
Tiba-tiba saja idenya muncul untuk menikahi Arimbi. Jika Arimbi menjadi istrinya itu bukanlah hal yang buruk bahkan dia akan mendapatkan banyak keuntungan.
Arimbi menepuk-nepuk wajahnya lalu berkata, “Kamu pikir aku ini orang penting? Kamu pikir aku adalah orang yang bisa mengatur pertemuan dengan Emir?”
“Arimbi…..”
“Maaf….aku tidak bisa membantumu. Silahkan pergi.” Arimbi memotong ucapan Reza. Kemudian dia berbalik, tak mau membuang waktunya meladeni musuhnya itu.
“Arimbi! Arimbi!” Reza bergegas mengejarnya dan merentangkan kedua tangannya menghentikan Arimbi. Dengan ekspresi sedih dia memohon, “Arimbi, tolong bantu aku ya, kali ini saja! Kita pernah saling mencintai, bagaimana mungkin kamu diam saja melihat kehancuran perusahan keluargaku? Kelak kamu akan menjadi istriku dan kamu menyandang nama keluargaku. Aku bersumpah akan menikahimu.”
Arimbi semakin jijik mendegar perkataan Reza sehingga tangannya terasa gatal ingin menampar pria itu hingga terlempar ke samudera hindia dan dimakan hiu. Dia mengacuhkannya dan dia hendak pergi tapi Reza menariknya kedalam pelukannya lalu menundukkan kepalanya memaksa untuk mencium Arimbi. Hal itu membuat Arimbi semakin marah. Bajingan itu benar-benar ingin melecehkannya!
Arimbi melepaskan diri dari pelukan Reza dan menghindari ciumannya dengan sekuat tenaga. Reza hendak memeluknya lagi ketika dengan marah Arimbi meraih salah satu lengan pria itu lalu membantingnya ke lantai dengan satu gerakan kuat. Pada saat bersamaan, pintu lift terbuka tepat saat Reza terhempas ke lantai dengan tidak berdaya.
BRUKKK!
Suara tubuhnya yang terhempas di lantai terdengar menggema nyaring diseluruh ruangan itu. Reza bahkan tidak menyangka bahwa dia akan dilemparkan seperti boneka. Dia merasa kepalanya pusing setelah terbentur di lantai, dia masih tidak sadar kemana dirinya dilemparkan. Orang-orang yang keluar dari lift hanya terdiam menonton insiden itu.
Salah satu dari mereka merinding karena Arimbi juga pernah melakukan hal yang sama padanya. Sebaliknya Arimbi tidak memperhatikan sekelilingnya, dia sudah dikuasai oleh amarah karena tindakan Reza sehingga dia kembali menendang pria itu dengan membabi buta sambil memakinya, “Dasar mesum! Brengsek! Kamu tidak punya hak untuk menyentuhku! Aku akan menendangmu sampai mati! Brengsek sialan!” teriaknya penuh amarah.
“Hentikan Arimbi! Sudah cukup, hentikan! Berhenti menendangku!” teriak Reza menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak ingin wajah tampannya ikut ditendang oleh Arimbi. Punggungnya terasa sangat sakit karena serangan bertubi-tubi dari Arimbi yang terus saja menghajarnya. Meskipun dia sudah mengenal Arimbi selama bertahun-tahun tapi Reza baru menyadari kalau wanita itu sangat kuat hingga bisa membantingnya dengan mudah.
“Arimbi, apa yang kamu lakukan?” teriak yadid yang terkejut dan baru tersadar. Dia mendekati Arimbi dan menyaksikan semua kejadian itu. Yadid tak percaya pada apa yang tadi dilihatnya. Mendengar suara ayahnya, segera Arimbi berhenti dan bergegas berlari kebelakang ayahnya.
__ADS_1
Reza memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri dan menjauh.
“Ayah, di—dddia melecehkan aku.” ucap Arimbi.
Sontak wajah Yadid berubah serius ketika mendengar itu, dia menatap Reza dengan tajam.
“Tuan Rafaldi, aku tidak bisa mengendalikan diri.” ujar Reza.
“Apa? Kamu tidak bisa mengendalikan dirimu? Reza Kanchana, ibumu datang kerumah kami mengantarkan mas kawin dan menegaskan bahwa kamu ingin menikahi Amanda tapi kamu malah melecehkan Arimbi! Dan alasanmu karena tidak bisa mengendalikan dirimu? Fuuh! Apa maksudmu? Apa putriku adalah orang yang bisa kamu perlakukan seenaknnya, begitu?”
