GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 366. PENCULIKAN


__ADS_3

Angin kencang mengombang-ambingkan kapal yang sedang berlayar. Sebuah kapal pesiar mewah nampak terombang ambing ditengah lautan. Badai yang sudah melanda selama dua hari ini membuat banyak kapal dan nelayan yang memutuskan tidak berlayar. Namun pemilik kapal pesiar itu seperti tidak peduli dengan kondisi cuaca yang buruk.


 


Beberapa orang tampak sibuk diruang kemudi dan beberapa orang lainnya berlarian sambil berpegangan pada apapun yang ada disekitarnya agar tidak terbawa air laut yang menerjang memasuki kapal. Sementara itu didalam salah satu kamar di kapal itu, lebih tepatnya dek bawah ada beberapa orang dalam kondisi terikat dan mulut disumpal.


 


“Euuuggghhhhhh…….” suara-suara terdengar di dek bawah itu. Beberapa wanita dalam kondisi terikat dengan wajah ketakutan. Seorang wanita yang terlihat berbeda dari wanita lainnya terlihat ketakutan dan menangis berusaha melepaskan ikatan tangannya. Setelah berusaha sekian lama akhirnya ikatan ditangannya pun terlepas.


 


Dia lalu melepaskan sumpalan kain di mulutnya dan menarik napas dalam-dalam. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, ekspresi wajahnya semakin ketakutan melihat para wanita diruangan itu ada sekitar dua puluh orang dan mereka rata-rata masih muda berusia belasan tahun. Dia memperhatikan pakaian gadis-gadis itu yang nampak sederhana.


 


Berbeda dengannya yang mengenakan gaun mewah yang tampak lusuh dan kotor. Lalu dia melepaskan ikatan dikakinya lalu berusaha berdiri namun dia terjatuh akibat guncangan kapal yang kuat. “Aarrgggggg…..BUG!” dia terjatuh dan terbentur ke dinding. Kapal itu terhempas ombak besar dan oleng.


 


“Uppp…...” suara para gadis didalam ruangan itu memohon pada wanita itu untuk membantu mereka melepaskan ikatan namun wanita itu mencibir.


“Huh! Untuk apa aku membantu kalian! Apa kalian tidak tahu aku ini siapa? Aku akan keluar dari sini dan silahkan kalian nikmati perjalanan kalian!”


 


Wanita itu kembali berdiri, dia harus segera keluar dari sana. Dia tidak melihat tas kecilnya dimana dia menaruh ponselnya. Dia mencari di sekeliling tempat itu namun tak menemukan. Lalu wanita itu berjalan menuju pintu namun sebelum dia mencapai pintu. Sudah ada seseorang yang mendorong pintu itu hingga terbuka. Tampak seorang pria bertubuh tinggi kekar dengan tubuh dipenuhi tato.


 


Dia menatap wanita itu dengan seringai menakutkan diwajahnya. “Ohoho…...Nona Lavani! Mau lari kemana kamu hah?” pria itu menghampiri wanita yang ternyata adalah Zivanna Lavani.


Wajahnya sontak pucat dan keringat dingin mengalir dikeningnya. Pria itu mencekal tangan Zivanna dengan kuat membuat wanita itu meringis kesakitan.


 

__ADS_1


“Lepaskan aku! Lepaskan brengsek! Jangan kamu sentuh aku dengan tangan kotormu.”


PLAAAKK!


“Aahhhhh…...” Zivanna memegangi pipinya yang terasa perih dan panas akibat tamparan keras dari pria bertubuh besar itu. Untuk pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini, airmatan pun menetes membasahi wajahnya yang kotor.


 


“Kamu jangan beraninya macam-macam disini! Keluarga Lavani tidak punya kekuasaan disini! Hahahahaha……..Nona Zivanna! Selamat datang di neraka dunia! Kamu bukan lagi nona muda dari keluarga kaya raya. Setelah kapal ini berlabuh saat itu juga hidupmu yang baru dimulai. Hahahaha.” tawa pria itu terdengar menggelegar disertai suara pintu yang dibanting kuat.


BAMMMMM!


 


Tubuh Zivanna melorot ke lantai kapal yang keras dan kotor. Bagaimana dia bisa berada disana? Apa yang terjadi padanya? Bukankah tadi malam dia masih berada di hotel lalu dia masuk ke kamar hotel yang disewa oleh Marcel? Setelah puas bercinta dengan pria itu, dia ingat Marcel tertidur pulas.


