GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 79. MERAYU SUAMI DI PAGI HARI


__ADS_3

Emir yang mengetahui kalau Arimbi adalah perempuan yang tak tahu malu, Emir pun malas menolak ajakannya. “Kamu itu tampan! Jika kamu bisa berjalan lagi kamu akan semakin mengagumkan. Aku akan lebih mencintaimu.”


Emir menggerakkan bibirnya dan dengan dingin berkata, “Aku tidak menginginkan cintamu!”


Arimbi mencoba kembali untuk menarik tangan Emir supaya dia berdiri dari kursi rodanya tapi Emir kembali menepis tangannya.


Kemudian Emir pun pergi sambil berkata, “Arimbi jangan uji kesabaranku! Kamu tidak mempunyai hak untuk mendikte kehidupanku!”


Arimbi berdiri dan melihatnya. Pada akhirnya emir masih waspada dan tidak mempercayainya.Setelah waktu yang lama, Arimbi menyusul dan mendorong kursi rodanya lagi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Emir tidak menoleh atau berbicara.


Pasangan itu tetap diam sampai mereka kembali kerumah. Beni yang melihat kedatangan mereka pun berpikir bahwa pasangan itu bisa meningkatkan hubungan mereka selama jalan-jalan. Namun Emir kembali dengan ekspresi dingin sedingin es dan bibir mengerucut. Jelas sekali kalau Tuan Muda sedang dalam suasana hati yang buruk. Di sisi lain, Arimbi masih bersikap tidak peka.


Melihat ekspresi wajah keduanya, Beni pun berpikir mungkin Arimbi sudah membuat Tuan Muda Emir marah. Melihat ekspresi Nyonya Muda Arimbi, dia tidak terlihat melampiaskan rasa frustasinya padanya. Ini langka!


“Beni!”


Tiba-tiba Emir memanggil Beni dengan suara rendah, menarik kepala pelayan itu menjauh dari pikirannya yang dalam. “Ya Tuan Muda Emir?”


“Dorong aku keatas.”


Emir tidak berencana untuk menginap dikamar Arimbi malam ini.


“Baiklah.” jawab Beni.


Arimbi pun menyingkir dan membiarkan Beni mendorong kursi roda Emir masuk kedalam lift. Setelah keduanya pergi, Arimbi menghela napas. ‘Aku hanya ingin membantu Emir agar bisa berjalan lagi dan aku tidak punya maksud lain! Tapi dia selalu berpikiran buruk tentangku. Aku percaya kalau kelumpuhannya itu sangat mengganggunya. Pasti Emir tidak merasa nyaman dengan keadaannya.’ bisik hati Arimbi. Tapi dia tidak mudah menyerah, Arimbi ingin lebih dekat lagi dengan Emir dan membuatnya bisa percaya pada Arimbi. Setelah itu, barulah dia bisa membujuknya untuk terapi.

__ADS_1


Malam harinya, dirumah Emir tampak sepi. Tidaka da seorangpun yang berani ebrbicara keras. Semua orang berjalan dengan pelan karena takut menyinggung Tuan Muda mereka.


Keesokan harinya, Emir mencium aroma yang kuat ketika dia turun kelantai bawah. “Apa yang Arimbi lakukan didapur?” tanyanya. ‘Baunya enak sekali.’


Beni tersenyum, “Nona Muda Arimbi sedang memasak sup hebarl. Dia pasti melihatmu sibuk dengan pekerjaan dan khawatir kalau Tuan kelelahan, jadi dia bangun pagi untuk membuatkan sup untukmu. Aku pergi kedapur besar untuk mendapatkan bahan-bahan untuknya.”


Emir berkata dingin, “Beni! Kamu terlalu banyak berpikir.”


Tanpa bertanya Emir tahu kalau Arimbi sedang membuat sup herbal untuk ibu angkatnya yang sedang dirawat dirumah sakit. ‘Huh! Dia tidak pernah membuatkan aku sup meskipun dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku! Cinta apa begitu? Cih!’ dengusnya didalam hati.


Sementara itu, Arimbi baru saja keluar dari dapur begitu mendengar suara orang berbicara. Dia mengenakan gaun panjang sebatas lutut dengan motif bunga yang membuatnya terlihat segar dan cerah. Dia juga memakai celemek motif bunga. Emir menatapnya dengan tatapan dalam.


“Selamat pagi Emir!” sapa Arimbi dengan senyuman manis yang ditanggapi Emir dengan singkat, “Pagi.”


