
Sementara itu di ruang tamu tampak Hera dan Diandra sedang asyik berbincang
"Terus gimana pertemuan elo dengan temen elo Alex?" tanya Diandra ingin tahu
"Yaa baik sih, dia itu pria yang lumayan baik loh bahkan kemaren dia ajakin gw balik ke Jerman lagi" jawab Hera
"Terus?" tanya Diandra ingin tahu
"Iyaa gw mau, mungkin dua Minggu lagi gw bakalan balik ke sana bareng sama Alex" jawab Hera sambil tersenyum
"Gw cuman bisa berdoa semoga elo bisa menemukan kebahagiaan elo dimana pun elo berada" ucap Diandra dengan tulus
"Elo emang sahabat terbaik gw" ujar Hera tulus lalu memeluk Diandra dengan rasa sayang
Sementara itu di salah satu perusahaan tampak seorang pria dengan wajah yang tegas tengah serius membaca laporan yang diberikan oleh assisten pribadinya, sambil menghela nafas panjang dia menyenderkan tubuhnya ke kursi sambil memejamkan matanya, namun otaknya tampak sedang berpikir keras
Pintu diketuk dari luar, dan pria itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam, tampak seorang pria sedang berjalan menghampiri pria yang sedang duduk di kursi itu
"Jadi bagaimana?" tanya pria itu setelah berdiri di hadapannya
"Lanjutkan saja permintaan kerjasamanya dan kirimkan permohonan kerjasama ke perusahaan Adi Cahaya, kita lihat siapa yang mau menerima permohonan kerjasama kita" jawab pria itu dengan suara tegas
"Sebenarnya apa sih rencana elo Lex?" tanya asisten pribadi itu kepada orang yang dipanggil Lex
"Gw hanya mau mereka menebus kesalahan yang sudah mereka perbuat dulu" ucap pria tersebut sambil menghela nafas panjang
"Alex elo sudah mencari tahu siapa pemilik dari perusahaan perusahaan tersebut?" tanya asisten pribadinya bertanya kepada Alex pria yang duduk di kursi tersebut
"Sudah dan gw hanya butuh bukti kongkret aja" jawab pria yang bernama Alex dengan suara tegas
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya pria itu lagi
"Siapa yang elo maksud?" tanya Alex kepada asisten manajernya
"Hera siapa lagi?" jawab pria itu
Alex hanya terdiam sesaat, dia ingin Hera menjadi sumber informasi untuk Alex mengingat Hera sangat dekat dengan mereka semua, tapi Alex juga mendapati kalau Hera bermusuhan dengan Sandra
"Apa kita sudah bisa mendapatkan kabar dari mereka?" tanya Alex kepada asisten pribadinya itu
"Belum ada, tapi mungkin kita akan mendapatkan secepat mungkin dari salah satu perusahaan yang kita menawarkan kerjasama dengan mereka" jawab asisten tersebut
"gw pengen elo tetap monitoring usaha Adi cipta karya, Brian, karena gw tertarik dengan perusahaan ini" ucap Alex dengan suara dingin berkata kepada asisten pribadinya yang bernama Brian
"Okey gw siap, ada lagi?" tanya Brian, pria berkaca mata itu
"Belum ada, gw pengen elo tetap monitoring Sandra juga dan juga Amel, gw pengen mereka semua hancur biar ayah gw tenang dalam tidurnya" kata Alex dengan suara dingin
"Gw pengen mereka merasakan apa yang ayah gw rasain, putus asa dan merana begitu juga dengan mereka, mereka harus merasakan itu semua" ujar Alex dengan suara dingin
Sementara itu Tuan Wijaya datang membawa beberapa bodyguard yang ikut dibelakang mereka
Saat itu Alfian dan Donny sudah kembali berkumpul bersama dengan Diandra dan Hera di ruang tamu, dan sedang asyik menikmati perbincangan mereka, hingga Tuan Wijaya menginterupsi perbincangan mereka yang sedang asyik tanpa tahu kehadiran dari Tuan Wijaya papanya Alfian
