GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 287. TIDAK PANTAS JADI MENANTUKU


__ADS_3

“Apa kalian sudah tahu?” tanya Layla Serkan begitu mereka sedang sarapan pagi.


“Bu, ibu harus  melakukan sesuatu! Arimbi sudah keterlaluan membuat masalah dengan keluarga Lavani! Selama ini hubungan kedua keluarga cukup baik tapi lihatlah apa yang sudah dilakukan wanita itu? Memalukan sekali.” ujar Rania Serkan kepada ibu mertuanya itu.


“Cukup Rania! Jangan ikut campur masalah ini. Aku yakin Emir sudah menyelesaikan ini. Arimbi tidak bersalah, bukankah polisi sudah membawa Nona Zivanna untuk diperiksa?”


“Benar apa yang dikatakan istrimu! Sekian lama keluarga ini tidak bersinggungan dengan keluarga lain diluar sana tapi Arimbi baru saja membuat keluarga Lavani marah!”


Alarik diam tak berdaya, tak peduli bagaimana dia menjelaskan pada ibu dan istrinya, rasa tidak suka dan kebencian mereka pada Arimbi tetap membuat mereka buta pada kebenaran. Alarik sudah melihat semua berita secara keseluruhan dan memang Arimbi tidak bersalah dalam hal ini. Dengan karakter Zivanna seperti itu, bisa dipastikan dia yang membuat masalah.


Dreeettt…..dreeetttt….dreeeettttt


Ponsel milik Rania berbunyi, dia menatap layar ponselnya lalu menjawab, “Halo.”


“……..”


“Apa? Ah…..apa kamu yakin? Tidak mungkin putraku melakukan itu.”


“……..”


“Baiklah….baiklah. Kirimkan saja dimana alamatnya.”


Lalu dia mematikan teleponnya. Dia melirik suaminya lalu beralih pada Nenek Serkan. “Ada Rania? Siapa yang menghubungimu?”


“Teman lama. Bu, apakah ibu tahu kalau tadi malam Emir membelikan pusat perbelanjaan itu untuk Arimbi? Anak itu sudah keterlaluan!” ujar Rania penuh amarah.

__ADS_1


“Apa kamu bilang? Emir membelikan pusat perbelanjaan untuk Arimbi?” tanya Layla Serkan.


“Iya bu. Barusan aku diberitahu! Sekarang pusat perbelanjaan itu sudah jadi milik Arimbi. Apa kubilang? Dia pasti punya niat buruk menikahi putraku!”


“Kita harus melakukan sesuatu! Aku akan bicara dengan Arimbi.” ucap Layla Serkan.


“Bu, sebaiknya tanyakan pada Emir dan bicarakan ini baik-baik. Jangan gampang terpengaruh dengan omongan orang luar! Mungkin Emir sengaja membeli gedung itu karena memang pusat perbelanjaan itu sangat menguntungkan! Soal kepemilikan, mereka suami istri jadi wajar kalau dia memberikan atas nama istrinya.” ujar Alarik Serkan ayahnya Emir.


“Wajar? Kalau begitu kamu belikan juga aku pusat perbelanjaan? Aku sudah menikahimu bertahun-tahun dan melahirkan tiga orang anak! Sedangkan wanita itu baru menikahi Emir selama hampir dua bulan sudah mendapatkan sebuah gedung pusat perbelanjaan mewah? Dia pasti sudah melakukan sesuatu sehingga putraku melakukan itu.” protes Rabia memukul lengan suaminya.


“Diam! Kalian bukannya mencari solusi tapi membuatku tambah pusing.” ucap Layla. “Rania, hubungi Nona Zivanna dan suruh dia menemuiku.”


“Bu, aku akan menemui saat makan siang nanti. Bagaimanapun aku harus meluruskan masalah ini supaya tidak berimbas pada keluarga kita.”


“Arimbi sudah menikahi Emir, tapi orang diluar sana tidak ada yang tahu statusnya.seharusnya ini akan lebih mudah untuk ditangani.” ujar Layla Serkan. “Bicaralah padanya dan minta dia menemuiku jika dia punya waktu luang.”


Alarik langsung berdiri dan hendak pergi, dia tidak mau terlibat dengan urusan kedua perempuan itu. Tapi sebelum dia melangkah, Layla Serkan memanggilnya. “Apa yang kamu lakukan dengan masalah ini? Semua orang diluar sana tahu kalau Arimbi hanyalah seorang pengasuh dirumah ini.”


