GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 31. HARUS SADAR DIRI!


__ADS_3

Arimbi tidak marah mendengar ucapan Lianti, “ Nyonya Serkan seperti yang kamu katakan barusan, kamu hanya mendengar rumor itu dan ada banyak sekali hal yang tidak bisa dipercaya akhir-akhir ini. Aku tidak pernah mencintai Reza, apalagi membangkang meminta menikah dengannya.


Setelah mendengar ucapan Arimbi, Lianti pun berkata dengan sarkas, “Kau menolak pernikahan dengan Emir karena Reza, bukan? Apa kamu tidak tahu kalau sangat mudah untuk mencari tahu apa sisi di kepalamu itu!” Lianti mencemooh dan memandang rendah Arimbi yang menurutnya tidak pantas masuk kekeluarga Serkan.


Arimbi merasa tidak perlu untuk menjelaskan apapun lagi pada mereka toh hanya buang-buang energi saja, karena dia merasa untuk apa menjelaskan apa yang telah dia lakukan di kehidupan sebelumnya. Yang perlu dia jelaskan hanya satu, dia tidak akan pernah menikahi Reza di kehidupan yang sekarang.


“Nona Rafaldi, sebagai manusia harusnya kamu sadar diri. Jika Emir tidak terlibat kecelakaan yang membuatnya cacat, tidak mungkin kamu bisa menikahi keluarga Serkan dengan identitasmu itu.keluarga Serkan setuju untuk menikahkan kamu dan Emir karena kami mempunyai harapan tinggi padamu. Tidak semua keluarga memiliki hati sebaik kami. Kamu bahkan tidak akan bisa merangkak ke keluarga Kanchana! Sadar dirilah!”


Arimbi tersenyum dan membalas, “Terimakasih atas sarannya, Nyonya Serkan! Mungkin aku bukan orang yang memiliki apa-apa tapi aku yakin atas kesadaran diriku. Aku tidak sudi masuk kedalam keluarga Kanchana apalagi merangkak kedalam sana!”


Lianti mencibir, sebelum bertanya, “Jika bukan karena Reza lantas mengapa kamu takut menikahi Emir? Kualitas apa yang kamu punya menolaknya?”


Arimbi menatap tajam pada Lianti, “Aku tidak pernah takut akan kematian jadi untuk apa aku takut menikahi seorang Emir? Dia bahkan tidak lebih menakutkan daripada kematian!” balas Arimbi dengan tegas dan datar.


Lianti terkejut mendengar jawaban Arimbi dan bingung harus menjawab apa, tapi tiba-tiba Elisha melanjutkan, “Jadi apakah itu artinya…..Arimbi setuju menikahi Emir?”


Sebelum Arimbi bisa menjawab, Layla sudah memelototi Elisha dan menegurnya, “Elisha ini semua bukan berarti kakakmu tidak bisa mencari jodoh untuknya yang lebih pantas. Kenapa kamu memaksakan Nona Rafaldi untuk melakukan sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak dia inginkan? Kamu tidak bisa memaksanya seperti itu!” Ucapan Layla itu penuh sarkas.

__ADS_1


Elisha membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun akhirnya dia lebih memilih untuk diam. Arimbi sendiri sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan oleh Elisha bahwa Emir tidak mungkin bisa membuat anak, jadi tidak ada seorangpun yang ingin menikahinya dan hidup seperti janda.


“Emir itu adalah seorang pria yang sangat baik. Jadi kamu tidak khawatir bahwa Emir tidak bisa mendapatkan istri, Nyonya Serkan!” ujar Arimbi.


Setelah mendengar Arimbi mengatakan itu, baik Layla maupun Lianti menatap Arimbi dengan tatapan aneh. Arimbi yang melihat kalau kedua wanita itu menatapnya dengan tatapan aneh, dia pun memikirkan kembali apa yang tadi diucapkannya.


‘Apakah aku tadi mengatakan sesuatu yang aneh ya? Apa ada yang salah dengan kata-kataku? Kenapa mereka menatapku horor seperti itu?’ pikirnya.


Di sisi lain, diluar ruangan itu Emir mendengarkan perkataan Arimbi. Matanya menjadi cerah dan berseri saat mendengarnya, lalu dia menggerakkan kursi rodanya memasuki ruangan itu.


Di saat Elisha mendengarkan suara kursi roda yang mendekat, dia langsung berdiri dan berjalan menghampiri Emir dengan wajah yang senang. Arimbi mendengar suara Elisha yang merdu, “Emir! Kenapa kamu ada disini?”


