
Hera terdiam sesaat, sementara Diandra sedang menunggu jawaban dari Hera
"Hera, gw masih temen elo kan ya?" tanya Diandra lagi kepada Hera
Hera langsung menoleh ke arah Diandra
"Elo kenapa sih bicara kaya gitu?" tanya Hera sedikit kesal
"Ya bukannya begitu, elo kalau ada apa apa ga pernah mau cerita sama gw, bahkan gw sendiri ga tau apa masalah elo yang sebenarnya" ucap Diandra dengan wajah yang sedih
"Bukannya begitu Di, masalahnya ini ada di dalam diri gw sendiri, dan gw bingung menceritakannya kaya gimana" jawab Hera dengan nada pelan
"Gini aja kalau gw udah siap buat cerita sama elo, gw pasti akan cerita tapi untuk saat ini berikan gw waktu " ucap Hera kepada Diandra
"Tapi bener elo janji ya akan menceritakan semua masalah elo ke gw, gw pengen kita berbagi, disaat elo susah atau senang gw akan selalu ada buat elo" kata Diandra meminta janji sama Hera
Hera tersenyum sambil menganggukkan kepalanya
"Iya gw janji sama elo, gw akan cerita tentang masalah yang terjadi didalam diri gw, tapi untuk saat ini biarkan gw mengumpulkan kepingan puzzle puzzle yang ada didalam otak gw" jawab Hera sambil menatap Diandra
Diandra hanya menganggukkan kepalanya, dia merasa Hera tidak mengada ada, dan memang butuh waktu buat Hera untuk bisa menyembuhkan dirinya sebelum dia mulai bercerita
Sementara rumahnya Alfian, tampak Donny sedang sibuk memberikan berkas kepada Alfian untuk ditandatangani
"Elo udah menyelidiki tentang Alex?" tanya Alfian dengan nada serius kepada Donny yang kini sedang duduk di hadapannya, di kamar kerjanya Alfian
"Gw sedang menyelidiki dia, nanti kalo sudah beres gw akan lapor ke elo" jawab Donny serius sambil memberikan berkas untuk ditandatangani kepada Alfian
Alfian yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya, tiba tiba Alfian mendongak ke arah Donny, dia tampak berpikir sebentar namun kemudian dia menggelengkan kepalanya dan itu membuat Donny bingung melihat Alfian yang bersikap seperti itu
"Elo kenapa?" tanya Donny menatap Alfian dengan heran
"Gw ga apa apa, hanya ada satu yang membuat gw berpikir tadi tapi sudahlah itu ga penting juga" jawab Alfian sambil menatap lembaran berkas berkas yang hendak akan ditandatangani olehnya
" Elo selalu bikin gw penasaran, dan gw tahu elo emang ahlinya bikin gw penasaran" gerutu Donny dengan suara kesal
Alfian hanya tersenyum miring, mendengar gerutuan dari Donny, dia tahu sebenarnya ada yang ingin dia katakan kepada Donny mengenai Hera tapi Alfian memutuskan agar biar Donny menari tahu sendiri tentang Hera, dia khawatir jika dia bicara akan dianggap ikut campur, sebaiknya Donny mengetahuinya sendiri mungkin itu akan lebih baik
Seorang pria sedang menatap layar komputer, dia sedang sibuk menari tahu tentang ketiga keluarga yang berpengaruh, dia tersenyum miring begitu membaca profile dari masing masing ketiga keluarga yang berpengaruh ini, yang dikirimkan oleh orang suruhannya kepada dirinya
"Bryan, apa yang kamu kirimkan ini benar adanya?" tanya pria itu dengan nada dingin dan wajah yang sangat serius kepada ajudannya yang sedang berdiri di hadapannya
"Benar Tuan Alex, semuanya itu benar adanya dan itu sudah sangat akurat dari bawahan yang sudah saya suruh untuk mencari tahu tentang profile mereka semua" jawab ajudan itu dengan wajah yang sangat serius, pria yang bernama Alex ini mengangguk puas
