GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 40. NOMOR TELEPON EMIR


__ADS_3

Tiba-tiba Mosha mengingat sesuatu dan ingin menanyakan langsung pada Arimbi karena dia merasa penasaran juga. “Arimbi, sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan Amanda? Sejak kamu menolak pernikahan dengan Tuan Emir, kamu seperti menjaga jarak dengan Amanda dan tidak dekat lagi dengannnya. Kenapa?”


Seperti yang diduga, seorang ibu benar-benar bisa melihat hati anak-anaknya. Tak peduli seberapa kuatnya Arimbi berusaha menahan kebenciannya pada Amanda, Mosha masih bisa merasakan ada sesuatu yang janggal. Mosha pikir mungkin karena Amanda mengadukan Arimbi pada ayahnya.


“Kami sudah mendidik Amanda dengan keras, meskipun kamu tidak memiliki hubungan darah dengannya tapi sebaiknya kamu berbaikan dengannya. Dengan begitu kamu masih bisa memiliki seseorang yang akan membantmu jika aku dan ayahmu sudah tidak ada lagi. Jangan menjauhinya karena hal-hal kecil.” kata Mosha menjelaskan.


“Bu! Apa ibu pikir Amanda memperlakukanku dengan baik?” Arimbi bertanya setelah diam sejenak menyelami perkataan ibunya tadi.


Mosha tersenyum, “Arimbi! Kamu adalah anak kandungku, jadi jika ada sesuatu aku pasti membelamu.” ujarnya.


Mata arimbi memerah saat mendengar kata-kata ibunya yang menghindari pertanyaannya. Dia takut ibunya akan menyadari mata merahnya, dengan cepat Arimbi cepat-cepat memalingkan wajah melihat keluar jendela.


Dikehidupan sebelumnya, orang tua Arimbi meninggal karena rencana jahat Amanda. Arimbi berpikir mungkin karena Amanda melihat bahwa kedua orang taunya lebih memilih untuk membela anak kandungnya sehingga Amanda memutuskan untuk membunuh mereka.


Gedung Rafaldi Group tidak terlalu jauh dari Serkan Global Corp karena berada di area yang sama. Jika hendak pergi ke Rafaldi Group maka harus melewati Serkan Global Corp.


Ketika mobil Mosha melewati gedung Serkan Global Corp, dia mengingatkan Arimbi, “Arimbi kamu lihat gedung itu? Itu adalah gedung Serkan Global Corp dan posisi direktu masih dipegang oleh Tuan Emir. Jika kamu memang berniat untuk masuk ke dunia bisnis, kamu harus berhati-hati dengan taktik, jebakan dan rencana Serkan Global Corp. Sekali terjerat jebakannya, apa yang sudah kita bangun selama ini akan hilang dan lenyap seketika.”


Arimbi tahu bahwa Serkan Global Corp tidak hanya mendominasi dunia bisnis di Metro tapi juga menjadi perusahaan yang sangat berpengaruh dinegeri ini. Gedung itu memiliki tujuh puluh lantau dan bersinar layaknya permata.  Arimbi berpikir mungkin saat ini Emir pasti sangat sibuk dikantornya.


Mosha yang tidak mengetahui hubungan putrinya dengan Emir terus melajukan mobilnya sambil bercerita tentang betapa kuatnya perusahaan milik Emir itu, dia juga mengatakan bahwa Emir adalah seorang pria yang dingin.


“Haikal Group pernah mengumpulkan kekuatan untuk mengalahkan Serkan group tapi meskipun sudah berkali-kali melakukan serangan, mereka tidak pernah menang. Ingat ya Arimbi bahwa Haikal Rasha juga orang yang bisa dihadapi dengan mudah. Kamu juga harus menghindarinya. Meskipun dia bermusuhan dengan Tuan Emir tapi ida juga tidak memperlakukan kita dengan baik.”


Karena Haikal Rasha sudah berani menentang Emir itu berarti dia bukan orang yang bisa dihadapi dengan mudah. Di kedhiupan sebelumnya Arimbi pernah bertemu dengan Haikal. Dia seumuran dengan Emir dan sama-sama tampan tapi yang membuat haikal sangat mencolok adalah matanya yang memikat.


“Aku mengerti Bu.”


sekarang Arimbi adalah istri Emir jadi sudah pasti Haikal akan menjadi musuhnya juga tapi seandainya dia bukan istri Emir, Arimbi tidak ingin berurusan dengan Haikal Rasha. Saat ibu dan anak itu menikmati perbincangan mereka pun tiba digedung Rafaldi Group. Petugas keamanan yang melihat dan mengenali mobil Mosha langsung membukakan jalan untuknya.


