GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 118. SAUDARI IPAR


__ADS_3

Arimbi tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, tapi didalam hatinya dia tahu dia harus bekerja kera. Kalau dia tertinggal jauh dari teman-teman sebayanya yang sudah mengelola bisnis diusia yang sama dengannya.


Dia harus bisa jauh lebih unggul dari Amanda, ada banyak hal tentang Arimbi yang belum diketahui orang lain bahkan Emir sendiripun belum tahu. Hal yang baru diketahui Emir adalah kalau istrinya punya keterampilan dibidang seni sedangkan keterampilan lain dia tidak tahu.


Sedangkan Amanda sudah mengenal pengelolaan bisnis sejak dia belia tepatnya saat dia masuk ke perusahaan setelah lulus sekolah. Jadi pengalaman kerjanya sebelumnya sangat membantu dia untuk naik jabatan walaupun dia harus mulai dari awal. Tak butuh waktu lama bagi Amanda untuk mencapai jenjang sebagai wakil direktur perusahaan dan dihormati banyak orang.


Arimbi terinspirasi dari kesuksesan Amanda dan bertekad kuat, “Aku tidak lelah sama sekali Emir. Aku harus belajar lebih keras lagi agar aku bisa mengalahkan Amanda! Aku sudah tetinggal jauh.”


Emir memiringkan kepalanya dan memandang mata istrinya dengan serius. Disaat keduanya saling berpandang-pandangan, Arimbi merasakan aura mengintimidasi dan dominasi dari suaminya itu. Tak ada yang bicara selama perjalanan hingga akhirnya mereka tiba di rumah.


Sementara itu Beni dan Desi sedang menunggu kedatangan mereka dipintu masuk villa. Saat mereka melihat pasangan itu, Desi dengan sopan menyapa Emir yang berada dikursi roda yang didorong oleh Rino. Pada saat bersamaan Emir bertanya pada Desi, “Kamu datang kesini membawa pesan nenek?”


Saat Desi melihat Arimbi berada disamping Emir tanpa mendorong kursi roda, Desi dengan sopan menjawab, “Tuan Muda Emir, nenek Serkan ingin bertemu Nona Arimbi karena itu saya berada disini menunggu kedatangan kalian berdua.”


“Nenek Serkan ingin bertemu denganku? Bukankah seharusnya dia sudah tidur sekarang?”


“Benar Nona Arimbi. Silahkan ikuti saya.” ujar Desi lagi. Dia bereaksi dengan tenang dan mengulurkan tangannya untuk menunjukkan jalan pada Arimbi.


Awalnya Arimbi merasa ragu-ragu dan melirik Emir yang tidak menunjukkan reaksi apapun. Namun dia menjawab, “Tunggu dua menit Desi! Aku mau menaruh tas dan dompetku dulu dirumah.”


“Tuan Beni bisa melakukannya untukmu Nona Arimbi. Nenek Serkan sudah menunggumu lama.”

__ADS_1


Arimbi hanya menjawab dengan deheman dan memberikan barang bawaannya pada Beni sebelum pergi bersamaDesi. Ketika mereka tiba dikediaman utama, dia tidak melihat keberadaan Layla disana hingga saat kepala pelayan menghampiri dan berkata, “Nenek Serkan berada di kamarnya. Mohon ikuti saya Nona Arimbi.”


Mendengar ucapan kepala pelayan bernama Yaya itu, Arimbi pun mengikuti Yaya ke kamar Layla dilantai dua setelah Desi pergi. Saat mereka berdua sampai didepan pintu kamar Layla, Yaya menghentikan langkahnya dan berkata dengan serius, “Nona Arimbi, Nenek Serkan sudah tidur. Tolong tunggu disini.” Kemudian dia berjalan pergi setelah menyelesaikan perkataannya.


“Yaya! Karena nenek sudah tidur kurasa lebih baik aku datang kembali besok.” Arimbi benci disuruh menunggu hingga fajar tiba hanya untuk menunggu Layla Serkan bangun. Yaya berhenti sejenak dan menatap Arimbi, “Nenek Serkan secara khusus berkata kalau anda harus menunggu disini sebelum beliau tidur. Saya mohon agar anda mengindahkan perintah beliau.”


Ucapan kepala pelayan itu mengindikasikan bahwa Arimbi tidak punya pilihan lain selain menunggu disini hingga besok pagi. Sedangkan disisi lain Arimbi menduga jika Layla Serkan marah padanya karena pulang terlambat.


