GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 182. SUAMI PENYAYANG


__ADS_3

Jadi dia perlu memperoleh lebih banyak pengalaman dengan membangun seidkit demi sedikit menuju ke puncak. “Jordan memang suka wanita muda, tapi dia tak akan memaksa mereka karena dia tahu diri. Lagipula kamu pikir Arimbi akan menyukai orang sepertinya setelah melihatku setiap hari? Sama saja dia cari mati kalau sampai memaksa Arimbi.”


Bahkan pengawal dari keluarga Harimurti saja telah merasakan bagaimana dibanting oleh Arimbi. Emir yakin kalau wanita itu bisa menonjok orang mesum semudah membalikkan telapak tangannya.


“Kamu begitu santai dengan istrimu.”


“Memangnya pilihan apa lagi yang kupunya? Menahannya supaya dia tetap bertahan bersamaku? Aku mau-mau saja melakukannya, tapi dia tidak akan setuju jika hanya menjadi istri dan diam dirumah.”


Pria itu senang menghabiskan waktu bersama istrinya, waktu selalu berlalu begitu cepat setiap kali mereka bersama. Apalagi tingkah istrinya yang selalu menggodanya dan menggemaskan.


Aslan tercengang, “Rasanya seperti kita sedang membicarakan Arimbi yang berbeda sekarang.”


“Aku membicarakan istriku. Hanya saja caranya menyelesaikan masalah terlihat agak berbeda dari yang aku tahu. Dan harus kamu ketahui kalau istriku itu jago ilmu bela diri.”


“Hah? Benarkah?” tanya Aslan tak percaya.


“Ya, dia bahkan membanting pengawal keluarga Harimurti tempo hari dirumah sakit.” ujarnya menarik tangannya dari mainan dan berkata, “Aku sudah menjawab semua rasa penasaranmu. Jadi pergilah sekarang kecuali kamu punya hal penting untuk dibicarakan. Kalau kamu merasa begitu bosan, aku akan memberimu lebih banyak pekerjaan dengan senang hati.”


Sekejap saja Aslan langsung tersadar mendengar perkataan menyeramkan itu. Baru ketika pria itu akan membahas hal yang serius, Aslan mengingat sesuatu lalu tersenyum, “Akhirnya kamu setuju untuk melakukan terapi lagi.” setidaknya dia kini merasa senang karena teman sekaligus atasannya itu mulai berubah dan ingin berjalan kembali.


Emir memutar matanya tapi dia tidak memusingkannya sambil berkata, “Kekuatan cinta memang diluar nalar kita. Aku sangat yakin kalau semua ini ada karena Arimbi. Nona Keira telah menunggumu selama bertahun-tahun. Kapan kamu akan memberinya jawaban?”


Aslan terkejut dengan topik yang tiba-tiba berubah itu, “Aku tidak memintanya untuk menungguku untuk melakukan hal itu dan aku juga tidak tertarik padanya. Kalau dia tidak akan menikahi orang lain, dia akan menjadi perawan tua jika menungguku terus.”


Pria itu merasa terganggu dengan tatapan tajam atasannya, “Emir, kamu tahu kalau aku tidak ingin menikah.” Sejenak suasana diruangan itu hening. Hingga akhirnya Emir pun memancing dengan kata-katanya, “Kuharap kamu tidak akan menyesali hal itu dan meminta pertolonganku suatu saat nanti.”

__ADS_1


Aslan merasa diserang rasa panik saat mendengar itu. Tapi dia tahu dia tak akan menyesali pilihannya karena mengingat obsesi Keira kepadanya.


...*******...


Sementara itu di perusahaan Rafaldi Group. Arimbi menanyakan banyak pertanyaan yang semuanya dijawab dengan penuh kesabaran oleh Amanda. Hingga mendapat pujian para karyawan yang melihatnya begitu tenang.


Kalau mereka itu adalah Amanda, mereka tidak akan punya waktu dan toleransi sebesar itu untuk mendampingi pendatang baru yang menurut mereka dungu.


Saat hari menjelang siang, Arimbi menerima pesan dari Emir. Pesannya singkat, ‘Ayo makan siang bersama.’ Beberapa kali Arimbi membaca ulang pesan itu dikepalanya seolah pesan itu akan memanjang dengan sendirinya.


Pria itu telah meminta laporan sepuluh ribu kata tanpa isian yang berulang tapi dia justru mengirim pesan sesingkat itu pada Arimbi.


