GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 327. AKU TERPAKSA


__ADS_3

‘Bagaimana bisa mereka bertahan hidup seperti ini! Air panas tidak ada? Aku tidak biasa mandi air dingin, apalagi udara disini lumayan dingin.’ keluh Amanda.


“Amanda, ayo makan dulu nak! Kamu pasti sudah kelaparan karena perjalanan jauh.” Pratiwi memanggil putrinya. Semua makanan sudah siap dia hidangkan di meja makan.


 


“Ibu masak banyak sekali!” ujar Mardin ayahnya Amanda.


“Iya, semua ibu siapkan untuk menyambut kedatangan Amanda.” jawab Pratiwi. Dia melihat Amanda memasuki ruang makan lalu duduk disebelah ibunya. Tanpa bicara sepatah katapun pada mereka.


 


“Kamu mau makan apa? Biar ibu ambilkan, ini ada ayam bakar sambal matah! Cobalah, kamu pasti suka! Nah, ini coba sayur lodeh.” Pratiwi meletakkan makanan di piring Amanda.


“Tidak usah banyak bu. Aku tidak terlalu lapar.” jawab Amanda yang masih enggan. Meskipun dia melihat semua makanan diatas meja itu terlihat enak tapi dia tak selera sama sekali.


 


Keluarga itu makan sambil berbincang ringan penuh kehangatan. Awalnya Amanda merasa canggung karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan semua keluarga kandungnya. Dia memiliki dua saudara laki-laki. Adrian adalah yang tertua dan Panca adalah anak kedua, sedangkan Amanda si bungsu.


 


...******...


Setelah Amanda dan Adrian pergi meninggalkan warung. Para warga yang tadi berkumpul disana pun mulai berbisik-bisik.


“Nona itu benar kan putri kandungnya Pratiwi dan Mardin yang tertukar saat bayi?”


“Iya benar! Cantik sekali dan nampaknya dia berpendidikan tinggi.”


 


“Benar sekali! Dengar-dengar dia dibesarkan oleh keluarga kaya, orang tua kandung Arimbi! Kasihan sekali Arimbi yang tertukar dan tinggal didesa sementara wanita itu menikmati semua fasilitas dan kemewahan keluarga kaya itu.” ujar seorang wanita menambahkan.


 


“Aduh ibu-ibu, kenapa pada membicarakan orang?” ujar seorang ibu paruh baya yang baru tiba.


“Begini bu, tadi itu putrinya bu pratiwi datang kesini.”


“Oh begitu! Syukurlah akhirnya dia mau berkunjung ke desa ini. Kita harus memperlakukannya dengan baik selama dia berada disini supaya dia nyaman.”


 

__ADS_1


“Huh! Orangnya angkuh sekali! Berbeda dengan Arimbi! Kalau Arimbi, sopan dan ramah pada siapapun! Padahal sebenarnya Arimbi yang putri kandung keluarga kaya itu kan?”


“Benarkah dia sombong?” tanya ibu itu lagi.


“Tuh tanya saja sama Pak Wisnu. Angkuh dan sombong sekali, tidak ada sopannya sama orang tua.”


 


“Iya benar! Setelah sekian lama, dia baru datang kesini menemui keluarganya! Sedangkan Arimbi sejak dia kembali ke keluarga kandungnya, dia masih sering datang kesini! Memang Arimbi anak yang berbakti! Meskipun sekarang dia sudah kembali pada keluarganya yang kaya tapi dia tidak sombong.”


 


“EH, kalau tidak salah. Kabarnya Arimbi menikah dengan orang paling kaya, bukan?”


“Iya….iya…...beritanya sempat viral! Kabarnya waktu Pratiwi keluar dari rumah sakit, Arimbi yang mengirimkan supirnya untuk mengantarkan Pratiwi dan Adrian pulang ke desa ini! Dia masih menganggap keluarga Darmawan sebagai keluarganya!”


 


Dirumah keluarga Darmawan.


“Bu, apa tidak ada pemanas air disini?” tanya Amanda yang hendak mandi.


“Di desa tidak ada yang pakai seperti itu! Kalau mau mandi air hangat, ibu jerangkan dulu airnya ya. Tidak lama, kamu tunggu sebentar.” ujar Pratiwi berjalan menuju ke dapur untuk memanaskan air mandi untuk Amanda.


 


“Maaf ya Amanda! Kami cuma punya rumah dan perabotan sederhana ini saja. Tapi kalau kamu mau besok ibu akan belikan kasur yang baru untukmu! Apa ada barang yang kamu butuhkan?” Pratiwi mencoba untuk mengambil hati putrinya dan menyenangkannya.


