
“Ibu, Emir sangat marah saat ini. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah menjelaskan padanya tapi dia masih mengusirku dari mobil. Dia bahkan ingin aku menculik pengantin pria. Apakah dia senang kalau aku melakukan hal semacam itu? Kenapa dia menyuruhku menculik Reza?”
Arimbi belum menyelesaikan kalimatnya, tapi ibunya sudah mengetuk dahinya lagi dengan gemas.
“Apakah kamu tak sadar kalau dia berkata begitu karena marah dan cemburu?”
Mendengar itu Arimbi menjawab dengan suara lemah, “Tapi dia mengusirku dari mobil.” Bahkan wanita sekuat dia bisa menangis dalam waktu lama.
“Saat sedang marah dan cemburu, orang cenderung melakukan hal ceroboh. Aku paham perasaannya. Tapi karena kamu adalah putriku, ibu mana yang tega melihat putrinya sengsara?”
“Ibu, kurasa aku tak akan pulang malam ini. Aku akan tinggal disini selama beberapa hari. Aku juga bisa menemani ibu dirumah kan.”
Sebenarnya Arimbi takut berhadapan lagi dengan Emir yang sikapnya tak bisa diprediksi.
“Saat ini ibu tak butuh untuk kamu temani. Saat aku menua dan membutuhkanmu untuk merawatku, kamu harus meluangkan waktu untuk mengunjungiku. Sekarang naiklah keatas, mandi lalu ganti bajumu. Gunakan rok atau dress. Aku akan mengantarmu pulang ke kediaman Serkan.”
Arimbi mengeluh, “Ibu. Aku bisa pulang naik taksi. Aku mau singgah kesuatu tempat dulu untuk membeli sesuatu baru setelah itu aku pulang. Ibu tidak usah mengantarku.”
“Tuan Emir lahir dengan segala hal yang sudah terpenuhi. Apakah kamu tahu berapa banyak orang terkena dampaknya hanya karena dia merasa kalah darimu? Kalau kamu tinggal disini selama beberapa hari dan terus menghindari masalah, kurasa bahkan Nenek Serkan akan datang mencarimu. Jadi demi kedamaian dunia, kamu harus pulang pada suamimu.”
“Ibu melebih-lebihkan hal ini. Untuk apa ibu membicarakan kedamaian dunia? Ini hanya pertengkaran antara suami istri, aku dan Emir.” balas Arimbi/ “Dia hanyalah pria yang manja. Ibu tahu tidak kalau dia itu suami yang sangat manja padaku?” tambahnya lagi. Emir sudah terbiasa dengan semua orang yang selalu menurutinya.
Mendengar perkataan putrinya, Mosha memelototinya. “Baiklah. Baiklah. Aku akan menuruti ibu dan pulang kerumah suamiku. Sekarang aku akan mandi dan mengenakan pakaian seksi serta mempercantik diriku supaya bisa menggoda suamiku.”
__ADS_1
Mosha menepuknya bercanda, “Dasar bocah, suka asal bicara saja.”
Arimbi menjulurkan lidahnya sebelum bergegas menaiki tangga pergi ke kamarnya. Setelah bercerita pada ibunya, dia tahu akan lebih baik kalau dia pulang untuk menjelaskan dan membujuk Emir. Bagaimanapun, dia yang tak memberi pria itu rasa aman yang dibutuhkannya dalam hubungan ini.
Ini semua salahnya. Setelah dia bersiap untuk mandi air panas, Arimbi membasuh rambutnya juga setelahnya berganti baju dengan memakai terusan. Mosha yang melihat putrinya berjalan menuruni tangga menatapnya dari atas kebawah lalu mengangguk setuju dengan pilihan pakaian yang dikenakan oleh putrinya. “Saat pulang kerumahmu ingatlah untuk bicara baik-baik dengan Emir.”
“Ibu, aku selalu bicara baik-baik padanya. Dia saja yang sulit diprediksi dan tak ingin bicara baik-baik.” ujar Arimbi dengan wajah cemberut membuat Mosha mulai merasa frustasi mendengarnya.
“Siapa yang menyuruhmu untuk menikah dengannya? Kenapa kamu harus pergi menemuinya dan memilihnya saat begitu banyak pria di kota ini? Karena ini adalah jalan yang kamu pilih maka kamu harus menjalaninya dengan baik hingga akhir. Jangan ada perceraian.”
