudah terbiasa, jadi kami tidak berasa lelah " jawab Alfian
Tiba tiba Diandra menerima pesan lagi dari nomor yang tidak dia kenal, dia langsung membaca pesan itu sambil mengerutkan keningnya lalu tanpa sadar dia bergumam hingga Alfian mendengar gumaman dari Diandra
"Ada apa Di?" tanya Alfian ingin tahu sambil menyetir mobil
"Oh ini ada pesan masuk tapi tidak tahu dari siapa, cuman isinya kaya berupa ancaman gitu " jawab Diandra heran
Alfian yang mendengar itu langsung terkejut, dia langsung menoleh ke arah Diandra dan bertanya dengan nada serius
"Apa isinya Di?" tanya Alfian ingin tahu
"Kalau yang semalam isi pesan itu bilang kalau ada yang mengincar aku, terus yang sekarang isi pesannya mengancam kalau aku tidak akan bakalan tenang " jawab Diandra dengan suara bingung
"Padahal aku ga punya musuh siapa siapa " kata Diandra sambil berpikir
"Gini Di...ada kemungkinan itu adalah Sandra atau Amel, tapi kita ga boleh berprasangka buruk sama mereka, bisa saja orang lain, semuanya bisa saja intinya kamu harus berhati hati mulai dari sekarang " kata Alfian dengan nada serius, wajahnya kini berubah menyimpan kemarahan dan di dalam hatinya dia berjanji akan menangkap si pelaku dan akan memberikan pelajaran
Diandra yang melihat wajah Alfian menahan emosinya, mengelus punggung tangan Alfian untuk meredakan emosi yang ada di wajahnya Alfian
"Sudahlah jangan dipikirkan, mungkin itu hanya orang yang sedang iseng saja " kata Diandra berusaha menenangkan Alfian
Berkali kali Alfian mencengkeram kemudi mobilnya
"Hey santai saja Alfian, santai toh tidak terjadi apa apa sama aku " ujar Diandra tersenyum ke arah Alfian, walaupun hatinya ikut khawatir tapi dia tidak boleh menunjukkan itu kepada Alfian
"Kamu bisa bilang begitu, tapi aku tidak bisa Di...aku sudah berjanji akan melindungi kamu, dengar Di aku ga mau terjadi apa apa sama kamu " kata Alfian serius, kali ini dia harus menyelidiki siapa pengirim dari pesan itu sendiri
Semuanya sama sama diam, tidak ada yang berbicara satu sama lain tenggelam dalam pikirannya masing masing dengan pikiran yang berkecamuk
Mobil langsung berbelok ke gedung kantor, dan langsung masuk ke dalam bassement tempat dimana Alfian biasa memarkirkan kendaraannya disana, Alfian mematikan mesin mobilnya, ketika Diandra hendak beranjak turun dari mobil Alfian tiba tiba Alfian menahannya, lalu kemudian menangkup wajah Diandra, mereka saling bertatapan satu dengan yang lain
"Di.. berjanjilah padaku jika ada hal yang aneh aneh kamu harus menceritakan kepada aku, mau kan kamu ?" tanya Alfian meminta kepastian dari Diandra
"Aku janji Alfian, kalau ada apa apa aku pasti akan bercerita kepada kamu " jawab Diandra dengan lembut
"Kamu sekarang tenang saja ya " ujar Diandra berusaha menenangkan Alfian
"Maaf Di, aku tidak bisa tenang, saat ini aku sangat mengkhawatirkan kamu, aku ga ingin terjadi apa apa sama kamu" ujar Alfian dengan nada khawatir kali ini
"Kamu tau ga kalau kamu berpikir seperti itu, justru itu yang akan menjadi kenyataan tugas kita adalah harus berhati hati bukan berpikir yang tidak tidak " nasehat Diandra
Alfian menarik nafas panjang, berpikir kalau kata kata Diandra ada benarnya juga
"Kita turun yuk " ajak Diandra mengajak turun Alfian, dan Alfian langsung turun dari mobil diikuti oleh Diandra
Wajah Alfian masih menyimpan kekhawatiran dan emosi, dan itu sangat terlihat jelas, membuat para karyawan yang melihat atasan sekaligus pemilik dari perusahaan tidak berani menyapa apalagi mendekatinya, mereka khawatir akan dimarahi atau hal yang terburuk adalah dipecat, lebih baik mereka menjauh atau berusaha menghindar biar tidak terjadi masalah
__ADS_1
Sesampainya di ruangan Diandra, Diandra mendapati sebuah bungkusan berwarna coklat, dia menatap heran dengan bungkusan itu
