GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 177. ANAK TIM KESEBELASAN


__ADS_3

“Emir, jika kamu terus seperti itu, aku khawatir kamu akan menjadi bujangan selama sisa hidupmu. Kamu tidak punya rasa simpati sama sekali.” Arimbi pun mulai makan sambil mengeluh. Dia bahkan tidak menjaga sikap elegannya saat makan, seolah dia menunjukkan protes pada suaminya.


Seseorang pasti harus mengisi perutnya setiap kali mereka marah, jika tidak darimana akan mendapatkan energi untuk meluapkan kemarah? Arimbi merasa tidak makan pada saat sedang marah akan sangat merugikan. Mengapa harus marah dan lapar pada saat yang bersamaan?


Sedangkan Emir mengambil sendoknya dan meletakkan beberapa makanan di piringnya sambil berkata dengan dengan, “Semuanya berkat seorang wanita putus asa yang sangat ingin menikahiku, jadi aku tak lagi sendiri dan menjadi bujangan selamanya.”


Arimbi memilih diam setelah mendengar perkataan suaminya, dia adalah wanita yang sangat ingin menikahi Emir sebagai sebuah tindakan balas budi.


“Arimbi, sebagai istriku akan ada banyak keuntungan tetapi disaat yang sama banyak kekurangan juga, Apakah kamu takut? Tidak peduli sebaik apapun kamu memperlakukan orang lain, mereka akan terus mengganggu dan mengacaukanmu.”


Karena status Emir, menjadi istrinya berarti menjadi wanita paling terhormat di Kota Metro. Hal ini adalah sesuatu yang dikagumi banyak orang. Demikian pula akan ada banyak konspirasi yang akan menghantuinya. Jika dia tidak berhati-hati, dia akan berakhir kedalam perangkap orang lain dan bahkan mungkin menjadi beban bagi Emir.


Mengungkapkan identitas dan hubungan mereka berarti mengekspos kelemahannya kepada publik juga. Arimbi akan menjadi kelemahan Emir yang bisa menjadi target musuh-musuhnya.


Misalkan saja Dion Harimurti saja yang akan sangat senang untuk menyalakan api dan merayakannya karena akhirnya dia mengetahui kelemahan Emir.


“Aku tidak takut.” kata Arimbi tegas. “Aku juga akan bekerja keras dan suatu hari nanti aku bisa berjalan berdampingan denganmu, Emir. Kamu tidak perlu memperlambat langkahmu hanya untukku.”


Mendengar jawabannya membuat Emir tersenyum, “Kalau begitu aku akan menantikan hari kelahiranmu kembali menjadi wanita paling kuat dan disegani.”


“Satu hal lagi, jika kamu bertemu Dion Harimurti di masa depan, tolong jaga jarak darinya. Tentu saja lebih baik jika tidak bertemu sama sekali.” Emir memperhatikan perlakuan khusus Dion terhadap Arimbi tetapi dia belum bisa mengetahui niat Dion sepenuhnya. Sehingga dia hanya punya pilihan terbaik untuk menjauhkan Arimbi dari pria itu.


“Aku tahu.” Arimbi juga enggan terlibat dengan Dion. Mereka tidak pernah terhubung dalam kehidupan sebelumnya. Dion dan dia tidak pernah bertemu jika bukan karena bayinya di kehidupan sebelumnya. Hati Arimbi kembali sakit saat mengingat bayinya yang mati ditangan Reza dan Amanda.

__ADS_1


Arimbi bermimpi tentang bayinya tadi malam. Dalam kehidupan sekarang dia belum melahirkan karena dia masih perawan. Namun butuh waktu sepuluh bulan perjuangannya sebagai wanita hamil dan dua bulan sebagai ibu. Karena itu ikatan ibu dan anak tidak bisa dianggap remeh.


Arimbi terdiam saat mengingat bayinya. Kini dia terlahir kembali sebagai wanita yang belum pernah melahirkan bayi. Tapi dia masih bisa merasakan kesedihan kehilangan bayinya. Emir memperhatikan ekspresi wajah Arimbi yang tegang dan terlihat kesedihan. Membuatnya bertanya, “Apa kamu memikirkan bayimu lagi? Ekspresimu berubah terlalu cepat.”


“Emir, apa aku menggigau saat tidur tadi malam?” tanya Arimbi setelah terdiam beberapa saat.


