
Agha pun langsung kehilangan kata-kata. Dia sengaja menyanjung kakak iparnya untuk mendapatkan perhatian Emir. Tetapi sepertinya pujiannya tidak berhasil.
“Emir, kamu sudah bekerja keras menangkap ikan. Ini sate pertama yang aku siapkan, ini untukmu. Cobalah dan beritahu aku bagaimana rasanya.” ucap Arimbi menyerahkan sepiring kecil berisi sate.
Emir melirik tusuk sate didepannya. Ikan disungai ini tidak terlalu besar jadi Arimbi hanya bisa membuatnya menjadi sate. Satenya tampak dipanggang dengan sempurna dan baunya juga sangat enak. Namun rasanya harus dicoba dulu untuk mengetahuinya. Emir mengulurkan tangan untuk mengambil satu tusuk sate.
Dia melihat tatapan penuh harap Arimbi lalu dia mencobanya. Rasanya sangat enak, jadi dia mengambil sate berikutnya. Tanpa sadar dia menikmati sate ikan buatan istrinya yang memang rasanya sangat enak tapi dia ingin memakan semua sate ikan itu.
“Emir bagaimana rasanya?” tanya Arimbi penasaran ingin tahu pendapat suaminya.
“Biasa saja! Bisa dimakan.” jawabnya dengan tenang. “Karena kamu cukup pilih-pilih, kamu jangan memakan ini. Apa yang ingin kamu makan? Elisha sudah membawa begitu banyak bahan makanan dari rumah utama. Jadi kamu harus memasaknya sendiri.”
“Emir, apakah kamu mencoba memberitahu kami kalau semua ikan bakar dan sate ikannya hanya untukmu sendiri? Baunya sangat enak, jadi bagaimana mungkin hanya kamu yang bisa memakan itu? Kamu jahat sekali Emir! Kamu membuat Nona Arimbi menjadi sedih.” ujar Agha yang sudah menelan air liurnya melihat ikan bakar yang menggugah selera.
“Tuan Muda Agha, aku akan memanggang ikan yang kamu tangkap juga.” ujar Arimbi tersenyum.
Tiba-tiba Emir langsung menghentikan aksi makannya dan mengangkat kepalanya untuk menatap Arimbi dengan tatapan matanya yang kelam. Dengan suara rendah dia berkata, “Dia koki kelas dunia! Jadi kamu tidak boleh memamerkan keahlian memasakmu didepannya.”
“Apa menurutmu ikan yang aku tangkap tidakcukup ya? Jadi kamu tidak punya banyak ikan untuk dipanggang? Arimbi, aku tahu kamu tukang makan tapi kamu tidak bisa makan banyak ikan.”
Sementara itu Arimbi mengerjapkan matanya sambil berpikir, ‘Kenapa Emir terlihat cemburu? Dia tidak mau aku memanggang ikan yang ditangkap adiknya? Dan adiknya juga tidak boleh mencicipi ikan bakar buatanku?’
__ADS_1
“Ya, ucapan kakakku benar Nona Arimbi. Aku akan melakukannya sendiri. Kamu fokus saja memanggang ikan yang ditangkap Emir.” balas Agha yang paham jika kakaknya itu sedang cemburu.
Jadi ia lebih memilih untuk mengungkapkan pendapatnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Agha cukup khawatir kalau dia terlalu lama bicara, Emir akan langsung memasukkan ikan yang baru ditangkapnya kedalam mulutnya sebagai hukuman.
Apalagi tampaknya Emir tidak senang jika Agha berbicara dengan Arimbi, dia langsung merasa jika sikap yang ditunjukkan kakaknya itu seperti orang yang jatuh cinta, over protektif.
“Baiklah Emir. Eh, ada ikan dipancingmu! Cepat!” serunya menunjuk kearah pancing milik Emir.
Emir langsung mendorong tusuk sate yang setengah dimakannya ke tangan Arimbi dan menarik pancingnya keatas. Memang benar, ada ikan yang lumayan besar dikail pancingnya. Ini adalah ikan terbesar yang didapatnya hari ini.
Dua menit kemudian, Emir ingat bahwa dia belum menghabiskan sate ikannya, lau dia berbalik untuk melihat istrinya tetapi dia melihat istrinya sedang menampar bibirnya dan ada ekspresi tidak puas diwajahnya. Pada saat itu Emir mengerucutkan bibirnya dan diam-diam berkata pada dirinya sendiri, ‘Dia sangat rakus! Sate ikan bekasku pun diembat juga!’
