
Ini adalah kasus perbuatan semena-mena dimana dia bisa melakukan apapun yang dia mau tetapi Arimbi tidak bisa. Tapi Arimbi kini tinggal dirumahnya jadi dia harus mengalah pada peraturannya. Arimbi mengambil serbet itu dan membungkuk untuk mendekat pada Emir.
Awalnya, Arimbi ingin main kasar untuk membalas Emir tapi tanpa dia sadari sentuhannya menjadi lembut saat dia melihat wajah tampan Emir dengan kulit putih bersihnya. Saat Emir memperhatikan wajah Arimbi dengan seksama, matanya menjadi gelap. Dia merasa kalau Arimbi telah memberinya rasa nyaman dan keakraban tetapi dia yakin bahwa dia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Emir tidak tahu darimana datangnya rasa nyaman dan akrab itu. Dia pun terus memperhatikan Arimbi, dalam hatinya dia mengakui kalau istrinya itu memang sangat cantik dengan kulit yang halus. Wajahnya polos tanpa sedikitpun riasan bahkan bibirnya merah tanpa polesan lipstik.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengusap bibirnya, namun wajah tampannya membuat Arimbi tertarik dan dengan sengaja dia bergerak dengan lambat. Dia mengusap ujung bibir Emir dengan lembut sebelum ke bagian bibir. Bibir Emir memang tipis pepatah mengatakan bahwa orang yang memiliki bibir tipis adalah orang yang dingin.
Tapi Arimbi tidak merasa kalau Emir seperti itu, sikap dinginnya itu mungkin karena dia belum menemukan wanita yang dicintainya. Saat dia sudah menemukannya kelak, pasti kepribadiannya akan berubah mengikuti suasana hatinya.
Arimbi merasa tergoda untuk menciumnya saat dia menatap wajahnya yang tampan dan bibir tipis seksinya. Mereka sudah resmi menikah, maka wajar jika dia mencium suaminya kan? Saat Arimbi memikirkan hal itu, akhirnya dia pun memutuskan untuk melakukannya. Dia sangat ingin mencicipi bibir suaminya yang menggoda itu.
Arimbi pun bergerak cepat, dia merangkul leher Emir secepat yang dia bisa tanpa memberi waktu pada Emir untuk menolaknya lalu dia langsung menempelkan bibirnya. Ketika kedua bibir itu menyentuh satu sama lain, mereka berdua seperti tersengat listrik. Emir terkejut sedangkan para pengawalnya melongo melihat keberanian Nyonya mudanya itu.
Para pengawal Emir berpikir bahwa Arimbi sangat berani. Waktu itu dia menolak untuk menikahi Emir dan mengancam akan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya didepan Emir. Setelah itu dia memaksa Emir untuk menikahinya dengan merobek pakaian Emir dan menggigitnya lalu berkata bahwa dia sudah memberinya tanda kepemilikan. Sekarang, dia bahkan berani merebut ciuman pertama Emir dengan paksa didepan semua pengawalnya.
Arimbi ******* bibir Emir dengan penuh gairah, dia sangat menyukai rasa bibir tipis pria tampan yang sudah jadi suaminya itu. Sedangkan Emir masih syok dan diam terpaku tak tahu harus berbuat apa. Ini benar-benar pelecehan, istrinya itu benar-benar sudah melecehkannya dengan mencium paksa.
Arimbi sama sekali tidak tahu jika tindakannya itu mengejutkan semua orang. Yang dia tahu hanyalah bibir Emir yang lembut dan hasratnya untuk meneruskan serangannya. Dia tidak mau melepaskan ciuman itu dengan mudah, dia ingin menikmati bibir itu lebih lama lagi. Arimbi mengikuti instingnya dengan lihai dia menggerakkan lidahnya.
Saat dia merasakan bibir Emir terbuka, tanpa pikir panjang Arimbi menyesapkan lidahnya kedalam mulut Emir. Ketika dia merangkul leher Emir, dia menggerakkan satu tangannya ke belakang kepala Emir dan menarik kepalanya membuat ciuman Arimbi semakin ganas dan liar.
__ADS_1
Emir tidak merespon Arimbi dan Arimbi juga tidak peduli, dia ingin mencium suaminya itu sepuasnya. Seolah-oelah besok adalah hari kiamat dan dia tidak akan punya kesempatan untuk menikmati bibir seksi itu.
Setelah beberapa saat, Arimbi menghentikan ciumannya dan berdiri menatap Emir yang masih syok. Sebelum akhirnya dia tersadar kalau itu adalah ciuman pertama Emir!