“Iya. Kamu menggigau saat tidur sepanjang malam. Membuatku terjaga sepanjang malam dan mempengaruhi jam tidurku. Kamu harus membuatkanku secangkir kopi untuk menyegarkanku nanti sebelum aku mulai bekerja hari ini.”


Wajah kecil pucat Arimbi mencoba memeriksa ekspresi Emir tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh. Sehingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa tentang itu. “Emir, apa sebenarnya yang aku katakan saat aku menggigau?”


“Kamu bilang ‘Aku mencintaimu Emir! Aku harus menikahimu dan aku berjanji akan memberimu anak sebanyak tim kesebelasan sepak bola!”


“Pfffff! Hahahaha.” Arimbi tidak bisa menahan tawa mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Beni dengan cepat menutup mulutnya dan lari sekencang mungkin karena takut dia akan berguling-guling di lantai sambil tertawa.


“Sayang, aku ini bukan pelatih jadi aku tidak tahu dimana aku bisa menemukan pemain sepak bola untukmu. Tapi, aku mungkin berkesempatan untuk memberimu hadiah itu kan?”


“Kamu ingin punya berapa banyak anak?” tanya Emir serius.


“Aku akan punya anak sebanyak yang kamu mau sayangku.”


Arimbi membuat janji seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya. “Oke, baiklah. Aku akan mengingatnya dan kamu harus menepati janjimu. Berapapun anak yang kuinginkan kamu tidak boleh menolaknya.” jawab Emir dengan suara lembut.


Tanggapannya membuat Arimbi termenung sejenak, bagaimanapun caranya dia harus menemukan cara membuatnya menjadi sebuah kenyataan.

__ADS_1


Mereka sudah melakukannya, jadi Arimbi berpikir mungkin dia harus lebih sering menggoda suaminya dan mewujudkan impiannya untuk memiliki anak. ‘Apakah dengan punya anak bisa membuat Emir semakin termotivasi untuk segera sembuh?’ pikirnya.


“Sayang, aku akan mewujudkan keinginanmu secepatnya. Apakah kamu mau bayi perempuan atau laki-laki?” tanya Arimbi tersenyum sambil mengerling menggoda.”


“Aku mau bayi perempuan cantik sepertimu.” jawab Emir.


“Aw, Emir sayangku…...kamu manis sekali! Aku makin mencintaimu lagi. Baiklah, kita harus berusaha keras untuk mendapatkan bayi perempuan.”


“Hem...cepat habiskan sarapanmu. Kalau sudah selesai makan, jangan lupa hadiahku hari ini. Setelah itu minta Beni untuk menyiapkan supir untuk mengantarmu ke kantor. Jangan lupa bawa payung supaya tidak basah. Kutunggu kejutanmu nanti malam.”


“Baiklah, sayang. Apakah kamu mau mencoba gaya baru nanti malam?” goda Arimbi lagi.


“Arimbi! Jangan menggodaku terus. Buktikan saja kemampuanmu nanti malam atau aku akan membuatmu tidak bisa bangun selama tiga hari.”


Arimbi mencondongkan wajahnya sambil tersenyum menggoda, “Aku menunggu hari itu tiba, sayang.”


“Aku mengerti.” Emir tersenyum menatap istri nakalnya. Didalam hatinya dia sudah berniat akan membalas istrinya. ‘Lihat saja Arimbi, aku akan membuatmu benar-benar tidak bisa berjalan saat kedua kakiku sudah kembali normal.’ bisiknya dalam hati bertekad.


Arimbi sangat senang melihat suaminya yang perhatian. Setelah dia selesai sarapan, dia membuatkan secangkir kopi untuk Emir. Dia pergi ke kamarnya untuk mengambil tasnya dan mengambil mainan Gemini buatan tangan sebagai hadiah untuk Emir hari ini.


Ketika Arimbi tiba di ambang pintu, dia berbalik dan berlari kearah Emir sebelum melemparkan dirinya kedalam pelukannya. Sementara lengannya yang kuat melilitnya, dia memegang wajahnya dan mencium bibirnya.


Baru setelah dia puas barulah dia meninggalkan rumah pergi ke kantornya. Tatapan Emir meleleh penuh dengan kehangatan saat dia melihat siluet istrinya perlahan menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2