Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 146


__ADS_3

"Udah ah gw mau pulang dulu, udah malam gw ngantuk" ucap Alfian sambil berdiri


"Eh gw ikut" teriak Donny, dia langsung bangun dari tempat duduknya dan berlari menyusul Alfian yang sudah berjalan terlebih dahulu ke arah luar


"Elo bukannya tungguin gw, malah langsung maen kabur gitu aja " gerutu Donny


"Lo itu kenapa sih hari ini, tiba tiba murung, tiba tiba ketawa sendiri, terus sekarang malah ngomel ngomel ga jelas" kata Alfian kesal


"Sorry gw bener bener galau" ucap Donny sambil berjalan menuju ke arah parkiran


"Lo mau kemana?" tanya Alfian menyusul Donny dari arah belakang


"Gw mau pulang mau tidur, besok pagi gw mau ke Hera, mulai besok gw yang akan mengejar hatinya bukan hati gw, hati gw sudah benar benar milik dia, hanya milik Ara" ucap Donny yang benar-benar bertekad untuk membuat Hera kembali mencintai dirinya seperti dulu dulu kala


Alfian hanya mengangkat jempolnya lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil masing masing dan berpisah arah ketika mobil mereka keluar dari parkiran


Sementara itu di rumahnya Diandra, tampak mereka berdua sedang mengobrol dengan santai, Diandra berada di kasur bawah sementara Hera berada di kasur atas karena tempat tidur Diandra tidak cukup untuk dua orang


"Tadi jadi ketemu dengan Alex?" tanya Diandra tiba tiba


"Jadi malah dia yang mengantarkan gw sampai ke rumah elo" jawab Hera antusias


Diandra yang mendengar itu langsung terdiam, ingatannya kembali melayang ketika waktu makan malam bersama dengan Alfian yang mengatakan jika ada sesuatu tentang Alex yang harus diwaspadai


"Kata Alex dia pengen ketemu sama elo, dia penasaran sama elo" ucap Hera dengan suara antusias


Diandra langsung menoleh ke arah Hera


"Lo cerita tentang apa saja tentang gw?" tanya Diandra menatap Hera dengan pandangan ingin tahu


"Gw cuman bilang kalau elo adalah sahabat yang paling baik yang gw kenal, dan elo adalah gadis hebat yang pernah gw tahu" ucap Hera dengan bangga

__ADS_1


"Anda terlalu berlebihan sekali" jawab Diandra dengan nada malas


"Loh memang ga berlebihan kok, memang sahabat gw ini sahabat yang pemberani" ucap Hera dengan tulus dan sungguh sungguh


"Iya terima kasih Hera sayang" jawab Diandra sambil tersenyum


"Terus apa yang kalian bicarakan selain bicarakan tentang gw?" tanya Diandra lagi


"Tidak ada hanya keinginan gw yang pengen menyelesaikan kuliah gw dengan cepat, apalagi gw sudah tidak ada alasan lagi buat tinggal" jawab Hera dengan nada sedih


"Dulu gw punya alasan untuk tinggal tapi sekarang tidak ada lagi, semuanya sudah selesai alias finish" kata Hera dengan nada murung


"Lalu bagaimana dengan pengobatan elo kalau elo pindah ke Jerman?" tanya Diandra ingin tahu


"Ya ampun Diandra, kan gw bisa minta surat rujukan dari sini untuk berobat dan menjalani perawatan disana, dan lagian juga gw merasa lebih baik kalo gw tinggal disana entah untuk berapa lama" ucap Hera


"Gw pasti bakalan kangen sama elo" ucap Diandra sedih


"Iya tapi kan beda, ketemuan langsung sama gag" jawab Diandra tidak mau kalah


Hera menghela nafas panjangnya seraya berkata


"Habis mau bagiamana lagi, gw disini juga buat apa, paling cuman buat gangguin elo doang, terus gw ga tau apa ada yang bisa gw pertahanan disini, semuanya menurut gw sia-sia saja"


