GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 26. "AYAH"


__ADS_3

Yadid mengangguk sambil mengantarkan mereka berdua keluar. Tepat saat Emir hendak meninggalkan rumah itu, dia berkata, “Tunggu!”


Arimbi segera menghentikan langkahnya.


“Mendekatlah kemari Direktur Rafaldi!” ujar Emir.


“Ya, Tuan Emir.” Yadid pun mendekat dan berdiri didepan Emir.


“Lebih dekat lagi dan membungkuklah! Aku ingin membisikkan sesuatu padamu dan aku ingin kamu hanya memberitahu pada istrimu tentang hal ini. Kamu harus merasahasiakan apa yang akan kuberitahu padamu dari orang lain. Dan kamu juga tidak boleh mengatakan apapun kecuali mendapatkan izin dariku.” kata Emir menjelaskan.


“Jika aku mengetahui bahwa kamu membocorkan rahasia ini kepada seseorang maka jangan salahkan aku karena aku akan mengirimmu ke neraka!” tambahnya lagi.


Wajah Yadid pun langsung pucat dan ketakutan dan berjanji pada Emir, “Jangan khawatir Tuan Emir, aku bisa menjaga rahasia.” Setelah mengatakan itu Yadid membungkuk dan mendekatkan telinganya.


“Ayah!” bisik Emir ditelinga Yadid. Pria itu langsung tercengang setelah mendengar kata-kata Emir.


Sedangkan ekspresi wajah Emir masih seperti biasanya dingin dan saat dia berbalik melihat Arimbi yang sedang menajamkan telinganya ingin mencoba mendengar apa yang dikatakan Emir pada ayahnya.


“Ayo pergi!”


Arimbi tidak bisa mendengar sepatah kalimatpun dari apa yang dibisikkan Emir pada ayahnya, jadi dia hanya mengangguk dan mendorong kursi roda Emir melewati ayahnya. Tanpa sengaja dia menabrak Yadid tapi pria itu tidak bergeming dia hanya menatap pasangan itu dengan tercengang.


Hal itu membuat Arimbi semakin penasaran apa yang dikatakan Emir pada ayahnya itu. Emir mengubah Yadid menjadi patung yang tidak bergeming sama sekali. Setelah beberapa menit, beberapa mobil mewah Emir keluar dari Kediaman Rafaldi. Baru saat itulah Amanda mempunyai nyali untuk keluar dari rumah.


Saat dia sudah berada diluar rumah, dia melihat ayahnya yang berdiri terpaku dengan ekspresi bingung diwajagnya. Tampak seperti jiwanya telah meninggalkan tubuhnya. “Ada apa ayah?” tanya Amanda sambil mendorong lengan ayahnya.

__ADS_1


Yadid pun langsung tersadar dan membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi saat dia mengingat apa yang dikatakan Emir padanya akhirnya dia pun menutup mulut dan menelan kembali kata-kata yang sudah diujung lidahnya.


“Aku mau masuk kedalam dulu dan menghabiskan waktu sendirian, ada hal yang harus kukerjakan. Hari ini terlalu panas aku mungkin mengalami halusinasi pendengaran karena panas,” katanya.


‘Emir tidak punya alasan lain memanggilku ayah! Kenapa dia memanggilku ayah? Apa dia ingin aku menjadi ayah angkatnya? Tidak mungkin lah. Apa dia….memanggilku ayah…..karena dia adalah menantuku?’ pikirnya.


Yadid merasa sepertinya otaknya terbakar setelah tersadar, dia tak percaya jika apa yang tadi didengarnya bukanlah halusinasinya. ‘Itu tidak mungkin! Ah…..cuaca hari sangat panas makanya aku berhalusinasi sampai sejauh itu! Jelas-jelas Arimbi menolak menikahinya, mana mungkin dia menantuku! Tapi…..?’


Sementara itu didalam mobil yang membawa Emir dan Arimbi menuju kerumah kediaman keluarga Serkan, suasananya sangat menengangkan. Emir duduk dengan posisi tegak dengan ekspresi dingin diwajahnya sambil menatap kedepan membuat Arimbi sulit untuk memulai percakapan meskipun dia sangat menginginkannya.


“Apa kamu sudah selesai melihatku?” tiba-tiba gunung es itu membuka mulutnya dan bicara.


“Apakah aku diizinkan untuk terus melihatmu jika aku belum selesai?” balas Arimbi.


Emir memiringkan kepalanya dan menatap Arimbi sejenak lalu memberinya perintah. “Keluarkan ponselmu!” Emir masih saja menatap Arimbi, dia masih ingin mengerjai istri barunya itu.


