
Mata Dion berbinar-binar. Meskipun dia sudah menyelidiki Arimbi, tapi dia tidak tahu tentang detail kehidupan sehari-harinya. Oleh sebab itu, dia tidak yakin apakah yang dia katakan itu benar atau tidak. “Lalu, kamu ingin minum apa?”
“Segelas air saja sudah cukup. Terima kasih Direktu Harimurti.”
Dion tersenyum sebelum berdiri dan mengambil segelas air untuk Arimbi. Setelah meneguk setengah gelas air, Arimbi meletakkan gelas diatas meja dan berkata, “Direktu Harimurti, jika aku memakan cemilan ini lagi, apakah anda bisa menemukan Joana dalam satu jam? Karena jika sampai 24 jam dia belum muncul juga maka kemungkinan pihak berwajib akan turun tangan.”
Dion segera mengangguk. Dia juga tidak bodoh jika tidak mengetahui tentang itu. Melihat jawabannya, Arimbi memaksakan dirinya untuk makan lagi. Meski dia tidak lapar sama sekali, dia mencoba untuk menghabiskan apa yang diambilnya.
Sedangkan Dion yang memeprhatikan betapa lambatnya Arimbi memakan cemilan itu, Dion tahu bahwa Arimbi memang tidak lapar.
Ia juga tahu betapa besar Arimbi menghargai pertemanannya dengan Joana akrena sesaat dia datang menemuinya Arimbi menurutinya dan mau melakukan apa yang dia mau. Dengan melakukan sejauh ini demi Joana yang baru dia kenal selama setahun membuat Dion semakin resah. Karena Arimbi memperlakukannya sangat dingin dan acuh berbanding terbalik dengan perlakuaannya pada Joana. Meskipun mereka memiliki anak yang manis didalam mimpinya.
Saat Arimbi menyelesaikan cemilan yang ada ditangannya, Dion berdiri dan pergi lalu kembali dengan dua kotak ditangannya. Dia memasukkan cemilan yang ada dipiring itu kedalam kotak dan memasukkannya kedalam tas lalu memberikannya kepada Arimbi.
“Biasanya para wanita suka cemilan dan aku pikir Nona Arimbi juga sama. Ini, bawalah cemilan ini bersamamu. Aku tidak akan menekan masalah dengan Nona Joana. Akan tetapi jika dia kembali tolong ingatkan dia lagi karena jika dia melakukan hal yang sama lagi, dia sebaiknya bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kedua tangannya.”
__ADS_1
Meski begitu, Arimbi kembali menolak kotak yang berisi cemilan itu. “Direktur Harimurti, aku pasti akan memberitahu Joana tentang apa yang anda katakan. Jangan kahwatir, aku yakin dia sudah belajar dari masalah ini dan tidak akan mengambil foto-foto tanpa izin lagi. Namun untuk cemilan ini, sayanganya aku harus pergi ke PT. Libra Elektroindo untuk menghadiri pertemuan.”
“Jadi, menurutku akan sulit rasanya untuk membawa cemilan ini bersamaku karena bisa rusak kalau kutinggalkan di mobil. Tapi terima kasih atas tawarannya.”
Dion melihat Arimbi untuk waktu yang lama sebelum berkata, “Kamu akan pergi ke PT. Libra Elektroind? Apa ayahmua yang menyuruhmu? Sepertinya dia adalah ayah yang baik.”
Kalimat terakhirnya itu terucap cukup sarkasme. Tentu saja, Dion tahu apa hobi Jordan karena dia sudah mencari tahu seperti apa Jordan karena kemahirannya dalam dunia bisnis. Berkali-kali Dion emncoba untuk menarik Jordan dari Emir dengan imbalan gaji yang lebih besar, tapi berkali-kali pula Jordan menolak Dion.
Jika Dion tidak dihantui mimpinya yang terus datang setiap kali dia memejamkan matanya, hobi keil Jordan bukanlah apa-apa dimatanya. Menurut mata Dion, sudah normal bagi pria yang memiliki karir bagus untuk mencari wanita cantik kecuali orang seperti dia dan Emir yang malah menjauhi para wanita adalah kasus yang langka.
