GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 340. PERTUNJUKAN DIMULAI


__ADS_3

Acara puncak sudah dimulai, iringan musik dan nyanyian dari penyanyi terkenal menghibur tamu yang hadir. Layar yang lebar menampilkan penyanyi dan pemain musik di panggung utama, di layar itu juga menampilkan siluet dari para tamu yang hadir malam ini.


“Tuan Emir!” sapa seorang pria.


“Ya.”


“Tuan Ernes sudah menunggu anda. Saya akan mengantarkan Tuan menemuinya.”


 


Emir mengangguk lalu berkata pada Arimbi, “Tunggulah disini, jangan kemana-mana. Aku akan menemui Tuan Ernes sebentar. Aku akan segera kembali.”


“Baiklah, aku akan menunggumu disini.”


“Kalau kamu bosan, kamu bisa mencari Joana! Tadi aku melihatnya bersama Dion Harimurti!”


 


“Hah?” Arimbi terkejut dengan mata membelalak.


“Dimana?”


“Di meja dekat tak jauh dari pintu menuju kehalaman samping.”


“Oke. Hati-hati! Aku akan menunggumu disini?”


Emir pun mengikuti pria itu pergi menuju ke bangunan utama. Resort ini memiliki Golf Club dan bangunan hotel. Semua fasilitas lengkap dan suasana resort yang asri membuat siapapun yang datang kesana pasti akan betah. Tak terasa dua puluh menit sudah Emir pergi, Arimbi mulai merasa cemas karena tadi suaminya mengatakan hanya sebentar.


 


Ini sudah melewati waktu yang dikatakan Emir, kenapa dia masih belum kembali? Kemana dia pergi bersama pria itu? Arimbi mulai khawatir karena ada hal yang harus mereka lakukan di acara ini. Dia melirik jam diponselnya lalu dia pun berdiri dan memutuskan untuk mencari Emir.


 


Arimbi berdiri lalu mengedarkan pandangannya. Bertepatan dia melihat Joana yang berjalan sambil mengangkat ujung gaunnya menuju ke arah samping bangunan hotel. Arimbi mengeryitkan keningnya lalu memutuskan untuk menyusul Joana. Dia terus berjalan lalu menemukan kalau arah perginya Joana itu adalah jalan buntu.


 


Saat Arimbi hendak pergi, dia mendengar suara-suara lirih yang berasal dari sudut bangunan itu. Dengan penasaran dia pun berjalan perlahan menuju kearah datangnya suara, saat dia hampir sampai disudut bangunan itu, tubuhnya kaku melihat pemandangan didepannya. Arimbi mengerjapkan matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya.


 

__ADS_1


“Sudah kuperingatkan jangan pernah coba-coba menghindar atau lari!” suara bariton itu sangat dikenalinya. Pria bertubuh tinggi kekar itu sedang menghimpit seorang wanita ke dinding sambil menahan kedua tangan wanita itu kebelakang. Pria itu mencium si wanita dengan insten membuat si wanita melenguh.


 


Arimbi masih tak percaya apa yang dilihatnya, tanpa sadar dia berteriak, “JOANA!” suara teriakan itu membuat si pria melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Arimbi. Begitu juga dengan Joana yang terkejut karena tertangkap basah oleh sahabatnya.


“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Arimbi dengan tatapan tak percaya. Dia memandang kedua orang itu bergantian.


 


“Eh…..ak---aku tadi ingin mengikuti seseorang.” ucap Joana dengan terbata-bata.


“Dion? Kenapa….?”


Bukannya menjawab pertanyaan Arimbi, justru pria itu melepaskan pelukannya pada Joana lalu pergi.


“Joana? Apa yang kalian lakukan? Ahhh….kenapa kamu jadi tidak tahu malu begitu? Joana?” Arimbi memandang wajah sahabatnya yang kini merona dan menunduk tersipu malu.


“Ah…..itu----tadi.”


“Sudahlah! Kamu berhutang penjelasan padaku. Katakan apa yang mau kamu ceritakan padaku tadi? Siapa yang mau kamu ikuti?”


 


“Lalu? Emir bilang kalau dia menemui Tuan Ernes rekan bisnisnya.”


“Aku tadi bertemu dengan Tuan Ernes, dia sedang berbincang dengan ayahku setelah dia keluar dari ruangan tempat dia bertemu Emir. Tapi aku tidak pernah melihat Emir lagi setelah dia keluar dari ruangan itu!”


