GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 58. MENGGODA SUAMI


__ADS_3

“Kau boleh meminta Arimbi menemanimu malam ini dan membuatnya mabuk tetapi kau tidak boleh menyentuhnya. Kita akan menyuruh seseorang untuk tidur dengannya dan kau bisa kembali padanya setelah semua berakhir. Saat Arimbi bangun,  masuklah ke kamar mandi dan biarkan dia melihatmu keluar dari sana dan itu sudah cukup. Kau tidak perlu repot dengan hal lainnya. Maka dia akan mengira kalau kau sudah tidur dengannya.”


“Reza, bagaimana menurutmu ideku barusan?” tanya Amanda. Jika Reza setuju maka dia tidak perlu tidur bersama Arimbi dan semuanya akan berjalan sesuai rencananya. Reza berpikir sejenak lalu dia pun setuju dengan saran Amanda karena ide itu sangat bagus, lalu dia tertawa.


“Amanda, kau sangat pintar! Hahaha….kami akan lakukan sesuai saranmu. Aku akan memberitahu klienku untuk menemuiku di Hotel jadi akan mudah bagiku untuk mengatur semuanya.”


“Ingat ya Reza! Kau tidak boleh tidur dengannya atau aku akan membuatmu menanggung akibatnya.” Amanda pun mengancamnya.


“Amanda sayang, karena kita sudah punya rencana bagus aku pasti tidak akan melakukan apapun untuk mengkhianatimu. Tenang saja, aku hanya milikmu dan akan selalu menjadi milikmu.” kata Reza berjanji pada Amand. “Kamu tunggu saja kabar baik dariku.”


“Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya dan menemuimu di hotel itu dan menunggumu disana. Aku tidak akan bisa tenang sampai aku bertemu denganmu.” ujar Amanda.


“Hahaha….baiklah. Kau boleh mengawasi kami diam-diam.”


Amanda selalu bersikap sesuka hatinya namun pria itu menyukai sifatnya sebab itu berarti Amanda mencintainya. Sedangkan Reza mulai tinggi hati, bahkan seorang wanita sukses seperti Amanda sangat mencintainya hingga dia begitu yakin bahwa dia dapat mengatasi seorang udik seperti Arimbi.


...*****...


Arimbi baru keluar dari kamar mandi setelah keramas, dia melihat Emur duduk di tempat tidurnya. Dia mengambil bingkai foto diatas nakas dan mengamatinya, foto itu adalah gambar Arimbi bersama keluarganya. Ketika Arimbi meninggalkan rumah orang tua angkatnya, ibu kandung Arimbi menolak mengizinkannya membawa barang apapun dan berkata bahwa mereka akan membeli yang baru. Akhirnya Arimbi hanya membawa foto itu bersamanya.


“Emir, kenapa kamu tidka tidur?”


Emir meletakkan bingkai foto itu kembali pada tempatnya dan menatap Arimbi. Ketika dia melihat rambut Arimbi yang basah. Dia mengeryitkan dahinya dan berkata, “Kamu tidak tahu bagaimana mengeringkan rambutmu dengan handuk?”


“Tidak apa-apa. Aku akan menggunakan pengering rambut saja biar rambutku cepat keringnya.”


Arimbi berjalan mengambil pengering rambut, dia melirik Emir dan dengan ragu-ragu bertanya, “Emir, menurutmu apakah aku bisa menikmati seorang pria tampan yang sedang menungguku?”

__ADS_1


Lalu dia memberikan pengering rambut pada Emir, “Bisakah kamu membantuku mengeringkan rambutku?”


“Aku tidah bisa menggunakan kakiku tapi kamu bisa menggunakan tanganmu!”


Arimbi langsung mengatupkan bibirnya, tetapi dia menduga bahwa pria itu akan mengiyakannya.  Arimbi mulai mengeringkan rambutnya sedangkan Emir terus memandangnya dalam diam. Setelah dua menit, dia beranjak dari kursi roda dan mengulurkan tangannya untuk mengambil pengering rambut itu.


“Emir, rambutku hampir kering, jadi aku tidak akan mengganggumu. Kenapa kamu tidak kembali saja ke kamarmu dan beristirahat?” ucap Arimbi menatap Emir.


“Ini kamarku juga!”