Lalu Zivanna tidak ingat apa-apa lagi. Kini dia hanya bisa menangis, dia tidak pernah berada jauh dari keluarganya. Para pengawalnya selalu berada disekelilingnya untuk menjaganya kemanapun dia pergi.


 


Kemana para pengawalnya tadi malam? Kenapa dia sampai lupa kalau saat dia memasuki lift menuju ke lantai 18 dimana Marcel sudah menunggunya, Zivanna memang tidak melihat para pengawalnya. Dan saat itu dia pun tidak merasa cemas karena pesta masih berlangsung dihotel itu dan semua keluarganya berada disana.


 


“Pergi! Jangan dekati aku! Husss…….menjauh sana!” Zivanna mendorong gadis itu menjauh sambil menatapnya tajam dan jijik.


 


Bukannya pergi, gadis itu malah tersenyum dan berdiri dihadapan Zivanna yang masih terduduk dilantai kapal. Zivanna mendongak dan melihat ekspresi gadis itu yang mencibir padanya.


“Heh gadis kaya! Kamu pikir statusmu itu berlaku disini? Semua orang yang berada disini punya status yang sama! Jangan kamu pikir kamu akan diperlakukan seperti seorang putri!”


 


“Sebaiknya kamu bersikap baik kalau kamu ingin bertahan hidup dan selamat. Tapi sepertinya orang sepertimu sudah biasa hidup enak ya? Kamu tidak akan tahan hidup susah dan menderita. Setelah kapal ini mencapai daratan, aku rasa kamu yang akan duluan menjadi santapan orang-orang itu!” ujar gadis itu lagi. Dia terlihat seperti berusia dua puluh tahun namun nampak tegas.

__ADS_1


 


Zivanna mengeryitkan dahinya, dia tidak biasa berbicara dengan orang-orang dari kalangan rendah. Lingkungan sosialnya berada dilingkaran keluarga kelas atas dan orang-orang seperti gadis didepannya ini bukan apa-apa baginya. Tapi setelah Zivanna memikirkan perkataan gadis itu, dia ingin menanyakan sesuatu. “Dimana kita sekarang?”


 


“Ha ha ha ha…...akhirnya gadis kaya yang dikenal angkuh dan sombong. Yang selalu merendahkan orang-orang miskin akhirnya bersuara juga. Apa kamu mau bicara denganku? Oh iya, aku pernah baca berita tentangmu yang memandang rendah gadis desa berwajah cantik. Ah aku masih ingat namanya Arimbi…..iya Arimbi! Dia pasti orang yang baik dan lembut. Aku bahkan berkhayal jika suatu hari nanti aku bisa seberuntung dia.”


“Cih! Arimbi katamu? Wanita sialan itu? Wanita udik tidak tahu malu yang sudah merebut pria yang paling aku cintai? Menjijikkan!”


 


Beberapa gadis berdiri dan menghampiri Zivanna membuat dia ciut dan meringkuk. “Mau apa kalian?”


“Kami adalah orang-orang desa yang bekerja keras untuk bertahan hidup! Kamu orang kaya yang tidak tahu diri selalu merendahkan orang-orang seperti  kami! Kalau kamu mau bertahan hidup nanti, kamu harus menuruti kami.”


 


“Cih! Aku akan pergi dari tempat ini! Keluargaku pasti akan datang menyelamatkanku! Aku tidak butuh kalian!” ujar Zivanna dengan ketus dan mencibir menatap orang-orang itu dengan tatapan mencemooh.


“Hahaha…..kak Dian, sepertinya nona kaya ini tidak tahu kemana kapal ini berlayar.”


“Ya….dia akan menjadi santapan utama orang-orang itu setelah kapal berlabuh!”


 


“Kita lihat saja nanti, putri kaya sepertinya bisa bertahan berapa lama disiksa dan melayani para pria setiap malam tanpa henti! Kalian lihat tubuhnya mulus dan bagus! Kurasa aku ingin memberinya kenang-kenangan supaya dia ingat nasihat dariku.” gadis itu memegang sebuah kayu yang sudah diruncingkan ujungnya lalu berjongkok dan menatap Zivanna.


 


Zivanna menendang gadis itu namun gadis lainnya memegangi kedua tangan dan kakinya.


“Cepat kak Dian! Berikan nona sombong ini kenang-kenangan!” teriak yang lainnya.


Saat Dian akan menggoreskan kayu runcing itu dikulit Zivanna tiba-tiba pintu ditendang dari luar.

__ADS_1


BRAAAKKKk!


 


__ADS_2