
Mereka berjalan menuju bassement tempat dimana mobil Alfian terparkir disana, Diandra duduk di belakang sementara Nyonya Francie duduk di sebelahnya Alfian
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Dian yang sudah siap duduk di belakang kemudi sambil menyalakan mesin mobilnya
"Nanti mamah yang tunjukkin, kamu ikut saja" perintah Nyonya Francie kepada Alfian
"Siap ibu Ratu" ledek Alfian
"Kamu ini ya sudah berani sama mama" ujar Nyonya Francie sambil menjewer kuping Alfian
"Ampun mah lepas sakit!" teriak Alfian kesakitan
Nyonya Francie melepaskan jeweran di kuping anaknya, Alfian mengusap usap telinganya sembari menggerutu
"Ayo jalan" perintah Nyonya Francie kepada Alfian
"Iya iya" jawab Alfian dengan wajah cemberutnya
"Makanya jadi anak jangan suka meledek, itu akibatnya" kata Nyonya Francie menatap Alfian dengan tatapan ingin menjewer kembali anaknya
"Iya ma ga lagi" ujar Alfian sedikit kesal dengan mamanya, karena jeweran mamanya masih sangat terasa sakit di telinganya
Sementara itu dirumah Hera, tampak Hera masih asik di kasur, tanpa berniat sama sekali ke luar kamar, bahkan dia sendiri melewatkan sarapan paginya, hingga bunda akhirnya mengetuk pintu kamar dari luar, karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, Bunda langsung masuk ke dalam kamar
Tampak disana Hera sedang tidur tiduran sambil memandang langit langit kamar atas dengan tatapan kosong dan hampa, berkali kali di sudut matanya keluar cairan bening, dia berpikir tidak ada yang mencintai dirinya dengan setulus hati, berpikir jika mungkin suatu hari nanti Donny membuka pintu hati hanya untuknya tapi ternyata tidak, hanya karena dia adalah seorang gadis kecil yang dicari oleh Donny makanya Donny mau membuka hatinya untuk dirinya namun bagaimana jika dia bukan gadis kecil yang dia maksud, apakah tetap Donny akan mencintai dirinya dengan tulus dan ikhlas ataukah dia akan membiarkan dirinya dengan perasaan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan, Hera tiba tiba merasa sangat lelah saat ini
__ADS_1
wajahnya yang cantik bertambah muram dan sedih, berkali kali dia menghela nafas panjang dan berkali kali pula air matanya mengalir seperti anak sungai tanpa menyadari ada bunda yang sedang memperhatikan dirinya sedari tadi
bunda duduk di pinggir tempat tidurnya Hera, dia mengusap kepala Hera dengan lembut, Hera langsung menoleh ke arah bunda yang sedang tersenyum lembut kepadanya
"Tante" panggil Hera dengan suara serak, menahan tangis yang menyesakkan dada
Bunda masih tersenyum lembut, membelai rambut Hera yang kusut Masai
"Tante maaf" ucap Hera malu malu karena ketahuan menangis, Hera langsung bangkit bangun dari tempat tidur, duduk disamping bundanya Diandra
"Tidak apa apa Hera, apa mau bercerita dengan Tante biar beban kamu bisa berkurang?" tanya Bunda kepada Hera dengan nada lembut masih mengelus rambutnya Hera dengan penuh kasih sayang layaknya seperti seorang anak sendiri
Hera langsung terdiam, berpikir apakah perlu dia menceritakan semuanya kepada bunda tapi apakah itu akan membantu dirinya agar hatinya bisa menjadi plong
"Apa itu tentang Donny?" tanya bunda pada akhirnya
" Jika kamu ingin bercerita sama Tante tidak apa apa, Tante siap mendengarkan cerita kamu tapi kalau tidak pun tidak apa apa, bikin apa yang membuat kamu merasa nyaman itu saja" kata Bunda kepada Hera dengan penuh pengertian
"Hera hanya bingung harus memulai darimana Tante " kata Hera dengan wajah yang muram
Bunda Diandra tersenyum mendengar ucapan dari Hera
"Kamu tahu nak, apapun yang membuat diri kamu resah dan gelisah dan butuh orang untuk mendengarkan cerita tentang kamu datanglah ke bunda, bunda siap mendengarkan cerita kamu, meski bunda tahu mungkin bunda masih belum punya solusinya tapi setidaknya kamu sudah lega untuk bicara, jangan kamu pendam masalah kamu sendiri, karena bunda tidak mau itu terjadi lagi seperti Diandra dulu" kata bunda dengan nada agak sedikit sedih