“Hahaha….oh ya ampun! Aku jamin kamu pasti akan lari. Aku bingung bagian apa yang membuatmu malu? Kamu juga tidak bisa melakukan itu lagi, lantas kenapa kamu takut kalau aku akan memaksamu dan memperkosamu?”


Emir memelototi Arimbi, “Seharusnya kamu tidak bicara seperti itu.”


“Memangnya kenapa? Aku tidak mengucapkan sumpah serapah.” balas Arimbi.


Emir pun terdiam. ‘Benar juga sih, dia kan hanya mengejekku saja! Dia tidak ada mengucapkan sumpah serapah. Dasar wanita tak tahu malu ini? Apa katanya tadi memaksa dan memperkosaku? Huh! Apa dia bahkan sanggup? Belum tahu dia kalau aku ini normal!’ bisik Emir didalam hatinya.


Ponsel Arimbi berdering ‘Tak pernah ku menyerah, kecewa pun tidak akan. Aku tak akan lari dan melepasmu…..’


Nada dering terbarunya terdengar keseluruh kamar karena volumenya full. Emir yang mendengar lagu lama itu langsung bertanya, “Kapan kamu mengganti nada deringmu dengan lagu ini?”


“Baru-baru ini. Aku menyukai lagu ini. Bagaimana menurutmu? Kamu suka ngak?”


Emir mengerucutkan bibirnya dan mendengus.


Arimbi melihat nama penelepon dan mengetahui bahwa Reza yang menghubunginya. Dia segera melirik Emir dan walaupun pria itu sedang mengeringkan rambutnya tapi Emir sudah melirik ke ponsel Arimbi dan tahu siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


“Kamu bilang kalau kamu tidak mencintainya dan kamu tidak ingin menikahinya. Tapi kamu masih menyimpan nomornya.” kata Emir ketus.


“Aku akan meblokirnya setelah mengangkat panggilan ini.” jawab Arimbi.


“Tidak perlu! Kalau kamu memblokirnya kamu hanya membuang waktumu saja. Biarkan saja nomor itu, mungkin dengan begitu kamu bisa mengetahui apa yang ingin kamu ketahui.”


Ucapan Emir ada benarnya juga dan Arimbi tidak akan menikah dengan Reza tapi dia masih harus mencari bukti Reza dan Amanda bersekongkol melawannya. Ini berarti bahwa dia harus tetap terhubung dengan mereka.


“Angkat panggilan itu.”perintah Emir. “Pakai mode pengeras suara.”


“Baiklah.” ujar Arimbi ketika dia menjawab panggilan dia teringat langsung mengubah nama kontaknya menjadi “BAJINGAN”.


“Halo, Arimbi!”


Suara Reza terdengar melalui pengeras suara dan Emir langsung mematikan pengering rambut agar bisa mendengar perbincangan Reza dan Arimbi.


“Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku? Apa kamu sudah tidur?”


Reza kesal karena Arimbi lama sekali baru mengangkat panggilannya. Dulu, Arimbi akan langsung menjawab panggilannya dan tak pernah membuat Reza menunggu.


“Apa yang kamu mau.” ujar Arimbi dingin yang membuat Reza semakin jengkel.


“Arimbi, apakah kamu masih dirumah Keluarga Serkan? Bagaimana kalau kamu datang menemaniku menemui klienku? Aku akan menjemputmu.”ucap Reza berusaha tetap tenang.


“Aku ada janji untuk bertemu klien ku jam sembila dan sekarang masih awal. Masih ada cukup waktu untuk menjemputmu.”


‘Hah? Menemani Reza bertemu klien?’ sontak Arimbi kembali ingat ke kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


Dia ingat di kehidupan sebelumnya, dia pergi bersama Reza bertemu klien dan pada saat itu dia mabuk. Ketika bangun dia melihat Reza keluar dari kamar mandi dan mengira bahwa mereka telah tidur bersama malamnya.


Pada saat itulah dia sadar kalau keperawanannya telah hilang karena pria itu. Arimbi merasa senang dan menduga bahwa Reza akan bertanggung jawab atas perbuatannya dan menikahinya. Arimbi tidak pernah mengira bahwa ini akan terjadi lagi di kehidupan sekarang saat dia terlahir kembali. Arimbi belum menjawab saat Emir menyalakan pengering rambut dan menarik rambut Arimbi.


__ADS_2