
Tapi yang membuatnya semakin marah adalah, karena orang suruhannya juga melihat Dion Harimurti di rumah sakit pada jam yang sama. Dan orang itu mengatakan pada Zivanna jika dia melihat Dion memperhatikan Arimbi dari jauh. Wanita itu pun mengira jika Dion menyukai Arimbi atau Arimbi yang menggoda pria incarannya itu.
Mengingat ucapan Dion waktu itu yang mengatakan bahwa dia sudah mempunyai seseorang yang disukainya, dengan apa yang dia tahu hari ini dia pun menyimpulkan bisa saja wanita yang dimaksud Dion adalah Arimbi! Kenapa semua pria menyukai udik desa itu? Apa yang menarik darinya?
Cantik? Zivanna juga cantik, dia berasal dari keluarga kaya kelas atas dan juga sosialita terkenal dan disegani di Kota Metro. Tidak bisa dibandingkan dengan Arimbi si udik desa! Akhirnya Zivanna pun memutuskan akan mengubah targetnya! Daripada membuang waktu sia-sia mengejar Dion Harimurti, dia beralih mengejar Marcel Arkatama!
“Maaf, Nona Zivanna. Apakah anda bekerja juga?” tanya Marcel. Saat Zivanna hendak menjawab, Johan sudah lebih dulu bicara.
“Dia satu-satunya putri di keluarga Lavani. Jadi keluarga kami tidak mengizinkan dia bekerja, kami bisa memberikan semua kebutuhannya. Asalkan dia bahagia dan menikmati hidupnya. Adikku juga seorang sosialita di kota ini.”
“Oke. Cukup menarik.” ucap Marcel.
“Sebenarnya aku sangat ingin bekerja tapi orang tuaku dan saudara laki-laki ku tidak mengijinkan. Terkadang aku merasa bosan jadi aku mmebentuk sebuah perkumpulan untuk para sosialita di kota ini. Kami mengadakan acara sosial juga.” Zivanna menjelaskan untuk menunjukkan bahwa dia bukan seorang putri kaya yang malas dan membosankan.
“Kalau boleh tahu acara sosial apa yang biasa Nona Zivanna lakukan?”
“Cukup panggil Zivanna saja. Biar terdengar lebih akrab dan tidak kaku.” ucap Zivanna sambil tersenyum manis. “Aku dan kelompokku memberi bantuan kepada warga kurang mampu. Kami juga mengadakan lelang untuk mengumpulkan dana.”
“Menarik! Saya sangat suka wanita yang berjiwa sosial seperti kamu. Banyak wanita-wanita yang berasal dari keluarga kaya tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti itu.”
“Terima kasih pujiannya. Aku hanya melakukannya karena kemanusiaan saja. Bukankah kita harus berbagi dengan orang yang kurang mampu?”
Mendengar perkataan Zivanna membuat Marcel merasa kagum pada wanita cantik itu. Dia tidak menyangka jika Zivanna punya sisi baik juga. Dia banyak mendengar tentang wanita itu sebelum dia datang ke kota Metro. Tidak buruk juga, setidaknya dia wanita cantik yang bisa menemani hari-hari bosannya selama tinggal di kota ini.
... ******...
Sepulang kerja, Arimbi dijemput Joana sedangkan supirnya tidak datang menjemput karena mereka berdua akan pergi belanja.
“Arimbi! Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu. Maaf ya tadi pagi aku telat membalas pesanmu. Aku bangun jam sepuluh. Hehe….” ujar Joana terkekeh.
__ADS_1
“Aku sudah tahu makanya aku tidak meneleponmu. Bagaimana kabarmu?”
“Seperti kamu lihat! Masih hidup dan lengkap! Kenapa tiba-tiba kamu mengajakku belanja?”
“Joana! Aku masuk jebakan Emir lagi.” keluhnya.
“Apa? Bagaimana bisa?” Joana menoleh dengan mata membulat. “Apa yang dia lakukan padamu?”
“Katakan padaku, apa kamu tahu cara menghabiskan uang?” tanya Arimbi.
“Wah, semua orang juga pasti tahu caranya! Berapa banyak yang harus kamu habiskan? Tunggu…..apa Emir memintamu menghabiskan uangnya?” Joana tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu memutar tubuhnya menatap Arimbi.
Arimbi hanya menganggukkan kepalanya, “Pria itu terlalu pintar! Aku berniat menjebaknya tapi malah aku yang masuk jebakannya.”
“Katakan padaku, berapa uang yang harus kita habiskan hari ini? Aku akan membantumu!” ucap Joana tertawa. “Wah, ini malah lebih seru daripada memotret pria tampan diam-diam.”