Mereka masuk ke gedung berlantai dua puluh delapan itu, didepan pintu masuk ada taman kecil meskipun tidak terlalu luas, taman itu dilengkapi jalan setapak, bebatuan dan tanaman yang tertata rapi. Awalnya taman itu dibuat untuk para pegawai yang istirahat diwaktu senggang. Tapi kini taman itu menjadi pemandangan pertama yang dilihat langsung saat memasuki area gedung kantor itu.

__ADS_1


Setiap orang yang datang berkunjung ke gedung itu selalu memuji desain taman kecil itu. Ini bukan pertama kalinya Arimbi datang kesana, jadi dia sudah pernah melihat taman kecil itu. Saat dia sedang berdiri menunggu ibunya turun dari mobil, ponselnya berdering.


“Bu, sebentar ya aku mau angkat telepon dulu.”


“Apakah itu dari Joana?” tanya Mosha.


Joana Ganesha adalah satu-satunya teman Arimbi sejak dia kembali ke keluarga Rafaldi. “Bukan Bu! Ini nomor tidak dikenal, aku tidak tahu siapa ini. Gimana kalau ibu naik duluan dan mencari ayah? Nanti aku menyusul setelah mengangkat telepon ini.”


“Baiklah.”


“Nyonya Rafaldi, Nona Arimbi,” sapa para resepsionis.


Arimbi mengangguk lalu mengangkat teleponnya.


“Halo. Siapa ini?”


“Kamu dimana?” suara dingin terdengar dari seberang telepon dan saat itu juga Arimbi tahu kalau itu adalah suara Emir. Ekspresinya berubah menjadi guugp dan dengan cepat menjawab. “Aku lagi diluar.”


“Kenapa kamu diam saja?”


“Hehe….kupikir kamu ingin mengatakan sesuatu padaku jadi aku nungguin.”


Sedangkan Emir pun menunggu Arimbi bicara. Karena bukan Arimbi yang menelepon duluan, diapun tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan manusia es bernama Emir Rayyanka Serkan itu.


“Ingat ya pulang kerumah sore ini. Aku meminta seseorang untuk merapikan rambutmu.”


“Rambutku tidak perlu dirapikan1”


Arimbi menolak karena dia puas dengan gaya rambutnya yang panjang, lurus dan halus.


“Hanya dirapikan sedikit saja supaya penampilanmu lebih bagus. Jangan khawatir, aku tidak akan memotong rambutmu!” ujar Emir. Dia menyukai rambut Arimbi yang panjang dan lurus tapi gaya rambutnya sedikit jadul.

__ADS_1


“Bukankah kamu akan menghadiri pesta keluarga Lavani minggu depan?”


“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya arimbi merasa aneh.’Kenapa dia bisa tahu kalau aku mau pergi pesta minggu depan? Oh Arimbi! Pastilah dia tahu, dia bisa mencari tahu tentang apapun yang dia mau.’ gumamnya didalam hati.


“Baiklah! Terimakasih sudah memikirkanku. Apa kamu mau pulang untuk makan siang?”


“Iya.” jawab Emir singkat.


“Baiklah.”


Setelah itu pembicaraan mereka terhenti karena tidak ada lagi yang perlu dibahas. Arimbi merasa kalau Emir sangat buruk dalam berkomunikasi karena dia selalu membuat pembicaraan terhenti.


“Mungkin aku tidak bisa pulang untuk makan siang. Apa kamu tidak masalah?”


“Itu urusanmu! Aku tidak ada hubungannya. Kamu tidak perlu memberitahuku dimana kamu berada sekarang karena tidak penting!”


Sikap Emir yang dingin dan ketus itu membuat Arimbi cemberut, “Emir! Apa ada lagi yang mau kamu bicarakan denganku?”


“Kamu tidak suka menerima teleponku?” balas Emir ketus.


Saat itu juga sebenarnya Arimbi ingin menjawab iya atas pertanyaan Emir tapi dia kembali berpikir mungkin nanti Emir bakal mencekiknya sampai mati.


“Aku tidak berani bilang iya.” jawab Arimbi.


“Fuuh! Ini nomor teleponku! Kamu bisa menghubungiku dalam keadaan darurat!” kata Emir dengan penekanan pada kata terakhir.


“Baik. Terimakasih Emir.”


Karena suaminya sudah bermurah hati memberikan nomor teleponnya, Arimbi pun merasa senang.


“Kamu tidak ku izinkan berterimakasih padaku!” ujar Emir dengan nada marah.

__ADS_1


Kata-katanya mengejutkan Arimbi, karena dia berterimakasih dengan tulus. Kenapa jadi marah?


__ADS_2