 


“Tunggu sebentar! Aku cek GPS ponselnya dulu.” Arimbi pun segera mengecek GPS lalu tersenyum.


“Kenapa kamu tersenyum?”


“Pertunjukan akan segera dimulai!” ujar Arimbi masih tersenyum.


“Pertunjukan apa? Memangnya siapa yang mau bikin pertunjukan? Apa ada pesulap? Komedian yang akan mengisi acara malam ini?”


 


Arimbi tak merespon dan menarik tangan Joana. “Sekarang kamu pergi temui Dion dan bawa dia ke lantai empat kamar nomor 488.” Arimbi memberikan perintah.

__ADS_1


“Hah? Enak saja menyuruhku membawanya ke kamar hotel! Arimbi meskipun aku sudah memberikan kesucianku padanya, aku tidak akan menjatuhkan diriku ke pangkuannya untuk kedua kalinya!”


 


“Apakah kamu beberapa menit lalu baru jatuh kedalam pelukannya? Kamu bahkan membalas ciumannya! Bagaimana rasanya Joana?” Arimbi mencubit pipi sahabatnya itu.


“Eh…..itu---itu dia yang memaksa.”


“Pemaksaan atau Kerelaan? Sudah jangan banyak bicara! Turuti saja kata-kataku! Kamu cukup bawa Dion ke kamar itu, dan tunggu aku disana.” Arimbi pun pergi setelah dia menyelesaikan kalimatnya.


 


Joana yang masih bingung pun berjalan linglung mencari Dion. ‘Bagaimana caranya aku mengajaknya ke kamar itu? Aihhhhh Arimbi! Ada-ada saja.”


Sementara itu di kamar nomor 488, diatas tempat tidur terbaring sosok pria yang sepertinya tak sadarkan diri.


Klek!


Pintu kamar presidential suite itu terbuka, sesosok wanita berjalan memasuki kamar itu lalu menutup pintu dibelakangnya. Seringai muncul diwajahnya saat dia menatap sosok yang terbaring diatas ranjang.


Lampu diruangan itu remang-remang, hanya ada satu lampu dinding yang dinyalakan. Dia berjalan sambil melepaskan sepatunya, lalu melucuti gaunnya hingga hanya mengenakan pakaian dalam saja.


 


Dia merangkak keatas ranjang dan menyentuh dada pria yang tertidur pulas itu. Perlahan dia membuka kancing kemeja pria itu satu persatu hingga memperlihatkan dada bidang dan perut sixpacknya yang membuat mata si wanita berbinar penuh gairah.


 


“Emir, aku mencintaimu sejak dulu! Tapi aku seorang wanita berlogika tak mungkin berada disisimu yang lumpuh. Tapi dihatiku hanya mencintaimu seorang. Tidak ada seorang wanita pun yang boleh memilikimu Emir! Tidak juga Arimbi Rafaldi! Malam ini kamu akan menjadi milikku, selamanya! Aku terpaksa melakukan ini untuk mendapatkanmu!”


 


Zivanna naik keatas ranjang lalu mulai “Aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk wanita lain! Apapun kulakukan untuk tetap bersamamu Emir! Bahkan jika aku harus merendahkan diriku seperti ini dihadapanmu, semuanya aku lakukan karena aku mencintaimu! Arimbi tidak pantas bersamamu! Aku akan merebutmu darinya dan setelah itu aku akan melenyapkannya.”


 


“Aku tidak ingin kejam Emir tapi cinta membuatku buta! Dulu aku selalu mengejarmu tapi kamu selalu menolakku, hingga kakak laki-lakiku terpaksa bertindak nekat! Dia mencelakaimu! Dia membuatmu kecelakaan untuk memberimu pelajaran! Itu bukan mauku! Aku tidak mau kamu terluka!”


 


“Tapi kecelakaan itu membuatmu lumpuh dan mengalami impoten! Terpaksa aku meninggalkanmu tapi aku tidak pernah bisa melupakanmu! Aku tidak suka ada wanita lain disisimu! Emir, bukan aku yang meminta kakakku untuk mencelakaimu! Itu kemauannya sendiri karena dia tidak ingin melihatku sedih karenamu! Awalnya dia hanya berniat menyuruh orang untuk membuatmu mengalami kecelakaan kecil, tetapi orang itu bertindak kelewatan hingga membuatmu lumpuh.”

__ADS_1


 


__ADS_2