"Alfian papa membawa beberapa bodyguard buat kamu dan Diandra" kata Tuan Wijaya membawa sambil menyuruh menyuruh mereka mendekat
"Mereka ini adalah bodyguard untuk kalian, kalian akan diikuti masing masing dua bodyguard, Diandra om tahu kamu pasti akan keberatan tapi ini demi keamanan kamu" ucap Tuan Wijaya kepada Diandra
Alfian dan Diandra menatap Tuan Wijaya dan para bodyguard bodyguard itu
"Sebagaimana yang papa janjikan kepada kalian berdua, kalau kalian mendapatkan bodyguard masing masing dua, untuk Diandra kamu mendapatkan dua cewek dan untuk kamu Alfian kamu mendapatkan dua pria" kata Tuan Wijaya lagi sambil menatap Diandra dan Alfian secara silih berganti
Alfian menatap keempat bodyguard itu yang sedang berdiri tegap dan bersikap waspada, wajah mereka berempat sangat serius dan terlihat kejam, mereka tidak segan segan melumpuhkan musuh yang dianggap berbahaya bagi Tuan tuan mereka
Setelah puas menatap para bodyguard yang akan mengawal mereka, Alfian kembali menatap wajah ayahnya Tuan Wijaya
"Terima kasih pah, ini sudah lebih dari cukup untuk kita" jawab Alfian kepada Tuan Wijaya dan Tuan Wijaya mengangguk puas begitu melihat Alfian berterima kasih kepada dirinya
Tapi tidak dengan Diandra, dia merasa bingung kali ini, dia bingung mau ditaruh dimana dua bodyguard yang sudah diberikan kepadanya, sementara rumahnya sederhana hanya punya satu kamar tidur tamu yang dimana Alfian suka sering menginap tiba tiba disitu
Melihat tampang Diandra yang sedang kebingungan itu, Alfian langsung bertanya kepada Diandra
"Ada apa Di, kok kamu terlihat sangat bingung?" tanya Alfian dengan penuh perhatian
"Mereka berdua mau aku taruh dimana? rumahku tidak cukup menampung mereka berdua, kamu tau sendiri kan kamu aja suka sering menginap di tempat aku secara tiba tiba" jawab Diandra dengan polos sambil menatap Alfian meminta jawabannya
Alfian dan Tuan Wijaya yang mendengar itu langsung tertawa
Sementara Diandra menatap mereka berdua dengan tampang bingung
"Begini Di, kamu tenang saja mereka berdua akan tetap tinggal di rumah aku, tapi mereka nantinya yang akan menjemput kamu dari rumah menuju kantor begitu juga sebaliknya,itupun kalau aku tidak sempat mejemput dan mengantar kamu pulang, misalkan aku dalam tugas keluar yang tidak memungkinkan mengantar atau menjemput kamu" jawab Alfian setelah selesai tertawa
__ADS_1
"Oh iya sebelumnya papah i gin mengenalkan keempat bodyguard kepada kalian berdua" ucap Tuan Wijaya
Diandra dan Alfian menatap Tuan Wijaya dan keempat bodyguard itu secara silih berganti
Tuan Wijaya langsung memanggil mereka berempat untuk lebih mendekat, dan kemudia Tuan Wijaya mulai menunjukkan mereka satu per satu di depa Alfian dan Diandra yang dinulai oleh kedua bodyguard pria tersebut
"Yang ini namanya Ridwan dan Risna" kata Tuan Wijaya sambil menunjuk kedua bodyguard tersebut, dua laki laki bertubuh tegap menggunakan headset di sebelah telinganya dan berambut cepak berwajah garang namun masih terlihat tampan, kedua bodyguard itu menganggukan kepanya sedikit tanpa tersenyum sebagai tanda bentuk penghormatan kepada majikannya Tuan Wijaya dan anak Majikannya Alfian
Tuan Wijaya menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri mereka berdua di hadapan Alfian
