GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 100. KEBUN BUNGA UNTUK ISTRI


__ADS_3

Arimbi saat ini tidak tahu kalau dia kembali menyulut kemarahan suaminya itu. Dia masih tidak sadar dan dia dengan santainya mengantar Joana pulang setelah itu Rino mengantarkan Arimbi kembali ke kediaman Serkan. Setelah sampai dirumah, Arimbi pun mencoba untuk mulai menulis hukumannya.


Dia tidak tahu harus menulis apa selain menuliskan kesalahannya dan dia tidak akan mengulangi lagi dikemudian hari. Apakah aku harus menyontek milik orang lain? Pikirnya.


“Emir kan tidak bilang isinya harus apa? Dia hanya memberiku batasan kata saja.” gumamnya.


Tiba-tiba ide cemerlang muncul dikepalanya, Emir tidak memberitahunya kalau dia harus menulis apa. Sepertinya dia hanya perlu menulis sepuluh ribu kata saja walau itu akan memerlukan waktu.


Jadi dia pun mulai menulis, “Emir suamiku, aku sadar aku salah.” dia menulisnya beberapa kali. “Aku berjanji tidak akan mengebut lagi.” dan akhirnya dia berhasil menyelesaikan tulisan sepuluh ribu katanya saat Emir pulang kerumah pada malam hari. Dia sengaja menunggu kedatangannya di halaman depan dan ketika dia melihat suaminya, dia berseru sambil tersenyum, “Emir!”


Seperti biasa, pengawal yang mendorong kursi rodanya menyingkir dan membiarkan Arimbi mendorongnya masuk kedalam rumah.


“Apa tulisanmu sudah selesai?”


“Ya. Tidak hanya sepuluh ribu kata saja, aku malah kelebihan sepuluh kata. Sudah kuhitung.” ucapnya bangga dan bersemangat.


Emir hanya memalingkan wajahnya menatap Arimbi sekejap tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah mereka masuk kerumah, Arimbi membantunya duduk di sofa. Lalu dia segera menyerahkan tulisan yang telah selesaikan dan menunggu reaksi suaminya. “Lihatlah Emir. Sudah selesai.”


Emir mengambil buku itu dari tangan Arimbi dan melihat dia telah memakai beberapa lembar untuk menulis refleksi dirinya.


“Apa semua ini pekerjaanmu sendiri? Jangan-jangan menyontek milik orang lain.” ujarnya agak skeptis saat dia membuka halaman demi halaman buku yang telah terpakai.


“Emir, aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Aku sangat menyesali perbuatanku dan aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Aku berusaha keras untuk menulis ini semua selama berjam-jam lamanya. Aku tidak menyontek milik siapapun. Aku melakukan semuanya dengan hatiku, Emir. Aku sangat mencintai suamiku dan tidak ingin mengecekanmu. Aku ingin kamu merasa bangga pada istrimu yang sangat cantik ini,” ujar Arimbi memasang wajah memelas dan polosnya.

__ADS_1


Emir terus saja melirik istrinya itu dengan curiga, meskipun di sudut hatinya dia merasa senang kata-kata istrinya yang memanggilnya dengan sebuatan suamiku. Dia menundukkan kepala dan melihat tulisan refleksi diri milik istrinya itu. Lalu dia melihat tulisan, “Emir suamiku, aku tahu aku salah. Aku janji tidak akan mengebut lagi. I love you suamiku.”


Dia lalu membalik-balikkan halamannya dan melihat serangkaian kata-kata yang sama diulang-ulang. Tidak hanya itu, tulisan tangannya dari halaman pertama terlihat bagus namun diakhir halaman seperti coret-coretan biasa. Dia tidak mengatakan apapun dan terus menatap kertas itu.


Dia memasang ekspresi yang misterius yang tidak bisa dimengerti oleh Arimbi tapi wanita itu sudah punya pikiran horor tentang suaminya yang gemar mengerjainya itu. Kemudian Emir mengayun-ayunkan kertas-kertas itu dan bertanya dengan dingin, “Jadi ini sepuluh ribu kata mu?”


Arimbi sudah siap dengan amarahnya, dia tidak akan membiarkan suami tampannya itu mempermainkan dan mengerjainya lagi, “Iya. Kamu akan tidak menyuruhku menulis apa, Emir! Kamu hanya mau aku menulis sepuluh ribu kata. Dan aku sudah mematuhinya sesuai perintahmu kan?”


Emir kembali terdiam ketika dia menyadari kalau kata-katanya telah diakali oleh istrinya yang licik bak rubah betina itu.


Saat Arimbi melihat kalau Emir hanya membolak-balikkan kertas itu, Arimbi pun menghela napas lega sambil menatapnya, dia telah lulus dari hukuman kali ini. Namun itu juga berarti kalau dia tidak bisa mengemudi lagi mulai sekarang, kini suami dan ibunya sudah bekerjasama untuk menghukumnya.