Mendengar itu Arimbi tak lagi berani mengeluh. Melihat hari sudah mulai sore, Arimbi mendesak ibunya. “Aku akan memesan taksi sekarang. Aku perlu cepat pulang dan memasak makanan enak supaya bisa membujuknya.”
Mosha menjawab sambil menganggukkan kepalanya, “Aku mengerti.”
“Jangan!” seru Mosha menyela. Mosha masih ingat apa yang dikatakan oleh menantunya yang memintanya untuk tidak membiarkan Arimbi membeli mobil.
“Mobilmu dan BMW ku semuanya hancur ditanganmu. Apakah itu belum cukup? Lagipula kamu tak bisa menyetir kemanapun di masa mendatang karena akan selalu ada supir yang mengantarmu kemanapun kamu pergi.” ujar Mosha yang mengingat perkataan menantunya saat itu.
Mendengar itu Arimbi langsung memeluk ibunya dan mulai merengek, “Ibu, aku bisa menyetir dengan baik. Dua kejadian itu sungguh hanya sebuah kecelakaan dan kebetulan Emir melihatnya. Biasanya aku bisa menyetir dengan aman.aku hanya akan membeli mobil yang murah, tidak perlu bagus. Aku ingin mengendarai mobilku sendiri jadi aku bisa memarkirnya disini dan membawanya kapanpun aku butuh.”
“Kalau ibu bilang tidak ya tidak! Kalau kamu berani beli mobil diam-diam maka aku akan memberitahukan pada Emir. Biarkan dia yang menghukummu karena tidak jadi istri yang patuh.”
Arimbi mengerucutkan bibirnya, “Bu,aku darah dahingmu sendiri. Bagaimana kamu bisa mendukung menantumu dan bukannya mendukung anak kandungmu sendiri?”
__ADS_1
“Karena kamu adalah putriku, aku khawatir kamu mendapat masalah itulah sebabnya aku bekerjasama dengan Emir untuk mengawasimu dan mencegahmu mengemudi. Emir mengatakan padaku bahwa dia ketakutan setengah mati ketika kamu sedang mengebut. Dan dia mengatakan padaku bahwa caramu mengemudi seolah-olah kamu sedang mengemudikan pesawat.”
Arimbi terkejut lalu bereaksi, “Ibu! Dia mengadukan aku pada ibu?”
“Dia hanya memikirkan keselamatanmu. Dia peduli padamu dan hanya ingin menjagamu.”
Arimbi terdiam karena dia tak pernah berpikir bahwa Emir akan mengadukannya kepada ibunya. Namun dia juga tahu bahwa itu karena Emir hanya memikirkan keselamatannya saja.
Memikirkan perhatian Emir seperti ini padanya membuat Arimbi merasakan kegembiraan dan hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan sekali lagi. Ketika mereka usai berbicara, Mosha mengantarkan putrinya sampai didepan rumah karena taksi online yang dipesan Arimbi sudah tiba. Taksi itupun melaju meninggalkan kediaman keluarga Rafaldi.
...*******...
Sementara itu di kediaman keluarga Serkan. Emir baru saja tiba dirumah dan mendapati kalau istrinya belum pulang. Dia langsung menuju ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Wajahnya semakin tampak tak senang karena Arimbi belum tiba dirumah saat dia sudah pulang. Pikirannya berkelana kemana-mana dan membayangkan kalau mungkin Arimbi pergi menemui Reza.
Memikirkan hal itu kembali membuat amarah Emir muncul lagi. Dia menyelesaikan sesi mandinya dengan suasana hati yang buruk. Setelah berganti pakaian dia turun ke lantai bawah dan masuk kedalam ruang kerjanya.
Beni yang biasanya berinteraksi dengannya pun tak berani untuk mengajaknya bicara setelah melihat ekspresi wajah Emir yang suram.
Setelah diam sejenak, Emir meraih ponselnya lalu menghubungi Mosha, ibu mertuanya. Tapi belum sempat dia menekan nomor telepon, Emir sudah berubah pikiran. Dia tak ingin menjadi orang pertama yang mencari Arimbi, seharusnya istrinya yang lebih dulu menghubungi dan mencarinya lalu minta maaf.
Bukan malah sebaliknya. Mengingat seharian Arimbi tak menghubunginya membuat Emir sangat kesal. Tapi dia kembali berubah pikiran dan menghubungi seseorang.
__ADS_1