
“Karena semuanya sudah selesai jadi saya rasa meeting kita cukup sampai disini! Kalau ada yang anda tidak mengerti langsung tanyakan saja! Saya disini atas perintah Emir untuk membantu mengelola perusahaan!” ucap Renaldi.
“Ehm….boleh aku menanyakan sesuatu?” tanya Arimbi sedikit ragu sebenarnya.
“Iya. Silahkan. Apa yang ingin ditanyakan?”
“Berapa lama kamu mengenal suamiku?”
Renaldi tersenyum mendengar pertanyaan Arimbi. “Well, boleh dibilang sudah kenal lama! Lebih tepatnya sejak kami di sekolah menengah. Lalu kami bertemu kembali diluar negeri saat Emir mengambil jurusan bisnis manajemen! Saat itu kami berdua mengambil dua jurusan sekaligus di universitas berbeda.”
“Oh begitu ya!” Arimbi mengangguk. Dia tidak pernah menanyakan perihal pendidikan dan kehidupan Emir selama di luar negri.
Dia hanya teringat karena tadi Renaldi mengatakan kalau dia orang suruhan Emir. Setahu Arimbi, suaminya itu hanya mempekerjakan orang-orang kepercayaannya untuk mengurusi hal-hal tertentu.
Dan Renaldi adalah orang pertama yang dikenal Arimbi sebagai teman suaminya yang juga bekerja di perusahaan Emir. Renaldi memegang salah satu anak perusahaan Serkan Global Group. Tapi Emir memintanya untuk mengambil alih posisi Amanda di Rafaldi Group.
“Iya! Emir itu mahasiswa berprestasi! Dia banyak memenangkan penghargaan sejak kami di sekolah dulu. Bahkan saat masih diluar negeri, dia juga sudah banyak memenangkan penghargaan internasional di bidang IT. Karena Emir memang kuliah dibidang itu, dia mengambil jurusan bisnis manajemen karena keluarganya memiliki perusahaan yang akan dia kelola.”
“Ehm…..maaf ya kalau aku banyak bertanya.”
“Tidak masalah! Emir yang membantuku saat keluargaku bangkrut. Dia mengajakku bergabung dengan perusahannya. Oh iya, Anda juga hebat! Bisa menguasai bidang ini dalam waktu singkat.”
“Hehe…..aku masih banyak kekurangan. Sebenarnya bidang ini bukan hobiku.”
“Oh ya? Lalu bidang apa yang kamu sukai?”
“Hmmm….aku suka art! Aku membuat barang-barang seni dan menjualnya online. Aku juga punya galeri kecil untuk meletakkan karyaku disana.” ucap Arimbi.
“Apa kamu yang membuat hiasan sepasang tikus di meja Emir?” tanya Renaldi penasaran.
“Eh…..kamu pernah melihatnya? Iya itu aku yang buat.”
“Pantas saja! Dia tidak mengijinkan siapapun menyentuhnya!” ujar Renaldi terkekeh.
...********...
Arimbi meminta supirnya untuk mengantarnya ke kantor suaminya yang tidak jauh dari kantornya. Dia menenteng dua paperbag yang tadi diantarkan Desi kekantornya. Sesampainya disana semua orang menyapanya dengan hormat.
__ADS_1
Arimbi memasuki lift khsusu menuju ke lantai teratas dimana ruang kerja Emir berada. Dia tidak memberitahu Emir kalau dia akan datang, karena tadi Emir mengatakan dia sibuk hari ini menangani dokumen proyek yang menumpuk.
Ting!
Pintu lift terbuka, Arimbi berjalan keluar. Dia melihat Ciara yang sedang berkutat didepan komputernya tampak sibuk sehingga tidak menyadari kehadiran Arimbi. “Selamat siang Ciara!”
Mendengar ada suara wanita yang menyapa, Ciara mendongakkan wajahnya dan langsung berdiri dengan cepat begitu mengetahui kalau yang datang adalah istri atasannya.
“Selamat siang Nyonya. Silahkan masuk, Tuan Emir ada didalam.”
“Terima kasih. Ini aku bawakan makan siang untukmu.” ujar Arimbi memberikan satu kotak nasi katsu.
“Oh, terima kasih Nyonya! Kebetulan sekali saya belum sempat memesan makan siang! Sekali lagi terima kasih.” ucapnya sedikit membungkuk mengucapkan terima kasih.
“Sama-sama! Aku masuk dulu.”
Arimbi mendorong pintu ruang kerja Emir, tampak pria itu sangat serius dengan banyaknya tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Emir mengenakan kacamatanya yang membuat pria itu terlihat sangat tampan dan profesional.