“Joana! Hentikan hobi gilamu itu! Aku tidak mau kamu mendapat masalah lagi.”
“Sekarang tidak akan membosankan lagi! Bantu aku menghabiskan uang Emir! Atau dia akan menghukumku.” ujar Arimbi.
“Apakah aku boleh ikut menghabiskan uangnya juga?” sebuah ide muncul dibenak Joana.
“Ya, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau.”
“Asyik! let’s go kalau begitu!” Joana kembali melajukan kendaraannya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang menjual barang-barang bermerek. Arimbi pernah ke tempat ini sebelumnya bersama ibunya jadi dia tahu barang bermerek apa saja yang bisa dia beli disana.
Keduanya berjalan sambil berbincang-bincang, saat mereka melihat sebuah toko pakaian bermerek Joana menariknya kesana. Tapi Arimbi mengingat jika semua pakaiannya telah dipesan dari M&J butik. Jadi dia tidak berniat membeli pakaian lagi. Dia harus membeli sesuatu yang mahal karena dia tahu hukuman apa yang akan diberikan Emir padanya.
“Apa kamu mau membeli beberapa pasang pakaian?” tanya Joana. “Pakaian disini bermerek dan semuanya berharga mahal.”
__ADS_1
“Tidak….tidak! Aku sudah mempunyai banyak pakaian dan Emir juga sudah memesan pakaian sehari-hariku sebanyak empat puluh set dari M&J Butik jadi aku tidak mau membeli pakaian lagi.”
“Baiklah. Aku juga tidak tertarik membeli pakaian. Ah! Bagaimana kalau kita ke toko perhiasan! Kamu bisa membeli beberapa perhiasan mahal.” Joana kembali memberikan saran.
“Itu bagus! Ayo kesana.” jawab Arimbi menarik tangan Joana menuju sebuah toko perhiasan terkenal. Pegawai toko menyambut mereka dengan hangat. Melihat kedua wanita itu bimbang, salah satu pegawai datang melayani dan berkata, “Nona, perhiasan apa yang anda suka? Apa kalian butuh bantuanku?”
“Perhiasan apa yang terbaik disini?” Arimbi menjawab dengan cepat. Jika dia membeli perhiasan dengan uangnya sendiri, dia bahkan tidak akan melirik perhiasan yang harganya selangit. Namun, dia memikirkan ancaman Emir padanya jadi dia tidak punya pilihan selain memilih sesuatu yang mahal.
“Terbaik?” mata pegawai itu berbinar, mengharapkan akan adanya transaksi besar. “Tolong tunggu sebentar.” ucapnya. Dengan cepat dia mengeluarkan tiga jenis perhiasan. Yang pertama adalah perhiasan kalung safir biru.
Pegawai itu mulai memberikan penjelasan, “Kalung ini terbuat dari safir biru terbaik dan diukir oleh master internasional terbaik.”
“Baik pengerjaan dan material perhiasan ini adalah nomor satu didunia. Harganya 2,3 milyar.”
“1,3 milyar?” mata Arimbi langsung terpana dan tidak percaya pada nominal harga yang baru saja ia dengar. Bagaimana mungkin kalung sekecil itu bisa bernilai begitu mahal?
Senyum di wajah pegawai itu langsung sirna. Apakah dia sudah salah menilah wanita ini?
“Bagaimana dengan dua perhiasan lainnya?” Arimbi terus bertanya meskipun dia terkejut dengan harga kalung tadi. Tapi bagaimana pun dia harus menghabiskan uang suaminya hari ini.
“Gelang berlian ini seharga 1,5 milyar. Seluruh rangkaian hiasan emas ini bernilai 1,2 milyar.” jawab pegawai itu. Dia merasa bahwa Arimbi dan Joana hanya ingin tahu harga perhiasan itu saja.
“Jika begitu, maka…...”
“Ketiga perhiasan ini adalah yang terbaik di toko kami. Jika anda tidak berminat membelinya maka aku akan mengembalikan ketiga perhiasan ini ketempatnya.” kata pegawai itu dingin.
Arimbi dan Joana saling pandang sambil mengerutkan keningnya. “Apakah begini caramu melayani pelanggan? Kami disini mau membeli perhiasan!”
Arimbi segera menahan tangan Joana untuk menghentikannya. Dia tidak mau menjadi bahan tontonan dan membuat kekacauan. Sebenarnya dia ingin membeli ketiga perhiasan itu. Tapi sikap pegawai itu membuatnya tidak senang.
__ADS_1