"Ada apa Di ?" tanya Alfian begitu pintu ditutup olehnya
"Perasaannya aku tidak pernah memesan barang apapun" kata Diandra masih menatap bungkusan itu dengan pandangan bingung
"Coba kamu buka aja dulu, aku pengen tahu apa isi bungkusan itu " kata Alfian menyuruh Diandra membuka bungkusan itu
Mereka berdua sangat penasaran apa isi didalam bungkusan itu, dan dengan hati hati Diandra langsung membuka bungkusan itu, tampak sebuah kotak ukuran kotak sepatu, Diandra menatap Alfian dengan pandangan bingung, Alfian langsung buru buru membukanya dan berapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat isi di dalam bungkusan tersebut
Isinya adalah potongan kepala kepala boneka yang di cat dengan warna merah seperti warna darah, Diandra langsung berpegangan ke meja, dia terlihat sangat shock
"Di kamu tidak apa apa?" tanya Alfian khawatir dengan kondisi Diandra
Diandra mencoba menenangkan dirinya, lalu dia hanya bisa menggelengkan kepala tanpa berkata apa apa kepada Alfian, Alfian langsung mengambil kursi dan menyuruh Diandra untuk duduk, kemudian dia kembali memeriksa isi di dalam kotak tersebut dan ada selembar surat yang ditulis oleh potongan potongan kertas koran yang berisi tulisan
Ini belum seberapa..tunggu tanggal mainnya
Alfian terlihat sangat marah sekali, dia langsung meremas surat kaleng itu, Diandra sangat penasaran apa isi surat itu namun dia tidak berani menanyakan kepada Alfian jadi dia hanya diam, apalagi dia masih sangat shock dengan isi didalam kotak itu, mungkin jika dia juga ikut membacanya dia akan pingsan saat itu juga, jadi dia berpikir lebih baik menenangkan diri dulu
Alfian langsung menelpon Donny, menyuruhnya untuk datang ke ruangan Diandra dengan segera, dan tanpa bertanya lebih lanjut dia langsung segera datang ke ruangannya Diandra
"Apa yang terjadi?" tanya Donny menatap Diandra, lalu dia langsung menoleh ke arah Alfian, dia melihat wajah Alfian sudah sangat merah menahan emosinya, Donny kembali menatap Diandra namun dia juga tidak mendapatkan jawaban apa apa dari Diandra, Diandra sendiri juga terlihat sangat shock dan masih belum bisa menormalkan kembali
Dengan memberanikan diri, Donny mendekati Alfian dan memegang bahu Alfian lalu bertanya dengan suara hati hati
"Ada apa Alfian ?"
"Diandra dalam keadaan bahaya "
"Maksud elo?"
"Gw minta elo cek CCTV, apa ada orang mencurigakan yang membawa kotak itu ke ruangan Diandra "
Donny langsung melihat kotak yang ditunjuk oleh Alfian, dia dengan penasaran mendekati untuk ingin tahu apa isi didalam kotak itu dan bertapa terkejutnya ketika melihat isi didalam kotak itu
"Gila nih orang, nekat banget membawa kotak itu masuk ke ruangan Diandra " gumam Donny pelan
"Gw pengen dapat laporannya sekarang juga" perintah Alfian masih dengan wajah yang penuh dengan emosi
"Loe akan dapatin apa yang loe mau hari ini juga " jawab Donny dengan serius
"Satu lagi tolong suruh orang orang elo untuk mencari tahu siapa pemilik nomor ini " perintah Alfian sambil memberikan handphone Diandra dan menunjukkan nomor yang tidak dia kenal
Diandra bingung sejak kapan handphonenya berada di tangan Alfian, namun dia tidak ingin menanyakan itu saat ini
Donny yang melihat nomor yang tertera langsung mengernyitkan dahinya, tanpa banyak cakap Donny langsung mengambil handphonenya Diandra lalu menoleh ke arah Diandra sambil berkata
"Sorry Di..hape elo gw ambil untuk pemeriksaan, nanti gw balikin lagi "
Diandra hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Donny langsung keluar dari ruangan Diandra untuk mencari tahu siapa dalang di balik itu semua
Diandra yang sudah mulai tenang langsung berdiri hendak membereskan kotak itu, meski dia merasa takut, tapi dia berusaha memberanikan diri, belum sempat kotak itu disentuh oleh Diandra tiba tiba Alfian berseru
"Diandra berhenti !"
