
Saat Michele dengan cepat membantu Arimbi mengukurnya lagi, Emir melirik ukuran yang telah ditulis Michele dan menyimpannya di ponselnya. Dia segera menghubungi seorang desainer terkenal diluar negeri untuk mendesain gaun pengantin mewah untuk Arimbi.
Ketika dia bisa berjalan normal lagi, dia akan memberinya pernikahan yang paling megah yang akan diingat semua orang. Jadi gaun pengantinnya juga harus yang terbaik. Tak lupa dia mengirimkan ukuran Arimbi pada desainer itu.
Michele memang terkenal tetapi dia bukan desainer gaun pengantin. Jadi Emir memutuskan untuk tidak menyerahkan mendesain gaun pengantin Arimbi padanya.
Emir akan meminta desainer terkenal itu untuk menangani langsung gaun pengantin untuk istrinya. Kebetulan sekali desainer terkenal itu adalah teman Emir sewaktu dia kuliah di luar negeri dulu.
Selain itu, Emir belum membuat rencana mengumumkan hubungannya dengan dunia luar untuk saat ini. Jika dia membiarkan Michele mendesain gaun pengantin untuknya maka Zivanna akan menjadi orang pertama yang akan tahu.
Dengan kepribadian Zivanna, wanita itu tidak akan membiarkan Arimbi lolos begitu saja. Jadi Emir harus melakukan semuanya dengan hati-hati sehingga rencana pernikahannya akan lancar tanpa ada gangguan dari siapapun.
Emir menatap istrinya yang mengemaskan itu dengan penuh perhatian. Untuk saat ini, istrinya ini masih harus hidup dibawah perlindungannya. Arimbi belum cukup kuat untuk menghadang badai yang akan datang menerjangnya jadi Emir harus mempersiapkan Arimbi menjadi wanita kuat. Sejenak dia berpikir untuk membuat pengawalan khusus untuk istrinya itu secara diam-diam.
Sementara itu Michele dan Arimbi yang tidak saling kenal begitu dekat sehingga tidak banyak yang mereka bicarakan. Sedangkan Emir adalah orang yang pendiam sekali.
Hanya dengan Arimbi dia banyak bicara dan sering menggoda istrinya itu. Tampak Emir sibuk dengan ponselnya membalas pesan dari desainer gaun pengantin profesional di luar negeri.
Dia juga menghubungi seorang desainer perhiasan terkenal di luar negeri untuk membuatkan perhiasan terbaik dan termahal untuk Arimbi. Dia sudah tahu selera wanita itu setelah tinggal bersama selama sebulan.
Michele sesekali bertanya pada Emir tentang pendapatnya tentang pakaian untuk Arimbi yang dijawab pria itu dengan gumaman singkat. Itu hanyalah modus Michele agar bisa bicara dengan Emir.
Michele merasa sedikit malu saat melihat bagaimana sikap manis Emir pada Arimbi yang baginya sangat istimewa untuk ukuran seorang pengasuh. Setelah semua selesai dengan pengukuran dan pemilihan desain, dengan enggan Michele pun meninggalkan kediaman itu.
Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia tidak akan berhasil untuk mendapatkan perhatian Emir meskipun pria itu sudah cacat. Hanya dengan cara inilah dia bisa pergi dengan tenang. Dia bisa datang kesana karena urusan pakaian Arimbi, jika tidak maka dia tidak akan punya peluang.
Begitu Michele pergi, Arimbi melirik suami tampannya. Karena ekspresinya itu, mau tak mau Emir menjetikkan dahinya. “Ada apa dengan tatapanmu itu?”
__ADS_1
“Emir, kamu ini benar-benar laki-laki yang beruntung ya. Direktur Januar menyukaimu, bukan? Bukan hanya itu, dia sangat menyukaimu dan mencintaimu. Aku bisa melihat dari tatapan matanya padamu.”
Emir menatapnya tajam, “Kamu cemburu?”
“Tidak. Aku tidak cemburu. Ada banyak wanita yang menyukaimu dan jika aku cemburu pada mereka semua maka aku tidak akan bisa mengatasinya. Aku akan cepat mati karena cemburu! Seharusnya mereka yang cemburu padaku karena pada akhirnya akulah yang menikah denganmu! Aku istrimu sah!” jawabnya dengan nada puas.
