GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 401. RENCANA BARU


__ADS_3

Dua hari setelah pesta pernikahan Emir dan Arimbi berlalu. Keduanya pun kembali ke kediaman keluarga Serkan. Namun Emir sudah harus kembali disibukkan dengan urusan perusahaan. Karena Zach, sepupunya akan segera kembali dari luar negeri dan mengambil alih kepemimpinan di Rafaldi Group jadi Emir memutuskan untuk menemui mertuanya hari ini.


Tampak Arimbi yang sudah bersiap dan sedang duduk didepan meja rias dengan rambut yang masih basah. Emir menghampiri lalu merebut hair dryer dari tangan Arimbi.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya Arimbi menatap Emir dari cermin didepannya.


“Mengeringkan rambutmu! Kamu bisa sambil merias wajahmu! Kita harus bergegas ke kantor ayahmu.” ucap Emir yang mulai mengeringkan rambut istrinya.


“Apakah kamu yakin kalau ayahku akan betah dirumah saja? Dia sudah bertahun-tahun bekerja mengurus perusahaan. Aku khawatir kalau ayah akan merasa bosan.” ucap Arimbi.


“Dia tidak akan bosan. Mereka bisa menghabiskan waktu mereka bersama, pergi liburan! Kalau dia bosan dia masih bisa datang ke perusahaan kapanpun. Zach hanya mengambil alih kepemimpinan perusahaan! Perusahaan itu tetap milik keluarga Rafaldi!”


“Aku tahu itu. Ehm, bagaimana kalau ayah membantuku mengurus mall milikku saja?”


“Tidak bisa! Sudah waktunya ayah mertuaku istirahat dan tidak pusing memikirkan urusan perusahaan lagi. Zach ahli dalam bidang teknologi! Aku yakin dia akan membuat Rafaldi group semakin berjaya. Aku berencana akan membuat produksi baru di Rafaldi group!”


“Sayang, kenapa nenek meminta Zach yang mengelola perusahaan keluargaku?” tanya Arimbi lagi.


“Karena kedua keluarga sudah menyatu! Kami punya perusahaan yang bergerak dibidang teknologi, tapi ada materialnya yang di produksi oleh Rafaldi Group. Jadi aku berpikir, kenapa tidak menggunakan perusahaan mertuaku saja untuk memproduksi produk baru itu?”


“Oh begitu ya. Aku tidak tahu masalah bisnis makanya aku bertanya.”


“Apa kamu khawatir keluarga Serkan akan mengambil alih perusahaan keluargamu?”


“Bukan begitu! Mana mungkin itu terjadi! Aku akan marah padamu dan membawa anakku pergi jauh kalau kamu melakukan itu.” ancam Arimbi mengerucutkan bibirnya.


“Seumur hidup kamu tidak akan pernah bisa pergi Arimbi!” bisik Emir ditelinga Arimbi lalu mencium tengkuk istrinya sambil tersenyum. “Jangan mengancamku dengan menggunakan anakku!”


“Hahahaha……kita lihat saja nanti! Kalau anak kita sudah lahir, apa mereka akan lebih membelamu atau membelaku!” ucap Arimbi. “Tapi----kenapa perutku besar sekali ya? Padahal aku kan baru  memasuki bulan ketiga?”


“Itu karena kamu terlalu banyak makan?” sahut Emir yang sudah selesai mengeringkan rambut Arimbi. Dia mengambil jepitan rambut swarovski lalu menjepit rambut istrinya. Tampilan wanita itu terlihat segar dan bersinar. “Cantik.” puji Emir tersenyum.

__ADS_1


“Kenapa kamu pandai menata rambutku begini?” Arimbi menatap rambutnya yang dijepit dengan jepitan indah yang diberikan nenek Serkan.


“Aku terpaksa belajar! Karena istriku terlalu manja dan selalu memintaku mengikat rambutnya!”


“Hahaha……itu karena suamiku terlalu memanjakanku. Apa kamu sedang memprotesku sekarang?”


“Tidak! Aku tidak berani protes. Istriku selalu benar! Kalau dia marah nanti aku didiamkan berhari-hari dan itu sangat tidak menyenangkan!” ucap Emir memeluk Arimbi dari belakang. “Sebaiknya kita berangkat sekarang.”


Arimbi dan Emir berjalan menuruni tangga. Disana mereka sudah disambut oleh kepala pelayan dari rumah utama juga yang baru datang membawakan barang pemberian Layla Serkan untuk Arimbi.


“Nyonya, ini ada barang dari Nyonya Besar untuk anda!” ucap Yaya.


“Ehm……apa itu? Nenek baru memberiku barang baru kemarin. Kenapa memberiku barang lagi?”


