GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 424. BERSIKAP BAIK


__ADS_3

Mendengar ucapan para penculik itu membuat Ruby bergidik ngeri. Dia semakin ketakutan membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya. Saat dia memikirkan besarnya uang tebusan membuat Ruby menghempaskan napas kasar.


Sudah sekian lama sejak para penculik itu mengirimkan ancaman pada Reza namun sampai sekarang suaminya itu masih belum menghubungi para penculik lagi. 'Apakah Reza akan menebus dan membawaku pergi dari sini?' gumam Ruby didalam hati.


'Siapa sebenarnya yang menculikku? Apakah dia musuh Reza? Atau seseorang yang bermasalah dengan perusahaan mertuaku? Bagaimana jika Reza dan keluarganya tidak mau menebusku?'


Membayangkan semua kemungkinan itu saja semakin membuat Ruby ketakutan. Mengingat saat ini dia sedang hamil, hatinya terasa sakit. Haruskah hidupnya berakhir tragis ditangan para penculik? Haruskah bayinya yang tak berdosa juga akan ikut menderita bersamanya?


Airmata mengucur membasahi pipi mulusnya. Tanpa dia sadari, salah satu penculik yang menatapnya dengan mesum sejak tadi, kini sedang berjalan kearahnya. Dengan senyum seringai pria itu membungkuk dan mendongakkan wajah Ruby dengan tangannya.


"Hahahahaha apa yang kau tangisi sayang? Apa kau sedih karena suamimu itu tidak mempedulikanmu? Jangan takut, kami akan menjagamu dengan baik." ujar pria itu sembari memandangi tubuh Ruby dari atas sampai kebawah.


Meringis menahan rasa jijik dan takut, Ruby memberanikan diri berkata, "Aku mohon lepaskan aku! Kalian tidak bisa menyakitiku, aku sedang hamil."


"Hahahahaah......" penculik itu tertawa kencang sambil memegangi wajah Ruby. "Menarik.....sangat menarik....."


Seorang pria lain pun mendekati karena merasa tertarik dan juga bosan menunggu lama. "Apa yang kau tertawakan?"


"Wanita ini sangat menarik, dia bahkan berbohong dan mengatakan sedang hamil."


"Oh benarkah? Aku justru menyukai wanita hamil! Aku ingin merasakan bagaimana nikmatnya tubuh seorang wanita hamil! Kau tidak perlu takut nona, kami akan memperlakukanmu dengan lembut. Kalau kau ingin membalas suamimu yang tidak bertanggung jawab itu, aku punya ide untuk membantumu."


Kedua pria itu saling melemparkan pandang dan tertawa terbahak-bahak. Didalam pikiran mereka terbersit rencana untuk menjual Ruby ke rumah pelacuran dengan harga tinggi apalagi kondisinya sedang hamil.

__ADS_1


Di tempat yang biasa mereka kunjungi, banyak pelanggan yang menyukai wanita hamil. Kadang mereka mencari wanita-wanita hamil untuk dijual ke rumah bordil. Dengan tatapan penuh gairah mereka memandangi Ruby.


"Nona, sepertinya suamimu itu tidak peduli padamu! Apakah kau mencintainya? Tapi menurutku, kau tidak berharga baginya, kalau pria itu memang menyintaimu pasti dia secepatnya datang membawa uang tebusan untukmu! Tapi lihatlah, sudah sekian lama tapi dia bahkan tidak memberi kabar apapun."


Ruby merasa sedih dan meratapi nasib sialnya. Apakah Reza memang tidak pernah mencintainya? Tapi rasanya tidak mungkin jika Reza membiarkan para penculik ini menyakitinya. Bukankah keluarga Kanchana bergantung pada bantuan keluarga Lavani?


Mengingat hal itu sedikit membuat Ruby merasa lega. Dia berhenti menangis dan menutup matanya sambil menarik napas panjang. "Dia pasti akan datang menjemputku disini." gumamnya. Dia berusaha menyakinkan dirinya kalau Reza pasti sedang menyiapkan uang tebusan.


Sementara itu di kediaman keluarga Ganesha tampak Dion dan Joana duduk berdampingan. Didepan mereka kedua orang tua Joana dan kakak laki-lakinya. "Tuan harimurti......"


"Jangan memanggilku seperti itu, bagaimanapun anda adalah ayah mertuaku." ucap Dion.