“Ehem…..” Arimbi berdehem untuk memberitahukan kehadirannya.
“Eh…..kamu disini?” Emir tersenyum. Wajahnya yang sedari tadi ditekuk karena banyaknnya pekerjaan, kini tampak sumringah melihat istrinya yang menghampirinya sambil tersenyum. Arimbi meletakkan paperbag diatas kursi dihadapan Emir lalu mendekatinya.
“Heh? Kamu belum makan? Ini sudah jam berapa? Apa kamu belum lapar, ingat kandunganmu.” ujar Emir mengelus perut Arimbi dengan lembut.
“Tadi aku tidak selera makan makanya aku kesini. Sekarang aku sudah lapar. Temani aku makan yuk?”
Dia langsung menarik lengan Emir yang segera bangkit dari duduknya lalu menarik Arimbi masuk dalam pelukannya. “Kamu beli makanan dimana?”
“Aku tidak beli. Ini makanan dari rumah, tadi dikirimkan ke kantorku.”
“Heh? Makanan dari rumah? Siapa yang mengirimi makanan?” tanya Emir heran sambil berjalan ke sofa. Satu tangannya merangkul bahu Arimbi sedangkan tangan satunya menenteng paperbag berisi makanan yang dibawa Arimbi.
“Tadi dititipkan di resepsionis. Katanya Desi yang mengantarkan. Kira-kira siapa yang menyuruhnya mengantarkan makanan padaku ya?”
Sambil bicara Arimbi mengeluarkan makanan yang dibawanya dan menghidangkan diatas meja. Ciara datang membawakan dua piring serta alat makan setelah Arimbi memintanya.
__ADS_1
“Ini makanan dari rumah utama. Apa ini?” tanya Emir melihat ada amplop kecil di bagian bawah. Tadi Arimbi tidak memeriksa paperbag, dia hanya melihat isi dalamnya saja.
Emir membuka amplop itu yang ada pesan tertulis, “Ini makan siang Nyonya! Tuan Besar yang meminta dikirimkan untuk Nyonya. Desi.”
Emir mengeryit, “Tuan Besar?” dia merasa heran dan bingung karena Tuan Besar yang dimaksud pasti ayahnya. Tapi mengingat sifat ayahnya, tak mungkin dia mengirimkan makanan untuk Arimbi. Lagipula, bukankah ayah sedang berada di villa puncak? Alarik membawa istrinya kesana agar tidak mengganggu Arimbi sampai pesta pernikahan mereka diadakan.
“Kenapa sayang?” tanya Arimbi yang melihat Emir terdiam setelah membaca pesan di kertas itu.
“Ehm….tidak apa-apa. Ini ayahku yang menyuruh pelayan untuk mengantarkan padamu.”
“Benarkah? Apa ayah sudah kembali dari villa?” tanya Arimbi.
“Sepertinya belum!” jawab Emir.
“Ah,sudahlah. Ayo kita makan. Sayang…..kamu mau ini? Aku suapi ya?”
Keduanya makan sambil bersenda gurau. Ada saja tingkah Arimbi yang membuat Emir tertawa.
“Apa kamu ada bertemu nenek?” tanya Emir tiba-tiba.
“Tidak ada! Yaya ada memintaku untuk menemui nenek. Tapi aku menolaknya dengan alasan kurang neak badan. Aku tidak mau bertengkar dengan nenek. Lebih baik aku menghindar saja.”
“Ehm….baguslah kalau begitu. Dua minggu lagi hari ulang tahun nenek.” ucap Emir.
“Oh….apa akan ada pesta?”
“Ya, biasanya begitu setiap tahun akan diadakan pesta meriah di hotel. Besok pergilah dan minta Michele membuatkan gaun pesta untukmu.”
“Ehm…..aku masih punya banyak gaun. Sayang kalau tidak dipakai.” ucap Arimbi.
“Kamu sudah pernah memakai gaun-gaun itu! Belilah yang baru, masih cukup waktu untuk mendesain gaun yang baru! Ingat, jangan pilih warna merah lagi!”
“He he he…..kenapa? Aku suka warna merah!” jawab Arimbi.
“Aku tidak suka! Terlalu menonjol dan seksi. Pilih warna lain yang natural.”
“Sayang…...tapi aku suka. Boleh ya?”
__ADS_1
“Jangan menentang suamimu! Istri harus mendengar dan menurut ucapan suami. Minta Michele membuatkan gaun baru untukmu! Jangan yang terbuka!” ucap Emir mengingatkan.