“Emir, kamu pasti lapar kan. Ayo makan dulu.”


“Emir, bolehkah aku….main sebentar?” tanyanya. Dia sangat tertarik dengan bunga-bunga yang ditanam. Beberapa diantaranya sudah mekar dan beberapa masih kuncup.


Ada beberapa jenis bunga dikediaman Serkan dan membutuhkan lebih dari sepuluh tukang kebun untuk merawat. Ketika musim berbunga tiba, semua bunga di seluruh kediaman itu akan mekar membuatnya terlihat semakin cantik dan indah. Di sisi lain tidak banyak bunga di villa Emir hanya ada beberapa pohon hiasan yang terus hijau sepanjang tahun.


Itulah mengapa Arimbi merasa penasaran saat dia melihat Beni menyuruh pekerjanya membawa bunga-bunga di pot kedalam pekarangan villa Emir.


“Pergilah.” ujar emir dengan datar lalu dia menggerakkan kursi rodanya sendiri menuju pavilliun tempat biasa dia makan. Awalnya Arimbi merasa ragu-ragu tapi dia sangat penasaran dan akhirnya dia pergi menemui Beni.


Rino hanya diam melihat kedua orang itu lalu dia perlahan berjalan ke belakang Emir dan membantunya mendorong kursi rodanya. Kabar tentang Emir yang menyuruh Beni menghiasi pekarangan villa dengan bunga-bunga pun segera menyebar ke seluruh komplek villa itu tapi tak ada seorangpun yang berani menggosip tentang dia.

__ADS_1


Emir tahu kalau istri nakalnya itu suka bunga makanya Emir melakukan semua itu demi menyenangkan hati istrinya. Ini bahkan diluar kebiasaannya, dia tidak pernah menyenangkan hati orang lain tapi sepertinya dia memang mulai memanjakan istri nakal dan tak tahu malunya itu.


Arimbi sangat menyukai bunga dan tanaman. Arimbi sering bermimpi punya taman bunga sendiri yang bisa dia kunjungi untuk menenangkan diri ketika dia senggang. Dia juga banyak menanam bunga dan tanaman lainnya dirumah lamanya.


Beni menyuruh beberapa pekerja untuk membawa beberapa pot bunga seperti peony, camelia, geranium, paenonia, begonia dan berbagai macam bunga lainnya. Ada juga berbagai macam tanaman sekulen yang turut dibawa.


“Darimana semua bunga ini? Cantik sekali! Lihatlah tanaman-tanaman sekulen itu! Mereka terlihat sangat bagus semakin lam aku melihatnya.” seru Arimbi kegirangan sambil mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar. Dia bahkan mengambil beberapa foto selfie dirinya diantara bunga-bunga yang sedang mekar. Kebetulan dia memakai pakaian yang terlihat semakin serasi dengan latar belakang bunga bermekaran.


“Saya mendapatkan semua bunga dan tanaman ini dari penjual bunga. Ada beberapa yang diambil dari kebun. Apa Nyonya Muda Arimbi suka bunga-bunga ini? Sebenarnya musim bunga ini sudah lewat tapi tunggu hingga musim berikutnya. Pekarangan ini akan terlihat seperti di dongeng-dongeng ketika semua bunganya mekar semua.” ujar Beni menjelaskan.


“Aku suka! Semuanya cantik sekali!” Arimbi terus mengambil foto sambil mengangguk. “Mawar mawar ini juga cantik. Aku dulu tidak begitu menyukai mawar tapi sekarang aku menyukainya.”


“Aku senang kalau Nyonya suka semua bunga dan tanaman ini.” jawab Beni. ‘Syukurlah usaha Tuan Emir tidak sia-sia. Selama bertahun-tahun bekerja disini, ini pertama kalinya Tuan Emir berusaha menyenangkan hati wanita dengan mengisi pekarangan dengan bunga.’ bisik Beni dalam hatinya.


“Nyonya Muda Arimbi, silahkan makan dulu. Aku akan meminta pekerja untuk menaruh pot-pot ini. Mereka akan terlihat berbeda ketika Nyonya dan Tuan Muda sudah selesai makan nanti. Sekarang semuanya masih terlihat berantakan.”


Memang benar yang dikatakan Beni, semua masih acak-acakan karena pot bunganya masih belum ditata dengan benar.


“Baiklah aku akan memfoto beberapa bunga lagi sebelum aku pergi.” ucap Arimbi. Tak hanya syik mengambil foto tanaman sekulen itu, dia juga mengambil foto beberapa bunga yang masih mekar. Mereka akan menjadi harta karun tak ternilai di galeri ponselnya.


Arimbi terus saja mengambil foto sebelum dia akhirnya pergi ke pavilliun dan menghampiri Emir dengan perasaan puas. Berbagai macam hidangan mewah telah disiapkan di meja pavilliun itu. Emir duduk disana sendirian dan alih-alih menunggu istrinya, dia makan duluan. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia tidak puas dengan makanan yang telah disiapkan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2