GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 94. RAYUAN TIDAK MEMPAN


__ADS_3

Ekspresi wajah Emir datar dan dingin, tidak ada jejak marah disana. “Arimbi Rafaldi! Sebaiknya kamu datang mendekat sekarang juga. Jangan membuatku mengulangi kata-kataku lagi.”


Arimbi mulai panik ketika dia menatapnya dengan hati-hati dan perlahan berjalan kearah Emir seolah-olah dia telah berubah menjadi siput sangking lambatnya dia melangkah.


Bahkan jika Arimbi benar-benar berubah wujud menjadi siput, dia masih terikat untuk mencapai tujuannya yang hanya berjarak dua meter darinya. Akhirnya dia berdiri tepat didepan Emir mencoba yang terbaik untuk menyeret kakinya. “Emir!” panggilnya dengan suara lembut dan senyum manisnya.


Setelah menghabiskan waktu bersama, dia menyadari bahwa pria itu selalu terpesona dengan senyumnya.


Tidak masalah apakah itu setelah dia melakukan sesuatu yang salah atau dia mendapat masalah, dia akan selalu memaafkannya dengan hati terbuka segera setelah dia melihat senyum manis istrinya dan mengucapkan beberapa kata-kata manis untuk menyejukkan hati Emir.


Tapi kali ini, pria itu hanya terus saja memelototinya dengan tatapan dingin hingga membuat Arimbi mundur ketakutan. Kata rayuan dan senyum manisnya tak berhasil kali ini.


Suara Emir yang rendah dan tanpa emosi terdengar, “Apa kamu terluka?”


Arimbi langsung membeku ketika dia tiba-tiba menunjukkan kekhawatirannya sementara Arimbi berpikir bahwa suaminya akan marah padanya. Meskipun ekspresi wajah dan nada suaranya suram seolah-olah Arimbi telah melakukan kejahatan yang tak termaafkan tapi begitulah cara Emir menunjukkan kekhawatirannya.


Sekarang rasa takut Arimbi segera hilang digantikan dengan semburan kehangatan didadanya. Menerima kebaikan Emir dalam dua masa kehidupannya adalah sebuah keberuntungan yang dia dapatkan dalam hidupnya. “Aku baik-baik saja. Hanya bumper mobilnya yang rusak. Aku baik-baik saja hanya sedikit syok.”


Tatapan pria itu masih setajam biasanya tapi itu tidak membuatnya merasa ketakutan lagi. Sama seperti kepribadiannya yang dingin dan menyendiri dan Emir memiliki cara yang dingin dalam menunjukkan kepeduliannya pada orang lain. Yang perlu dilakukan untuk bisa merasakan kekhawatiran pria itu adalah membiasakan diri. Mata Emir memandangnya dari ujung kepala sampai ujungkaki dan setelah memastikan bahwa istrinya itu tidak terluka, dia tersenyum.

__ADS_1


Namun kata-kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan ejekan, “Kamu syok ya? Aku bahkan berpikir bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa membuatmu takut!”


“Itu memang benar, kecuali dirimu Emir. Dengan segala hormat sejujurnya kamu membuatku takut.”


Tepat setelah Arimbi mengatakan itu, Emir tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya dengan paksa membuatnya jatuh tepat didadanya.


Aroma tubuh pria itu yang familiar langsung tercium olehnya. “Aduh! Emir bersikaplah lembut padaku. Sakit tahu! Jadilah seorang suami yang lemah lembut, supaya rasa cintaku padamu semakin besar setiap kali aku melihat wajah tampanmu.”


Emir menarik telinga istrinya seperti dia menghukum seorang anak. Meskipun Arimbi sangat ingin keluar dari pelukannya, dia tidak tidak mau mengorbankan telinganya untuk dijewerer.


Hanya setelah telinganya sudah memerah barulah Emir melepaskannya.


‘Huh! Menyebalkan sekali, tidak hanya ibu bahkan Emir pun menarik telingaku ketika dia marah.’ gerutu Arimbi didalam hatinya sambil menggosok telinganya yang sakit. Setelah dia mendengar tentang hukuman itu, Arimbi melompat kaget.


“Apa? Sepuluh ribu kata? Menulis refleksi diri sepuluh ribu kata Emir? Aku tidak bisa menulis itu. Aku bahkan tidak bisa menulis seribu kata bagaimana mungkin aku bisa menulis refleksi diri sebanyak sepuluh ribu kata? Emir...apa kamu mau membunuh istrimu yang cantik ini?”


“Terus saja meratap maka aku akan menaikkan hukumanmu jadi dua puluh ribu kata. Aku mau tulisanmu selesai sebelum jam dua belas malam. Jangan pernah berpikir keluar dari Kediaman Serkan setelah hari ini jika kamu tidak memberiku tulisanmu tepat waktu. Istri yang nakal dan tidak mau mendengarkan suaminya wajib dihukum. Semoga kamu bisa jadi istri yang lebih baik lagi.” ujar Emir acuh tak acuh mengejeknya.


