
“Baru beberapa hari? Kamu masih pemula kalau begitu, tapi tidak seperti seorang pemula sama sekali. Kamu cukup bagus dan menguasai presentasimu dengan baik..”
Arimbi tersenyum saat Jordan mengambil formulir penawaran dari tangan Arimbi. Meskipun Arimbi adalah putri kandung Keluarga Rafaldi tapi dia masih relatif baru didunia bisnis, Jordan menyukai ini.
Hanya saja jika dia menginginkan putri kandung Keluarga Rafaldi, maka ia harus bekerja keras. Yang terpenting dia harus membiarkan Arimbi yang mengambil inisiatif untuk mendekatinya agar Yadid tidak mengganggunya.
Setelah semua urusannya selesai, Arimbi pun meninggalkan PT. Libra Elektrindo dan mengendarai mobilnya dengan santai kembali ke kantor. Saat dia baru saja hendak masuk kedalam lift, tampak Amanda keluar dari lift tersebut dan menyapanya. “Bagaimana pertemuanmu dengan Jordan tadi?”
“Baik. Semuanya berjalan lancar dan dia akan segera memberikan jawaban atas penawaran yang kuberikan.”
“Arimbi, dalam lingkungan bisnis kamu harus bersikap lugas. Ajaklah Jordan keluar untuk makan dan minum agar melancarkan bisnis. Aku sudah mengatur pertemuan makan siang dengannya besok. Bagaimana kalau kamu ikut bergabung bersama kami.”
“Apa itu perlu? Itu adalah pertemuanmu, aku takut akan mengganggumu nanti.”
“Tidak apa-apa. Kita berada dibawah perusahaan yang sama meskipun kita mengajukan penawaran yang berbeda. Kamu tahu kan seperti apa Jordan? Akan lebih baik kalau kamu ikut denganku untuk makan siang dengannya besok. Toh kita berdua membawa nama Rafaldi Group.”
“Baiklah. Kalau menurutmu begitu. Aku akan ikut denganmu untuk makan siang besok. Atur saja bagaimana baiknya saja Amanda.” ucap Arimbi yang ingin mengikuti permainan Amanda. Arimbi masuk kedalam lift dan kembali ke kantor ayahnya untuk melaporkan hasil pertemuannya tadi.
Sedangkan Amanda hanya memandangi saat pintu lift itu tertutup, ada kilatan jahat dimatanya dan senyum menyeringai. Dia harus mempercepat langkahnya untuk segera menyingkirkan Arimbi yang sepertinya semakin hari semakin berani dan bergerak cepat.
Amanda tidak akan membiarkan semua harta Keluarga Rafaldi jatuh ke tangan Arimbi. Setelah Reza menikah, dia tidak akan bisa secara terang-terangan bertemu pria itu lagi untuk menjalankan rencana jahat mereka jadi Amanda harus bertindak sendiri.
Bagaimanapun Arimbi sekarang tinggal di Keluarga Serkan, jadi Amanda berencana mencari cara agar Nyonya Tua Serkan menendangnya keluar dari rumah itu. Dan satu-satunya cara adalah membuat Arimbi melakukan kesalahan fatal yang merusak nama baik dua keluarga yaitu Keluarga Serkan dan keluarga Rafaldi.
__ADS_1
Dengan begitu dia bukan saja ditendang keluar dari kediaman Serkan, ayah mereka juga pasti akan menendangnya keluar dari perusahaan.
Yang Amanda tahu bahwa Layla Serkan adalah seorang wanita kuat yang tak bisa dibantah dan disegani banyak orang. Arimbi tidak akan berani menentang wanita tua itu. Amanda tidak tahu kalau Arimbi bahkan sudah menentang Layla Serkan pagi tadi, bahkan sudah berulang kali membuat wanita tua itu sakit kepala karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang berani membuatnya kehilangan kata-kata.
Amanda melajukan mobilnya menuju ke villa, Reza kembali menghubunginya dan meminta bertemu dengannya. Meskipun sebenarnya Amanda enggan karena dia tahu betul apa yang di inginkan pria itu.
Tapi dia tidak punya pilihan selain menurutinya. Reza selalu mengancamnya akan membongkar rencana busuknya jika Amanda menolaknya.