“Bu, sejujurnya aku tidak mau ikut campur. Mereka sudah dewasa dan berumahtangga, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalah ini. Bukan aku tidak peduli tapi aku tidak menemukan satu pun kesalahan dari Arimbi. Bu, apa yang membuat ibu sangat membenci Arimbi?”


“Dia tidak pantas untuk Emir! Kamu juga tahu itu.” ucap Layla Serkan dengan dingin.


“Tidak pantas? Jika dia tidak pantas lalu siapa yang pantas menurut ibu?” tanya Alarik pada ibunya.


“Jika kondisi Emir tidak lumpuh, putri keluarga Lavani pantas untuk mendampingi Emir. Hanya dia wanita terhormat di kota ini yang pantas berada disisi Emir.” jawab Layla Serkan.

__ADS_1


“Hah! Wanita itu! Meskipun dia berasal dari keluarga kaya dan ternama tapi perilakunya sangat buruk!


Jika Emir tidak lumpuh aku pun tidak akan membiarkan wanita itu jadi istri anakku!” ujar Alarik. “Dulu sebelum kecelakaan menimpa Emir, wanita itu selalu mengejarnya tanpa henti! Tapi, kemana dia sekarang? Tak sekalipun dia menjenguk Emir setelah kecelakaan. Itu yang ibu bilang pantas menjadi pendamping Emir?”


“Alarik! Semua wanita akan berpikir logis dengan kondisi Emir. Jika Arimbi menerima Emir itu karena ada maksud tersembunyi. Dan sekarang semuanya mulai terkuak perlahan! Entah cara apa yang dia pakai untuk menggoda cucuku! Hingga cucuku menghamburkan uang untuknya! Aku tidak akan membiarkan ini semua!” Layla Serkan marah lalu menghentakkan tongkat kayunya.


“Selamanya dia tidak pantas menjadi menantu keluarga Serkan! Perilakunya sangat buruk! Kali ini sudah berani memprovokasi keluarga Lavani! Besok entah keluarga mana lagi yang akan dia provokasi! Berani betul wanita itu! Hari ini aku akan mengusir wanita itu dari kediaman Serkan!”


“Bu, itu hanya akan membuat pertengkaran antara ibu dan Emir! Bu, kondisi kesehatan ibu tidak baik akhir-akhir ini. Beristirahatlah biarkan Emir menyelesaikan masalah ini. Dia pasti tidak diam saja jika keluarga Lavani membuat masalah dengan keluarga kita.”


Layla Serkan yang marah tidak mau mendengarkan perkataan putra sulungnya itu. Dia menghentakkan tongkatnya lalu memanggil kepala pelayan untuk membawanya ke kamar.


Seperginya Nenek Serkan, kini hanya ada Alarik dan istrinya Rania. Tapi wanita itu pun segera pergi tanpa mempedulikan suaminya yang mencoba memanggilnya.


******


Di gedung Rafaldi Group, Arimbi sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan oleh ayahnya. Kemampuannya semakin terasah sejak dia memenangkan kontrak kerjasama dengan PT. Libra Elektroindo. Arimbi semakin bersemangat belajar dan mendalami bisnis dengan membaca buku-buku yang diberikan oleh Emir padanya.


“Arimbi, kamu sedang sibuk? Kita harus bicara ini sangat penting.”


“Apa kamu tidak bisa melihat aku sedang apa? Amanda, bukankah biasanya kamu paling sibuk dengan pekerjaan? Kenapa aku perhatikan akhir-akhir ini sepertinya kamu tidak terlalu sibuk ya.”


“Apa maksudmu? Arimbi, apa yang ingin kubicarakan denganmu berhubungan dengan keluarga Lavani! Mengapa kamu selalu saja mencari masalah dengan mereka? Pikirkan keluarga dan perusahaan ini! Jangan egois kamu!” ujar Amanda sambil menahan amarah.


“Aku mencari masalah? Amanda, apa sebenarnya mau mu? Aku jadi mencurigai sesuatu sekarang karena rasanya sangat aneh. Kemanapun aku pergi mengapa ya Nona Zivanna juga akan berada ditempat yang sama denganku? Oh iya, Amanda apa kamu lupa saat itu kamu menyuruhku pergi memancing dengan Tuan Jordan dan bilang kalau kamu tidak tahu lokasi tempatnya?”

__ADS_1


“Arimbi! Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku sedang bicara tentang beritamu yang viral bertengkar dengan Zivanna! Apa kamu itu sudah gila, hah? Kenapa kamu sangat egois dan tak pernah memikirkan akibat dari tindakanmu!”


__ADS_2