Mendengar perkataan pria itu membuat kedua orang tua Joana tersenyum lalu mengangguk. Kedatangan Dion ke kediaman Ganesha untuk mengantarkan rancangan acara pernikahan mereka yang akan berlangsung dua minggu lagi.


Asisten Dion meletakkan setumpuk dokumen berisi rancangan pesta pernikahan mewah yang sudah direncanakan Dion. Ayah Joana membelalakkan mata saat membacanya, dia menghela napas dan didalam hatinya merasa bersyukur karena putrinya akan menikahi salah satu pria terkaya dan berkuasa di kota ini.


"Saya sudah membacanya dan tidak ada kekurangan apapun. Saya percayakan semuanya padamu." ujar ayah Joana tersenyum. Mana mungkin dia berani mengemukakan pendapatnya pada calon menantunya itu?


"Baiklah, ayah mertua. Anak buahku yang akan mengatur semuanya. Jika kalian ada permintaan khusus, katakan saja pada Joana atau padaku. Jangan merasa sungkan, bagaimana pun kita adalah keluarga."


Lagi-lagi perkataan Dion Harimurti menyentuh hati Joana. Dia tidak pernah menyangka jika pria kejam itu akan bisa bersikap baik dan lembut kepada orangtuanya. Dion bahkan membantu kakak laki-laki Joana dalam bisnisnya.


Setelah berbincang-bincang, mereka pun pamit dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Ganesha. Joana yang diam sejak tadi pun membuat Dion menatapnya dengan alis mengeryit. "Kenapa? Apa ada masalah?"

__ADS_1


"Ti---tidak ada. Aku hanya tidak sedang mood bicara." ucap Joana menundukkan wajahnya. Sejak dia tinggal bersama Dion, perlakuan pria itu jauh berubah dibandingkan dulu. Dion memperlakukannya layaknya seorang ratu. Menggendongnya ke kamar mandi, meskipun awalnya Joana sangat malu tapi lama-lama dia sudah terbiasa.


Yang mengejutkannya, Dion bahkan merasa takut menyakitinya sehingga pria itu memperlakukan Joana dengan lembut saat mereka tidur bersama. 'Apakah memang begini sifat aslinya?' pikir Joana.


Dion menggenggam erat tangan Joana lalu mencium punggung tangannya, "Apa kamu menginginkan sesuatu? Biasanya wanita hamil pasti menginginkan barang atau apapun itu. Katakan padaku, kamu mau apa?"


Joana mendongak menatap Dion, detak jantungnya selalu kacau setiap kali pria itu memperlakukannya dengan lembut. Dion Harimurti yang dulu dikenalnya sebagai sosok yang kejam dan mengerikan, kini hilang entah kemana digantikan oleh sosok Dion Harimurti yang lembut dan penyayang.


"Aku......." Joana memang ingin sesuatu tapi dia tidak yakin jika Dion akan memenuhi permintaannya.


"Katakan. Kenapa kamu ragu? Apa kamu takut padaku?" tanya Dion menarik Joana ke pelukannya. 'Kenapa dia masih takut padaku? Aku tidak pernah memarahinya, dia sedang mengandung anakku, jika aku tidak memperlakukannya dengan baik bisa saja nanti dia melarikan diri lagi seperti waktu itu.' batin Dion.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Dion. Tanpa dia ketahui sebenarnya Joana bukan takut padanya tapi dia sedang berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Setiap kali Dion menyentuhnya, Joana kehilangan kewarasannya.


"Hmmm......aku mau beli......pakaian dalam." ujarnya menundukkan wajah yang memerah menahan malu.


Dion mengulum senyum dan menundukkan wajah menatap wanitanya yang menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Dion. 'Kenapa dia menggemaskan? Tingkahnya lucu juga kalau sedang malu-malu begini. Tapi kalau dia sudah mengamuk persis seperti singa betina.'


Tanpa mengatakan apapun lagi, Dion memerintahkan supirnya mengarahkan mobil menuju ke mall. Joana yang masih menyembunyikan wajahnya didada Dion tidak tahu jika saat ini mobil mereka sudah berhenti di parkiran mall.


"Sampai kapan kamu mau bersembunyi didadaku?" suara Dion menyadarkan Joana. Dia membuka matanya dan mendelik saat dia menatap dada bidang yang sejak tadi di tempelinya. Joana merasa semakin malu.


'Aduh......kenapa aku sampai menikmati aroma tubuhnya? Dada bidangnya itu sangat nyaman. Dasar bodoh! Dia pasti mengejekku sekarang.' ujar batin Joana mengutuki kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2