Pikiran Amanda kembali teringat dengan perkataan Arimbi tadi, ‘Bagaimana jika dia hamil? Anak itu akan jadi anak haram dan pasti memalukan sekali jika itu terjadi.’
Amanda pun bertekad akan meminta Reza memakai pengaman jika dia memintanya melakukan hubungan itu lagi nanti. Yang pastinya, memang Reza menyuruhnya datang karena ingin melakukan itu dengannya.
Sore harinya seperti biasa setelah jam kantor usai, supir sudah menunggu Arimbi didepan pintu masuk.``Dalam perjalanan kembali Arimbi bersandar di kursi mobil, tenggelam dalam pikirannya.
“Tuan Muda Emir sudah sampai di rumah, Nyonya.” lapor supir itu.
Mendengar itu, Arimbi bertanya dengan heran, “Emir pulang lebih awal hari ini, ya?”
“Tidak terlalu awal. Biasanya dia pulang jam segini.”
Memikirkan rehabilitasi Emir, Arimbi bertanya lagi, “Bagaimana perasaannya?”
Supir itu meminta maaf, “Saya hanya tahu bahwa Tuan Muda Emir sudah pulang, Nyonya tetapi saya tidak menemuinya karena saya bukan supirnya. Kecuali jika Tuan Muda Emir yang mencari saya, sulit bagi saya untuk menemuinya.”
__ADS_1
Arimbi berhenti bicara, kedudukan Emir dalam keluarga hampir sama seperti seorang raja.
Jika dia tidak memanggil seseorang maka sulit bagi mereka untuk bertemu dengannya. Bahkan jika dia duduk di bawah paviliun sepanjang hari. Kecuali keluarganya, tidak ada seorang pelayan pun yang berani mendekatinya.
Tak lama kemudian Arimbi kembali ke Villa Serkan. Supir membawanya langsung ke pintu masuk dan menunggunya keluar dari mobil lalu pergi.
Tidak seperti orang lain yang parkir di tempat parkir, dari detail sekecil ini, terlihat jelas apa posisi Arimbi dalam Keluarga Serkan. Tentu saja Arimbi yang sudah mengetahui sedikit tentang Keluarga Serkan pun tahu bahwa statusnya sudah berhubungan langsung dengan Emir dan diakui semua orang yang tinggal disana.
Arimbi meraba-raba tasnya, ketika dia tidak bisa merasakan hadiah yang telah dia siapkan, tiba-tiba dia teringat bahwa setelah dia memberikan hadiah tadi pagi dia lupa memasukkan hadiah lainnya kedalam tasnya. Kurasa aku akan memberikan padanya nanti. Aku harap dia dalam suasana hati yang baik saat itu. Arimbi pun berjalan memasuki villa.
“Meong!”
Guk! Guk!”
Begitu memasuki halaman, Arimbi mendengar suara menggonggong dan mengeong. Kemudian dia melihat beberapa kandang yang diletakkan disudut. Satu kandang berisi dua ekor kucing ragdoll yang cantik dan satu kandang lagi berisi dua anjing yang menggemaskan. Dia berjalan mendekat dan terkejut melihat hewan peliharaan itu.
“Aduh! Kucing-kucing dan anjing-anjing ini lucu sekali!” Arimbi berhenti didepan kandang dan hanya melihat mereka sejenak sebelum dia merasa jatuh cinta pada hewan-hewan itu. Dia berjongkok dan mencoba meraih dan menyentuh kucing Ragdoll tetapi kedua kucing itu menghindari tangannya dan terus mengeong padanya.
“Nyonya Muda Arimbi, ini adalah kucing dan anjing yang Tuan Muda Emir perintahkan kepada kami untuk dibeli. Dia bilang ini untukmu dan dia akan menempatkan mereka disini sampai anda pulang dan membawa mereka ke istana hewan.” ujar Benni yang muncul entah darimana dan sudah beridiri dibelakang.
Arimbi berdiri dan tersenyum cerah mendengar ucapan Beni. “Emir memberikan mereka untukku? Beni….aku akan masuk dulu dan keluar lagi nanti untuk membawa mereka ke istana hewan.
Emir tidak suka binatang berbulu dan dia mungkin juga tidak suka binatang lainnya. Meskipun dia bersedia memenuhi keinginan Arimbi, hewan peliharaan itu harus dibawa ke istana hewan.
__ADS_1