Elisha menjawab dengan lugu, “Emir! Maksudku bukan begitu. Jangan membalikkan ucapanku.”


Saat ini emosi Emir semakin buruk dan hanya Elisha saja yang berani berbincang dan bertingkah seperti anak manja dihadapan Emir. Gadis cantik itupun mengambil alih pegangan kursi roda Emir lalu mendorongnya masuk. Kedua pengawal yang tadi mengikuti Emir tidak ikut masuk.


Ketika orang-orang diruangan itu melihat kedatangan Emir, mereka semua tersenyum tapi mulai memperhatikan tingkah laku mereka. Sikap mereka pun seketika itu juga berubah menjadi lebih tegang. Meskipun Arimbi telah regresi ke kehidupan di masa lalu, dia tidak mempunyai hubungan dengan Emir di kehidupan sebelumnya jadi dia tidak tahu bagaimana hubungan Emir dengan keluarganya.

__ADS_1


Dia tidak bisa berhenti merasa cemas saat melihat apa yang terjadi didepan matanya. Karena Emir yang lumpuh pasti dia tidak stabil emosinya. Akan tetapi, keluarganya takut untuk mendekatinya dan terlihat menjaga jarak dengannya, meskipun yang dia butuhkan saat ini adalah semangat dan dukungan dari keluarganya, tapi sikap keluarganya malah membuat kondisi Emir menjadi lebih buruk. Karena Emir selalu memasang topeng diwajahnya, dia selalu terlihat tegar dan seperti tak terpengaruh, tapi tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana dia sebenarnya.


Setelah Elisha mendorong kursi roda Emir kesamping Arimbi, dia mengisyaratkan Elisha untuk menghentikan kursi rodanya. Emir menoleh dengan dingin menatap Arimbi walaupun Arimbi sendiri merasa tidak takut pada tatapannya.


“Wajahmu memar seperti adonan roti. Jelak sekali kamu. Janagn diam saja disitu dan merusak suasana hatiku. Pergi!” suara Emir yang kejam itu terasa seperti pisau yang menyayat hatinya. Saat Arimbi merasa pedih, dia selalu mengingat Emir sebelum Arimbi hidup kembali dan hal itu membuatnya patuh lalu berdiri dan dengan tenang dia melangkah pergi meninggalkan kediaman utama.


Selagi Emir membuka mulutnya tidak ada seorangpun yang berani berkata-kata. Bahkan Elisha pun mundur dan mencoba untuk melebur dengan sekitarnya. Arimbi merasa lega setelah dia keluar dari kediaman utama yang super mewah itu. Jika boleh jujur, dia merasa sangat kesal berhadapan dengan wanita-wnaita sombong yang tidak ramah itu, tapi pada akhirnya mereka itu semua adalah mertuanya.


Dulu, di kehidupan sebelumnya saat Arimbi menjadi menantu di keluarga Kanchana, dia serasa dikurung dan dibuat hidup sengsara sehinga membuatnya merasa trauma dengan para mertua. Di tambah lagi para istri di keluarga Serkan bukanlah orang yang bisa dipandang sebelah mata dan diremehkan begitu saja. Para istri-istri itu semua berasal dari keluarga kaya raya dan berderajat tinggi.


Melihat langit yang cerah, Arimbi kembali bersumpah didalam hatinya untuk membalas kebaikan Emir seumur hidupnya, dan akan menerjang segala cobaan ekcuali Emir sendiri yang menginginkan Arimbi pergi dari kehidupannya. Semoga kau berhasil Arimbi saraswaty Rafaldi! Genggam erat-erat Emir Rayyanka Serkan dan kalahkan semua musuhmu di kehidupan ini dan lindungilah irang-orang yang ingin kau selamatkan.


...*******...


Di sebuah cafe mewah tampak Amanda duduk dengan elegan sambil mengaduk kopinya dengan sendok. Sebelum seseorang datang menyapanya, “Amanda!”


Ternyata Reza Kanchana yang datang menyapa Amanda sambil membawa karangan bunga mawar. Melihat pria yang dicintainya datang, Amanda berhenti mengaduk kopinya dan menatap Reza yang menghampirinya.

__ADS_1


Setelah Reza berdiri didepannya, dia memberikan karangan bunga mawar pada Amanda. Wanita itu sangat menyukai bunga mawar, dia mengambil buket bunga dari Reza dan menciumnya. Mata Reza semakin lembut saat dia melihat sikap Amanda yang lembut itu. Reza menarik kursi kosong dan duduk didepan Amanda.


__ADS_2