Dia yakin itulah alasan kenapa kepala pelayan itu menyuruhnya menunggu hingga esok pagi. Saat Yaya berbalik dan hendak pergi, dia kembali berkata pada Arimbi, “Pintu gerbang diluar sudah dikunci. Sebaiknya anda menunggu disini hingga Nenek Serkan bangun.”


Ekspresi wajah Arimbi berubah menjadi muram, dia merasa terganggu karena pintu gerbang yang sudah terkunci. Kenapa mereka harus menguncinya? Sudah jelas kalau mereka berusaha menahannya disana dan menghalanginya kembali kerumah Emir.


Tak berselang lama langkah kaki Yaya sudah tidak terdengar lagi tapi dia mendengar suara seseorang yang membuka pintu. Muncul kepala Elisha dari balik pintu yang sedang mengintip Arimbi lalu berkata, “Nona Arimbi!” Elisha melambaikan tangannya pada Arimbi  sambil tersenyum.


“Nona Elisha.” Arimbi berjalan kearah Elisha.


“Psssttt!” Elisha memberinya kode agar bergegas masuk kekamarnya. Setelah menutup pintu kamaar dia menatap A rimbi dan berkata, “Nona Arimbi, nenekku mudah bangun mungkin suaramu bisa membangunkannya. Biasanya dia rewel kalau tidurnya terganggu dan aku tidak mau itu terjadi.”


Kemudian dia menggenggam tangan Arimbi dan berjalan berdampingan lalu mereka berdua duduk.


“Omong-omong kenapa kamu pulang selarut ini? Nenek menunggumu sangat lama dan aku yakin dia tidak senang. Mungkin itu yang membuat Yaya menguncimu disini.”

__ADS_1


“Kenapa Nenek Serkan memanggilku? Apa kamu tahu apa yang terjadi Nona Elisha?”


Elisha menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Aku masih diluar sampai sore, yang aku tahu nenek menyuruh Desi mengecek apakah kamu sudah pulang atau belum selama setengah jam sekali. Tapi saat kmau tidak ada wajah nenek berubah menjadi muram. Kami juga tidak bicara lama setelah makan malam karena takut nenek akan lepas kendali dan memarahi kami.”


Meskipun elisha adalah putri kesayangan keluarga Serkan tapi dia tidak berani menentang keinginan neneknya.


“Tadi aku masih lembur di kantor.” jawab Arimbi jujur. “Beni punya nomor teleponku kalau Nenek ingin bertemu denganku seharusnya dia bilang pada Beni untuk menghubungiku.”


“Tunggu…..tunggu….kamu punya pekerjaan? Bukankah kamu seharusnya merawat kakakku? Kenapa kamu masih bekerja? Apa kamu tidak dibayar untuk merawat kakakku?”


“Ya, kamu benar. Aku tidak dibayar karena Emir bilang padaku untuk mencari penghasilan sendiri. Itulah alasannya aku memutuskan untuk bekerja dan menghasilkan uang sendiri.”


Elisha tersenyum dan berkata, “Kamu keren sekali Nona Arimbi! Kamu itu anak Keluarga Rafaldi kenapa masih repot-repot kerja mencari uang? Aku dengar kalau ibumu memberimu lima puluh juta rupaih setiap bulan untuk uang sakumu. Dengan asumsi kamu menghabiskan satu juta perhari. Itu jumlah uang saku yang banyak dan kamu juga bukan tipe orang yang suka menghabiskan uang. Tidak mungkin kamu menghabiskan semua uang sakumu kecuali kamu memakai uang itu untuk membantu ibu angkat dan keluarganya.”


“Sepertinya kamu tahu banyak tentangku Nona Elisha.” jawab Arimbi agak canggung.


Elisha tersenyum mendengar perkataan Arimbi. Walaupun Elisha dikenal sebagai putri dari keluarga  kaya dan berpengaruh tapi elisha lebih suka bersikap rendah hati dan tidak angkuh seperti kebanyakan anak-anak orang kaya lainnya.


Jauh dilubuk hatinya, Arimbi merasa Elisha tidak bisa didekati sama sekali karena mereka jarang berinteraksi sejak terakhir kali mereka bertemu.


“Kami mendengar beberapa berita bahwa ada penipu di keluargamu. Semua orang mengakses internet mungkin tidak akan melewatkan cerita menarik tentang kembalinya dirimu sebagai keluarga kaya. Mau bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu, begitu juga aku.”

__ADS_1


__ADS_2