"Nama saya Ridwan" kata pria bertubuh tegap tinggi dan terlihat tegas
Ridwan langsung mundur selangkah memberikan temannya tempat
"Nama Saya Risna " kata Pria yang satunya lagi yang bertubuh hampir sama dengan pria yang bernama Risna
"Senang bisa berkenalan dengan kalian berdua, semoga ke depannya kalian bisa bekerja sama dengan baik" ucap Alfian dengan tegas tegas kepada Ridwan dan Risna sambil mengangguk puas kepada mereka
"Dan untuk selanjutnya, saya perkenalkan dua orang wanita yang bernama Risma dan Riska, mereka berdua ini akan mengawal Diandra" ucap Tuan Wijaya lagi dan menyuruh mereka berdua mendekat untuk memperkenalkan diri mereka berdua, sama seperti kedua bodyguard yang tadi, mereka berdua pun memperkenalkan diri kepada Diandra
Kedua wanita itu juga sama bertubuh tegap dan tinggi, yang satu berambut panjang yang dikuncir dan yang yang satunya lagi berambut pendek, mereka juga sama seperti kedua bodyguard yang tadi selalu bersikap waspada, dan selalu siap melindungi tuannya jika tuannya berada dalam keadaan bahaya
Setelah mereka berdua memperkenalkan diri, Diandra hanya cukup menganggukkan kepalanya lalu menoleh kepada tuan Wijaya
"Om maaf bukannya saya menolak atau apa cuma apa ini tidak berlebihan buat saya, saya pikir saya tidak perlu yang namanya pengawalan atau semacam apapun itu, lagian siapa sih yang mau bertindak jahat terhadap saya" kata Diandra kepada rUan Wijaya dengan suara serius namun terdengar sangat sopan
"Kamu itu calon menantu di keluarga sini, dan kamu tau banyak yang mengincar posisi kamu dan banyak yang mencoba meraih keuntungan dari diam, apalagi kalau mereka tahu kamu adalah wanita yang dicintai oleh Alfian melebihi apapun itu, jadi kamu tidak ingin calon menantu kami itu celaka atau tergores apapun itu, dan Om berharap kamu mau menerima mereka dengan sepenuh hati" jawab Tuan Wijaya dengan suara lembut namun terdengar sangat tegas di telinga Diandra, dan itu membuat Diandra langsung terdiam tanpa berkata ataupun membantah apapun itu, dia hanya bisa berucap dengan sopan kepada Tuan Wijaya
"Terima kasih banyak Om yang sudah memberikan perhatian lebih kepada saya"
Tuan Wijaya mengangguk sambil mengiyakan ucapan Diandra
Alfian yang mendengar Diandra mau menerima bantuan dari papanya tampak tersenyum puas, lalu dia tiba tiba teringat sesuatu tentang misinya kemarin yang sempat belum dia lakukan, lalu dia menoleh kepada papanya Tuan Wijaya
"Pah bagaimana dengan tugas yang sudah aku minta sebelumnya?" tanya Alfian kepada Tuan Wijaya, tugas yang menyuruh untuk menyadap mobilnya Sandra agar dia tahu apakah Sandra itu adalah dalangnya atau bukan
"Kamu tenang saja, dan satu lagi papa juga sudah menyuruh bodyguard papa untuk menyadap mobil dari Tuan Hartawan juga" jawab papanya sambil tersenyum
"Terima kasih banyak ya pah, semoga kita bisa mengetahui siapa dalang terornya" jawab Alfian dengan nada puas
"Papa juga minta kalian untuk waspada karena khawatirnya papa ada orang lain yang juga ikut campur, entah itu musuh bisnis kita atau entah itu apa papa kurang tahu yang jelas papa minta kalian untuk bisa lebih waspada saja, feeling papa ini selalu benar" ucap Tuan Wijaya mengingatkan mereka semua
"Baik pah, kami akan tetap Waspada" jawab Alfian serius
Sementara itu Hera juga sudah tampak bersiap siap untuk pulang
