
Emir berjanji pada Mosha sehingga membuat wanita itu merasa lebih lega setelah mendengar janji menantunya itu. Kemudian dia teringat dengan panggilan telepon dari Arimbi tado dan bertanya, “Kenapa Arimbi menelepinmu tadi? Ibunya terlibat kecelakaan mobil ya?”
“Benar, ibu angkatnya terlibat kecelakaan mobil dan saat ini dirawat dirumah sakit umum Metro.” Sejenak Emir berpikir apakah dia perlu menjenguk Pratiwi. Keluarga Darmawan sudah membesarkan Arimbi dan mendidiknya dengan baik.
Setidaknya perangai dan kepribadiaan wanita itu cocok dengan Emir. Emir pun merasa terdorong unutk menjenguk Pratiwi di rumah sakit tapi karena identitasnya maka kehadirannya dirumah sakit pasti akan menarik perhatian publik. Tempat itu adalah tempat bagi pasien jadi dia tidak mau membuat keributan disana.
Sementara itu Arimbi sudah tiba di rumah sakit umur Metro, setelah supirnya memarkirkan mobilnya dan Arimbi dengan cepat membuka pintu lalu keluar dari mobil.
“Nona Arimbi, apakah aku perlu menunggu Nona?” tanya Fajar.
“Tidak perlu, kamu bisa pergi sekarang. Nanti saya agak lama disini mungkin akan menginap.” jawab Arimbi tanpa berpikir panjang.
Karena ibu angkatnya dirawat inap, dia harus tinggal dirumah sakit untuk merawat wanita itu. Ditambah lagi Arimbi sudah meminta izin pada Emir untuk pergi kesana. Kemudian supir itu menganggukkan kepala lalu melajukan mobil meninggalkan parkiran rumah sakit. Sedangkan Arimbi berjalan cepat memasuki rumah sakit sambil mencari ponselnya untuk menelepon Adrian.
Tapi saat perhatiannya teralihkan dia bertabrakan dengan Dion Harimurti yang datang dari ruang rawat inap. Setelah tanpa sengaja menabrak Dion, pengawalnya langsung melangkah masju dna mendorong Arimbi menjauh sebelum dia sempat bereaksi. Hal itu terjadi sangat cepat sehingga Arimbi kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Dia berusaha menggapai sesuatu untuk dipegang, seolah menemukan penyelamat denga erat dia menarik sebuah tali. Akhirnya dia bisa berdiri kembali dengan bantuan tali itu tapi saat dia tersadar, dia bertatapan dengan sebuah wajah tampan yang menggelap. Dia mengerjapkan matanya.
Arimbi merasa mengenali wajah itu dan mata yang memikat milik pria itu terasa tak asing tapi dia tak bisa mengingatnya dimana dia pernah melihatnya. Disisi lain Dion terlihat sangat kesal karena Arimbi menarik dasinya dengan erat dan hampir mencekiknya didepan umum.
Tapi saat dia melihat wajah wanita didepannya, ekspresi wajah Dion langsung berubah. Dengan cepat dia menari kerah baju Arimbi dan menariknya mendekat untuk menatapnya dan menyakinkan dirinya kalau wanita didepannya itu bukan halusinasinya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Arimbi yang merasa bingung.
Kemudian pria itu mencubit pipi Arimbi dengan keras. Arimbi yang merasa kesakitan mengangkat tangannya dan menepis tangan Dion.
Setelah itu Arimbi balas mencubit wajah pria itu dengan keras. Beraninya kau mencubitku? Kau bukanlah Emir jadi kau tidak bisa melakukan ini padaku!’ geramnya dalam hati.
Dion berbisik, “Ah, ini nyata! Aku tidak sedang bermimpi?”
‘Hah? Bermimpi? Ada gila-gilanya kurasa orang ini.’ bisik hatinya dan Arimbi pun dengan cepat bergerak mundur sambil menatap Dion dengan waspada. “Mau apa kamu?”
Tatapan pria itu tertuju pada perut Arimbi. Arimbi pun semakin bingung mengikuti arah pandangan mata pria itu. ‘Apakah ada sesuatu diperutku? Aku tidka gemuk dan pertuku juga tidka buncit. Kenapa dia melihat kearah perutku?’ gumamnya didalam hati.
‘Hah? Bayi?’ Arimbi terkejut mendengar itu lalu dia memikirkan sebuah kemungkinan lalu menatap Dion dengan tatapan tidak percaya. ‘Pria itu berkata kalau dia tidak bermimpi dan aku ini nyata. Kemudian dia menatap perutku dan bertanya soal bayiku? Apakah dia orang yang mengambil keperawananku di kehidupan sebelumnya?”