“Oh ini adalah skin care dan kosmetik untuk Nyonya!” ucap Yaya.


Arimbi merasa terharu, karena Layle Serkan sangat menyayangi dan memanjakannya sekarang. Arimbi bahkan diberikan kepercayaan sebagai orang yang mengatur keuangan keluarga. Meskipun bukan Arimbi langsung yang melakukannya tapi orang kepercayaan keluarga Serkan yang sejak lama mengurus pembukuan dan keuangan keluarga itu.


“Beni, tolong letakkan barang-barang ini dikamarku.”


Kepala pelayan itupun langsung memanggil seorang pelayan untuk mengambil barang-barang itu dari Yaya lalu membawanya ke kamar Arimbi.


“Yaya, tolong sampaikan terima kasih pada nenek. Aku akan menemuinya nanti sepulang dari tempat ayahku.” ucap Arimbi. Dia tahu kalau Emir sudah menggenggam tangannya dengan erat karena sudah tidak sabar untuk segera pergi.


“Baiklah Nyonya.” Yaya menundukkan kepalanya hormat lalu beranjak dari villa itu.


Emir dan Arimbi pun meninggalkan villa dan pergi menuju ke perusahaan ayahnya.


...**********...


“Apa rencanamu sekarang? Tidak mungkin kamu pergi ke cafe mu kan?” ucap Grace menatap Joana yang sedang menyantap roti bakar.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu! Menurutmu apa yang harus ku lakukan dengan cafe ku? Seharusnya cafe itu sudah dibuka! Aku harus menghubungi Arimbi dan membicarakan hal ini padanya.”


“Jangan hubungi dia sekarang. Masih terlalu pagi,pasti dia masih tidur.” ucap Grace.


“Oh iya, aku mendapat kabar kalau Tuan Harimurti mengerahkan banyak orang untuk mencarimu! Tapi kenapa dia tidak membuat pengumuman orang hilang di media ya? Itu akan memudahkannya mencarimu.” Grace bicara sambil melangkah kearah dapur lalu membuka kulkas. Dia menuangkan susu kedalam gelas dan membawanya keruang tamu.


Sambil menyesap susu digelasnya, dia menatap Joana yang terus saja mengunyah. “Selera makanmu semakin meningkat! Apa itu pengaruh kehamilanmu?”


“Siapa yang bilang aku hamil?” Joana melotot pada Grace.


“Kamu terlihat seperti ibu hamil!” balas Grace.


“Apa kamu sudah periksa ke dokter? Apa tamu bulananmu sudah datang atau telat?”


Mendengar perkataan temannya, Joana langsung menghentikan makannya lalu menoleh pada Grace. Dia terdiam dan berpikir sejenak. ‘Apa benar ya? Tapi kalau aku hamil seharusnya aku merasakan morning sickness seperti Arimbi? Tapi aku memang sudah terlambat datang bulan.’ pikirnya. Joana mulai galau memikirkan itu dan dia teringat apa yang dia lakukan bersama Dion selama ini.


“Grace! Bagaimana kalau aku hamil? Apa Dion akan marah seandainya dia tahu?” kecemasan tampak di wajah Joana. Memikirkan pria itu membuat suatu rasa muncul didalam hatinya. Ada sedikit kerinduan pada pria itu, namun dia langsung menepis perasaan itu. ‘Buat apa aku merindukan pria posessif itu! Seenaknya dia mengurungku dirumah!’


“Lalu apa rencanamu kalau ternyata kamu hamil?” tanya Grace meletakkan gelasnya diatas meja.


“Aku juga bingung. Tapi aku akan menemui Dion nantinya! Tidak sekarang! Sementara ini aku hanya ingin menghilang supaya dia bisa merasakan kehilangan. Dengan cara ini aku bisa tahu apa dia memang mencintaiku atau tidak.” Joana tersenyum.


‘Pria seperti Dion itu sama persis seperti Emir! Dia bahkan mengancamku melalui keluargaku! Mana mungkin aku bisa sembunyi terus darinya. Tapi ada bagusnya juga aku menikmati hari-hariku sebagai Angel dan bukan Joana!”


“Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka pasti cemas jika mereka tahu kalau kamu menghilang.”


“Ehm….Grace! Bisakah kamu membantuku?” tiba-tiba Joana terpikirkan sesuatu.


“Apa itu?”


“Hubungi orangtuaku dan pura-pura menanyakanku! Kamu bisa pura-pura tidak tahu apapun tentangku. Kamu kan belum lama kembali dari luar negeri! Pasti mereka percaya pada omonganmu.” Joana mengerjapkan matanya menatap Grace dengan wajah memelas.

__ADS_1


“Soal itu gampang! Apa kamu mau aku menelepon mereka sekarang?” tanya Grace.


__ADS_2