
Mosha tidak akan pernah menyetujui Arimbi menikah ke keluarga Kanchana, jika dia bersikeras menikahi Reza maka dia harus memutuskan hubungan dengan keluarga Rafaldi. Mana mungkin dia mau melakukan itu di kehidupannya sekarang? Setelah Reza pergi, Arimbi merapikan pakaiannya lalu bergegas kembali ke kantornya. Tapi dia merasa enggan untuk bekerja karena suasana hatinya buruk. Dia memikirkan apa yang sedang terjadi di kantor Direkur.
Sementara itu, Yadid menyuguhkan teh pada Dion. “Tolong serahkan saja tugas ini pada asisten anda Direktur Rafaldi,” ujar Dion. Suaranya berat dan matanya yang memikat selalu berkilau. Tidak ada yang bisa membaca pikirannya.
“Asisten saya baru mulai bekerja hari ini. Dia agak ceroboh, saya khawatir dia tidak akan bisa melakukannya dengan baik.”
“Ya, tapi dia adalah asisten anda jadi harus dia yang melakukan pekerjaannya. Tidak peduli seberapa buruknya dia tapi dia tetap harus melakukannya. Anda tidak bisa membayarnya jika dia tidak melakukan apapun, bukan? Meskipun belum terbiasa, tetapi dia akan menguasai pekerjaannya jikadia menekuninya Direktur Rafaldi. Anda harus memberinya kesempatan agar dia dapat belajar dan mengembangkan dirinya.”
Yadid tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. ‘Bilang saja kamu mau melihat putriku!’ dengusnya didalam hatinya. Tak perlu banyak basa basi, Yadid tahu tujuan kedatangan Dion Harimurti ke perusahaannya adalah untuk Arimbi. Yadid bisa merasakan kalau pria didepannya itu menyukai Arimbi.
Kemudian dia menuangkan lagi teh ke cangkirnya. “Direktur Harimurti, silahkan diminum tehnya.”
Dion menerima cangkir itu tetapi tidak meminumnya. Dia menatap Yadid lalu meletakkan cangkirnya diatas meja dan berkata, “Direktur Rafaldi, anda tidak perlu berpikir berlebihan. Saya sudah bilang kalau saya kesini untuk urusan bisnis, tidak ada hal lain.”
“Perusahaan kami memiliki pabrik elektronik dan pemasok papan sirkuit cetak yang sebelumnya bekerjasama dengan kami sedang bermasalah.”
“Kualitas produk mereka menurun dan kami terpaksa mengembalikannya agar dikerjakan ulang. Itu saja sudah mempengaruhi kinerja kami. Karena Rafaldi Group adalah perusahaan yang memproduksi produk yang kami butuhkan dan terbaik di kota ini maka saya bermaksud untuk mengalihkan pesanan kami pada Rafaldi Group. Apakah anda tertarik untuk bekerja sama dengan Harimurti Group?”
__ADS_1
Yadid sangat terkejut mendengarnya, tapi entah kenapa dia merasa bahwa kedatangan Dion Harimurti bukan demi alasan remeh. Lagipula alasan Dion secara pribadi datang ke perusahaannya tidak masuk akal. Mungkinkah alasannya dia datang kesini karena dia tahu kalau Arimbi adlaah istri Emir?
Harimurti Group memang memiliki pabrik elektronik tetapi kerja sama dalam bentuk apapun seharusnya didiskusikan dengan manajer pabrik atau paling tikda ornag dari kantor pusat. Tapi kenapa Direktu Harimurti harus turun tangan sendiri kalau bukan karena ada maksud lain?
“Direktur Harimurti, terimakasih atas perhatian anda pada perusahaan kami. Tapi sangat disayangkan karena saat ini kamu punya banyak pesanan yang tertunda jadi saya ragu untuk menerima pesanan anda untuk saat ini.” Yadid berharap Dion akan cukup bijak untuk memahami penolakannya.
“Tidak masalah. Pesanan kami tidak terlalu mendesak. Kami masih punya cukup stok di gudang yang cukup untuk beberapa waktu kedepan. Anda tidak perlu menghentikan pesanan lain hanya untuk memenuhi pesanan kami.”
“Kalau begitu...mari kita bicarakan ini lebih lanjut. Bagaimana kalau kita mengunjungi pabrik?” ujar Yadid berkomentar sambil tersenyum.
