
Alfian ber deham cukup keras, lalu dia berkata kepada ayah dan bundanya Diandra
"Om Tante.." kata Alfian dengan suara tegas
"Saya datang kesini bermaksud ingin melamar anak om dan Tante Diandra"
Mereka yang mendengar Alfian berkata seperti itu langsung terkejut, begitu juga dengan Hera, Hera langsung mencolek colek bahu Diandra sementara Diandra langsung terkejut setengah mati begitu mendengar Alfian nekat berkata seperti itu
Bahkan saat ini Diandra benar benar kosong pikirannya tidak tahu harus berbicara apa lagi, ayah dan bundanya langsung menatap Diandra dan Alfian secara bergantian, dan mereka berdua juga tidak kalah terkejutnya
"Maaf dengan nak siapa?" tanya ayahnya Diandra yang berusaha memecahkan kecanggungan di ruangan itu
"Alfian om, saya dengan Alfian" kata Alfian dengan suara tegas
"Mengenai masalah itu, kita serahkan Lang saja kepada Diandra, karena yang menjalani itu dia" kata ayahnya mencoba berdiplomasi
"Kamu sudah sepakat om, dan kebetulan Diandra setuju untuk saya lamar hari ini" kata Alfian tenang, dingin namun tegas
Diandra langsung membelalakkan matanya, dia mengepalkan tangannya menahan amarahnya, namun Alfian sudah memberikan ancaman lewat dari tatapan matanya dan Diandra hanya bisa menahan itu semua, karena jika tidak dia tidak tahu lagi hal gila apa yang akan dilakukan oleh Alfian, lebih baik mengikuti permainan Alfian
"Begini om, jika om setuju saya nanti malam akan membawa kedua orang tua saya untuk bertemu dengan om dan Tante" kata Alfian serius
"Dan itu juga sebagai tanda keseriusan saya kepada anak om " kata Alfian lagi
Ayahnya Alfian menghela nafas panjang, sementara bundanya hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa apa, semuanya dia pasrahkan kepada suaminya, suaminya tampak diam sedang berpikir dan menimbang nimbang sesuatu
"Baiklah kalau begitu, saya tunggu kamu dan keluarga kamu untuk datang melamar anak saya di rumah saya" kata ayahnya dengan suara tegas sambil tersenyum setelah sekian lama berpikir dan menimbang
Diandra yang mendengar itu langsung kaget, begitu ayahnya berkata seperti itu
"Baik kalau begitu om, saya izin permisi dulu nanti jam tujuh malam saya akan datang bersama dengan orang tua saya" kata Alfian memohon izin untuk pamit kepada kedua orang tuanya Diandra
"Baik nak, saya tunggu kedatangannya kalian" kata ayahnya dengan suara tegas kali ini
Alfian langsung pergi meninggalkan keluarganya Diandra, dan dia langsung segera menuju rumah untuk menjemput kedua orangtuanya,namun sebelumnya dia akan mampir ke toko perhiasan untuk membeli satu set perhiasan lengkap sebagai tanda lamaran
Sepeninggal Alfian dari rumah Diandra, Hera langsung heboh, sementara keluarga Diandra beserta Diandra masih terdiam akibat dari rasa terkejutnya
"Diandra dia seriusan?" tanya Hera menatap Diandra setengah tidak percaya kalau sahabatnya dilamar
__ADS_1
"Gw berharap ini cuman mimpi Hera, cubit gw" kata Diandra dengan suara pelan, Hera tanpa aba aba langsung mencubit tangan Diandra dengan keras
"Heraaaa sakit !" teriak Diandra menatap kesal kepada sahabatnya Hera
"Lah elo yang nyuruh gw buat cubit, jadi ya gw cubit" kata Hera enteng
Diandra langsung meringis kesakitan "Ternyata gw ga mimpi" kata Hera pelan "Emang elo mimpi apa?" tanya Hera polos menatap Diandra, Diandra langsung menatap kesal Hera "Iye iye sorry" jawab Hera
Diandra langsung memandang orang tuanya sendiri, dia ga tau lagi harus bicara apa sama mereka berdua
"Ayah Bunda" kata Diandra dengan suara lembut, dia langsung bersimpuh di kaki kedua orangtuanya sambil kepalanya tidur dipangkuan bundanya dan Bundanya mengelus rambut Diandra dengan penuh rasa sayang
"Kamu benar benar serius dengan dia nak?" tanya bundanya lembut
Diandra langsung menatap bunda dan ayah ya tiba tiba keluar setitik cairan bening di matanya
"Bunda, ayah Diandra tidak mau ini terjadi, dan Diandra tidak mau dilamar oleh Alfian ayah bunda" kata Diandra yang akhirnya harus jujur di hadapan kedua orangtuanya
ayahnya menatap Diandra dengan lembut,lalu berbicara dengan suara tegas
"Nak jika tadi kamu menolak itu tidak membuat dia akan menyerah, jadi biarlah sekarang takdir yang memutuskan..kalau memang dia jodoh kamu sekuat apapun kamu menyangkalnya maka sekuat itu juga dia tidak akan terlepas dari kamu, begitu juga sebaliknya " kata ayahnya dengan bijak
"Tapi ayah...."