"Bagus, untuk saat ini saya akan pelajari semua data yang kamu kirimkan ke saya, kamu bisa pergi" perintah pria yang bernama Alex itu
"Oh iya Tuan, ada informasi yang sangat berharga juga buat anda" ucap pria yang bernama Brian itu
Alex langsung mendongakkan kepalanya menatap ajudannya dengan pandangan ingin tahu sambil menunggu jawaban dari Brian ajudannya itu
"Nona Hera ada masuk rumah sakit disebabkan karena amnesianya, itu yang saya dapatkan dari bawahan saya Tuan" ucap Brian berkata dengan suara serius
"Amnesia ?" tanya Alex memastikannya lagi, ajudannya itu menganggukkan kepalanya
"Dia ada riwayat amnesia sampai sekarang dia masih belum ingat apa apa, memorinya masih belum kembali benar, dua kali dia dibawa ke rumah sakit" ucap Brian memberitahukan tentang sakit yang diderita oleh Hera
__ADS_1
Alex tampak berpikir sebentar, lalu dia berkata dengan suara dingin namun puas terhadap kinerja ajudannya Bryan
"Bagus, tetap kamu awasi mereka dan jangan sampe lengah" perintah Alex dengan nada puas
"Selanjutnya ada lagi yang tua perintahkan kepada saya, sebelum saya undur diri?" tanya Brian kepada Alex dengan nada serius
"Tidak ada, kamu boleh pergi " jawab Alex dengan suara tegas dan menyuruh ajudannya untuk pergi
"Baik Tuan, terima kasih dan jika perlu apa apa tuan bisa memanggil saya kembali, saya ada di ruang sebelah" kata Bryan lalu dia langsung mengundurkan diri dari hadapan Alex setelah mendapatkan anggukan dari Alex
Sementara Alex masih duduk menatap layar komputer dengan sangat serius, membaca semua data data mengenai tiga keluarga yang berpengaruh
"Keluarga Wijaya, Keluarga Hartawan dan keluarga Sukmajaya, menarik sungguh menarik dengan sepak terjang mereka selama ini" gumamnya pelan sambil tersenyum dingin
" Salah satu dari keluarga kalian sudah menghancurkan keluarga aku, maka aku akan menghancurkan keluarga kalian, tunggu pembalasan aku nanti" ucapnya dengan suara dingin dan kejam, menatap layar komputer dengan pandangan tajam dan dingin
Sementara itu diandra dan Hera sedang asyik berbincang bincang di dalam kamar, mereka tengah membicarakan tentang pria yang bernama Alex
"Alex, itu pria yang tampan tapi sangat dingin terlihat dari luar humoris dan terbuka tapi sebenarnya dia tidak seperti itu" cerita Hera kepada Diandra, Diandra mendengarkan Hera dengan penuh perhatian, dia sangat ingin tahu tentang pria yang bernama Alex meski dia belum pernah bertemu sebelumnya
"Oh ya seperti apa dia?" tanya diandra penasaran kepada Hera
"Kadang ada saat dimana gw pernah secara tidak sengaja dia sedang marah marah di telpon, entah dia marah sama siapa tapi kemarahannya sangat mengerikan sekali saat itu" ujar Hera mengingat ingat saat waktu di Jerman bersama dengan Alex
"Memangnya elo udah lama kenal dia?" tanya Diandra ingin tahu dan penuh dengan rasa penasaran
"Awal awal sekali, waktu gw kuliah di Jerman, dia yang pertama kali memperkenalkan dirinya sama gw dan dia biang kalau dia ambil jurusan yang sama dengan gw, dan saat gw cari tempat kost dia yang pertama kali nolongin gw cari tempat kost, tempat kerja dan lain sebagainya dan dia selalu ada saat gw butuh bantuan " cerita Hera mengenang saat awal awal pertama kali di Jerman
"Lah emang orang tua elo kemana' masa sih anak perempuan satu satunya dibiarkan begitu saja berkeliaran di negara orang sendirian?" tanya Diandra sambil mencoba memancing Hera
