
Sebelum pesta pernikahan.
Di kediaman keluarga Harimurti, Joana tantrum gara-gara sikap Dion yang melarangnya pergi ke pesta pernikahan Arimbi dan Emir. Tak senang dengan sikap Dion yang dominan, Joana pun mengamuk dengan membanting barang-barang dikamarnya. Dia berteriak-teriak seperti orang gila melampiaskan kemarahannya.
Tak ada seorang pelayanpun yang mampu menenangkannya. Joana bahkan mengunci pintu kamar tak membiarkan seorang pun masuk kedalam. Joana bahkan menggeser sofa untuk memalang pintu karena dia tahu kepala pelayan pasti memiliki kunci serap kamar itu.
“Dion! Brengsek! Bajingan sialan! Aku akan menghancurkan rumahmu kalau kamu tetap tidak mengijinkanku pergi!” teriaknya sambil membanting barang-barang yang ada dikamar itu.
"Dion Harimurti! Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup! Dasar brengsek! Sialan!"
Sementara diluar kamar, kepala pelayan membuka pintu namun saat mendorong pintu tak bisa dibuka. Joana sudah memalang dengan sofa dan koper miliknya.
"Nona, tolong buka pintunya! Jangan begini nona! Nanti kami yang dimarahi dan dihukum Tuan Harimurti!"
“Kalau kalian berani masuk kesini, kalian akan menyesal! Aku akan bunuh diri! Lihat saja kalau kalian tidak percaya! Suruh Dion brengsek itu datang kesini! Aku tidak akan berhenti sampai dia minta maaf padaku.”
“Nona Joana, Tuan Harimurti sedang tidak ada dirumah! Dia sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Tolong jangan melakukan hal buruk, buka pintunya! Kita bisa bicarakan bersama Tuan Harimurti! Nona, jangan mempersulit kami! Kami mohon buka pintunya.”
“Tidak! Aku akan membakar kamar ini! Biar aku mati saja sekalian disini!”
Kepala pelayan pun panik lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Dion.
“Halo, Tuan! Nona Joana……”
“Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Dion dengan nada dingin dan datar.
__ADS_1
“It---itu Tuan! Nona Joana mengurung diri di kamar dan mengancam akan bunuh diri!”
“Apa? Kenapa dengannya?” Dion bicara seolah tak percaya perkataan kepala pelayan rumahnya.
“Nona Joana mengamuk karena dia tidak bisa pergi ke pesta pernikahan Tuan Emir! Dia mengancam akan bunuh diri dengan membakar kamar. Sepertinya dia menghancurkan barang-barang dikamarnya, Tuan.” ucap kepala pelayan itu dengan suara gemetar. Dia tahu bagaimana karakter Dion yang tidak akan mentolerir siapapun yang membuat kekacauan dirumahnya.
“Kenapa kalian tidak dobrak saja pintunya! Buka pakai kunci serap dan ikat dia kalau perlu.”
“A---apa Tuan? Kami sudah membuka pakai kunci serap tapi Nona Joana memalang pintunya.”
Saat kepala pelayan itu bicara, terdengar suara barang pecah yang bisa didengar Dion dengan jelas. Dia mengerutkan dahinya tak percaya jika Joana semarah itu.
“Aku akan meneleponnya. Apakah dia memegang ponselnya?”
“Tidak Tuan! Bukankah anda mengambil ponsel Nona Joana?” kata kepala pelayan itu lagi.
“Baik Tuan.”
Kepala pelayan itu lalu mengetuk kembali pintu kamar Joana sambil berteriak karena dia khawatir Joana tidak bisa mendengarnya. “Nona Joana! Tolong buka pintunya! Tuan Harimurti ingin bicara denganmu Nona!”
“Tidak mau! Katakan padanya supaya pergi ke neraka! Aku tidak mau berurusan dengan pria brengsek itu! Lebih baik aku mati daripada harus dikekang terus-terusan!” sahut Joana.
Dion yang mendengar suara Joana menjadi marah dan rahangnya menegang. ‘Semakin berani saja wanita itu menentangku! Dia bahkan berani memakiku? Awas saja! Kali ini aku tidak akan berbaik hati padanya, biarkan saja dia mengurung diri! Aku yakin dia tidak akan tahan lama berada di kamar itu tanpa makan dan minum! Kita lihat saja Joana, sampai kapan kamu bisa bertahan.’