Ayahnya langsung berdiri masuk ke dalam, disusul sama Bundanya, Diandra masih bersimpuh disana meski kedua orangtuanya pergi dari hadapannya, Diandra menarik nafas panjang panjang mengeluarkan beban yang ada di dalam hatinya
Diandra tidak habis pikir jika Alfian bisa senekat itu, dan lagi apa yang membuat dia tertarik kepada dirinya Diandra benar benar tidak mengerti sama sekali, Hera mendekati Diandra menepuk bahunya
"Apa yang ayah elo bilang itu benar Di...kita tidak bisa menolak takdir kita meski bagaimanapun caranya " kata Hera kali ini dengan suara lembut
"Tapi Hera, gw ga cinta sama dia" kata Diandra sedih
"Nanti jika kamu berjodoh dengannya elo akan mencintai dia pelan pelan, sekarang jalani aja dulu dan jangan berpikiran macam macam" kata Hera menghibur sahabatnya
Alfian langsung ke toko perhiasan, dia langsung membeli satu set perhiasan yang lumayan mewah dengan harga yang cukup fantastis, perhiasan itu dipenuhi dengan banyak berlian, setelah itu dia langsung pulang menuju ke rumah untuk menemui kedua orangtuanya
Sesampainya Bayu, di rumah dia langsung mencari kedua orangtuanya, dan dia menemukan mereka di halaman belakang sedang bersantai
"Ma pa, Alfian mau bicara" kata Alfian langsung bicara dengan suara serius
__ADS_1
"Duduklah dulu Alfian" kata mamanya sambil tersenyum
Alfian langsung duduk berhadapan dengan mereka
"Kamu mau bicara apa Alfian?" tanya papanya sambil menatap serius
"Alfian sudah melamar gadis yang Alfian cari cari selama ini, dan Alfian meminta papa dan mama untuk mau melamar secara resmi ke keluarganya" kata Alfian serius tanpa basa basi, kedua orangtuanya langsung terkejut mendengar Alfian bicara seperti itu
"Kamu lagi tidak bercanda kan sayang?" tanya mamanya serius
"Ma aku serius dan Alfian juga sudah membeli satu set perhiasan jadi mama dan papa cukup bawa diri saja" kata Alfian
Suami isteri itu saling berpandangan satu sama lain, mencoba menimbang apa yang dikatakan oleh anaknya itu
"Lalu bagaimana dengan Sandra?" tanya papa nya
"Pa dari dulu kan aku ga punya komitmen apa apa sama Sandra, hanya dia sendiri saja yang merasa punya komitmen" kata Alfian berusaha sabar menjelaskan kepada orang tuanya
Mereka berdua kembali terdiam, Alfian menatap kedua orang tuanya itu menunggu jawaban dari mereka, namun mereka masih terdiam dan Alfian sangat tidak sabar menunggu jawaban dari orang tuanya
"Ayolah pa ma, waktu itu kan kalian sudah berjanji akan merestui pilihan aku kenapa sekarang kalian ragu" kata Alfian dengan suara kesal
"Baiklah kalau itu sudah menjadi kemauan kamu, papa dan mama akan ikuti kemauan kamu tapi kami meminta satu syarat kepada kamu" kata papanya sambil menatap anaknya
"Apa itu pa?" tanya Alfian ingin tahu
"Selesaikan masalahmu dengan Sandra, papa dan mama tidak mau ada keributan itu saja" kata papanya dengan suara tegas
"Siap pa ma, Alfian janji akan menyelesaikan masalah Sandra " kata Alfian dengan suara mantap
"Jam berapa kita akan kesana, mama sama papa akan bersiap siap dulu?" tanya mamanya sambil menatap Alfian
"Mereka meminta jam tujuh malam ma, jadi mama sama papa ada punya waktu untuk mempersiapkan semuanya" jawab Alfian dengan suara serius
" Ayo pa kita masuk kedalam, kita harus bersiap siap terlebih dahulu" kata mamanya mengajak masuk suaminya ke dalam, setelah mama dan papanya masuk ke dalam Alfian langsung bernafas lega
"Semoga semua dilancarkan " kata Alfian sambil bergumam, Alfian meminta minum kepada pelayan yang baru saja lewat di depannya karena dia baru menyadari kalau dia berasa sangat haus sekali, karena sebenarnya dia juga sangat tegang dari semenjak dia dari rumahnya Diandra
Sementara papa dan mamanya Alfian sedang bersiap siap, Alfian sendiri juga langsung ke kamar pribadinya untuk mandi dan mencari pakaian yang terbaik, dia sangat tidak sabar melamar gadis pujaan hatinya yang telah mengisi relung hatinya semenjak lama
__ADS_1
Ketika Diandra menghilang tiba tiba sebenarnya dia juga ikut mencari, dia mencari tahu lewat Hera dan menyuruh sahabat sahabatnya mendekati Hera untuk mengetahui informasi tentang Diandra sekecil apapun, lewat bagian administrasi sekolah dia juga mencari tahu mengenai alamat tempat tinggal Diandra, dan dia diam diam selalu mengintai rumah gadis itu, saat dia pulang sekolah, saat libur atau waktu senggangnya, sayangnya tidak ada informasi apapun tentang letak keberadaan Diandra, dia seperti hilang di telan bumi
Dan sekarang karena dia tidak ingin kehilangan lagi gadis yang selama ini dia cari, akhirnya dia mencari jalan nekat yaitu melamar Diandra agar Diandra tidak lagi bisa lari darinya, bahkan kalau perlu setelah lamaran segera menikah biar Diandra selalu ada di sisinya hingga selamanya, sehingga Alfian tidak lagi bermimpi mengenai keberadaan gadis yang dia cari itu