Reza menahan tangisnya, lalu menjelaskan “Itu bukan keinginanku tapi keinginan ibuku. Hari ini aku datang kesini untuk---”
“Kamu ingin aku menemui Emir dan memohon padanya agar dia membantumu, iyakan? Apa kamu yakin aku bisa membuatnya menurutiku?” balas Arimbi memotong ucapan Reza.
“Arimbi, kembalilah ke kantor duluan.” ujar Yadid.
Yadid yang melihat sekelompok orang yang berdiri disana terdiam, dia pun menyuruh Arimbi segera kembali ke kantornya. Arimbi menggerutu pelan dan berjalan pergi. Saat berbalik dia melihat bahwa pemimpin kelompok itu adalah Dion Harimurti, pria yang telah mengambil kesuciannya di kehidupan sebelumnya. Kenapa Dion ada disini?
Sejak kapan mereka memperhatikanku?
“Direktur Harimurti.” Arimbi menyapa dengan sopan.
Setelah itu Dion harimurti mendekati mereka diikuti oleh pengawalnya. Reza terkejut, dia benar-benar tidak menyangkan kalau seorang Dion Harimurti akan datang ke Rafaldi Group. Reza buru-buru berdiri tegak dan merapikan pakaiannya untuk membuat kesan baik didepan Dion Harimurti.
__ADS_1
Tiba-tiba sepasang tangan terjulur untuk merapikan pakaian Reza. Dia mendongak dan mendapati bahwa itu adalah Dion Harimurti yang berdiri didepannya sembari merapikan pakaiannya. Reza pun tersenyum lebar dan menyapa, “Direktur Harimurti!”
Dion Harimurti adalah satu-satunya orang yang bisa menandingi Emir di kota itu. Jika Emir mempersulit keluarga Kanchana maka Reza hanya bisa meminta bantuan pada Dion Harimurti dan Lavani Indoraya maka keluarganya akan selamat jika kedua perusahaan itu bersedia untuk membantunya. Reza pun langsung merasa senang dan senyumnya semakin lebar menatap Dion.
Tepat ketika Dion selesai merapikan pakaian Reza, tiba-tiba dia meraih lengan pria itu lalu memelintirnya. Jeritan penuh kesakitan Reza terdengar memilukan, lengannya dipelintir oleh Dion dengan sangat kuat kemudian dia melepaskannya sementara pengawalnya segera menyodorkan tisu basah padanya. Dion membersihkan tangannya lalu melemparkan tisu basah itu pada Reza tepat diwajahnya sehingga tertutupi tisu basah.
“Aku benci pria yang suka melecehkan wanita!” ujar Dion dingin lalu melangkah menuju kantor direktur dengan diikuti pengawalnya. Yadid dan Arimbi terkejut melihat kejadian itu.
“Ayah, apakah direktur Harimurti datang untuk menemui ayah?” tanya Arimbi yang merasa heran.
“Dia bilang mau membicarakan sesuatu denganku. Aku keluar setelah Sartika memberitahuku bahwa dia sedang dalam perjalanan kesini tapi….Arimbi tolong bereskan kekacauan disini. Aku akan pergi menemui Direktur Harimurti.”
Yadid tidak tahu tujuan Dion Harimurti datang menemuinya hari ini di perusahaannya. Yadid tidak terkesan dengan kehadiran pria itu seperti juga Reza. Dia ragu dan agak takut karena Dion adalah musuh bebuyutan Emir.
Meskipun Yadid adalah ayah mertua Emir yang belum resmi diumumkan tetap dia tidak bisa berhubungan dengan Dion Harimurti. Kalau tidak, maka Emir akan merasa terusik.
Bagaimanapun juga, Dion Harimurti ada disini sekarang, jadi Yadid tak punya pilihan selain melayaninya sebagai tamu di perusahaannya. Dia tidak mungkin mengabaikan pria itu begitu saja. Sedangkan disana hanya ada Arimbi dan Reza yang tersisa.
“Reza Kanchana! Apa kamu ingin keluar sendiri atau kamu ingin aku menyuruh orang untuk menyeretmu keluar? Jangan pernah datang lagi kesini.” ujar Arimbi dengan ketus.
Reza yang kesakitan karena lengannya terkilir dan punggungnya juga sakit hanya bisa memandang Arimbi. Tatapannya menyedihkan dan dipenuhi emosi yang bercampur aduk. “Ingat ya Arimbi, aku tidak akan pernah menyerah! Aku akan menikahimu cepat atau lambat!” lalu dia pergi dengan mendekap lengannya yang terkilir.
“Najis! Aku lebih baik menikah dengan orang biasa daripada menikahi pria brengsek sialan sepertimu! Menikah saja dengan Amanda-mu itu! Cih!”
__ADS_1