Mendengar tanggapannya membuat senyum diwajah cantik Arimbi semakin lebar dan matanya berbinar. “Emir, aku membuatkan sup hebral. Apakau kamu mau mencicipi? Jika kamu mau, aku akan menyajikan untukmu sekarang.”


Melihat Emir tidak membantah Beni, Arimbi tersenyum, “Baiklah. Tunggu sebentar ya aku ambilkan supnya sekarang.”


Ketika Arimbi berbalik dan kembali ke dapur, Beni mendorong kursi roda Emir ke meja makan dan dengan lembut berkata, “Tuan Muda Emir! Dia memasak sup untukmu. Sejujurnya masakannya cukup enak. Aromanya cukup membuatku ngiler.”


Emir menoleh dan memelototi Beni, “Beni! Kamu terlalu banyak bicara! Hanya aku yang boleh memuji istriku!”


Beni tersenyum mendengar ucapan Emir, “Ya, aku akan diam sekarang.”


Tak lama Arimbi kembali dengan semangkuk sup herbal ditangannya, dengan hati-hati dia meletakkan mangkuk sup diatas meja dan berkata, “Emir! Selamat menikmati ya. Aku akan menyiapkan bekal makan siang sisa sup untuk ibuku.”

__ADS_1


Sejak Arimbi mengunjungi ibu angkatnya kemarin,, dia selalu merasa khawatir setelah melihat wajah ibu angkatnya yang pucat. Arimbi juga sudah berkonsultasi dengan dokter dan memastikan bahwa ibu angkatnya bisa minum sup sekarang. Oleh karena itu, dia bangun pagi-pagi dan meminta Beni untuk membawakannya beberapa bahan makanan untuk membuat sup herbal untuk ibu angkatnya.


Dia sengaja memasak lebih banyak jadi dia bisa memberikan semangkuk sup untuk Emir. Arimbi tidak mau kalau Emir sampai tahu kalau ini porsi tambahan. Kalau tidak, Emir tidak akan mau memakan supnya. Dia benar-benar pria yang licik!


“Apa ini mangkuk pertama yang kamu sajikan?” tanya Emir.


“Iya, ini mangkuk pertama.” jawabnya. Setelah itu Emir tidak mengatakan apapun lagi.


Sebelum Emir kembali bicara lagi, wanita itu sudah kembali ke dapur. Saat ini Emir merasa sangat bahagia karena Arimbi memasak untuknya. Dia mengambil sesendok sup dan meminumnya, ‘Hmm….sup ini enak sekali! Aromanya sedap dan rasanya juga enak.’


Emir bahkan menjilati tulang sup yang ada dimangkuk berpikir bahwa sup itu sangat enak.


Saat itu Arimbi keluar dari dapur dan tersenyum melihat Emir yang menyantap supnya dengan tenang,


“Emir, aku akan pergi kerumah sakit sekarang.” ucapnya sambil membawa kotak makan siang. “Beni, bisakah kamu mengatur mobil untukku?”


Arimbi sebenarnya merasa tidak nyaman karena sudah tidak bisa menyetir sendiri. Beni menatap Emir untuk meminta persetujuan. Emir membalas tatapannya setelah meletakkan sendok dari suapan terakhir, dia berkata dengan suara dalam, “Sebelum aku menceraikannya, dia adalah nyonya mudaku. Apa pun permintaannya selama itu bukan kejahatan kamu harus mengikuti perintahnya!”


“Baik, Tuan.” ucap Beni yang kini sudah mengerti.


Arimbi mendengar kata-kata Emir sebelum dia pergi, dia pun berbalik lagi dan bertanya pada Emir dengan hati-hati, “Emir, apakah kamu akan menceraikanku?”


“Apakah kamu mau kuceraikan?” ucap Emir dengan nada mengintimidasi.


Arimbi yakin jika dia menjawab iya maka dia tidak akan pernah melihat matahari terbit besok.

__ADS_1


“Tentu saja tidak! Aku kan sudah bilang bahwa aku akan bertanggung jawab padamu seumur hidupku. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Kecuali kamu memaksaku untuk bercerai, aku akan tinggal disisimu selama sisa hidupku tak peduli berapa banyak rintangan yang harus ku hadapi. Bersamamu aku yakin bisa menghadapinya dan aku tidak akan pernah menggantikanmu dihatiku.”


__ADS_2