Diandra menatap Alfian dengan pandangan bingung, Alfian langsung mendekati Diandra dan menggenggam tangan Diandra
"Jangan kamu pegang apalagi melihat, aku takut aku akan trauma, biar aku panggil office boy untuk kemari biar dia yang bersihkan dan menyimpan di ruangan aku nanti" kata Alfian yang masih menggenggam tangan Diandra
"Tapi jika kita menyuruh office boy untuk membersihkannya aku takut akan menjadi rumor yang tidak sedap di kantor ini, aku ga apa apa kok " kata Diandra berpendapat
Alfian tampak diam sebentar, berpikir kalau pendapat Diandra adalah benar
"Ya sudah biar aku saja yang membereskannya, kamu duduklah kembali " perintah Alfian kepada Diandra, Alfian mulai bergerak membereskan isi didalam kotak itu dan membungkusnya kembali seperti sedia kala
"Alfian " panggil Diandra
Alfian langsung menoleh menatap Diandra dengan pandangan tanya
"Entah kenapa aku tidak takut, aku akan menghadapi ini semuanya" kata Diandra dengan suara tenang
"Tidak Di, kita akan menghadapi ini semua secara bersama sama" tolak Alfian
"Tapi dia mengincar aku Alfian " kata Diandra bersikeras
"Percaya sama aku Di, kita pasti akan bisa membuka kedok orang itu, dia tidak tahu siapa yang dia hadapi " kata Alfian penuh dengan emosi dan kemarahan
Diandra tidak mau lagi berdebat, tapi dia sudah memikirkan cara bagaimana dia harus bisa menangkap orang yang bermain dengan dirinya
"Diandra" panggil Alfian
"Ada apa?" tanya Diandra
"Mulai saat ini kamu harus bersama dengan aku, tidak ada penolakan apalagi bantahan" kata Alfian kali ini dengan suara yang tegas
"Terserah kamu sajalah" jawab Diandra
Diandra merasa kesal kepada Alfian karena Alfian terlalu berlebihan menyikapi ini semuanya, sementara Diandra berpikir kalau Alfian butuh berpikir secara jernih untuk bisa membongkar kasus ini meski mereka juga bukan polisi apalagi detektif
"Alfian untuk saat ini aku pikir kita pinggirkan dulu masalah ini, aku ingin menyelesaikan pekerjaan aku terlebih dahulu" ujar Diandra berbalik ke kursinya, Alfian menganggukkan kepalanya
Alfian juga menelpon dari ruangan Diandra untuk meminta sekretarisnya membawakan berkas berkas yang harus ditandatangani olehnya, dan berkas bekas kerjasama dengan perusahaan lain
Tidak berapa lama kemudian Irma sang sekretaris itu datang ke ruangan Diandra sambil membawakan berkas berkas yang diminta oleh Alfian
__ADS_1
"Hari ini semua jadwal meeting saya minta dibatalkan" perintah Alfian dengan nada tegas
"Baik pak tapi untuk perusahaan Sumber makmur sendiri kita sudah berkali kali membatalkan meeting kita, takutnya mereka marah dengan kita sudah tiga kali ini kita selalu mereschedule meeting kita dengan mereka " kata Irma memperingatkan Alfian
Alfian tampak berpikir sebentar lalu dia menghubungi Donny
"Don..loe bisa ga gantiin gw meeting dengan si sumber makmur ?" tanya Alfian begitu tersambung dengan Donny
"Bisa aja sih, tapi selepas makan siang karena gw mau ke suatu tempat dulu"
"Mau kemana loe?"
