
“Ya, ya! Sekarang juga boleh. Kamu bisa bertanya pada mereka tentang keadaanku dan bilang kamu mau bertemu denganku! Setelah itu kamu harus pergi kekediaman Dion dan berpura-pura ingin mencariku disana. Dengan begitu kita bisa tahu informasi terbaru tentang Dion. Ideku cukup bagus bukan?” Joana tampak senang sekali karena merasa idenya cukup bagus.
“Apa Tuan Harimurti akan menerima kedatanganku dirumahnya?”
“Pasti itu! Kamu kan temanku, bilang saja kalau kamu sudah lama tidak bertemu denganku dan ingin menemuiku. Katakan kalau kamu tidak bisa menghubungiku dan mendapat informasi dari orang tuaku kalau aku tinggal disana.”
“Joana! Apa kamu lupa kalau malam itu Tuan Harimurti melihat wajah asliku?”
“Ah! Benar juga! Aku sampai lupa kejadian di club malam itu!” Joana terpelongo dan kehabisan akal. Dia kembali memikirkan bagaimana caranya untuk mencari tahu informasi terbaru tentang Dion dan juga cafenya.
“Aku tahu caranya! Arimbi! Ya Arimbi pasti bisa! Dion tidak akan mencurigainya seandainya Arimbi menghubunginya, iyakan? Dia bisa bertanya pada Dion tentang ketidak hadiranku di pesta pernikahan mereka.”
“Joana…..Joana……kamu selalu saja ada ide cemerlang! Oke, soal ini sudah ada jalan keluarnya.” kata Grace sambil memegang dagunya seolah sedang berpikir. “Lalu bagaimana soal kerjaan? Apa kamu tidak terpikirkan untuk melakukan sesuatu selama kamu bersembunyi?”
“Ya tentu saja! Aku kan butuh uang juga! Tidak mungkin aku menggunakan kartu yang diberikan Dion, iyakan?” Joana kembali gundah.
“Begini saja! Bagaimana kalau kamu bekerja di butikku?” Grace mendapatkan ide lagi untuk membantu Joana. Bagaimanapun dia senang jika Joana selalu bersamanya.
“Apa kamu yakin itu ide bagus? Bagaimana kalau Dion mencariku ke butikmu?” tanya Joana.
“Tidak mungkin! Bagaimana bisa dia mencarimu ke butik? Dia kan tidak tahu tentang kita.”
“Benar juga ya! Tapi---Grace! Aku merasa tidak enak hati sudah menyusahkanmu terus!”
“Tidak apa-apa! Aku kasihan padamu Joana! Lagipula, kita kan berteman.”
“Atau-----jangan-jangan kamu membantuku supaya aku mengatakan hal-hal baik tentangmu pada kakakku ya?” Joana tersenyum menggoda Grace. “Jangan khawatir, setelah semua ini berakhir aku akan pertemukan Ruben denganmu.”
“Eh, apa-apaan kamu bicara begitu? Ini tidak ada hubungannya dengan itu! Aku sama sekali tidak terpikirkan sampai kesana.” Grace merona dan merasa malu kalau sampai Joana benar-benar berpikiran seperti itu. Meskipun sejujurnya memang dia ingin Joana mendekatkannya dengan Ruben, kakak laki-laki Joana yang pendiam itu.
Kedua sahabat itu tertawa sambil berbincang mengenai rencana mereka selanjutnya. Arimbi pun bergabung dalam obrolan setelah Joana menghubunginya.
__ADS_1
“Arimbi! Menurutmu langkah apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Joana.
“Kami harus bekerja! Tidak mungkin kamu menggunakan kartu milik Dion ataupun kartumu bukan? Pasti Dion sudah melacak semuanya!”
“Tapi aku bingung harus bekerja apa? Cafe kita seharusnya sudah buka sekarang tapi gara-gara si brengsek itu malah tertunda! Aku jadi terlunta-lunta seperti ini.” Joana mengerucutkan bibirnya.
“Ide siapa dulu yang ingin naik keranjangnya seorang Dion Harimurti?”
“Eh, itu juga awalnya kan idemu!” protes Joana pada Arimbi. “Ya meskipun memang lebih banyak idenya dari aku hehehe…….”
“Joana! Bicara yang serius! Sekarang kamu harus tahu apa yang mau kamu lakukan selanjutnya! Apa kamu masih punya keinginan kembali pada Dion? Atau kamu mau melanjutkan hidupnya sendiri?”
Joana tampak bingung dan berpikir karena dia pun tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Dia memang dikurung Dion dirumahnya, tapi setidaknya kehidupannya tercukupi dan mewah.
“Hahahaha…..pasti kamu menyesal sudah melarikan diri, iyakan? Joana! Aku mengenalmu dengan baik! Kamu menyukai kehidupan mewah hahahaha…..” Arimbi tertawa terbahak-bahak.