‘Oh ya ampun! Benar-benar di luar dugaanku? Di era sekarang ini Emir pernah menjadi impian semua wanita tapi ternyata dia belum pernah mencium seseorang? Aduh…..aku mencuri ciuman pertamanya!’ seru Arimbi didalam hatinya yang merasa senang,
Arimbi tidak bisa menahan diri lagi, dia pun melemparkan senyum termanisnya pada Emir, dia baru saja mendapatkan buruan besar dan dia tidak akan melepaskan buruan itu dengan mudah. Matahari menyinari wajah Arimbi yang cantik semakin membuat senyumnya terlihat cerah dan itu membuat hati Emir terasa hangat.
Telinganya memerah, meski wajahnya masih dingin tapi tidak menunjukkan ekspresi seperti biasanya. Emir memelototi Arimbi atas tindakan nekatnya.
“Emir! Aku tidak punya niat untuk mencari kesempatan denganmu!” ujar Arimbi yang panik dan menccoba untuk menjelaskan. “Aku melihat wajahmu sangat tampan dan itu membuatku kehilangan kendali dan…..”
Wajah Emir menjadi gelap, “Jadi ini semua salahku?” ujarnya sinis.
Emir tak bisa berkata-kata lagi dihadapkan dengan Arimbi yang tidak tahu malu. Apa bedanya Emir mencium Arimbi atau Arimbi mencium Emir? Bukannya sama saja? Itu bukan pembalasan namanya!
Saat itu juga Arimbi berusaha menenangkan dirinya dam mengamati Emir dengan seksama. Dia merasa agak cemas memikirkan apa yang akan Emir lakukan selanjutnya, karena dia melihat ekspresi jengkel diwajah suaminya itu. Apakah Emir akan mengusirnya karena marah?
“Apa kamu lapar?” tanya Emir setelah beberapa saat diam.
Pertanyaan itu membuat Arimbi terkejut, tapi dengan cepat dia menganggukkan kepalanya, “Iya Emir! Aku sangat kelaparan belum makan sejak tadi.” jawabnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Arimbi melirik ke meja makan dan melihat bahwa Emir tidak banyak makan karena beberapa makanan belum tersentuh sama sekali.
“Bereskan ini. Bersihkan meja makan ini!” perintah Emir pada pengawalnya.
‘Ha? Dia bilang apa barusan? Dia menyuruh pengawalnya membereskan meja? Apa dia tega tidak memberiku sisa makananya?’ Arimbi menjadi cemas memikirkan perutnya yang kelaparan.
Saat Emir melihat wajah Arimbi yang berubah, diapun mendengus dan bertanya dengan nada pelan dan lembut, “Apa kamu sudah melihat pesan yang kutinggalkan padamu?”
“Iya, sudah!”
“Baiklah kalau begitu!” ucap Emir.
“Emir! Wanita paling sakti mandra guna pun tidak bisa memasak nasi tanpa beras! Di dapurmu tidak ada apa-apa! Bagaimana mungkin aku bisa memasak tanpa ada bahan makanan? Bahkan pesulap hebat sekalipun tidak bisa menyulap rice cooker masak nasi sendiri tanpa beras!”
Emir memutar matanya dan menggerakkan kursi rodanya, “Apa kamu tidak punya uang?”
“Emir! Traktir aku makan siang ya? Aku akan membalasnya dengan makan malam. Aku sangat lapar dan tidak ada tenaga lagi untuk belanja. Kalau aku pingsan bagaimana? Itu akan mempermalukanmu dan merepotkanmu juga harus mengurusku.”
Siapa yang akan mengira istri muda keluarga Serkan akan pergi ke pasar berbelanja? Emir menatap arimbi, matanya tertuju pada bibir merah merona Arimbi. Setelah beberapa menit menatap wanita itu, Emir membuka mulutnya dan berkata, “Aku merasakan tenaga yang cukup kuat saat kamu menciumku dan sekarang kamu bilang lemas?”
Arimbi pun tersipu malu saat dia mengingat bagaimana dia mencium Emir begitu kuat dan bergairah memaksakan dirinya tadi apalagi saat dia menarik kepala Emir dan memainkan lidahnya didalam mulut suaminya itu. Mengingat itu Arimbi tersenyum tipis, mencecap lidahnya yang masih ada sisa aroma mulut Emir yang seksi.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Emir pun menggerakkan kursi rodanya pergi dan para pengawalnya membersihkan meja makan. Tidak lama kemudian, para pengawal pergi menyusul Emir dan meninggalkan Arimbi sendirian di pavilliun. Dalam situasi itu, hanya orang bodoh saja yang tidak sadar kalau dia baru saja dikerjai. Emir memang sengaja melakukan itu untuk mengerjai Arimbi, sejak awal dia sudah merasakan betaap menyenangkannya bermain-main dan mengerjai istri barunya itu.