GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 252. KALAU KAMU AYAM, AKU JUGA AYAM


__ADS_3

Arimbi ternganga. Dia duduk dan mengambil tasnya. Lalu merogoh isi tasnya dalam waktu yang cukup lama saat Emir menatapnya sembari memperhatikan. Namun, Arimbi tak membawa hadiah, sehingga dia pun berkata dengan sediki tersipu malu. “Aku tidak menyiapkannya saat aku pergi tadi pagi. Tapi aku akan memberikanmu hadiah yang lebih baik ketika pulang nanti. Rasi bintang apa selanjutnya?”


“Sekarang aku tidak mau rasi bintang. Aku ingin hadiah yang kamu janjikan padaku.”


Arimbi mengerjapkan matanya. Hadiah apa yang kujanjikan akan kuberi pada Emir? Saat pria itu melihat bahwa Arimbi mengerjap, dia pun tahu bahwa dia tidak dapat mengingat janjinya. Emir menjentikkan jarinya ke dahi Arimbi dengan senang.


Ketika Arimbi menggembungkan pipinya dan pura-pura merajuk dan kesal, Emir mengusap dahinya dimana dia menyetilnya dan berkata, “Kamu ini manja sekali.”


“Itu karena kamu memanjakanku.”


“Kamu berkata bahwa ini salahku juga?”


“Iya, itu salahmu. Kamu terlalu memanjakanku dengan bertingkah sangat baik padaku.”


Emir tertawa dan mengingatkannya. “Kamu menjanjikanku lukisan potretku.”


“Oh, aku ingat. Belakangan ini aku terlalu sibuk sehingga aku tidak sempat melakukannya. Emir, kenapa aku tidak berhutang padamu dulu? Aku akan menghabiskan barang yang kubawa kerumahmu dan membuat yang baru nanti.”


Saat Arimbi melihat Emir mengatupkan bibirnya, ia memanggilnya dengan suara lembut dan genit. “Sayang, apakah itu tidak masalah? Aku akan memberimu yang terbaik nanti?”


“Kamu sadar kalau perbuatanmu yang salah?”


“Ini salahku karena aku melupakan apa yang telah kujanjikan padamu Em---sayang.”

__ADS_1


Tatapan mata Emir mendalam dan Arimbi tahu hanya dengan menatapnya sekilas bahwa ia telah menjawab dengan salah. Berhubung pria itu tak mengacu pada persoalan ini, apa yang membuatnya salah?


“Sayang, tolong perjelas lagi. Aku ini tidak begitu pandai apalagi aku sedang hamil anakmu. Jadi otakku sedikit teralihkan sekarang. Aku tidak bisa menebak sama sekali. Ayolah sayang, kamu tidak kasihan padaku?”


“Memangnya kamu itu siapa untukku?”


“Aku adalah istrimu, wanitamu, kekasihmu, ibu dari calon anakmu dan anak-anakmu kelak serta semuanya telah menjadi satu, melebur menjadi satu dan takkan terpisahkan lagi. Aku sangat mencintaimu, apalagi kamu sudah membuatku hamil.”


Bibir Emir menyungging keatas, namun dia segera kembali dalam raut wajah masamnya yang membuatnya tampak semakin serius.


“Jadi itu juga salahku? Sudah menghamilimu?”


“Pffff! Tidak sayangku. Karena aku suka kamu menghamiliku. Setelah anak kita lahir, aku masih mau kok kamu hamili lagi. Yang banyak juga tidak masalah.”


Emir meliriknya hendak menyentil dahinya tapi saat melihat ekspresi wajah Arimbi yang genit dan manja, dia pun mengurungkan niatnya. ‘Apa katanya barusan? Begitu dia melahirkan dia mau aku menghamilinya lagi? Ckckck…...wanita ini sungguh tak tahu malu!’ gumamnya dalam hati.


Arimbi mengangguk, “Tidak masalah. Kalau kamu ayam maka aku akan menjadi ayam bersamamu. Kalau kamu anjing maka akupun akan menjadi anjing. Tak peduli kita hidup didalam kandang ayam atau anjing selama kamu ada disana bersamaku, itu akan menjadi kandangku juga.”


Rino dan supir yang duduk didepan mencoba sekuat tenaga untuk menahan tawa mereka. Karena mengira bahwa Arimbi sangat lucu. Hanya sifat hangat wanita itu yang mampu melelehkan hati dingin Emir. Sementara itu Emir gusar namun dia merasa terhibur disaat bersamaan.