"Elo mau kemana?" tanya Diandra begitu Hera sudah mulai menyampirkan tasnya ke bahunya
"Pulanglah, emang mau kemana lagi?" tanya Hera sambil berdiri
"Ayolah Hera, elo tinggal dulu disini kita belum puas bicara" bujuk Diandra kepada Hera sambil memegang lengan Hera untuk kembali duduk
"Gw sih mau aja cuman loe tau sendiri tuh laki loe udah pelototin gw buat pergi" ucap Hera sambil menatap Alfian yang sedang memandang dirinya seakan memberi perintah untuk pulang
Diandra langsung menoleh ke arah Alfian namun Alfian buru buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain begitu dirinya langsung ditatap oleh Alfian
"Diandra, Hera itu ada pekerjaan lain gag mungkin kan dia disini terus seharian bersama kita" ucap Alfian dengan penuh sayang
"Iya itu mungkin saja, lagian kan kita cuman berdua kalau berempat kan bisa lebih seru lagi" ucap Diandra sambil memohon untuk mereka berdua bisa tinggal
"Sorry Di, gw juga ga bisa, gw banyak pekerjaan" jawab Donny kali ini dengan wajah seriusnya
"Tuh kamu dengar sendiri kan apa yang dikatakan oleh Donny" ujar Alfian kepada Diandra
"Ya sudah kalian boleh pergi "ucap Diandra sambil cemberut wajahnya
"Aduh Di, kita bukannya mau pergi ke Antartika gitu juga, ntr juga kita ketemu lagi" ucap Hera memandang wajahnya dengan gemas
"Aku juga tahu itu" jawab Diandra masih dengan wajah cemberut
"Terus kalau tahu kenapa masih juga cemberut?" tanya Hera tertawa melihat sikap sahabatnya yang sudah dianggap sebagai sodara
"Terus gw harus ngapain?" tanya Diandra kesal
"Senyum lah jangan cemberut gitu" jawab Hera dengan suara ringannya
"Ya sudah gw pergi dulu, ntr gw hubungi elo, gw mau ada janji maslahnya" ucap Hera
"Dengan Alex?" tanya Diandra mencoba memastikannya
Hera langsung mengangguk sambil tersenyum simpul
__ADS_1
"Ya udah semangat yaks, semangat berhasil" ucap Diandra dengan nada senang
"Nah gitu dong, itu baru sahabat gw" kata Hera senang
Donny langsung menoleh ke arah Hera sambil menatap Hera dengan pandangan menyelidik, namun Hera berusaha tidak memperdulikan Donny lagi bahkan selama Donny ada disana pun Hera berusaha tidak menganggap Donny ada
"Elo gw antar buat ketemuan sama si Alex" kata Donny dengan suara datar
"Tidak usah dan terima kasih banyak" jawab Hera dengan suara dingin
" Gw pamit dulu yak" kata Hera sambil mencium pipi kiri dan kanannya Diandra' sedangkan Alfian memberikan kode kepada Dony lewat matanya, namun nampaknya Donny juga berpikiran yang sama dengan Alfian jadi dia tidak berusaha mengelak
"lo gw antar dan tidak ada penolakan" ucap Donny dengan suarq tegas, Hera ingin membantah namun diam saja malah dia berlalu dari hadapan Donny dan menganggap Donny bukan siapa siapa
Donny langsung mengejar Hera dan menggamit lengannya hingga kuat, Hera langsung terpekik kaget dan terkejut, dengan tatapan protes dia berusaha menahan langkahnya hingga membuat Donny juga ikut berhenti
"Lepaskan aku" desis Hera sambil berusaha melepaskan genggamannya dari Donny
"Hera menurutlah" ucap Donny dengan suara tenang dan datar
"Lepaskan gw Donny, elo itu bukan siapa siapanya gw dan apa hak elo berbuat seperti ini sama gw?" tanya Hera dengan nada marah dan tidak terima dia diperlakukan seperti itu oleh Donny