Hera tersenyum meringis mendengar pertanyaan dari Diandra
Diandra yang mendengar itu langsung merasa bersalah, dia merasa iba dengan sahabatnya sendiri, ternyata kekayaan tidak membuat semua orang bahagia, seorang anak masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dan masih membutuhkan sandaran untuk bercerita segala keluh dan kesah mereka
Walaupun Diandra selalu melihat Hera bahagia, namun ada kesedihan yang dia coba simpan dan pendam di dalam hatinya, dia tidak ingin menunjukkan itu semua di depan orang lain, Diandra berpikir mungkin Hera hanya ingin terlihat kuat dan bahagia dia tidak ingin terlihat lemah apalagi bersedih
"Hera.." panggil diandra kepada Hera, membuat Hera menoleh dan menatap Diandra dengan penuh tanya
"Ceritakan apa yang ingin elo ceritakan, jangan elo pendam lagi, kalau elo masih anggap gw sahabat elo, gw selalu ada buat elo, dan selalu mendukung elo asal yang penting elo bahagia" ucap diandra dengan nada serius sambil menatap Hera dengan pandangan penuh rasa sayang sebagai seorang teman, dan sebagai seorang sahabat
"Kadang kita bisa memendam semuanya itu tapi kadang kita juga harus bisa melepaskannya jika itu tidak bisa lagi kita pendam, dan itu ga ada yang salah kok " nasihat Diandra kepada Hera
Hera langsung terdiam mendengar nasihat dari Diandra
"Loe tahu semenjak gw kenal sama elo, gw merasa kalau gw harus meindungi elo tapi ternyata justru terbalik, gw yang harus dilindungi" ucap Hera dengan senyum getir
Diandra yang mendengar itu langsung menghampiri Hera dan menepuk bahu Hera untuk menguatkan dan sekaligus memberikan sedikit penghiburan buat Hera
"Tapi gw janji mulai sekarang, gw akan bercerita jika gw mengalami kesulitan ke elo" ucap Hera sambil tersenyum menatap ke arah Diandra, dan Diandra juga ikut tersenyum
"Itu baru namanya sahabat, saling menjaga dan melindungi" ucap Diandra dengan puas
Dan tidak lama setelah itu, pintu kamar diketuk munculah bunda dari balik pintu
"Waktunya makan malam anak anak" ucap bunda sambil menyuruh Diandra den Hera untuk keluar dari kamar
__ADS_1
"Baik bunda kami akan segera kesana" jawab Diandra sambil tersenyum kepada bunda, dan bunda mengangguk sambil tersenyum kemudian menutup pintu kamar Diandra kembali
"Ayok kita keluar, bunda dan ayah sudah menunggu di meja makan" ajak Diandra melangkah menuju ke luar kamar dan diikuti oleh Hera
Setibanya mereka di meja makan tampak ayah dan bunda sudah siap di meja makan tinggal menunggu Diandra dan Hera saja
"Maaf kami terlambat " kata Diandra sambil nyengir memperlihatkan deretan gigi yang putih
"Tidak apa apa, kami juga baru duduk kok, ayok duduk Hera " jawab ayah dan menyuruh Hera untuk duduk
Mereka pun langsung duduk berhadapan dan mengambil piringnya masing masing
"Gimana kondisi kamu Hera ?" tanya Ayah sambil menyendokkan nasinya ke atas piring
"Saat ini baik baik saja Om, cuman perlu terapi saja biar sembuh" jawab Hera dengan sopan
"Baguslah kalau begitu, kalau ada apa apa jangan segan segan bicarakan kepada kami siapa tahu kami bisa bantu, meski tidak banyak" ucap ayah kepada Hera
"Terima kasih Om, terima kasih karena sudah merepotkan kalian sekeluarga" jawab Hera dengan nada sungkan
