GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 151. DUA LUKISAN BAYI


__ADS_3

“Aku mengerti ayah. Sebenarnya aku juga tidak memancingnya, hanya saja kecelakaan kadang terjadi.” jawab Arimbi. Dia menahan kekesalan didalam hatinya, dia sangat membenci Dion.


Dia sangat yakin kalau Dion melakukan semua ini dengan sengaja tapi Arimbi tidak punya bukti yang membenarkan asumsinya. Hampir disetiap pertemuan mereka terjadi dengan tidak disengaja.


Dan pria itupun tidak menunjukkan ketertarikan padanya sama sekali. Sebagai contohnya, saat keluarga Lavani membantunya meminta maaf pada Gio, Dion bahkan tidak meliriknya sedikitpun. Dan sekarang dia malah berusaha untuk mengejarnya.


Adapun Zivanna, pria itu selalu menunjukkan sikap hormatnya pada wanita itu didepan umum tanpa sengaja membelanya. Menurut pengamatan Arimbi, dia memang sengaja berada didekatnya entah untuk alasan apa dia pun tak tahu. Arimbi mulai memikirkan sesuatu untuk menghindari pria gila itu.


“Ayah, apakah kamu benar-benar mau bekerjasama dengan perusahaannya?”


“Direktur harimurti menggunakanmu untuk mengancamku. Jadi aku perlu memikirkannya baik-baik.”


Setelah Yadid menyelesaikan kalimatnya, dia menghibur istri dan putrinya, “Kalian tidak perlu khawatir sayang. Aku harus mengatasinya dan kalau aku tak dapat menolak permintaannya, kita bisa bekerjasama saja dengannya.”


“Untung saja kamu menikah dengan Emir. Keluarga Serkan pasti mau bekerjasama dengan kita. Ini juga berarti mereka menghormati kita. Dan itulah yang kita inginkan.”


Lagipula Yadid adalah mertua Emir, dia harus mempertimbangkan tentang Emir sebelum mengambil keputusan.


“Maafkan aku atas kecerobohanku, ayah.” Arimbi mengaku bersalah.


Sebelum menikahi Emir, dia bahkan tidak memberitahu orang tuanya. Emir adalah orang yang cekatan, segera setelah dia setuju untuk menikah, dia langsung pergi ke catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka.


Tidak memberinya kesempatan untuk menyesal ataupun menolak. Tentu Arimbi tidak akan menyesali keputusannya tentang ini.


Sebagai balasan Yadid menghela napas dan mengatakan, “Walaupun kamu tidak tumbuh besar bersama kamu, setelah tinggal disini selama setahun, aku tahu bahwa kamu adalah anak yang bertanggung jawab dan tidak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan matang. Ibumu bilang bahwa kamu bermimpi buruk. Aku bahkan tidak peduli seberapa buruk mimpimu itu, asalkan kamu berjalan dengan bangga diatas jalan yang kamu pilih sendiri!”


“Hidupmu masih panjang Arimbi dan kamu akan menghadapi banyak rintangan. Kami tidak akan bisa setiap saat bersamamu, karena itu kamu harus mengandalkan dirimu sendiri. Ayah berharap, apapun yang kamu lakukan itu akan selalu berasal dari kebaikan dari dalam dirimu dan kamu tidak akan pernah merasakan kekecewaan didunia ini.”

__ADS_1


Wajah Arimbi membeku saat dia mendengar ucapan ayahnya. Dengan bersungguh-sungguh dia berkata, “Ayah, aku tahu. Jangan khawatir aku bisa mengatasinya.”


Ini adalah pertama kalinya dia merasakan ketergantungan dan kepercayaan ayahnya padanya selama terlahir kembali. Awalnya dia percaya bahwa ayahnya hanya peduli tentang masa depan perusahaan dan tidak memiliki kasih sayang yang tulus untuk putrinya sendiri.


Pada saat yang langka ini dia bisa merasakan dengan jelas pertahtian ayahnya saat dia mendengarkan kata-katanya yang sungguh-sungguh penuh ketulusan.


Pada kenyataannya, sebenarnya dia memiliki cinta yang sangat besar untuknya. Jika tidak maka Amanda tidak akan membunuhnya dikehidupan sebelumnya. Arimbi merasa malu karena telah salah memahami ayahnya.