Dion yang merasa harga diri dan egonya disentil oleh Joana pun memutuskan untuk membiarkan Joana. Dia tidak akan membiarkan wanita itu bersikap dan memakinya seenaknya! Dia ingin memberikan pelajaran pada Joana untuk menghormatinya. Dion tidak menyadari jika apa yang dilakukannya sekarang akan menjadi penyesalan terbesarnya.
__ADS_1
“Biarkan saja dia! Jangan beri makan dan minum! Kalau dia masih mengurung dirinya didalam kamar, biarkan saja! Teruskan pekerjaan kalian dan pastikan pengawal berjaga-jaga didepan pintu kamar Joana. Jangan sampai dia melarikan diri. Katakan pada penjaga diluar untuk patroli dan memperhatikan balkoni kamar!” Dion pun memberikan perintah pada kepala pelayannya.
Dengan kesal dan marah dia mematikan teleponnya. ‘Huh! Wanita memang menyusahkan saja!’ Dion kembali fokus mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. Bergelut dalam tumpukan dokumen penting di hadapannya, dia pun melupakan masalah Joana dalam sekejap mata. Hingga akhirnya sebuah panggilan masuk membuyarkannya.
Dia melirik ke arah jam di dinding, sudah menunjukkan jam sembilan pagi. Dia ingat saat melihat undangan pesta pernikahan Emir dan Arimbi kalau acara akan dimulai pukul sepuluh pagi. Dia tidak berniat menghadiri acara itu karena dia dan Emir adalah musuh bebuyutan. Hal itu yang membuatnya melarang Joana pergi ke pesta itu.
Dreeetttt dreeetttt dreeettttt
“Ada apa lagi?” tanya Dion menjawab telepon dari pengawal dirumahnya.
“Tuan, Nona Joana……Nona Joana membakar kamarnya!’ suara pengawal itu terdengar panik.
“Apa katamu? Bagaimana bisa?” Dion pun panik seketika. Dia tak menyangka jika Joana benar-benar melakukan ancamannya. “Cepat padamkan apinya!”
“Apinya sudah membesar Tuan! Kami sudah berhasil mendobrak pintu tapi kami tidak menemukan Nona Joana didalam kamar. Seluruh kamar terbakar dan banyak barang yang sudah menjadi abu! Maafkan kelalaian kami tuan!” pengawal itu terdengar gemetar ketakutan. Mereka juga tidak menyangka kenekatan Joana yang membakar kamarnya.
“Dimana Joana? Apa dia baik-baik saja?” tanya Dion panik dan cemas.
“Ti---tidak Tuan! Semua yang ada didalam kamar sudah jadi abu. Kami tidak menemukan Nona Joana! Pintu dan jendela semuanya terkunci! Kami sudah memeriksa semuanya namun tidak menemukan Nona Joana! Kami hanya melihat sisa pakaian yang tadi dipakainya sudah terbakar.”
Sontak wajah Dion pucat pasi. Tak menyangka insiden ini terjadi hanya dalam waktu singkat. ‘Joana bunuh diri? Apakah dia mati? Tidak…..tidak…..ini tidak mungkin!’ gumamnya lalu berdiri dan meraih kunci mobilnya.
Dion bergegas meninggalkan kantornya sambil menghubungi asistennya untuk mengerjakan semua pekerjaannya. Dion yang kalap pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dia tak peduli dengan cacian dan makian dari pengendara lain karena dia memotong jalan. Hingga tak berapa lama dia pun tiba dirumahnya. Dion keluar dari mobil tanpa menutup pintu mobilnya, dia berlari menuju ke lantai atas dimana dia sudah melihat para pengawal dan pelayan berada disana. Kamar itu sudah terbakar didalam namun tidak sampai merambat keluar.
__ADS_1
‘Apa yang terjadi disini? Kenapa seluruh kamar itu hangus terbakar namun apinya bahkan tidak merambat keluar?’ Dion mengerutkan dahinya memikirkan cara apa yang digunakan Joana untuk membuat kekacauan sebesar itu dirumahnya. Wanita itu sangat liar, dia bahkan tidak bisa mengendalikannya. Atau, apakah memang begitu sifat wanita yang sebenarnya?