"Dan nanti akan menjadi siapa siapanya elo, elo mau jaan sendirib atau mau gw gendong?" ucap Donny sambil bertanya balik, disitu ada sedikit ancaman yang membuat Hera agak sedikit gentar
Hera terdiam sebentar sambil menatap Donny dengan tatapan nanar, dia berusaha untuk tidak terprovokasi dengan Donny
"Ayolah Hera, kamu mau yang apa mau aku gendong atau kamu jalan sendiri?" tanya Donny dengan nada tidak sabar
Hera diam saja tidak menanggapi Donny, dia lebih memilih berjalan saja dan dia berjalan didepan Donny tidak disampingnya, namun Donny yang merasa kesal karena Hera tidak perduli dengannya, Donny akhirnya berinisiatif untuk mengendong Hera dari belakang dan memanggul Hera seperti layaknya karung beras
Tentu saja Hera yang digendong tiba tiba oleh Donny langsung terpekik kaget, dia berusaha berontak sambil memukul mukulkan punggung Donny, namun Donny tidak mengindahkan teriakan dari Hera
"Donny lepaskan gw, turunin gw!" teriak Hera, namun Donny tidak prduli dia masih aja terus berjalan sambil mengangkat tubuh Hera untuk dibawa ke mobilnya
Melihat Donny membawa dirinya ke dalam mobi Donny, dia langsung protes di balik punggung donny
"Elo mau bawa kemana gw?!" tanya Hera sambil beerteriak kencang
Namun Donny tidak sama sekali menjawab petanyaan dari Hera, malah dia tetaop diam sambil berjalan dan diam sambil membuak pintu penumpang lalu menaruh Hera disitu dan kemudian dia menutup pintu mobilnya dan kemudian dia langsung menuju pintu kemudi
Donny langsung menyalakan mesin mobilnya
"Don mobil gw gimana?" tanya Hera dengan suara lirihnya
"Untuk saat ini mobil elo aman, nanti gw suruh supir buat antar ke rumah elo" jawab Donny sambil menatap Hera lewat kaca spion
Hera hanya bisa menghela nafas panjang
"Elo mau ketemu Alex dimana?" tanya Donny penuh dengan rasa ingin tahu kepada Hera
"Bukan urusan elo dan turunin gw disini' gw bisa naik taxi online" kata Hera keras kepala sambil memerintahkan Donny untuk memberhentikan mobilnya
Namun sayangnya Donny tidak mengindahkan perintah dari Hera, malah justru dia tersenyum miring dari belakang setirnya
"Elo mau ketemuan sama Alex atau tidak?" tanya Donny dengan suara dingin
"Maksud elo apa?" tanya Hera pura pura bodoh
"Begini saja kan elo gag mau ketemuan sama Alex bagaimana kalau elo gw culik saja biar elo ga ketemuan sama dia sampai kapanpun" jawab Donny sambil menatap Hera lewat kaca spion
Tersirat ancaman didalam kata kata Donny, nyali Hera lansung menciut
"Gw mau ketemu Alex puaas elo?" tanya Hera dengan nada sengit
Donny yang mendengar itu lngsung tersenyum simpul
"Untuk saat ini gw ijinin elo but ketemuan sama Alex itu, tapi tidak dengan selanjutnya karena elo gw larang untuk bertemu dengan pria itu atau dengan AlexAlex yang lain" ucap Donny dengan nada serius sambil fokus menyetir mobil
"Maksud elo apa?" tanya Hera bingung
"Elo sudah gag gw ijinkan buat bertemu dengan pria pria lain tanpa seijin gw paham?" tanya Donny dengan suara tegas
"Makud elo apa?" tanya Hera tidak terima dengan kata kata Donny yang barusan
"Maksud gw mulai hari ini elo jadi milik gw" jawab Donny tiba tiba sambil melihat Hera dari kaca spion
"Hah apa!" teriak hera kaget
Donny diam lagi, wajahnya kembai datar seperti semula
"Elo bilang apa tadi, coba ulangin" tuntut Hera dengan suara kaget dan tidak percaya
__ADS_1
"Tidak ada pengulangan lagi Hera, semuanya sudah jelas" kata Donny dengan suara tegas