Ia ingin kembali menjentikkan jarinya ke dahi Arimbi lagi, namun dia takut bahwa itu akan melukainya dan membuatnya merajuk. Apalagi ibu-ibu hamil biasanya kan sensitif dan Emir tidak mau menghabiskan satu minggu untuk membujuk Arimbi nanti. Saat Arimbi berada dengan Emir, dia menjadi semakin manja.


Akhirnya Emir berkata dengan pasrah, “Kalau begini, apa rumah besar Serkan tidak boleh menjadi rumahku?” ujarnya. Suaranya terdengar pelan.

__ADS_1


“Tidak! Itu rumahmu juga, sayang.” Lalu dia menambahkan lagi, “Itu pun rumahku.”


Melihat perubahan raut wajah Emir, akhirnya Arimbi menghela napas lega setelah ia tahu bahwa akhirnya suaminya itu terlihat tenang kembali.


 


Pria ini benar-benar….tak bisakah dia jujur dan tidak bertele-tele? Seseorang biasa tak akan bisa melampaui cara berpikir Emir, jadi aku luar biasa pintar. Ya, akupun tidak bisa menjadi sangat pintar karena aku harus sepadan dengan dirinya. Aku akan membuat diriku menjadi wanita yang kuat untuk bisa berdiri disampingnya dan menghalau badai bersamanya. Tekad Arimbi!


Sementara itu, di rumah sakit umum Metro tampak Pratiwi sudah bisa beraktifitas dan bergerak bebas seperti biasanya. Setiap hari dia selalu pergi ke balkon dan melihat kebawah. Dengan cara ini dia bisa melihat ketempat parkir dipintu masuk bangsal rawat inap. Saat itu, Adrian mendorong pintu dan masuk kedalam.


Dia membawa sebuah tas ditangannya yang berisi makanan untuk makan malam ibunya. Saat Adrian melihat ibunya masih berdiri di balkon dan memandang kebawah, dia menaruh makanan itu dinakas samping ranjang dan berkata, “Ibu, berhentilah melihat kebawah. Anak kandungmu tidak akan datang.”


Adrian mendengar saat Arimbi mengatakan bahwa Amanda akan menjenguknya sesuai permintaan Tuan Rafaldi. Amanda harus berperilaku baik didepan ibu angkatnya, itulah alasan dia mau datang menemani Pratiwi selama beberapa hari. Dia datang bukan atas keinginannya sendiri.


Walaupun mereka mengetahu fakta bahwa Amanda sebenarnya enggan bertemu dengan ibu kandungnya tetapi Adrian dan Arimbi tidak pernah menceritakan hal itu kepada ibu mereka agar tidak menyakitinya. Bagaimanapun juga Pratiwi sangat bahagia karena Amanda mau datang.


Meskipun selama Amanda menemaninya dirumah sakit, tak ada sedikitpun rasa peduli dan kasih sayang yang ditunjukkannya pada ibu kandungnya. Dia hanya duduk diam disana dan menyibukkan diri dengan laptop atau bertelepon dan berbalas pesan dengan Reza.


“Aku tahu Amanda sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk datang kemari. Aku tidak pernah berharap dia akan menjengukku. Aku hanya merasa bosan. Aku ingin menghitung berapa banyak jumlah mobil yang bisa diparkir disana.” jawab Pratiwi menutupi kebenarannya.


Adrian menghampirinya dan berkata, “Bu, waktunya makan, rumah sakit ini besar dan tempat parkir tidak hanya yang didekat pintu masuk itu saja. Kalaupun ibu terus memandanginya seperti ini, ibu tetap tidak bisa melihatnya datang. Jadi lebih baik ibu makan dulu.”


Pratiwi memalingkan pandangannya, membiarkan anaknya menuntunnya kembali ke kamar dan berkata lagi, “Aku bisa segera keluar dari rumah sakit ini. Arimbi bilang kalau dia akan datang dan menjemputku dari rumah sakit. Aku sudah memikirkannya, aku harus bilang padanya untuk tidak perlu datang.”

__ADS_1


“Bagaimanapun, kita tidak mau jika ibunya merasa tidak senang saat dia mengetahui semuanya nanti.”


“Arimbi akan mengurus hal itu. Tapi dia juga sangat sibuk sekarang, Bu. Saat aku berbicara dengannya beberapa kali, dia hanya merespons pesanku saat malam hari.” ucap Adrian menjelaskan.


__ADS_2