“Arimbi?” Adrian baru saja keluar dari rumah sakit untuk menunggu Arimbi tapi dia tidak menyangka wanita itu sudah tiba disini.
“Adrian!” Arimbi yang melihat orang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu datang, dia bagaikan mendapat seorang penyelamat. Dengan sigap dia melewati sekumpulan orang itu dan berlari kearah Adrian.
Melihat wajah pucat Arimbi, Adrian pun melihat ke sekumpulan orang-orang Dion Harimurti, “Arimbi ada apa? Apakah mereka melakukan sesuatu padamu?”
Adrian mengepalkan tangannya saat bertanya pada Arimbi. Kalau Arimbi mengatakannya iya maka dia akan segera menghajar orang-orang itu untuk membalas.
__ADS_1
Arimbi bergegas menarik tangan Adrian pergi bersamanya. “Aku baik-baik saja. Mereka tidak melakukan apapun padaku. Akulah yang berjalan terburu-buru hingga menabrak mereka. Aku merasa panik melihat begitu banyak orang itu.” ujar Arimbi menjelaskan tapi Adrian meragukannya.
Bagaimanapun Arimbi bukan seorang pecundang, dia telah belajar taekwondo dan sanda jadi dia bisa menangani beberapa pria sendirian. Wanita itu berani karena dia tahu seni bela dirinya, karena itulah rasanya tidak mungkin kalau sampau dia menjadi setakut itu setelah bertabrakan dengan sekumpulan orang tadi.
“Adrian! Bagaimana keadaan ibu? Dimana dia mengalami kecelakaan?” Arimbi segera mengganti topik pembicaraan dan tak memberi kesempatan pada Adrian untuk bertanya lebih jauh. Dikehidupan sebelumnya, dia pikir bayinya adalah putri dari Reza. Ketika dia mengetahui kebenarannya, bayinya sudah sekarat. Mereka pun mati tanpa pernah tahu siapa ayah kandugn bayi itu.
Setelah terlahir kembali, Arimbi masih merasa sakit saat mengingat anaknya. Kebenciannya kepada Amanda dan Reza semakin mendalam. Tapi dia tahu kalau dia belum bisa melawan mereka. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dia menahan dan mengendalikan kebenciannya.
Arimbi tak menyangka akan menemukan ayah kandung bayi itu. Ini terjadi karena dia terlahir kembali. Di kehidupan ini, dia tak masuk dalam jebakan dan tidak hamil diluar nikah. Jadi dia bisa menghindari kematian tragis seorang ibu dan anak.
“Ibu merindukan Amanda, jadi diam-diam ibu pergi ke kota tanpa memberitahu kamu untuk menemui Amanda. Tapi ibu tidak mengenal kota dan dia kehilangan poselnya lalu tertabrak mobil. Ibu terluka parah tapi untungnya ibu dibawa kerumah sakit dan menjalani operasi tepat waktu. Dokter bilang kalau ibu sudah melewati masa kritisnya.”
“Ibu ingin bertemu Amanda?” Arimbi terkesipan mendengar hal itu, dengan cepat dia menenangkan diri. Meskipun Amanda tidak kembali ke keluarga Darmawan, dia tidak bisa menghapus fakta bahwa dia adalah anak kandung keluarga itu. ‘Wajar saja orangtua angkatku ingin menemui anak kandungnya.’ bisik hatinya lalu dia menoleh pada Adrian.
“Kalau ibu ingin menemui Amanda, ibu bisa bilang padaku. Aku akan menjemputnya dan mempertemukan ibu dengan Amanda. Tidak perlu sembunyi-sembunyi.”
“Ibu tidak mau mengganggumu. Lagipula ibu kandungmu tidak mau kita terlalu sering bertemu.” kata Adrian menjelaskan situasinya, ‘Lagipula Amanda tidak ingin bertemu kami. Jadi ibu memutuskan untuk bertemu dengannya diam-diam. Tapi ibu justru mengalami kecelakaan. Sejak tadi ibu terus menyebut nama Amanda. Aku tak bisa terus menerus melihat ibu seperti ini jadi aku pergi mencari Amanda.”
“Apakah Amanda ada didalam bangsal sekarang bersama ibu?” tanya Arimbi. Menurutnya Amanda pasti mau menjenguk ibu kandungnya yang sedang terluka parah merkipun dia tidak mau kembali ke keluarga Darmawan.
“Dia tidak ingin bertemu dengan kamu jadi sudah pasto dia tidak ada di bangsa.” ucap Adrian dengan nada tidak senang saat menceritakan tentang Amanda.
__ADS_1