“Baiklah. Mari kita berhenti membicarakan itu. Kemari dan lihatlah sayang. Ini adalah pakaian yang dibelikan Arimbi untuk kita.” Yadid memanggil istrinya untuk melihat pakaian itu.


“Arimbi, kamu membelikanku pakaian?” seru Mosha dengan riang.


Arimbi mengambil pakaian yang dibelinya untuk ibunya dan menyerahkannya padanya.


“Bu, cobalah dan lihat apakah pakian ini cocok. Aku membelinya sesuai ukuranmu tapi aku tidak yakin apakah ibu menyukai motif ini atau tidak. Aku melihat bahwa semua pakaian ibu dilemari mirip dengan ini.” ujar Arimbi. Dia sudah melihat semua pakaian ibunya dilemarinya sehingga dia tahu selera fashion ibunya.


“Aku akan membantumu Bu.”


Arimbi berjanji pada Emir untuk makan bersama, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan orang tuanya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk makan dirumah orang tuanya sebelum pulang kerumah. Mosha pun tidak menolak penawaran putrinya. Kedua wanita itu pergi ke dapur bersama.


Sedangkan Yadid tidak bisa membantu, dia hanya duduk diruang tamu dan membaca koran. Dia merasakan kebahagiaan dalam hidupnya ketika dia mendengar istri dan putrinya berbicara sambil tertawa dari dapur. Sayangnya, Amanda sedang tidak ada dirumah.


...*****...


Sementara itu dirumah keluarga Harimurti.


Setelah kembali dari kediaman Rafaldi, Dion naik kelantai atas sendirian dan memasuki ruang kerjanya. Dia tidak bisa berjalan dan membutuhkan kursi roda saat berada di kediaman Rafaldi. Namun, dia memiliki bakat akting yang sangat bagus.

__ADS_1


Memang benar kakinya bengkak karena diinjak Arimbi tapi dia tidak sampai harus bolak balik dengan kursi roda. Ini hanyalah akal-akalan Dion saja meniru Emir agar bisa mendapatkan perhatian dan tanggung jawab Arimbi padanya.


Tetapi, semuanya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Arimbi dengan tegas menolaknya dan menolak semua permintaan Dion tanpa rasa takut sedikitpun.


Ruang kerjanya adalah area terlarang dirumahnya. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izinnya dan pelanggar akan menangung akibatnya. Dion duduk didepan mejanya sambil bersandar dikursinya dan menatap langit-langit.


Setelah beberapa saat, dia berbalik dan mengambil beberapa lukisan yang digulung dari rak buku dibelakangnya.


Dia melukas dua potret bayi yang terlihat saat dia membentangkan diatas meja. Salah satunya adalah bayi laki-laki dan satunya lagi adalah gambar anak perempuan. Dia tidak tahu apakah Arimbi telah melahirkan seorang putra atau putri. Makanya dia membuat sketsa potret sebagai gantinya.


Bayi laki-laki itu digambar menyerupai dirinya sedangkan bayi perempuan itu lebih mirip Arimbi. Wanita itu pasti akan terkejut jika melihat gambar yang dilukis oleh Dion karena terlihat sama persis seperti bayinya dari kehidupan sebelumnya.


Bayi itu mirip dengan Arimbi dan terlepas dari kenyataan bahwa bayi itu tidak terlihat seperti Dion, dia tidak pernah meragukannya sebagai ayah dari anak-anaknya.


Dion adalah lawan kuat Emir, unggul dalam banyak aspek. Meskipun Emir adalah seorang pelukis yang hebat tetapi Dion juga memiliki beberapa bakat tersendiri.


Termasuk dua lukisan yang telah dia gambar ini. Setelah lama menatap lukisan-lukisan itu, ujung jainya bertumpu pada gambar bayi perempuan itu.


“Meskipun aku belum membuktikan keberadaanmu, aku punya firasat bahwa kamu adalah gadis yang sangat cantik.”


Jari jarinya yang ramping dengan lembut membelai alis dan mata bayi itu sat hati bajanya meleleh karena dia sangat ingin mengeluarkan gadis manis ini dari lukisan untuk memeluknya dan merawatnya.


Author bagiin visual Dion Harimurti ya



Visual DION HARIMURTI.....Saingan Emir nih

__ADS_1


__ADS_2