
Dia juga harus memberikan pelayanan yang baik juga. Terserah pada Joana jika dia mau memakan makanannya atau tidak. Yang penting dia sudah memberinya makan dan tak membiarkannya kelaparan.
Setelah ayah dan saudara laki-laki Joana sampai dirumah, mereka bertanya pada Jayantiapakah Joana sudah pulang dan Jayanti menjawab, “Joana masih belum pulang. Sejak dia dibawa pergi oleh pengawal keluarga Harimurti. Dia masih belum pulang sampai sekarang!”
Hardi terkejut tidak percaya, “Tapi tadi Direktur Harimurti mengatakan kalau dia sudah melepaskan Joana. Kenapa dia tak kunjung pulang? Apakah ponselnya aktif? Apa sudah coba menghubunginya?”
Jayanti seketika itu juga mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Joana tapi tidak ada jawaban.
“Kemana anak itu pergi? Ponselnya masih tidak bisa dihubungi. Apa baterainya habis? Direktur Harimurti bilang dia telah melepaskannya. Jadi mana mungkin dia masih berada disana? Apa gunanya Direktur Harimurti berbohong pada kami. Ini sudah larut malam dan Joana masih belum pulang juga. Bahkan setelah menyebabkan kehebohan seperti ini.”
“Apa mungkin dia pergi menemui Arimbi?” tanya Ruben Ganesha saudara laki-laki Joana.
“Tidak mungkin. Jika dia pergi mencari Arimbi. Arimbi pasti sudah mengabari aku. Jika ponselnya memang kehabisan baterai sudah pasti dia akan kembali.”
Jayanti menatap suaminya dengan ekspresi cemas diwajahnya, “Hardi, bagaimana kalau Direktu harimurti berbohong kepadamu? Bagaimana kalau dia tidak melepaskan Joana kembali?”
Hardi mengeryitkan keningnya dan berkata, “Untuk apa Direktur Harimurti berbohong? Coba hubungi Arimbi dan tanyakan padanya apakah Joana ada disana atau tidak.”
Tanpa pikir panjang Jayanti segera menghubungi Arimbi. Setelah mengkonfirmasi bahwa Joana tidak bersama Arimbi, Jayanti pun memutuskan panggilannya. Saat itulah mereka mulai mencemaskan keadaaan Joana yang tidak diketahui keberadaannya. Ketika seluruh keluarga Ganesha mencemaskan Joana, begitu pula dengan Arimbi.
Arimbi melewatkan sepanjang malamnya dengan kecemasan. Meskipun setelah sesi percintaannya dan Emir selesai, dia masih saja memikirkan Joana. Emir yang seolah tahu apa yang dicemaskan istrinya memeluk Arimbi dalam dekapannya sepanjang malam.
*********
__ADS_1
Pagi ini Arimbi ingin berangkat kerja, tapi sebelumnya dia menghubungi Jayanti untuk menanyakan apakah Joana sudah kembali atau belum, tanpa sepengetahuan Emir. “Nyonya Ganesha, apakah Joana sudah kembali?”
Jayanti terdengar seperti akan menangis saat dia berkata, “Tidak. Dia masih belum pulang. Kita telah mengirim orang untuk mencarinya tapi masih belum ketemu. Aku tidak tahu apakah ada sesuatu yang terjadi saat dia kembali atau Direktur Harimurti masih menahannya, tidak memperbolehkannya untuk kembali. Aku juga tidak tahu.”
Arimbi merasa bahwa Dion masih menahan Joana. Dia pun mengerutkan keningnya dan berkata. “Apakah Direktur Harimurti berbohong dan Joana masih berada di kediamanan Harimurti?”
Joana tidak mungkin bermalam diluar, meskipun dia gemar memotret pria menawan tapi dia adalah seorang wanita konservatif yang taat aturan.
Joana tidak pernah mau tidur diluar rumahnya sendiri. “Kami sudah berkali-kali mendatangi kediaman Harimurti tapi Direktur Harimurti selalu berkata bahwa dia sudah melepaskan Joana pergi.”
“Nyonya Ganesha, apakah anda sudah menghubungi kepolisian?”