"Apanya yang merasa direpotkan, kamu sudah kita anggap sebagai anak sendiri, tidak ada yang direpotkan selagi kami masih bisa membantu akan kami bantu" ucap bunda kepada Hera dengan nada tulus
"Sudah sudah ayok makan, nanti makanan jadi dingin" ajak Ayah kepada keluarganya, dia langsung mengambil lauk pauk dan diikuti dengan yang lain, mereka makan dalam keadaan nikmat dan tidak ada yang bicara selagi makan, semuanya menikmati makanannya masing masing
Ditempat Alfian, tampak Alfian dan donny sedang serius mempelajari perusahaan yang dipimpin oleh Alex
"Perusahaan milik Alex ini memiliki profit yang cukup baik dalam beberapa tahun belakangan ini dan masa depan perusahaan ini sangat bagus, elo udah pernah melihat orangnya kan kemarin itu?" kata Alfian sambil bertanya kepada Donny, menatap Donny dengan pandangan serius
"Gag yakin tapi sepertinya Alex ini adalah juga sekaligus teman dari Hera" ucap Donny dengan nada ragu
"Sebenarnya tidak ada yang tahu siapa pemilik dari perusahaan yang ingin bekerjasama dengan kita, karena orang yang bernama Alex ini tidak pernah mau menampakkan wajahnya dan yang sering muncul di media itu adalah ajudannya bukan si Alex, nah apakah Alex ini adalah orang yang sama atau bukan, gw masih mencari tahu" jawab Donny menjelaskan secara rinci kepada Alfian
Alfian mengangguk setuju atas apa yang telah diceritakan kepada Donny
"Cari tahu dulu sebelum kita menyetujui kerjasama dengan mereka" jawab Alfian memberikan keputusan kepada Donny
Donny langsung mengangguk setuju degan apa yang dikatakan oleh Alfian
"Lalu bagaimana dengan Hartawan sendiri, apa sudah ada informasi mengenai pencucian uang dan penyalahgunaan wewenang?" tanya Alfian kali ini dengan wajah serius kepada Donny
"Belum ada, nampaknya mereka sangat berhati hati dalam kasus seperti ini" jawab Donny dengan suara serius
"Pantau mereka terus, sepertinya mereka ini sangat licin seperti ulat tapi gw yakin pasti akan terbuka juga kalau sudah waktunya, namanya bangkai yang namanya ditutupi pasti busuknya akan tercium juga kan" kata Alfian serius
"Elo benar, pasti akan kebuka juga kedoknya" ujar Donny menyetujui kata katanya Alfian
Alfian langsung bangun dari kursi tempat dia duduk dan mengambil jaket yang dia sampirkan ke kursi kerjanya
"Mau kemana elo?" tanya Donny heran menatap Alfian yang sudah berjalan menuju ke pintu mau keluar
"Ke club yuk, gw mau ke Club mau ketemu sama dua anak itu, kali aja ada informasi yang kita butuhkan dari mulut mereka" ajak Alfian
"Terus pekerjaan elo gimana, ini masih banyak yang harus elo tandatangani?" tanya Donny dengan nada protes, Alfian langsung tersenyum sambil menoleh ke arah Donny
"Tenang itu bisa diatur, kan nanti malam elo nginep di rumah gw" jawab Alfian sambil tersenyum miring ke arah Donny
__ADS_1
"Alamat gw bakalan lembur lagi nih" gumam Donny pelan dengan wajah yang sedikit kesal, takut terdengar sama Alfian karena jika terdengar oleh Alfian bisa bisa dia terkena potongan gaji, maklum saja Alfian itu kadang bisa terkenal dengan royalnya tapi kalau moodnya lagi gag bagus, pasti semuanya akan tampak salah di matanya dan berakhir tidak mendapatkan gaji selama sebualn, percayalah Donny sudah pernah merasakan akan hal itu
Dan sekarang Donny dengan pasrah mengikuti Alfian menuju ke club tempat dimana Andrew dan Tonny berada disana, jika mereka berdua tidak sedang sibuk, dan mereka kini sedang menuju ke sana