“Arimbi! Semua wanita juga pasti suka yang mewah-mewah! Apalagi kamu? Aku tahu keluarga Serkan memberimu semua kemewahan, apa kamu pernah menolaknya?”
Arimbi yang terus menyindir Joana membuat sahabatnya itu memasang wajah cemberut.
“Ya sudah, sekarang apa solusinya? Aku harus bekerja dimana? Tinggal dimana dan identitasku juga harus jelas semuanya!” ucap Joana lagi.
“Arimbi, apa menurutmu Joana bisa bekerja di perusahaan suamimu?” tanya Grace.
“Emir tidak akan membiarkan itu! Dia tidak mau terlibat urusan Joana dan Dion.”
“Huh! Dua orang itu musuh bebuyutan! Entah apa masalah mereka! Apa tidak sebaiknya kita mengerjai suami-suami kita juga? Bagaimana menurutmu Arimbi?”
“Tidak mau! Suamiku baik! Tidak banyak tingkah seperti Dion. Joana, kamu tidak seharusnya bersikap terlalu egois dan keras kepala setiap saat. Sebagai seorang wanita harusnya kamu bersikap lebih lembut. Pasti Dion bisa kamu kuasai!” ucap Arimbi.
Percakapan ketiga wanita itu terus berlanjut menyusun rencana mereka selanjutnya.
__ADS_1
“Arimbi, lalu bagaimana dengan pembalasan pada Reza dan Amanda?” tanya Joana. Sudah sekian lama mereka hampir saja melupakan kedua orang yang seharusnya menjadi fokus balas dendam Arimbi.
“Ahhhh……aku hampir saja lupa! Terlalu fokus pada pesta pernikahan dan kehamilanku.” ucap Arimbi. “Aku akan pikirkan apa yang akan kulakukan pada Reza.”
Sementara itu ditempat lain, Amanda sedang menunggu seseorang. Dia memarikirkan mobilnya tak jauh dari sebuah taman bermain. Dia sudah merasa resah karena orang yang ditunggunya masih belum terlihat. “Kenapa dia lama sekali?” lalu Amanda mengeluarkan ponselnya dari tas hendak menelepon. Tapi baru saja dia hendak menekan nomor yang hendak dihubungi.
Tok tok tok……..suara ketukan di jendela samping Amanda. Dia menoleh dan melihat orang yang ditunggunya sejak tadi sudah datang. Dia langsung memasang senyum manisnya lalu membuka pintu mobil.
“Kenapa kamu lama sekali? Aku menunggumu sejak tadi.”
Reza tak mengatakan sepatah katapun, dia langsung masuk kedalam mobil Amanda. Lalu mengatur posisi duduknya menatap Amanda.
“Apa yang mau kamu bicarakan denganku?” suara Reza terdengar dingin.
“Kenapa kamu bicara seperti itu padaku? Kamu banyak berubah sejak menikahi perempuan itu!”
“Aku sedang banyak pekerjaan, tolong jangan membuang waktuku untuk hal tidak berguna, Amanda.”
“Oh, begitu ya? Jadi menurutmu sekarang aku tidak berguna? Aku mengandung anakmu dan sikapmu sangat kasar Reza! Kamu membohongiku dan mengingkari janjimu.”
“Aku tidak mengingkari apapun! Memangnya apa yang ku janjikan? Bukankah kamu yang duluan mengingkari janji?” balas Reza dengan ketus.
“Kamu berhubungan denganku dan Gio disaat bersamaan! Dan kamu sendiri yang menyusun rencana dan memintaku mengikuti permainanmu! Sudah! Aku sudah melakukan itu! Lalu apa yang membuatmu tidak senang sekarang?”
PLAKKKKKK!!!!!
Amanda yang sudah sejak lama menahan amarahnya pun menampar Reza dengan keras. Pria itu menatap tajam pada Amanda dengan mata merah.
“Kamu tahu apa kesalahanmu Amanda? Kamu mau tahu kan kenapa aku menyentuh Ruby?”
“Iya Iya iya! Katakan! Aku menginjinkanmu menikahi Ruby tapi tidak menyentuhnya! Lihat apa yang amu lakukan, hah? Kamu malah menghamili dia Reza!”
__ADS_1
“Wajar jika aku menyentuhnya! Dia istriku! Dan apa hakmu melarangku? Apa kamu tidak sadar betapa muaknya aku dengan sikapmu Amanda? Kamu selalu memerintahku! Kamu selalu ingin dituruti semua kemauanmu! Aku ini lelaki yang punya harga diri! Aku ingin mengatur hidupku sendiri dan tidak berada dibawah perintah perempuan!” ucap Reza dengan suara datar dan dingin.