Mendengar itu Arimbi pun memohon, “Aku tahu aku salah Emir. Tidak bisakah kamu menjadi seorang suami tampan yang berbesar hati dan memaafkan istrimu ini sekali ini saja? Lihatlah, aku baik-baik saja hanya mobil ibuku yang rusak tapi kamu tenang saja aku tidak akan memintamu untuk mengganti mobil baru untukku kali ini.”

__ADS_1


Alih-alih menjawabnya, Emir menggerakkan kursi rodanya ke depan mobil dan saat dia melihat bumper yang rusak parah hatinya yang sempat melunak kembali mengeras lagi ketika dia mengingat kejadian menakutkan yang terjadi beberapa menit lalu. Sepertinya hukuman perlu untuk memastikan istri nakalnya itu tidak mengemudi dengan cepat lagi. Suatu saat nanti istrinya akan terlibat kecelakaan lagi dan hanya ada dua kemungkinannya dia lumpuh atau mati.


Tidak mungkin dia membiarkan istri cantik nakal dan tak tahu malu seperti itu mati. Terlepas dari bagaimana istrinya itu terus saja melakukan kesalahan, tapi itu benar-benar membuat Emir merasa senang untuk menjaganya disisinya dan kadang-kadang menggodanya. Jika istrinya mati maka sudah tidak ada lagi yang menarik dihidupnya, Emir tidak mau itu.


“Rino! Minta seseorang untuk menderek mobilnya ke bengkel.” perintah Emir dengan suara rendah dan Rino pun segera menghubungi seseorang. Kemudian Emir melihat kearah wanita yang masih berusaha melakukan tawar menawar hukuman dengannya. “Tunggu apa lagi? Kemarilah dan bawa aku.”


Arimbi segera berlari ke arahnya dan mencoba membujuknya lagi, “Emir, bukankah kita ini pasangan yang sudah menikah? Kita ini pasangan suami istri yang sah, seharusnya kita saling mengabdi. Tidak bisakah kamu membiarkanku tidak mendapat hukuman kali ini? Demi hubungan kita sebagai suami istri? Bisakah kamu mengurangi jumlah kata menjadi sembilan ribu lima ratus kata saja? Emir, aku ini istrimu yang harus merawatmu, kalau aku menghabiskan waktuku untuk menulis permintaan maaf bagaimana aku akan merawatmu? Aku tidak akan bisa menggodamu lagi, apa kamu tidak merindukan rayuan manisku suamiku?”


Sebenarnya Arimbi tidak tahu bagaimana menulis refleksi diri karena dia belum pernah melakukan sebelumnya. Dia mungkin bisa memotong beberapa ratus kata jika dia mau. Tapi sepuluh ribu kata? Butuh waktu yang lama untuk menulisnya bahkan jika dia mencontoh milik orang lain. Bisa-bisa jarinya sudah bengkak setelah selesai menulis. Arimbi mengerucutkan bibirnya, dia bisa tahu kalau dari ekspresi dingin suaminya saja bahwa Emir tidak punya niat untuk memaafkannya sama sekali.


‘Aduh! Kali ini rayuan dan senyum manisku tidak mempan. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus telanjang didepannya dan menari agar dia mau memaafkanku?’ bisiknya dalam hati. Saat Arimbi mendorong kursi roda Emir kembali ke mobilnya. Dengan hati-hati dia membantu membopongnya kedalam mobil tapi dia tidak ikut masuk kedalam mobilnya.


“Emir, a—aku berjanji akan menjemput temanku dari bandara. Bisakah kamu meminjamkan aku salah satu mobil? Aku akan mengembalikannya padamu setelah aku menjemput Joana. Aku juga akan membersihkan dan mencuci mobilmu, mengisi bahan bakarnya juga, Aku janji tidak akan merusaknya dengan cara apapun, plissss suamiku.” dia memohon dengan wajah memelas.


“Apa kamu masih berpikir untuk mengemudi?” tanya Emir dingin.


Setelah kejadian hari ini, Emir bersumpah tidak akan pernah mengijinkan Arimbi mengendarai mobil lain setelah kedua kalinya dia melihatnya mengemudikan mobilnya seperti pesawat. Dia baru saja mengakui kesalahannya tetapi sudah berani meminta mobil lain sekarang? Ini hanya membuat pria itu semakin yakin bahwa dia perlu menghukumnya dengan lebih keras lagi jika dia ingin memastikan istrinya itu belajar dari kesahalan ini.


Dengan malu-malu Arimbi menjulurkan lidahnya dan berkata, “Uhm….Emir….Bisakah kamu meminta salah satu pengawalmu untuk mengantarku ke bandara untuk menjemput Joana?”

__ADS_1


__ADS_2