Meskipun Arimbi berpikiran terbuka tetapi Emir malah merasa tidak senang mendengar jawaban Arimbi. Jika istrinya tidak cemburu, itu berarti dia tidak menyukainya!
“Arimbi! Apakah kamu ini selalu berpura-pura menyukaiku selama ini?”
“Hah? Maksudnya?”
“Kamu tidak cemburu dengan wanita yang menyukaiku? Lalu perasaan apa yang kamu punya?”
“Emir sayang, kamu salah paham ya? Apa aku harus cemburu padamu baru kamu tahu kalau aku menyukaimu? Oh tidak….aku mencintaimu! Bukan aku yang harusnya cemburu tapi para wanita itu yang harusnya cemburu padaku karena kamu milikku! Kamu suamiku!”
“Kita harus punya bayi secepatnya! Aku ingin bayi perempuan secantikmu!” ucap Arimbi lagi.
“Cih! Dasar tidak tahu malu! Setiap hari kamu mau melakukannya. Apa kamu ini wanita bernafsu besar? Kurasa tidak ada wanita yang menerkam suaminya setiap hari.”
“Pasti ada Emir! Kita saja yang tidak tahu karena mereka tidak mengumumkannya.”
Wajah Emir menggelap, hatinya masih belum merasa puas. Dia selalu merasa cemburu pada Arimbi, bagaimana bisa wanita itu tidak cemburu padanya? Apa dia harus mendekati wanita lain untuk membuatnya cemburu?
“Kalau kamu tidak benar-benar mencintaiku tidak usah merayuku lagi.”
“Sayang, kalau kamu tidak percaya padaku. Kalau aku ini benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hatiku, maka belah saja dadaku. Aku rela kok.”
__ADS_1
“Aku lebih suka melihat dadamu daripada membelahnya.”
“Pffff! Ha ha ha ha ha…..oh Emir sayangku. Apakah kamu baru saja menggodaku?”
Saat Emir mengatakan itu Beni baru saja hendak masuk tetapi dia langsung berbalik dan lari sambil tertawa. Akhir-akhir ini Tuan Mudanya itu selalu mengumbar kata-kata seperti itu.
Sungguh, dia tidak menyangka pria dingin itu akan berubah menjadi seorang penggoda. Tapi sepasang suami istri itu tidak tahu jika Beni mendengar ucapan Emir tadi.
Arimbi bangkit dari duduknya dan melangkah dengan gaya menggoda sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tampak sangat menggoda dengan satu tangannya memainkan ujung rambutnya.
Lalu dia melemparkan dirinya ke pangkuan suaminya dan melingkarkan lengannya di leher Emir. “Apakah dadaku begitu menariknya? Apakah kamu mau melihatnya, sayang?”
Tanpa banyak bicara, Emir menggerakkan kursi rodanya menuju ke lift dengan Arimbi berada di pangkuannya. Melihat reaksi pria itu membuat Arimbi tak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung menciumi leher dan bibir pria itu yang mendenguskan napas kasar menahan gejolak dirinya.
Sesampainya di kamar mereka, sepasang suami istri itu pun semakin bergairah. Emir yang sudah mulai bisa berjalan meskipun kakinya belum kuat tampak mulai memimpin permainan.
Arimbi terkejut dengan sikap agresif Emir yang tak biasanya. Kamar mewah nan luas itu dipenuhi suara-suara ******* dan lenguhan.
Pakaian berserakan di lantai, satu setengah jam kemudian saat keduanya mendapatkan pelepasan bersamaan. Bersamaan dengan bunyi dering telepon. Arimbi yang berada diatas tubuh Emir merasa lelah dan malas bergerak.
Emir mengambil ponsel dari atas nakas dan melihat nama penelepon dan berkata. “Nomor siapa ini?”
Arimbi melirik ponselnya dan berkata dengan ragu, “Ini dari kediaman keluarga Ganesha.”
Joana selalu menghubunginya dengan menggunakan ponselnya. Dan dia tidak pernah menggunakan telepon rumah seperti ini. Memikirkan itu Arimbi menjawab panggilan itu.
“Arimbi!” itu suara Jayanti ibunya Joana.
__ADS_1