“Sudah! Tapi mereka bilang kalau mereka tidak bisa membuat kasus orang hilang kurang dari 24 jam. Jadi mereka tidak bisa membantu kami mencari Jaoana. Mereka menyuruh kami untuk mencarinya sendiri.” ujar Jayanti Ganesha menjelaskan.
“Arimbi, terima kasih.”
“Tidak perlu sungkan Nyonya Ganesha. Joana adalah temanku dan melihat situasinya sampai sekarang dia belum pulang, aku pun pasti mencemaskannya.” Setelah Arimbi membujuk Jayanti agar tetap tenang, akhirnya Arimbi menutup panggilannya.
Saat dia pergi sarapan dengan Emir, Arimbi melamun sambil memikirkan dimana kira-kira keberadaan Joana sekarang. Apakah Dion menahannya dirumahnya atau ditempat lain?
“Aku meminta Aslan untuk emnghubungi kursus tiket terbaik untukmu. Aku akan menemanimu mendaftar nanti sore agar kamu bisa ikut kelas sore.” ucap Emir dengan lembut sembari menaruh makanan di piring Arimbi.
“Oke. Terima kasih Emir. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sampai lupa akan hal ini.” Arimbi mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia adalah orang baru dalam perusahaannya dan saat ini dia mulai terbiasa dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Meskipun sebelumnya dia selalu memakan waktu lebih lama dari yang lain untuk mengerjakan tugasnya tapi kini Arimbi sudah bisa melakukannya dengan cepat.
“Apa Joana masih belum kembali?” tanya Emir mengubah topik pembicaraan.
“Belum. Dia tidak mungkin akan bermalam diluar tanpa alasan. Aku pikir dia masih berada di tangan Dion seperti yang kamu prediksi. Tapi kenapa dia melakukan itu? Apa yang dia lakukan itu melanggar hukum!” ujar Arimbi dengan suara cemas dan juga kesal.
Dengan datar Emir berkata, “Untuk memulai negosiasi dengan Dion, kamu harus memiliki bukti yang cukup kuat. Kalau tidak, akan sangat mudah baginya untuk membalasmu. Dia bukan orang yang bermurah hati pada orang lain. Dia juga tidak akan menahannya lama jika memang Joana masih ditangannya. Jika dia melebihi 24 jam maka polisi akan ikut campur.”
“Iya.” Arimbi bergumam menjawab Emir tapi tetap saja dia mencemaskan temannya itu. Dia takut kalau Joana tidak bersama Dion, melainkan mengalami sesuatu yang buruk dalam perjalanan pulang. Joana itu masih muda dan cantik. Jika ada yang terjadi padanya, Arimbi tidak berani membayangkan.
Joana itu orang yang baik, dan surga selalu melindungi orang baik. Dia pasti baik-baik saja. Arimbi berdoa untuk temannya didalam hatinya. Tidak lama kemudiam, dia meletakkan alat makannya dan mengusap mulutnya dengan lap.
“Emir sayang, aku akan pergi bekerja dulu ya. Aku akan kembali dan mencarimu setelah jam kerjaku selesai siang nanti.”
Emir mengangguk dan disaat dia ingin berdiri Emir bertanya. “Kapan kamu akan pergi kerumah sakit dan menjenguk Pratiwi?”
“Aku masih harus mendaftar kursus etiket sore nanti dan aku akan menemui Amanda terlbih dahulu untuk melihat apakah dia akan mengajakku pergi keluar untuk bekerja atau tidak. Jika tidak, aku bisa pergi kerumah sakit dan aku juga bisa menyempatkan waktu untuk pergi kerumah ibuku.”
Arimbi merasa kalau semenjak dia bekerja, dia tidak punya waktu. Walau Emir harus mengurus perusahaannya yang besar, dia masih mempunyai waktu luang dan perusahaan sebesar itu bisa diatasinya dengan begitu mudah.
Arimbi kagum pada suaminya dan ketika dia melihat Emir lagi, matanya bersinar terang dipenuhi dengan rasa segan dan hormat.
Itulah perbedaan pebisnis amatir dan profesional bisa terlihat dengan jelas.
__ADS_1
“Beritahu aku kalau kamu mau mengunjunginya. Aku akan pergi bersamamu.” ucap Emir.