“Arahkan kamera ponselmu dan ambillah beberapa fotoku. Lalu, kau jadikan fotoku sebagai wallpaper di ponselmu. Kamu hanya boleh menatap ponselmu saat kamu ingin melihatku. Kali ini, aku tidak akan meminta bayaran!” ujar Emir penuh percaya diri seolah-olah dia adalah seorang model atau aktor terkenal.


Arimbi langsung terdiam mendengar kata-kata berani yang diucapkan Emir. Dia pun tak banyak bicara langsung mengarahkan kamera ponselnya dan mengambil beberapa foto Emir lalu menjadikannya sebagai wallpaper di ponselnya. Arimbi teringat jika dia lupa membawa baju yang tadi dibelinya untuk Emir dan juga beberapa gaun malam yang dibelinya.


“Ah!” pekiknya.


“Kenapa kamu teriak begitu? Kamu akan mati bersamaku kalau kamu mengagetkanku!” ujar Emir.


“Aku tidak bermaksud begitu! Jika aku benar-benar bisa melakukan itu, matahari pasti akan terbit dari barat, Kamu itu ya selalu saja menjadi orang yang suka menakut-nakuti orang!” jawab Arimbi mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Tak sengaja Arimbi mengulurkan tangannya menyentuh wajah Emir lalu mencubit pipinya, Emir meringis karena Arimbi mencubitnya terlalu keras. Emir menepis tangan wanita itu dan menyentuh pipinya yang sakit bekas cubitan Arimbi. Dia sampai menggertakkan gigi karena merasa bekas cubitan itu sakit,”Kamu sudah makin berani ya!” kata Emir.


Bukannya takut dan merasa kasihan melihat Emir yang kesakitan karena cubitannya, Arimbi malah menertawakannya. Suara tawa Arimbi membuat pengawal dan supir ingin melompat keluar dari mobil saat itu juga karena mereka takut sebentar lagi Emir pasti mengamuk.


“Kamu punya nyali juga ya ternyata! Sudah berani melawanku sekarang ya!” ujar Emir menatap tajam.


“Emir! Aku punya mulut karena suatu alasan!” sindir Arimbi.


Emir membalas perbuatan istri barunya itu dengan menjulurkan kedua tangannya lalu meremas wajahnya. Setelah melihat Arimbi meringis kesakitan, Emir buru-buru melepaskan tangannya, dia menyeka tangannya ke bajunya dengan ekspresi jijik diwajahnya. Arimbi tidak buta, dia memperhatikan gerakanya dan ingin rasanya dia meninju pria itu saat itu juga.


“Apa yang kamu teriakkan tadi?” tanya Emir setekah meremas wajah istrinya sebentar, suasana hatinya menjadi lebih baik. Meskipun Arimbi dibesarkan di pedesaan tapi dia memiliki kulit wajah yang kenyal dan lembut membuat nyaman untuk disentuh.


“Itu----aku lupa mengemas barang yang kubeli saat berbelanja tadi. Aku tadi membelikanmu baju.” jawab Arimbi.


Seketika itu juga wajah Emir berubah menjadi gelap, “Aku memberimu cukup waktu untuk mengemasi barangmu tapi kamu masih juga lupa membawa beberapa barang. Kenapa kamu tidak sekalian saja lupa membawa dirimu?” ujar Emir mencibir. Arimbi hanya menundukkan kepalanya karena malu, dia tidak berani bicara sama sekali. Meskipun demikian dia tak henti-hentinya mengutuk Emir didalam hatinya.


Emir terdiam sejenak sebelum memberi perintah pada pengawalnya, “Telepon Gilang dan suruh dia balik untuk mengambil barang-barang yang lupa dibawa oleh nyonya muda ini.” perintahnya.


Arimbi merasa tidak perlu sampai mengirimkan orang kembali kerumahnya hanya untuk mengambil pakaiannya yang tertinggal, jadi dia mengungkapkan keberatan. “Aku bisa pulang dan mengambilnya saat aku punya waktu nanti.”


Emir memelototinya dan Arimbi pun mundur hingga tubuhnya merapat ke pintu mobil. ‘Isss…..Tatapan pria ini benar-benar menakutkan!’ gumamnya dihati sambil berdecak.


Arimbi sampai takut akan mulai mimpi buruk jika dia memelototinya beberapa kali lagi. Pengawal yang duduk dikursi depan langsung menghubungi Gilang dan menyampaikan perintah Emir.


Arimbi menurunkan jendela mobil dan menjulurkan kepalanya untuk melihat mobil dibelakang mereka. Memang benar, beberapa mobil mulai melambat dan bersiap untuk berbelok. Ketika dia menoleh ke belakangnya dia melihat Emir sedang menatapnya lurus.

__ADS_1


“Apa kamu tidak pernah menerima hadiah Emir?” tanya Arimbi karena dia merasa kalau Emir merasa tertarik sekali pada baju yang dibelinya.


__ADS_2