Dion sama sekali tidak menolak tawaran itu. Beberapa saat kemudian, Yadid dan Sartika membawa Dion beserta anak buahnya menuruni lift menuju ke lokasi pabrik. Arimbi ingin ikut tetapi dia tidak mau dekat-dekat dengan Dion. Lagipula ayahnya tidak mengajaknya jadi dia dengan patuh tetap berada di kantor untuk memeriksa sketsa papan sirkuit.
Dia sebenarnya seorang yang pintar, setelah mengamati papan sirkuit dan sketsanya akhirnya dia pun bisa mengingatnya. Tapi dia sama sekali tidak paham mengenai listrik dan itu bukan keahliannya.
Lalu dia mengirimkan pesan pada Emir, “Emir, aku benar-benar buta soal rangkaian listrik. Tapi sayangnya ini adalah bisnis utama Rafaldi Group. Apa kamu bisa membantuku suamiku sayang?” Lalu dia mengirimkan pesan itu pada Emir.
Arimbi ingin mengambil alih perusahaan tapi bagaimana bisa dia melakukannya jika dia tidak mengerti arena bisnis itu? Setelah pesannya terkirim dan menunggu balasan tapi tak kunjung ada balasan dari Emir. Dia tahu kalau pria itu sangat sibuk jadi dia tidak berharap akan mendapatkan balasan dan memutuskan untuk mengirimkan pesan lain.
__ADS_1
‘Aku tahu kamu sibuk. Kamu bisa mengabaikan pesanku sekarang. Aku hanya mengkhawatirkan beberapa hal dan sepertinya aku tidak bisa belajar dengan tenang. Kamu bisa membalas pesanku saat punya waktu luang.'
'Oh iya….musuh bebuyutanmu datang! Kata ayahku Dion ingin bekerjasama dengan Rafaldi Group. Apa menurutmu dia sudah mengetahui hubungan kita? Karena dia tidak bisa melakukan apapun padamu, apakah dia sedang emncoba mengganggu keluargaku sekarang?’
‘Emir, apa yang sebenarnya kamu lakukan pada keluarga kanchana? Reza menemuiku hari ini dan meminta bantuanku. Sampai saat ini dia masih mengira aku merajuk dan tadi dia ingin menciumku dengan harapan aku akan kembali padanya.’
Arimbi terus saja mengirimkan pesan berisikan kata-kata hujatan. Sementara itu Emir yang sedang mengadakan pertemuan penting dengan semua eksekutif perusahaannya diruang rapat. Dia meminta semua orang untuk mematikan ponsel selama meeting kecuali miliknya sendiri. Alhasil, notifikasi pesan masuk terus saja berbunyi karena Arimbi mengiriminya banyak pesan.
Karena sudah tak tahan dengan suara ponselnya yang terus saja brdering, Emir pun mengambil ponselnya dan membaca pesna-pesan itu. Meskipun ekspresinya tidak berubah tetapi semua eksekutif yang mengenalnya dapat merasakan aura dingin yang memancar setelah Emir membaca pesan Arimbi sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya.
Dia mengetukkan jemarinya lebih cepat dan bergantian hingga tidak ada seorang eksekutifpun yang berani bersuara. Setelah beberapa saat. Akhirnya dia memutuskan membalas pesan istrinya itu, “Baru saja mulai untuk bertarung tapi kamu sudah berpikir akan kalah? Kalau begitu kamu tidak perlu melawan Amanda lagi. Pulanglah kerumah dan jadi istriku saja, tidak perlu bekerja dan apapun yang kamu inginkan akan kuberikan. Aku yang menjamin kalau Amanda tidak akan bisa menaklukkan Keluarga Rafaldi selama aku ada disini.”
Jika memang Arimbi tidak mampu mengelola Rafaldi Group dan Amanda tidak diizinkan untuk mengambil alih perusahaan maka mereka hanya bisa mempekerjakan manajer profesional sebagai gantinya.
Selama Emir masih ada dia bisa mengawasi atau meminta salah satu karyawan kepercayaannya untuk masuk keperusahaan itu untuk mengawasi. Amanda tidak akan bisa menguasai perusahaan itu selagi Emir masih menjadi suami arimbi.
Lalu Emir mengirimkan pesan balasan lainnya, ‘Dion Harimurti ada disana karena kamu! Bukan karena dia tahu hubungan kita. Arimbi apa yang sudah kamu lakukan sampai dia bertindak tidak biasa seperti ini? Apa kamu menggodanya juga sehingga dia mengejarmu? Berikan aku penjelasan yang masuk akal ketika kamu pulang kerumah nanti. Tulis refleksi diri sebanyak sepuluh ribu kata tanpa bertele-tele.’
__ADS_1