 


‘Amanda biasa tidur di kasur empuk dan mewah! Aku tidak mau dia mengeluh dan tak betah disini. Aku akan meminta Adrian untuk membelikan kasur baru yang bagus untuknya!’ gumam Pratiwi didalam hatinya.


Dia menatap Amanda yang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.


Tak berapa lama, air sudah mendidih dan Pratiwi membawanya ke kamar mandi.


 


“Amanda, air hangatnya sudah siap! Sudah ibu taruh di kamar mandi. Pergilah mandi sekarang! Jangan lupa kamu harus memakai jaket karena kalau malam cuaca disini dingin.” ucap Pratiwi.


Amanda tak menjawab lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Dia melihat baskom berisi air hangat untuk mandinya yang sudah disiapkan oleh ibunya. Dia meletakkan perlengkapan mandi diatas bak mandi sambil mendengus.


 

__ADS_1


“Ck! Aduh….berapa lama aku akan hidup seperti ini? Rasanya seperti hidup dimasa purbakala saja! Kamar mandinya seperti ini! Tidak ada bathtub, kalau mau mandi harus memasak air dulu.” gumamnya lirih. Sementara itu Panca yang baru saja masuk ke toilet yang berada disebelah kamar mandi bisa mendengar keluhan Amanda.


 


‘Huh! Belum juga sehari disini sudah banyak mengeluh! Ternyata benar yang dikatakan Adrian kalau Amanda angkuh dan sombong, dia juga kasar! Beda jauh dibandingkan Arimbi yang baik, lembut dan ramah pada semua orang. Ada apa sebenarnya? Apakah dia diusir dari keluarga Rafaldi? Untung saja warga desa tidak tahu berita tentang Amanda, kalau tidak…..hm….pasti sangat memalukan.’ gumam Panca didalam hatinya.


...*******...


“Joana, kamu baik-baik saja?” tanya Arimbi yang sore itu sengaja mendatangi Joana dirumahnya. Sejak kejadian malam itu dia dan Joana belum bertemu lagi. Joana hanya menghabiskan harinya dirumah saja karena dia masih merasa ketakutan untuk keluar rumah.


 


Dia ingat tadi pagi saat dia ingin keluar rumah untuk berolahraga, tak sengaja dia melihat seorang pria yang dikenali Joana sebagai salah satu pengawal Dion Harimurti.


Dia pernah melihat pria itu saat dia disekap dirumah Dion. Saat dia melihat pria itu yang mengawasinya, membuat Joana ketakutan akan diculik lagi sehingga dia memutuskan tak jadi berolahraga.


 


“Arimbi, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.” jawab Joana memegang tangan sahabatnya.


“Katakan padaku, bagaimana caranya aku tidak khawatir? Joana! Kamu benar-benar sudah gila! Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan sudah menghancurkan hidupmu dan masa depanmu!”


“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi! Aku punya alasan sendiri kenapa aku melakukan itu.”


 


“Cepat katakan padamu! Apa alasanmu? Kita sudah lama berteman dan tidak ada rahasia diantara kita. Joana, dengarkan aku baik-baik. Aku akan menulis uang dalam jumlah besar di cek yang diberikan oleh Dion! Jika dia tidak mau bertanggung jawab menikahimu setidaknya uang ganti rugi itu pantas dan setimpal dengan apa yang direnggut darimu.”


 


“Kamu mengambil cek itu?” tanya Joana kaget.


“Iya, memangnya kenapa?” Arimbi mengeryitkan keningnya menatap gelagat aneh dari sahabatnya itu. “Jangan bilang kalau kamu memang sengaja mengorbankan dirimu karena kamu menyukai Dion?”


Joana tak menjawab dan memalingkan wajahnya menatap keluar jendela kamarnya.


 


“Aku sudah menulis angka seratus milyar di cek itu! Dan aku juga sudah mencairkanya.” ucap Arimbi tersenyum sambil menarik dagu Joana.


“Bagaimana? Cukup kan? Itu uang yang banyak Joana! Kamu bisa melakukan banyak hal dengan uang seratus milyarmu. Aku akan mentransfer kerekeningmu.”


 

__ADS_1


“Aduh! Arimbi! Kenapa kamu mengambil uang Dion sebanyak itu? Kalau dia marah dan menculikku lagi bagaimana? Seratus milyar itu terlalu banyak!” Joana membulatkan matanya. Membayangkan uang sebanyak seratus milyar membuat kepalanya mendadak pusing.


 


__ADS_2