
Damian:
Joana memasakkan bubur ikan untuk Dion sebagai tanggung jawab karena dia telah membuat pria itu jatuh sakit hingga dioperasi akibat ususnya infeksi. Sedikit yang Joana tahu kalau Dion memang sengaja berpura-pura sakit agar bisa membalaskan Joana atas apa yang dilakukannya pada pria itu.
Saat ini didalam ruang rawat inap VIP tampak Dion yang sedang sibuk dengan ponselnya. Meskipun dia merasa sangat tidak nyaman berbaring di ranjang rumah sakit namun dia bertahan untuk melihat sejauh mana Joana akan merawatnya dan meminta maaf padanya atas apa yang telah terjadi.
Suara pintu dibuka pun terdengar membuat Dion segera mematikan ponselnya dan meletakkan diatas nakas. Lalu pria itu pura-pura tertidur, dengan setengah membuka matanya untuk melihat siapa yang datang. Namun belum sempat dia melirik kearah pintu, suara lembut seorang wanita terdengar.
“Dion…..bangunlah! Aku membuatkan bubur ikan untukmu!” ucap Joana dengan lembut sambil meletakkan rantang diatas nakas lalu perlahan menatap Dion yang terlelap. Lalu Joana mengulurkan tangannya menyentuh dahi Dion namun dia terdengar menghela napas lega setelah mendapati kalau suhu tubuhnya normal.
Joana menarik kursi dan duduk disamping Dion sambil menyentuh tangannya dan menggenggamnya. “Dion, bangunlah! Kamu harus makan dulu biar perutmu tidak kosong. Tadi dokter bilang padaku kalau kamu harus makan makanan yang lembut. Jadi aku memasakkan bubur untukmu.”
Perlahan Joana berdiri dan membuka rantang, aroma wangi menguar memenuhi ruangan itu. Dion yang mencium aroma makanan yang lezat pun tak dapat menahan dirinya lebih lama lagi. Perlahan dia membuka matanya lalu menoleh menatap Joana yang sedang menyiapkan makanan untuknya.
“Ah! Dion kamu sudah bangun?” Joana segera meletakkan rantang lalu dia membantu Dion bangun. Wangi tubuh Joana yang berdekatan dengannya membuat tubuh pria itu langsung bereaksi. Ide lain pun tiba-tiba muncul dibenaknya, dia akan mengerjai Joana setelah makan nanti.
“Kenapa kamu lama sekali datang? Apa kamu tidak tahu jam makanku? Aku tidak bisa terlambat makan!” protes Dion dengan nada dingin sehingga membuat Joana merasa semakin bersalah pada pria itu.
“Maafkan aku, Dion! Aku tadi memasak dulu! Ayo aku suapi ya.” ucap Joana mendekatkan satu sendok yang berisi bubur kearah mulut Dion.
Joana berusaha bersikap tenang dan memasang senyum manis agar dia tidak didamprat dan dihukum oleh Dion. Dengan agak enggan Dion membuka mulutnya dan menyantap bubur yang disodorkan Joana. Saat makanan itu masuk kedalam mulutnya, matanya melebar karena dia merasakan kalau masakan Joana enak!
Tanpa banyak bicara Dion menurut saja disuapi oleh Joana, dia bahkan terlihat sangat menikmati. Untuk pertama kalinya didalam hidupnya dia disuapi seorang wanita seperti ini. Ada kebanggaan dan rasa senang dihatinya. Tapi dia masih belum merasa puas dengan apa yang dilakukan Joana.
__ADS_1
Dion menginginkan lebih dari ini. “Lain kali jangan terlambat membawakan makananku! Kamu harus memasak untukku selama aku sakit! Kamu yang harus bertanggung jawab merawatku sampai sembuh.”
“Baiklah. Aku yang salah, jadi aku akan bertanggung jawab asalkan kamu jangan marah dan menghukumku. Aku akan menuruti semua kemauanmu.” ucap Joana.
Tanpa sadar ucapannya membuka peluang bagi Dion untuk melakukan lebih. “Baguslah kalau begitu. Setidaknya kamu sadar diri atas apa yang kamu lakukan padaku! Jangan pernah mengulanginya lagi. Aku ini tunanganmu dan kelak akan menjadi suamimu! Apa kamu mau dipenjara karena membunuhku?”