“Perusahaan kami memang benar-benar ingin bekerjasama dengan Rafaldi Group. Tapi ayahmu terus saja menunda permintaan kami berkali-kali. Apakah dia menolakku karena dia berpikir kalau perusahaanku tidak sebanding dan sekuat Serkan Global Group? Mengapa PT. Libra Elektroindo yang melemparkan umpan kecil saja langsung membuat perusahaanmu membuat pertemuan untuk kerjasama.”
Melihat fakta bahwa Emir adalah saingannya, dan bagaimana respon Rafaldi Group terhadap perusahaannya, Dion bersumpah suatu saat nanti dia pasti akan mengalahkan Emir dan menandingi Serkan Global Group.
“Direktur Harimurti, anda terlalu jauh memikirkannya. Kami juga merasa senang dan berterima kasih atas permintaan kerjasama anda dengan perusahaan kami. Karena ini berarti anda telah mengakui kemampuan perusahaan kami. Kami tidak akan pernah mengangap perusahaan anda berada dibawah Serkan Global Group. Ayahku masih belum bisa memberi jawaban karena beliau masih dalam riset produk perusahaan anda.”
__ADS_1
Arimbi sebenarnya tahu alasan sebenarnya mengapa ayahnya tidak ingin semudah itu bekerjasama dengan Harimurti Group. Akan tetapi dia juga tidak ingin membuat Dion marah kepada ayahnya dan juga Rafaldi Group, karena itu dia tidak mengatakan apapun lagi.
“Meskipun perusahaan kami fokus dalam produksi papan sirkuit, tapi kami tidak bisa menangani semua jenis papan sirkuit. Oleh sebab itu, kami harus selalu memeriksa apakah perusahaan bisa mengerjakan setiap pesanan yang akan masuk. Jika kami hanya menerima pesanan dengan asal-asalan maka kami tidak akan bisa untuk.”
“Malah menjadi rugi kalau kami mendapatkan pesanan yang berada diluar spesifikasi pabrik. PT. Libra Elektroindo mempunyai perusahaan dan pabrik yang cukup kuat di Mtero. Setelah memikirkan itu semua, dari mulai riset awal sampai logistik, barulah Rafaldi Group memilih untuk bekerjasama dengan perusahaan mereka.
Dion yang memperhatikan Arimbi yang terus bersikeras menolak cemilan yang telah dibungkus Dion, akhirnya dia berhenti memaksa dan meletakkan kotak itu diatas meja. Dion menatap Arimbi dengan seksama, “Nona Arimbi melihat dalam beberapa hatisaja berlalu sejak terakhir kali kita bertemu, silat lidah anda berkembang dengan sangat pesat.”
Arimbi tidak tahu apakah ini sebuah pujian atau ejekan. Setelah memikirkan itu, akhirnya Arimbi memilih menganggaonya sebagai sebuah ejekan. Arimbi tetap tenang dan bertingkah layaknya orang jujur dan polos, meskipun Diontahu itu hanyalah sebuah omong kosong belaka.
Dion pun kembali ke meja kerjanya dan menggunakan interkom untuk menginformasukan sekretarisnya untuk mengantarkan Arimbi kembali. Meski begitu, dia tidak bisa diam saja saat melihat Arimbi pergi meninggalkan kantornya. “Hati-hati disana. Aku harap pertemuanmu dengan PT. Libra Elektroindo berhasil.”
“Terima kasih.” jawab Arimbi sebelum sekretaris yang datang menjemputnya. Setelah itu kantor Dion kembali sepi. Dion hanya terdiam sesaat sebelum membuang kotak cemilan itu ketempat sampah. Meski dia tidak suka makanan manis, tapi dia telah menyiapkan itu semua untuk Arimbi.
Akan tetapi karena orang yang bersangkutan tidak menginginkannya, satu-satunya pilihan baginya hanyalah dengan membuangnya. Setelah dia duduk dikursinya dan melihat obat yang diberikan Arimbi, dia mengambilnya dan membaca petunjuk pemakaian lalu menggunakan obat itu untuk mengobati luka di kakinya.
__ADS_1
Setelah dia selesai, dia menghubungi pelayan dirumahnya dan memberikan perintah. “Lepaskan wanita itu. Tapi peringatkan dia kalau sampai ada yang tahu tentang kejadian ini maka keluarga dan teman-temannya tidak akan kubiarkan begitu saja.” pelayan rumahnya pun menjawab Dion dengan sopan sebelum mengakhiri panggilan.