Emir tidak bisa menahan senyum diwajahnya saat dia tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu. Sedangkan Arimbi yang menoleh kearah suaminya merasa bingung saat melihat suami tampannya itu sedang tersenyum sembunyi-sembunyi. Lalu Arimbi menunduk dan melihat tusuk sate ditangannya.
Akhirnya dia sadar, bahwa tusuk sate itu sudah tidak ada dagingnya lagi. Wajah cantiknya memerah dan dia menoleh pada Emir dengan malu-malu, “Kupikir kamu tidak menginginkannya lagi dan aku tidak mau membuang-buang makanan jadi aku menghabiskannya. Lagipula tidak baik menyia-yiakan makanan. Emir sayang, jangan marah ya?”
Emir mengepalkan tangan kanannya dan mendekatkan ke pipinya lalu menekannya untuk menahan tawa. “Tidak apa-apa karena kamu sudah memakannya maka aku akan terus memancing untukmu. Kamu bisa memanggangnya sendiri dan aku pastikan kamu akan kenyang dan tidur nyenyak nanti malam.”
“Baiklah. Terima kasih, kamu memang suami terbaik.” ucap Arimbi berseri-seri. Emir bukan menikmati ikan bakar yang enak tetapi dia sangat peduli pada istrinya dan dia akan melakukan semua itu untuk istrinya, jadi dia cukup senang. Apalagi melihat tingkah menggemaskan istrinya, dengan senang hati dia akan terus memancing ikan untuk istri yang doyan makan itu.
__ADS_1
“Emir, apakah kamu suka sayap ayam bakar? Aku akan menyiapkan untukmu.”
Elisha telah membawa banyak bahan makanan. Emir bisa makan apapun yang dia mau dan Arimbi siap untuk memasak untuknya. Begitu Elisha melihat Arimbi berjalan kearahnya dengan cepat dia menyerahkan sepiring penuh sate domba pada Arimbi.
“Arimbi, ayo coba ini. Aku menyiapkan sate donba ini.” ucapnya tersenyum senang.
Arimbi mengambil satu tusuk dan memakannya, “Wow! Elisha kamu punya keterampilan memasak yang hebat!.
“Di waktu senggang biasanya kami berkumpul dan menikmati barbeque.” jawab Elisha tersenyum.
“Kalian sangat menikmati memanggang juga ya?”
“Kami juga hanya manusia biasa. Apakah menurutmu kami ini orang suci? Nyatanya, aku satu-satunya yang dibesarkan dilingkungan mewah sejak aku masih muda karena nenek mengatakan bahwa aku perempuan jadi harus dibesarkan dalam kemewahan. Tapi saudara laki-lakiku harus menjalani berbagai tantangan saat mereka tumbuh dewasa.”
Lalu Elisha mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Arimbi dan berbisik, “Emir yang terbaik diantara mereka. Dia berbakat dalam banyak hal tetapi dia menyembunyikan bakatnya. Dia hebat dalam seni, puisi, berkuda, permainan bola dan seni bela diri. Dia juga pandai memasak. Tapi sejak dia mengambil alih bisnis keluarga, dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke dapur.”
Arimbi tidak bisa mempercayai pendengarannya. “Apakah memang benar Emir itu begitu berbakat?”
“Tidak mudah untuk menjadi penerus keluarga Serkan. Dia tidak hanya pandai disisi bisnis, tetapi dia juga harus belajar banyak keterampilan. Kakekku pernah bilang ketika dia masih hidup bahwa seseorang harus memiliki keterampilan untuk bertahan hidup.”
“Dan juga harus mempunyai semangat yang tak tergoyahkan agar seseorang dapat bangkit dengan cepat meskipun ada kegagalan yang dihadapinya. Itu sebabnya sauda-saudaraku harus menjalani segala macam pelatihan sejak mereka masih kanak-kanak. Kakek pernah mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan mereka untuk memperluas bisnis keluarga Serkan tetapi mereka harus mempunyai kemampuan untuk mempertahankan bisnis pada segala kondisi.” ujar Elisha menjelaskan.
__ADS_1