"Loe nyuruh gw mencari tahu si pemberi pesan misterius itu, berarti loe tahu dong gw akan kemana "
"Oh ya sudah kalau begitu, nanti setelah itu loe gantiin gw meeting "
"Iye..sudah ya..gw mau berangkat dulu "
"Iye hati hati loe "
Alfian langsung menutup telponnya dan kembali memandang Irma "Atur meeting dengan Sumber Makmur selepas makan siang " perintah Alfian kepada sekretarisnya
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu " jawab Irma
"Satu lagi mulai besok tempat kerja saya disini, jadi kamu nanti yang akan membawa pekerjaan saya kesini sekaligus melaporkan semua jadwal saya " kata Alfian dengan suara tegas
"Siap pak " jawab Irma
Setelah berpamitan Irma langsung keluar kembali menuju ke ruangan tempat dia bekerja
Alfian langsung memeriksa berkas berkas dan dokumen dokumen, dan kemudian dia menyalakan laptopnya, mulai lah dia bekerja dengan serius begitu juga dengan Diandra
Masalah yang tadi pagi, mereka lupakan sejenak, saat ini mereka fokus dengan pekerjaannya mereka
Sementara itu di luar sana Donny tampak menelpon dengan seseorang
"Loe ada dimana?" tanya Donny serius
"Kenapa loe tanyain gw ada dimana?" kata orang diseberang balik bertanya
"Ada kerjaan buat elo, elo mau ga?"
"Bayaran gimana ?"
"Pokonya beres dah, tinggal elo sebutin nominalnya berapa"
"Oke, temuin gw di tempat biasanya"
"Gw meluncur kesana sekarang"
"Gw tunggu"
Donny langsung mematikan handphone lnya, dan dia langsung mempercepat kendaraannya
Sesampainya Donny di suatu tempat yang berupa gedung tidak terurus, dia langsung menaiki tangga gedung itu, tangga gedung itu masih sangat kokoh namun banyak ruangan ruangan didalamnya yang tidak terpakai atau tidak dihuni oleh manusia, hanya temannya yang satu ini yang menempati salah satu ruang gedung dilantai tiga, dalam hati Donny dia berdoa semoga dia tidak melihat yang aneh aneh, sementara di dalam hatinya dia merutuki temannya ini yang tinggal di gedung yang sudah tidak layak
Sesampainya di lantai tiga dia langsung menuju ke ruangan tempat dimana temannya itu tinggal, didepan pintu Donny langsung menggedor-gedor pintu besi
hingga si empunya ruangan membuka pintu itu
"Berisik banget loe " gerutu temannya Donny
"Kenapa sih loe ga pindah aja " protes Donny
"Gw udah nyaman disini" jawab temannya itu sambil nyengir
"Uang banyak bukannya beli rumah atau tempat yang layak malah tinggal di tempat beginian " kata Donny masih dengan nada protes
"Berisik loe, loe sekarang mau ngapayke tempat gw, ada kerjaan apa?" tanya temannya
Donny langsung sadar dengan tujuannya dia datang kemari
"Begini Erwin bos gw si Alfian minta tolong untuk mencari tahu siapa pemilik dari nomor ini " jawab Donny sambil memberikan handphone Diandra kepada temannya yang bernama Erwin itu
Erwin itu melihat nomor itu dengan teliti lalu kemudian dia mencatat nomor pada sebuah memo dan meletakkan memo itu di atas meja kerjanya
"Saat ini gw lagi ada pekerjaan dari klien gw, gw janji akan memberikan informasi ini ke elo nanti malam sebelum jam sembilan bagaimana?" tanya Erwin sambil menatap Donny
"Jam tujuh malam gimana?" tawar Donny
"Jam delapan malam tidak ada penawaran lagi " ujar Erwin dengan suara tegas
Akhirnya Donny terpaksa yang mengalah, dia mengangguk tanda setuju
"Oke gw tunggu jam delapan malam dan jangan sampe terlambat, kalo terlambat perjanjian hangus " kata Donny dengan suara tegas
"Elo tuh yaa dikit dikit maen ancam segala " kata Erwin dengan gusar
Donny hanya nyengir tanpa merasa bersalah sama sekali
"Pokoknya gw tunggu kabar dari elo, gw mau pergi dulu " kata Donny sekalian pamit
Namun sebelum Donny pergi tiba tiba Erwin memanggil Donny dengan berteriak
"Don tunggu"" teriak Erwin sambil mengejar Donny yang sudah hampir mau pergi, Donny langsung terpaksa berbalik ke arah Erwin
__ADS_1
"Loe tau gag kalau di anak tangga sebelah kiri pas elo mau turun ini ada seorang gadis yang mukanya hancur, dia kadang suka menampakkan diri siang siang bolong gini, titipin salam gw ya buat dia " kata Erwin dengan wajah serius
Donny langsung berdiri terpaku didepan pintu Erwin