Tangan Joana pun langsung bergetar. Dia sama sekali tidak menyangka akibat dari keisengannya akan berdampak buruk. Dia pun menganggukan kepala dan menatap Dion, “Maafkan aku Dion! Aku tidak akan mengulanginya lagi.” ucapnya lirih.
‘Kamu sendiri yang mengucapkan kata-kata itu Joana! Kamu tidak bisa menariknya kembali maka aku akan menuntutmu untuk memenuhi kata-katamu.’
“Kenapa kamu tersenyum? Apa ada yang lucu?” tanya Joana saat dia mengangkat wajahnya dan melihat Dion tersenyum tipis.
“Siapa yang senyum? Apa kamu layak untuk membuatku tersenyum?” ucap Dion sarkas.
Joana kembali menundukkan wajahnya dan kembali menyuapi Dion hingga bubur di mangkuk pun habis.
‘Hanya ini saja yang dia siapkan untukku? Apa dia pikir makanan sederhana ini cukup mengenyangkan dan membuat suasana hatiku baik? Tidak semudah itu Joana.”
“Apa ini? Jus buah segar? Sejak kapan aku suka minum jus buah campur seperti ini?”
“Bukankah biasanya kamu suka meminta pelayan membuatkan jus buah campur untukmu? Lagipula ini bagus untukmu Dion.” ucap Joana mencoba membujuk Dion.
Namun pria itu mengeraskan hatinya dan membuang pandangan keluar jendela kamar.
__ADS_1
‘Biasanya dia suka minum jus buah campur? Kenapa tiba-tiba dia menolak? Ahhhh mungkin karena dia masih sakit dan perutnya mungkin masih belum enakan! Aihhhh kenapa aku bodoh sekali tidak berpikir sampai disana?’
Joana meletakkan botol minuman lalu membuka rantang yang berisi buah segar yang sudah di potong. Lalu Joana menyodorkan satu potong buah pada Dion. “Kalau begitu kamu makan buah ini saja ya? Nanti saat aku pulang kerumah aku akan buatkan minuman lain untukmu. Kamu mau dimasakkan apa nanti?”
Joana masih berusaha bersikap tenang dan tersenyum memandang Dion. ‘Ini memang salahku. Aku harus bisa membujuk pria ini! Kenapa susah sekali mengambil hatinya? Sebaiknya nanti aku menelepon Arimbi dan bertanya padanya. Apakah Emir juga seperti ini kalau sedang sakit?’ gumamnya dalam hati.
Dion yang tidak menolak buah potong yang disodorkan Joana pun terus memakan setiap kali Joana menyodorkan padanya. “Buatkan aku kue-kue seperti yang biasa ada dirumah. Tapi aku mau kamu yang membuatnya! Jangan meminta koki untuk membuatnya untukku! Kamu paham?”
“Iya paham. Akan kubuatkan nanti. Apa kamu mau makan Western food atau Asian food?” tanya Joana lagi untuk memastikan keinginan Dion.
“Terserah!” jawab Dion ketus.
“Dion, ayolah……jangan marah terus. Aku benar-benar merasa bersalah dan menyesal sudah mengerjaimu! Tapi aku kan merawatmu dengan baik. Jadi tolong jangan diingat lagi ya?”
“Apakah begitu caramu meminta maaf dan merayu suamimu?” tanya Dion menatap Joana dengan tatapan tajam.
“Ehmmm……jadi maumu seperti apa? Katakan saja apakah kamu mau aku merayumu? Atau kamu mau aku menyanyi untukmu?”
“Tidak tertarik! Tapi……” Dion tidak melanjutkan kalimatnya.
Dia memegangi dagunya seolah berpikir.
“Tapi apa? Katakan cepat! Akan kulakukan asal kamu mau memaafkanku.”
__ADS_1
“Apa kamu yakin akan melakukannya jika aku meminta?” tanya Dion.
“Ya….aku janji! Aku akan lakukan jika itu masih dalam batas wajar. Asal kamu tidak menyuruhku untuk bunuh diri, maka akan kulakukan apapun.”