Pesan singkat ya? Dengan itu, dia pun hanya menjawab singkat. ‘Oke.’ Saat jam istirahat tiba, Arimbi puna meninggalkan kantornya. Tadinya Yadid ingin membawanya ke sebuah pertemuan, tapi ia membatalkan rencananya itu dan meminta Amanda ikut bersamanya setelah dia tahu soal pesan Emir pada putrinya.


Sesaat setelah Arimbi keluar dari pintu masuk, dia bisa melihat mobil Emir yang berhenti di depan pintu masuk dengan jejeran mobil dibelakangnya yang berisikan para pengawalnya.


Sedangkan Yadid dan Amanda yang baru saja keluar pun melihat deretan mobil itu dan melihat Arimbi yang mempercepat langkahnya ke arah Rino yang membukakan pintu untuknya.


Lalu Rino menoleh dan memberi hormat pada Yadid. Jendela mobil Emir pun diturunkan dan dia memberi hormat pada mertuanya itu.


Amanda hanya bisa tertunduk tak mampu mengangkat kepalanya karena dia ketakutan pada Emir. Didalam hatinya dia merasa heran kenapa Arimbi masuk kedalam mobil Emir. Sebelum siapapun sempat bereaksi, Arimbi masuk kedalam mobil dengan cepat kemudian mobil-mobil itu perlahan berjalan satu -persatu.


Amanda menoleh pada Yadid dan bertanya, “Ayah, kenapa Arimbi pergi menaiki mobil Tuan Emir?”


“Oh itu, dia kan merawat tuan Emir jadi dia harus pergi kapanpun Tuan Emir membutuhkannya.” jawab Yadid yang masih merahasiakan pernikahan itu dari Amanda. Kemudian mereka pun pergi.

__ADS_1


Sedangkan kepala satpam bertanya pada temannya, “Apakah kamu melihat mobil yang dimasuki Nona Arimbi tadi? Entah kenapa aku seperti mengenal plat mobil itu. Tampaknya seseorang yang berpengaruh di kota ini tapi aku tidak bisa mengingat siapa orang itu.”


“Kita akan tahu setelah memeriksa daftar plat mobil.” gumam temannya.


Setiap kepala satpam di Rafaldi Group memiliki sebuah buku berisikan daftar plat mobil dari orang-orang terkenal. Jadi mereka bisa mengenali kendaraannya dan memberikan pelayanan terbaik saat datang ke perusahaan itu.


“Oh, kau benar juga.” kepala satpam itupun membuka bukunya kemudian matanya terbelalak terkejut.


“Ada apa?” tanya teman kepala satpam itu.


Kepala satpam itu menunjuk kederetan nomor dengan panik. “A—apakah yang ini? Ini plat mobil milik Tuan Emir.”


Meskipun Emir mengendarai limosin, hal itu cukup umum ditemui dikalangan orang kelas atas. Jadi satu-satunya cara untuk membedakannya adalah melalui nomor platnya.


“Tuan Emir? Gila! Itu memang dia! Apakah dia ada didalam mobil itu? Astaga! Aku melewatkan kesempatan untuk berjabat tangan dengannya.”


Kepala satpam itu tercengang mendengar reaksi temannya yang salah kaprah terhadap situasi itu. Bukannya kita harusnya bertanya kenapa Nona Arimbi menaiki mobil Tuan Emir?


Disisi lain, Arimbi sama sekali tidak mengetahui tingkah kepala satpam diperusahaan ayahnya itu. Setelah dia memasuki mobil, dia menyisihkan tasnya ke samping dan menerjang ke pelukan Emr. Dia melingkarkan tangannya ke leher pria itu. “Sayang, apakah kamu merindukanku?”


“Tidak.” jawab Emir singkat,


Arimbi langsung cemberut. “Sungguh? Tapi aku sangat merindukanmu.  Sini biar aku menciummu. Ah Emir, dada sesak menahan kerinduanku padamu. Rasanya aku ingin selalu berada disisimu.” Tepat setelah mengatakan itu dia mencium pipi Emir. Tapi pria itu justru terlihat tidak suka.


“Bisakah kamu berhenti memenuhi wajahku dengan air liurmu?”

__ADS_1


Arimbi terkekeh, “Ya, kamu juga bisa melakukan hal yang sama padaku.”


Emir mengatupkan bibirnya, tangannya melingkar disekitar pinggang arimbi dan menariknya mendekat. “Oh bunga?” begitu melihat buket bunga dan sebuah kota disamping Emir, Arimbi mengambil bunga yang harum itu. “Cantik sekali.”


__ADS_2