"Hey, ga ada yang sia sia, percaya aja sama takdir, elo hanya ikuti takdir itu, jangan berpikir macam macam apalagi berpikir kalo elo ga ada artinya, tenang aja semua pengorbanan yang elo lakukan pasti akan membuahkan hasil entah itu kapan"


Diandra menatap Hera sambil memberikan semangat untuknya, Hera langsung tersenyum mendengar ucapan Diandra


"Gw butuh elo yang periang, yang kuat yang selalu menyukai tantangan, karena yang gw kenal pertama kali adalah Hera yang seperti itu bukan yang sekarang ini" kata Diandra sambil menatap Hera


"Yang sekarang ini maksudnya gimana?" tanya Hera bingung

__ADS_1


"Yang sekarang ini yang gw kenal adalah Hera yang rapuh dan mudah menyerah" jawab Diandra tenang


Hera langsung terdiam mendengar jawaban dari Diandra, dia merasa akhir akhir dia berubah dan dia juga merasa itu bukan Hera yang sebenarnya


"Kadang kita pengen bisa menyerah dengan keadaan tapi kita tidak mampu melakukan itu karena kita ingin bisa melewatinya, antara ikhlas dan tidak ikhlas" ujar Hera


"Tapi terkadang juga kita menyadari bahwa kita itu lemah hanya saja kita berpura pura untuk bisa menjadi kuat, untuk bisa menjadi tegar agar orang lain tidak mengira kalau kita ini lemah" ucap Hera dengan dengan suara sedihnya, wajahnya yang muram memandang ke langit langit atas kamar ya Diandra


"Elo tau Hera, dulu saat gw di bully oleh Sandra dan Amel gw merasa gag mampu melewatinya, hampir setiap hari gw dulu di bully, dan gw merasa gw adalah orang yang lemah dan sangat gampang orang membully gw, dan elo datang menolong gw membantu gw dari Bullyan mereka, gw merasa saat itu gw harus berubah, gw kagum sama keberanian elo dan gw pengen bisa menjadi elo, menjadi seorang perempuan yang kuat dan tidak takut dengan apapun juga, dan itu selalu gw tanamkan ke diri gw sendiri, dan gw pengen elo sama seperti apa yang pernah gw lihat dari diri elo" ucap Diandra memberikan semangat kepada Hera, memberikan harapan kepada Hera


"Diandra gw salut sama elo sebenarnya, elo bisa berubah, elo sudah tidak takut sama apapun lagi bahkan sama Sandra sekalipun" ucap Hera dengan suara jujur


Diandra tersenyum kepada Hera


"Kalau elo mau tahu gw sebenernya takut tapi gw coba memberanikan diri buat menghadapi Sandra" ucap Diandra dengan jujur


"Kayak tadi aja tiba tiba Sandra datang ke kantor dan ke ruangan gw" kata Diandra


Hera langsung kaget begitu mendengar cerita dari Diandra, Hera tidak menyangka Sandra berani datang ke ruang kantornya


"Terus terus bagaimana?" tanya Hera ingin tahu


Diandra pun menceritakan kronologis kedatangan Sandra ke ruang kantornya dan bercerita bagaimana Sandra berani mendatangi ruang kantor Alfian hingga akhirnya Alfian mengusir Sandra, lalu Sandra pergi dan menuju ke ruang kantor Diandra


Hera yang mendengar Diandra bercerita seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan merasa sangat kesal dengan sikap Sandra yang seperti tidak punya etika dan aturan, yang seakan akan semaunya sendiri


"Loe tau ga Di, gw rasanya pengen gw tabok tuh mukanya Sandra yang belagu, pengen gw hajar tuh anak" kata Hera dengan nada geram, Diandra langsung tersenyum melihat Hera yang gemas dan kesal


"Sudah lewat juga" kata Diandra


"Iya tapi gw kesal" ucap Hera dengan nada kesal

__ADS_1


"Hera gw ngantuk, kita tidur yuk" ajak Diandra untuk tidur


__ADS_2