"Tante tahu kan aku mencintai Donny, dari semenjak kami masih sekolah dulu dan kini dia tahu kalau aku adalah teman masa kecilnya kata dia waktu itu, meski aku masih belum mengingat semuanya, hanya saja saat ini dia tadi pagi menyatakan perasaannya dia kepada aku, dan aku sudah tidak lagi berharap pada dia, aku marah Tante" kata Hera dengan suara sedihnya
__ADS_1
" Loh mestinya kamu senang dong, akhirnya apa yang kamu harapkan terjadi lagi dan gayung bersambut, lalu dimana letak salahnya?" tanya bunda kepada Hera
Hera menghela nafas panjang, kemudian dia berkata lagi
"Begini Tante, aku merasa dia tidak benar benar mencintai aku, dia hanya penasaran dengan seorang gadis kecil, itu saja dan misalkan kalau aku bukanlah gadis kecil yang bukan dia cari itu apakah dia mau membuka hatinya buat aku Tante?" tanya Hera dengan sedih dan wajahnya semakin muram
"Selama ini aku yang selalu mengejar ngejar dirinya, dan ketika aku merasa lelah dan mau menyerah darinya kini dia datang kepada aku dengan tiba tiba lalu menyatakan perasaannya hanya karena akulah orang yang dia cari, dan jika itu bukan aku apakah dia akan berkata seperti itu Tante, kenapa harus seperti ini Tante" ucap Hera dengan sedih, tiba tiba air matanya mengalir deras dan Hera langsung terisak, mengingat betapa malangnya dirinya
" Hey sayang, hey dengarkan Tante" kata bunda dengan lembut sambil memeluk Hera dengan penuh kasih sayang dan menepuk punggung Hera
Hera masih saja terus menangis sedih, menumpahkan semua kesedihan didalam hatinya, dia hanya merasa dirinya tidaklah diinginkan, dia merasa perasaannya adalah salah selama ini
" Hera capek Tante, capek, Hera merasa sangat lelah, mengejar tanpa ada arti dan Hera ingin menyerah saja tapi kenapa setiap kali Hera ingin menyerah dia selalu kembali datang dalam hidup Hera, Hera ingin dia tidak lagi kembali datang, Hera ingin Donny pergi dari hidup Hera" Kata Hera sambil sesenggukan
Bunda diam mendengarkan kesedihan Hera
"Sayang, dengarkan bunda, kamu puas puaslah menangis, tapi hanya untuk hari ini kamu boleh menangis tapi tidak untuk esok hari, tumpahkan semua kesedihan kamu, bunda akan mendengarkan semuanya, anggap bunda sebagai bundamu nak" ucap bunda kepada Hera
" Bunda Hera harus bagaimana?" tanya Hera di sela sela isakan tangisnya
"Tidak harus bagaimana bagaimana, percayalah kalau dia adalah takdir hidup kamu sejauh apapun dan sesulit apapun rintangan yang kalian hadapi dia tetap akan menjadi takdir hidupmu, tapi bila bukan semudah apapun bahkan segampang apapun rintangan yang kamu hadapi jika dia bukan menjadi takdir hidupmu dia tidak akan pernah menjadi takdir hidup untukmu, sekarang yang harus kamu lakukan adalah duduk diam, biarkan dia yang berjuang buat kamu, biarkan dia yang meyakinkan kamu kalau dia benar benar tulus mencintai kamu dengan apa adanya kamu tanpa melihat masa lalu kamu atau apapun juga karena cinta tidak membutuhkan alasan apapun untuk mencintai" nasehat bunda kepada Hera
Hera masih terdiam mendengar nasihat dari bunda
"Nak percayalah sama bunda jika seorang laki laki benar benar mencintai kamu, dia akan berbuat apapun untuk bisa mendapatkan dirimu walau itu sulit, kamu hanya perlu menunggu tapi tidak perlu menyerahkan seratus persen hati kamu, paham kan maksud bunda" ucap bunda kepada Hera, Hera menganggukan kepalanya sambil tersenyum
__ADS_1
"Hapus air mata kamu, kalau kamu sudah puas menangis, bunda tinggalkan kamu dulu sendiri nanti jika kamu tenang keluarlah untuk makan siang, dari pagi tadi kamu belum sarapan" kata bunda menyuruh Hera untuk makan siang
"Iya tante terima kasih banyak atas nasihat tante kepada Hera, akan Hera ingat" jawab Hera sambil tersenyum, yang dibalas senyuman oleh bunda lalu bunda berdiri meninggalkan Hera seorang diri di dalam kamar untuk membiarkan Hera menenangkan hatinya terlebih dahulu